Sahabat?

Sahabat?
Bab 91


__ADS_3

Rizal pulang ke rumah keluarganya dan langsuk masuk ke kamar mama dan papanya. Rizal melihat mamanya yg duduk di sofa membaca majalah. Rizal menghampiri mamanya dan meletakkan kepalanya di pangkuan mamanya.


"Ma, Rizal boleh tanya sesuatu gak?" Tanya Rizal dengan yg lembut.


"Tanya apa Zal?" Mama Rizal mengusap ngusap kepala Rizal.


"Beneran gak sih rahim Rena di angkat?" Pertanyaan dengan nada lembut nambun bagaikan sambaran petir di telinga mamanya.


"Kenapa kamu tiba tiba tanya itu ke mama? Kamu meragukan mama?" Jawaban sewot yg keluar dari mulut mamanya membuat Rizal curiga.


"Mama jujur saja sama Rizal. Asal mama tau, Rizal lah yg membatu perceraian Rena dan bang Rama." Perkataan Rizal membuat mamanya seperti mendengar lagu rohani yg menenangkan jiwa.


"Kamu memang anak yg berbakti Rizal. Untuk masalah Rena, buat apa mama buang buang uang untuk hal semacam itu. Lagian juga ya, mana ada keguguran bisa di angkat rahimnya." Jawab mama Rizal membuat putranya geram.


"Terus laporan laporan itu? Dan juga kenapa Rena gak bisa hamil?" tanya Rizal mencoba menahan emosinya.


"Laporan? Hal kaya gitu bisa di bikin Zal apa lagi uang sudah berbicara. Dan masalah Rena gak hamil hamil kan emang mama sudah memasang implan untuk Rena." Jawab santai mamanya.


"Terus mama jodohin abang dengan anaknya pak Herman?" Tanya Rizal.


"Pak Herman itu sahabat papa. Dia itu orang terpandang Zal jadi bukan keluarga sembarangan kaya keluarga Rena yg cuma pegawai kelurahan."


"Jadi semisal Cinta bukan anaknya seorang pengusaha juga bakalan mama gituin juga?" tanya Rizal


"Ya kamu harus puas dengan Michel. Oh iya Zal, Michel masih mengharap kamu jadi suaminya lo. Kalo misalnya kamu nikah sama dia. Mama yakin kerajaan bisnis papa pasti makin besar dan kuat." Kata mama Rizal membuat Rizal terbangun dari tidurnya.


"Sayangnya Rizal bukan bang Rama ma, Sampai kapan pun Rizal gak akan pernah membagi cinta Rizal untuk Cinta dengan siapapun selain dengan anak anak Rizal. Dan lagi ma. Rizal sudah memiliki 2 putra yg mampu mewarisi usaha Rizal. Rizal juga gak ingin mewarisi apa yg papa punya." Rizal melangkah keluar dari kamar mamanya.


Cinta sedang mengajak putra putranya bermain di taman belakang bersama Rena dan Nadia. Rizal melihat Rena tersenyum membuat hatinya teriris oleh kelakuan mamanya. Nadia dengan perut seperti genderang itu hanya mampu duduk slonjoran di bale bengong samping kolam renang.


"Rena, jujur sama gue. Lo masih cinta sama bang Rama?" Tanya Rizal membuat Cinta dan Nadia menoleh ke arah Rizal dengan tatapan banyak arti.


"Gak tau Zal. Yg jelas gue nyaman kaua gini sekarang." Jawab Rena acuh.

__ADS_1


"Rena. Gue mau ngasi 1 fakta yg di sembunyikan bang Rama selama ini. Tapi ini semua tergantung sama lo nya. Gue gak mau membela siapapun sekarang. Yg ada gue cuma merasa bersalah karena mencampuri urusan rumah tangga lo sejauh ini." Rizal mendudukkan diri di samping Nadia.


"Katakan Zal. Gue juga gak mau menyesal akhirnya." jawab Rena.


"Bang Rama di ancam sama mama juga papa. Kalo misalnya dia gak nikahin Angel, mama akan misahin lo sama abang. Tapi kini saat dia sudah menerima Angel malah kamu yg menceraikan dia. Jujur gue gak bisa mengatakan apapun. Gue takut salah Ren. Gue lihat lo juga sudah mulai nyaman sama dokter Roy." kata Rizal tergantung karena Rena tiba tiba tertawa.


"Roy? Dia itu sepupu gue Rizal." Perkataan Rena membuat semua kebingungan.


"Bagaimana bisa dia sepupu lo?" Tanya Rizal.


