
Tiga bulan sudah usia kandungan Billa, Queen dan juga Ayu. Dan saat ini di adakan pengajian untuk kehamilan ketiga wanita yang menjadi kecintaan Rizal dan Cinta.
Queen dengan mengenakan baju gamis putih berbahan sutra terbaik yang di belikan oleh Levin untuknya dan juga untuk kedua wanita yang tengah mengadung yang lainnya. Levin sangat menyayangi adik dan juga kakak iparnya.
Levin selalu memanjakan ketiga wanita yang tengah mengandung dan juga seorang malaikat yang selalu membalas sayangnya. Cinta menjadi wanita pertama yang sangat bahagia, dengan kehamilan kedua menantu dan putri sulungnya.
Rizal tak kalah perhatiannya dari Levin yang selalu memenuhi apa yang ketiga wanita hamil itu inginkan. Rizal selalu memberikan seluruh perhatiannya setelah memcurahkan pada sang istri.
Setelah bertahun - tahun, hal ini adalah moment yang sangat di tunggu bagi semua orang. Terutama Revan yang sudah mengambil keputusan untuk kerja di rumah. Kantor di serahkan pada Vano dan juga Yuga. Revan benar - benar tak mau ketinggalan sedetik pun perkembangan sang istri saat hamil.
Levin dan Rizal hampir setiap hari menyambangi rumah kecil yang terkesan mewah milik Revan dan Billa. Begitu pun dengan Billa, hampir setiap hari juga pulang ke rumah orang tuanya. Jarak yang tak kurang dari sepuluh menit perjalanan dari rumahnya pun tak menghalangi Billa berkinjung.
Revan selalu setia menjaga dan berusaha menjadi seorang suami siaga. Di acara pengajian tiga bulanan kandungan Billa , Ayu dan Queen di adakan di rumah Revan atas permintaan Billa. Acara sakral yang di hadiri oleh keluarga besar sang suami.
Sebagai seorang peranakan Jerman dengan Indonesia, membuat Revan terlihat sangat tampan dengan baju koko warna putih senada denga keda calon papa. Hampir seluruh keluarga Revan yang di Jerman sudah mengenal Billa dengan baik. Terutama yang ikut mengelola BIRMA. Sedang kan keluarga Revan yang di Indonesia bertempat tinggal di Jogja.
Billa, baru kali ini di perkenalkan pada keluarga Revan yang ada di Indonesia. Revan terlihat bahagia, ketika keluarga Almarhumah mamanya dari Jogja sudah mulai akur dengan keluarga papanya. Alibaba sahid, seorang yang tak pernah muncul selain pernikahan BIlla dan Revan pun kini tegah bercanda tawa dengan sang menantu kesayangannya.
Meski tak terlalu fasih berbahasa Indonesia, Alibaba sahid berusaha untuk berkomunikasi dengan yang lainnya.
“Bill, Mertuamu baik banget ya?” Tanya Ayu yang sedari tadi teus memperhatikan percakapan antara BIlla dengan mertuanya menggunakan bahasa Jerman.
“Beliau memang orang baik, sama kaya Revan sih sebenernya Mbak. Di luarnya aja terlihat dingin dan nyeremin. Tapi kalau sudah tau apa yang dia mau dan bisa mengambil hatinya. Beliau sangat baik dan murah hati, gak seserem kelihatannya. Mereka berdua membangun dinding dingin sangat tebal itu ya karena bisnis mereka yang menuntut.” Jelas Billa yang sepertinya sudah mengetahui Mertuanya dengan baik.
“Kaya gitu elu bisa bahasanya Bill?” Tanya Queen yang hanya membuat Billa menggeleng - gelengkan kepalanya.
“Queen, lu itu mikir apa sih dari tadi? Jangan terlalu banyak mikir. Kasian bayi yang dalam kandunganmu nanti setres saat tau mamanya itu dong dong tingkat akut. Heran deh ya, lu kaya gitu ngapa abang gua bucin sama elu ya?” Billa mengoceh dengan tak ada hentinya.
"Di pikir gua di Jerman ngapain coba? Ngemilin meja BIRMA. Sampek dua tahun tinggal di negara itu tapi gak ngerti bahasanya!" Gerutu Billa yang hanya bisa di dengarnya sendiri.
Bukannya membuat Queen marah tapi malah tertawa. Queen tau kalau sahabat sekaligus adik iparnya itu tengah sebel terhadapnya. Queen memang memiliki otak paling rendah di antara mereka bertiga. Namun tidak bisa di pungkiri jika kepolosan yang di miliki adalah warisan dari sang mertua perempuannya.
Loh kenapa bisa gitu thor? Jawabannya cuma satu. Kan Queen di besarkan oleh mama dan papa mertuannya.
“Abang elu itu cinta mati sama gue ya emang dari kecil udah gue pelet Bill,” ucap Queen dengan gelak tawanya.
“Sarap gua puya temen kek elu, untung laki gua gak dong dong kek elu Queen. Bisa mati berdiri gua,” Billa mengambil makanan yang tersedia di meja untuk para tamu.
“suek lu Bill, gini - gini gue itu obat paling mujarap buat Levin kalau lagi setres,” Queen tak mau kalah dari Bila.
