Sahabat?

Sahabat?
Season 2


__ADS_3

Rama mendekati Cinta yg duduk di samping Rizal yg masih belum sadarkan diri. Meski tatapan Cinta kosong, namun kehadiran kakak ioarnya itu sudah di rasakan olehnya.


"Dengan tangan ini Cinta membesarkan Queen. Dengan susah payah kami membagi waktu antara kerja kuliah dan menjaga ketiga anak dengan umur yg sama, karena mereka lahir di hari yg sama. Tanpa rasa mengeluh ingin memperbaiki keadaan yg seperti dulu lagi. Harapan Rizal hanya bisa tersenyum kembali dengan mama papa Abang anak dan istrinya. Perlahan Rizal merebut kembali perusahaan papa sampai saat ini sudah benar benar kembali. Semua Rizal lakukan sendiri bang. Queen memang bidadari pertama yg mampu merebut hatinya. Queen bukanlah putri angkat kami. Tapi Queen adalah hidup kami." Ucapan Cinta membuat Rama tertunduk menyesal.


"Saat mbak Angel dulu datang di tengah malam badai dengan membawa Queen dan menanyakan gimana nasip putrinya setelah di tinggal oleh Abang. Tanpa pikir panjang, Rizal langsung mengambil alih tanggung jawab Abang. Rizal bukan mau mengambil Queen yg tidak mau memberitahumu. Tapi Rizal mau kalian merasakan kebahagiaan yg sama seperti Cinta sama Rizal rasakan. menganggap Queen sebagai putrinya sendiri. Dengan tidak pernah membeda bedakan antara Queen, Kliene dan Levin. Mereka adalah 1, Mereka adalah hidup kami mulai dari saat itu sampai saat ini kami memiliki putri sendiri. Levin selalu posesif pada Billa dan Queen itu karena Levin merasa mereka adalah keluarga yg harus saling menjaga. Levin tidak ingin Billa maupun Queen kanapa kenapa." Mendengar mamanya bercerita tentangnya dulu yg tidak di inginkan oleh orang tuanya pun semakin merasa sesak hatinya di pelukan Levin.


Levin merasakan emosi Queen dan membiarkan dia menangis di dalam pelukannya seperti yg dulu dia lakukan. Levin memang seoarang kakak yg sangat melindungi adik adiknya. Levin selalu memperlakukan Queen selayaknya adiknya meski dia tau kalo Queen lebih tua 5 jam dari kakak ya Kliene. Salshabilla yg kini tidur di sofa dalam dekapan sang kakak Kliene di samping Queen dan Levin.

__ADS_1


Kliene lebih memilih diam karena dia selalu gemetaran ketika di ajak berdebat. Kliene bertolak belakang dengan Levin yg tegas dan berani. Semakin lama Levin merasa semakin berat. Suara sesenggukan Queen pun tak lagi di dengar oleh Levin.


"Oma, tolongin ini kayaknya Queen pingsan." Kata Levin yg ketakutan.


"Ya ampun ini gimana Oma gak ngerti. Sini dulu Queen Baringin biar di periksa dokter. Kliene cepat hubungi dokter." Cinta langsung menghampiri Queen dengan cemas.


"Dokter Ana gimana keadaan putri saya?" Tanya Cinta hawatir jika benar seperti dugaannya.

__ADS_1


"Dokter Cinta tenang ya, Queen cuma kecapek an dam sedikit terguncang." kata dokter Ana yg sudah mengenal keluarga Cinta dengan baik karena memang sering mengantarnya pulang kalau Rizal tidak bisa menjemputnya.


Sesaat kemudian Rizal sadar dan donter Ana langsung memeriksa Rizal. Setelah memastikan keadaan Rizal baik baik saja dan Queen sadar dari pingsannya. Dokter Ana berpamitan untuk kembali ke ruangannya. Queen mendekati Rizal dan Cinta.


"Papa mama, maafin Queen. Queen tidak bermaksud untuk pergi dan menyakiti hati mama dan papa. Queen gak pengen mama sama papa kenapa kenapa. Queen pengen semua bahagia seperti dulu." Queen menggenggam tangan Rizal dan Cinta.


"Papa gak apa apa sayang, papa bukan lah robot yg gak bisa sakit sayang. Papa cuma kecapk an saja. gak usah di pikirin semua ya." Kata Rizal dengan suara beratnya.

__ADS_1


__ADS_2