"Dia itu anak dari adiknya papa yg ada di sumedang dan sekarang dia tugas di sini karena almarhum istrinya kemaren pindah tugas di sini. Istrinya itu polisi wanita." Jelas Rena.


"Ya ampun Rena, kalo gitu terus gimana perasaan lo sama abang? Jangan mikirin perasaan orang lain. tapi gue mohon pikirin kebahagiaan lo sendiri." kata Rizal.


"Gue gak berhak bahagia Zal. Gue wanita yg tak sempurna seperti Cinta atau Nadia." Kara Rena tertunduk.


"Lo berhak dan lo itu wanita sempurna Rena. Lo pasti masih trauma dengan mama kan?" Tebak Rizal dan Rena mengangguk.


"Kenapa dia ke sana? Sama siapa dia di sana? Sama Angel dan Queen?" Tanya Rena.


"Dia sendiri cuma mengenakan baju kaos dan celana pendek dan gue sempet ngeliat luka di tangannya. Udah gue obatin juga. Dia setres gara gara di terima surat pemanggilan pengadilan yg ke 2. Dia gak menerima yg pertama."


"Pantesan dia tidah datang waktu itu. Rizal boleh gue jujur?" Tanaya Rena.


"Silahkan."


"Gue masih cinta sama bang Rama. Gue pengen ketemu tapi status gue udah dalam masa proses perceraian. Gue juga mikir Queen. Kalo gue mau egois juga kasian bang Rama karena gue gak bisa hamil...."


"Kata siap?" Potong Rizal.


"Mama lo sendiri yg bilang. Beliau juga menyerahkan surat suart yg menunjukkan bahwa aku sudah kehilangan rahimku." Kata Rena yg sedikit ragu dengan pernyataanya sendiri.


"Ketika uang berbicara Fakta pun akan tersimpan rapat. Lo itu cuma di bohongi sama mama dan papa. Intinya kita semua di bohongi." kata Rizal membuat Rena Cinta dan Nadia menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Terus kenapa gue gak hamil hamil Zal?" Tanya Rena dengan air mata yg sudah mulai menetes.


"Karena lo di pasang implan atau apa gitu. Kalo lo mau hamil ya tinggal lepas. Gue sendiri yg tanya ke mama dan mama menjawab karena gue bilang gue ngurus perceraian kalian. Senin ini kalian sidang kan? Kalo lo mau mencabutnya lo bisa bilang kalo kalian mau rujuk. Dan perceraian yg terlontar oleh istri setau gue itu gak berarti apa apa. Dan lo masih istri sah abang sampai saat ini Ren." Jelas Rizal membuat Rena mengembangkan senyum.


"Tepi Ren, gue sempet denger kalo dokter Roy siap nunggu masa idah lo. Itu juga kata mas Rizal." Tanya Cinta.


"Soal itu, gue yg minta dia biar kalian gak terlalu kepikiran tentan gue." Rena memahami kecemasan sahabat sahabatnya.


Rena minta tolong di antar ke Bandung untuk bertemu dengan Rama. Dengan senang hati Rizal dan Cinta mengantar Rena ke Bandung bersama dengan ke dua putranya.


Sesampainya di Bandung Rizal dan Cinta langsung masuk ke Villa dan mendapati abangnya tengah tidur di sofa. Rena membangunkan Rama lalu memeluknya.


"Bang, Rena kangen sama abang." Bisik Rena yg membuat Rama langsung membuka mata dan membalas pelukan Rena.


"Abang juga. Jangan pergi lagi ya sayang. Abang minta maaf sudah menyakitimu sejauh ini." Bang Rama memeluk Rena dengan tangisan semakin pecah.


"Iya bang Rena mau rujuk sama abang. Tapi" Rena menggantung ucapanya.


"Tapi apa?" Tanya Rama.


"Anterin Rena ke rumah sakit." Rama mengeryitkan dahinya.


"Kamu sakit sayang?" Rena menggeleng


"Udah bang ikut aja." Kata Rizal membuat Rama kaget karena tak menyadari keberadaan sang adik beserta istri dan ponakannya.


"Ih kalian, bikin kaget aja. sini sama om." Rama mengulurkan tangannya namun di tolak oleh Rizal dan Cinta.


"Buat sendiri bang. Anterin bini lo dulu gak usah lama lama lo disini. empet gue liat kalian kaya teletubies." Kata Rizal


"Lo empet liat gue kaya gini tapi lo sendiri lebih parah Zal." Cibir Rama. "Gue ma di dulu. Masa istri gue udah cantik gue masih buluk sih." Kata Rama.


"Baru nyadar kalo lo buluk dari tadi hah!!!" Jawab Rizal santai

__ADS_1


__ADS_2