
Pagi pagi sekali Levin menelfon mamanya dan meminta mamanya untuk datang ke rumah mengajak cucu cucunya.
"Queen sayang, ayo makan dong biar bisa main sama Baska Bagas juga Agas. Kalo Queen gak makan nanti lemes terus gak bisa deh mainan bareng mereka. Lihat Baska juga kayanya kangen banget gak ketemu momy dedynya lama." Rayu Cinta karena Queen sudah dua hari tak mau makan.
"Queen gak laper ma, Queen cuma lemes. Lagian masakan Levin gak enak ma, pengen di masakin cumi saos padang sama mama." Rengek Queen membuat mananya bahagian karena mendapat harapan bahwa Queen mau makan.
"Ya sudah, mama masakin dulu. Tapi janji mau makan ya." Cinta meninggalkan ketiga bayi berumur 6 bulan itu bersama Queen yg sedang tergolek lemah di temani oleh Levin.
Levin mengajak main ke tiga bayi yg baru bisa merangkak itu di karpet ruang tengan. Queen sudah berpindah duduk di sofa depan tv dengan memperhatikan suami dan ketiga putra kakak iparnya. Queen tertidur saat menunggu makanan yg di masak oleh Cinta.
"Vin, ajak periksa istrimu. Mama ngerasa ada yg gak beres sama istrimu." Cinta memperhatikan putrinya itu semakin kurus dan pucat.
"Maunya Sore ini ma, dan kemarin Levin sudah janjian sama tante Nadia." jawab Levin sambil mengajak main Bagas yg ada di pangkuannya.
"Mending suruh sini aja tantemu itu. kangen mama pengen ngobrol. Lagian kamu itu jauh sekali nyari dokter sampek ke Bandung." Cibir Cinta.
__ADS_1
"Yeh mama, mama gak tau kalo tante Nadia buka praktek di klinik bang Kliene?" Levin memberi tahu mamanya.
"Masak sih? Kenapa abangmu gak ngasih tau mama sih?" Cinta merasa kecewa karena sang putra pertama tak mengatakan apa apa.
"Mama lupa kalo bang kliene pernah bilang kalo mama di minta untuk mengoprasikan klinik abang bareng tante? mama juga kenapa masih belum mau buat praktek di sana ma? bukannya punya klinik sendiri itu impian mama dari dulu? Bang Kliene dan Levin itu berusaha keras buat wujud in impian mama lo. Tapi mama malah mengecewakan kami." Kata Levin membuat Cinta merasa bersalah karena masih mempertahankan pekerjaannha zekarang.
Memiliki klinik pribadi memanglah sebuah impian bersama. Kerja bersama dan praktek bersama adalah mimpi dari Cinta, Rena dan Nadia. Makanya mereka mengambil jurusan yg sama. Tapi apa daya jika keadaan gak bisa menyatukan mereka. Waktu telah menunjukkan siapa mereka di masa sekarang yg tak pernah terfikir saat masih bersana dulu. Cinta dan Nadia selalu berusaha buat keadaan menjadi lebih nyaman, namun Rena memperkeruh keadaan. Tuhan, salah apa persahabatan mereka sehingga menghukum mereka sebegini berat.
Tak ada kata selain malu yg hampir setiap nafas yg Cinta hembuskan. Bagaikan gelas pecah dari ketinggian 5 meter, yg membuat pecahannya hanyur berantakan dan tak bisa terlihat. Menyebar ke segala arah hingga mampu melukai siapa saja yg tam berhati hati. Queen terbangun karena mencium bau harum masakan sang mertua.
"Baiklah, ayo sekarang Ag dulu." Cinta menyuapi Queen dengan telaten seperti saat dia masih kecil.
Queen meneteskan air mata, dia teringat maminya yg masih tak mau menemuinya. Levin mengerti kesedihan sang istri langsung membelai rambut Queen penuh kasih sayang.
Cinta menoleh ke arah pintu masuk, ternyata Nadia Agung dan Naura dengan perut buncitnya sudah berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Hei, kalian kenapa gak ngasih kabar dulu?" Pekik Cinta karena kaget.
"Waaaaahhhh seneng banget kayaknya kamu Queen bisa di suapi ibu mertua." Ledek Naura yg tak terdengar kabar menikah namun sudah membawa tanjidor kemana mana.
"Ya kamu juga gak kabar kabar sudah bawa celengan aja kemana mana." Queen terlihat sangat kaget dengan keadaan Naura.
"Iya ini ulah temenmu, waktu ijab dia bilang bakalan di jaga, di sayang juga di rawat. Tapi nyatanya malah di bikin gede perutnya." Jawab Naura membuat Levin dan Queen mengertyit tak mengerti.
"Ijab nya cuma di hadiri sama keluarga saja, ya karena Naura sama suaminya diem diem tinggal bareng. Makanya di nikahin deh cepet cepet, rencana setelah sidang mau di adain resepsi. Tapi udah kebobolan duluan, ya sudah lah gak jadi." Jelas Nadia yg sudah mulai memeriksa Queen.
"Siapa Suaminya Naura the?" Tanya Queen hati hati.
"Tuh dia." Tunjuk Nadia pada seorang pemuda yg sangat di kenal oleh Queen maupun Levin.
"Devan!!!" Queen tak percaya pemuda yg hampir saja menggagahinya itu menjadi suami Naura.
__ADS_1
"Kita ketemu lagi Nyonya Levin Baganta." Ucap Devan dengan senyuman khasnya mengelus perut sang istri setelah menyalami Queen dan Levin.