
"Vin, coba lihat ini. Almas cuma ngacak-ngacak makanan." Teriak Queen mengadukan putrinya yang tak bernafsu makan.
"Di makan, pa. Ini makan!" dengan terpaksa, Almas memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Gara-gara makan kue lebaran yang terlalu banyak, juga minum yang manis-manis. Almas menjadi tak berselera makan, meski makanannya adalah menu kesukaannya.
"Makan yang banyak, stop makan kue lebaran. Kalau tidak, kamu pasti...."
"Aduh..." Almas memegangi perutnya.
"Kenapa?" Queen tampak khawatir melihat putrinya.
"Papa mau bilang apa? Pasti papa keturunan cenayang, aku sakit perut Ma." kata Almas sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Queen melihat ke arah suaminya dan memastikan apa yang di katakan putrinya itu tidak benar. Sedetik kemudian, Queen menanyakan hal-hal aneh pada Levin.
"Vin, kamu tau apa yang akan terjadi dua menit kedepan?" tanya Queen masih memperhatikan suaminya.
Menyantap makan siangnya, Levin menjawab dengan tenang. "Almas teriak memanggil namamu."
Benar, tak sampai dua menit Almas sudah memanggil dirinya. "Mama...."
"Hebat, suamiku cenayang." Levin kaget perkataan istrinya. Dari mana dia bisa punya pemikiran yang sama dengan anak SD?
__ADS_1
Bukankah bisa di tebak, anak di kamar mandi karena sakit perut. Setelah selesai buang air besar, jelas sang anak minta bantuan ibunya. Entah itu hanya sekedar membantu mengambilkan air, atau yang lainnya.
Dari mana sisi cenayangnya? Sepertinya, Almas kalau berada di bawah didikan Queen yang polos. Levin pasti tak bisa mengenali antara polos atau bodoh.
Levin mengabaikan pemikiran putri dan ibu itu. Dia melanjutkan makan yang semakin enak masakan Queen. Opor ayam, gule kambing, sate kelinci (Jelas ini beli) ketupat sama rendang sapi.
"Vin, ponselnya bunyi. Coba angkat dulu." teriak Queen yang saat ini berada di kamar.
Levin yang sejak tadi sibuk dengan pekerjaannya, mengalah masuk ke dalam kamar dan mengangkat telepon.
"Hallo,"
"..."
"..."
Levin tak menjawab lagi lalu memutuskan sambungan telepon. Meletakkan dan menghampiri istrinya yang masih sibuk dengan wajahnya.
"Di apain?" tanya Levin tenang.
"Sayang, lihatlah mukaku sudah berjerawat. Kayaknya kebanyakan makan kacang deh, aduh... Kalau aku enggak cantik lagi, gimana?" rengek Queen, ingin sekali Levin memasukkan istrinya dalam karung dan membuangnya ke tengah laut kalau begini. Saking gemasnya.
"Makanya sayang, kamu makan jerawat aja. Biar tumbuh kacang." kata Levin mencolek masker Queen yang sudah kering dan retak.
__ADS_1
"Astaga, Levin. di kira muka ku ini kebun kacang apa. Mana ada makan jerawat tumbuh kacang. Yang ada petani kacang merugi kalo gitu. Secara, orang berjerawat itu banyak di Indonesia. Ada-ada saja. Di kira nanam kacang nggak butuh di pupuk apa." Jawaban ngelantur Queen semakin membuat Levin sakit kepala.
"Ya sudah, tanam dedek aja kalau begitu." goda Levin yang masih setia mengelupasi masker Queen.
"Ya sudah ayo." cicit Queen tak tau waktu untuk bercocok tanam.
"Pakai baju dinasmu, aku tunggu di sini." bisik Levin yang membuat Queen sesak napas seketika.
"Tapi Almas?" ketegangan yang tiba-tiba menghilang ketika ingat akan putri tersayangnya.
"Hmmm, ya sudah tunggu sebentar." Levin keluar dari kamar dan mencari Almas.
Putrinya tak ada di rumah, dia sudah berkeliling mencari ke seluruh ruangan. Bahkan, di kamarnya pun tidak tampak.
Levin tak punya pilihan selain mencari ke rumah orang tuannya. "Almas, mana Ma?" tanya Levin pada ibunya yang duduk menikmati kacang rebus di teras.
"Ikut beli bakso sama Abang mu, kasih Almas tidur di sini. Mama mau tidur sama Al." kata Cinta yang sudah kembali bersemangat menjalani hidup.
"Iya ma, ya sudah Levin pulang dulu. Kasihan Queen sendirian."
"Bikin yang cowok ya." Cinta berpesan, Levin malah malu sendiri.
"Mama bisa saja. Ya sudah bayangin aja Levin, nanti dapetnya pasti seperti Levin."
__ADS_1