Sahabat?

Sahabat?
Salam terakhir.


__ADS_3

Tatapan lurus memandang suaminya terbujur kaku, mengenakan pakaian terbaiknya semasa hidup. Cinta mengenang masa-masa pertama dia hendak kawin lari dengan Rizal. Dia mengira, itulah saat terberat yang pernah mereka berdua lalui.


Tidak tahunya, kepergian Rizal kali inilah yang paling berat bagi Cinta. Seumur hidupnya, Cinta bahkan tidak sekali pun terpisah dari suaminya ini. Tapi Tuhan menciptakan jarak paling jauh baginya dan suami.


"Ma, ikhlas kan Papa." Levin terus berbisik pada mamanya.


Selama ini, Levin terlihat sangat dingin. Tapi kali ini, dia sungguh cerewet sekali.


"Kliene, Levin. Jaga istri kalian seperti papa menjaga Mama. Tidak ada seorang istri pun yang kuat. Semandiri apa pun mereka, tetap membutuhkan kasih manja suami." kata Cinta menasehati putra-putranya.


"Ma, aku tidak akan meminta Levin meninggalkan mu. Izinkan aku tetap memelukmu seperti ini." Queen tidak sanggup melihat ibu mertua yang sudah seperti ibunya sendiri.


Rizal begitu tampan meski sudah terbungkus kain kafan. Bagi Cinta, tidak ada seorang pun yang lebih tampan dari suaminya.


Cinta ingat waktu pertama kali Rizal memberikan uang hasil dari cafenya. Dua juta, mungkin itu sangat kecil baginya saat ini. Tapi dulu? Setelah sebulan penantian. Rizal memberikan uangnya pada Cinta, bukan pada Ingrit sebagai ibunya.


"*Cinta, aku punya uang sendiri sekarang. Ayo aku traktir bakso di taman."

__ADS_1


"Tunggu aku punya uang banyak, aku akan menikahimu."


"Cinta, aku mencintai kamu, bukan Michel. Kita beli kebaya buat kawin lari, yuk. Sekalian beli cincin."


"Pilih perhiasan paling mahal, dan cincinnya juga yang paling bagus. Aku bosnya, aku bisa bayar semuanya."


"Saya terima nikah dan kawinnya Cinta latsifha."


"Cinta, kehilangan bukan berarti akhir dari segalanya. Ini ujian bagi cinta kita, jangan menyerah sayang. Ada aku yang akan selalu bersamamu*."


Kata demi kata masih teringat jelas di ingatan wanita berusia setengah abad ini. Bayangan masa muda Rizal masih tergambar jelas di dalam ingatan. Bahkan senyum manis dengan dua lesung pipi saat muda pun masih jelas terekam di ingatan.


Selalu mengajak main air hujan, Cinta selalu hafal akhirnya. Tidur di kamar Rizal setelah makan mie kuah semangkuk berdua.


"Keluarga yang di tinggalkan, yang tabah ya. Kepergian bapak Rizal yang tiba-tiba, tidak ingin keluarga merasa sedih. Kalau misalnya almarhum bapak Rizal memiliki sangkutan atau janji yang belum terpenuhi semasa hidupnya. Bisa langsung dengan anak-anaknya. Bapak Levin Baganta dan bapak Kliene Baganta. Marilah kita antarkan saudara kita ke tempat peristirahatan terakhirnya. Allahumma sholiallah Muhammad."


Iringan pembawa jenazah sudah mulai berjalan. Di mana peti di angkat oleh Kliene dan Levin di bagian atas. Revan, suami dari Billa berada tepat di belakang Levin. Atau di bagian tengah.

__ADS_1


Cinta tidak lagi menangis, mengikuti iring-iringan di belakang jenazah. Tatapan Cinta kosong ke depan.


Memandang suaminya yang berada di atas keranda. Cinta seakan melihat suaminya tengah tersenyum padanya.


Ayu dan Queen memeluk ibu mertuanya dengan air mata yang masih terus mengalir.


Sebagai ayah mertua, Rizal sama sekali tidak pernah menyulitkan Ayu maupun Queen. Dan sebagai orang tua, Rizal adalah orang penuh kasih sayang. Dan sebagai kepala rumah tangga, Rizal adalah sosok bertanggung jawab yang berhasil membimbing putra-putrinya menjadi lebih baik.


Rizal berpulang, Cinta sendiri menjalani kehidupan senjanya. Mimpi minum teh di teras, hanya sebuah mimpi. Karena suaminya curang, menemui bidadarinya lebih dulu dari pada menemani Cinta minum teh.


Jazad sudah menyatu dengan tanah, bunga sudah bertabur di atas pusara cinta Rizal. Cinta berusaha kuat setelah putranya mengajak pulang.


"Mama, papa sudah bahagia sekarang." bisik Kliene.


"Iya, papa kamu sudah bahagia. Bertemu sama para bidadari di surga. Ngeteh bareng bidadari cantik. Tapi mama? Di tinggalin begitu saja. Mama ngeteh sama siapa?" Cinta merancau.


Levin tidak menyangka, Mamanya bahkan masih sangat cemburu pada papanya yang sudah tidak lagi bersama nya.

__ADS_1


"Ya sudah, nanti kita temani minum teh di teras. Sekarang Mama harus istirahat." bujuk Levin.


__ADS_2