“Iya, kan elu emang pelawak Queen. Gua aja gemes sama elu, “ Billa mengakui kalau sebenarnya diriya tak mau pisah dari kakak ipar dan sahabatnya yang kocak itu.
“terus kalo ke embak, lu gak mau temenan?” Tanya Ayu dengan nada sedikit di buat - buat selayaknya seorang yang terssihkan.
“Hiiiisssss kalo elu mbak, gak di temenin itu rugi. Gak dapet cerita seru dong akunya setiap hari, ‘kan harus kehilangan seorang nara sumber berita yang sangat terpercaya.” Goda Billa yang mencoba menyenangkan sang kakak ipar pertama.
“Palng pinter kalo di suruh ngerayu. Pantesan Revan klepek - klepek ama elu Bill, mulut elu mengandung penyakit.” Ayu mendorong pelan sang adik ipar yang berusaha memeluknya.
“Haiis, mengandung penyakit apa mulut gua mbak?” Tanya Billa sedikit merasa jengkel.
“Mengandung penyakit diabet, manis banget!” mendengar perkataan Ayu, Billa dan Queen kompak langsung tertawa sejadi jadinya.
Keseruan mereka bertiga ternyata sedari tadi sudah di perhatikan oleh si kembar dan juga sang boss galaknya. Mereka bertiga mengenakan baju yang sama, menghampiri ketiga istrinya. Billa yang memang lebih manja saat hamil, membuat sang suami terlihat makin mencintainya.
__ADS_1
Dengan jelas, Billa melihat sang suami berjalan terlalu lambat. Tanpa berfikir panjang lagi, Billa langsung menarik baju Revan dengan kasar. Revan malah tersenyum dengan perlakuan istri kecilnya. Tinggi yang tak melampaui dadanya, Billa barani menariknya dengan sangat kasar. Dan membuat Revan reflek memeluk sang istri ketika menabraknya.
“Pelan Billa, itu kasian lo Revannya.” Goda Queen yang melihat Revan terkekeh memeluk istrinya.
“Idih, bilang aja kepengen 'kan di peluk kayak gini. Bang, kode itu mah,” ucap Billa yang malah mengeratkan pelukannya pada sang suami.
Queen langsung melihat ke arah kakak iparnya yang ternyata lagi memeluk sang istri.
“Leviiinn kenapa gak peka sih?” Tanya Queen dengan sedikit memajukan bibirnya.
“Mau?” Tanya Levin sambil merentangkan tangan ke arah istrinya. “sini”
Levin akhirnya memeluk sang istri yang ternyata memiliki rasa iri yang sangat besar terhadap kedua iparnya.
***
Acara tiga bulanan yang di isi dengan mengaji bersama itu sudah selesai. Keluarga besar Revan yang dari Jerman di inapkan di Hotel BAGANTA milik keluarga Billa dan Queen. Sedangkan keluarga yang dari Jogja memilih untuk tinggal di rumah Revan. Karena yang datang tidak lah banyak.
“Tante, gak usah di kerjain sekarang. Sekarang sudah malam, besok saja ada pembantu yang bakalan membantu kita besok,” ucap Billa dengan sopan pada wanita muda yang di kenalkan Revan sebagai adik kandung almarhumah mamanya.
“Tapi tante ndak bisa tidur nduk, kasur e mentul mentul. Bikin gak bisa tidur.” ujar tante Indana yang biasa di panggil tante Iin.
“Oalah, gitu ta tan? Apa tante mau tidur di hotel saja?” Billa menawari tantenya dengan sopan.
“Ndak usah nduk, tante nanti tidur di depan tv saja. Tadi kursinya juga lumayan gede buat tidur, nduk.” Tante Iin masih sangat sungkan.
“Tante, mama mertua Billa kan sudah tidak ada. Dan tante sebagai adiknya, sudah selayaknya Billa memperlakukan tante seperti mama mertua. Dan keluarga yang lain sebagai keluarga Billa juga,” ucap Billa memeluk hangat sang tante.
“ndak salah Revan milih kamu nak. Kamu itu persis sama mbak yu Naning. Mbak yu dulu juga baiiik banget sama keluarga juga sodara sodara yang lain. Mbak yu Naning biar sudah sukses dulu, tiap pulang ke Jogja pasti bawa oleh oleh baju kaos atau jajan yang enak enak. Semenjak Mbak yu Naning meninggal, semua sudah hilang. Revan pun jarang pulang ke Jogja, malu paling dia punya keluarga yang miski seperti kami.” Tante Iin mengoceh ngalor ngidul hanya mengungkapkan kesedihan setelah kematian sang Mbak yu.
“Bukan seperti itu lo tante, Revan itu sangat sibuk. Apa lagi papa gak mau tau sama urusan kantor setelah kepergian mama Naning. Saya yang menemani Revan selama dua tahun di Jerman sebelum pernikahan pertama saya. Dan setelah kematian suami Billa, Billa kembali mengajak Revan kerja sama. Dan Revan benar benar sangat sibuk. Apa lagi harus berurusan dengan mantan istrinya yang terdahulu.” Billa menjelaskan betapa sibuknya Revan selama dirinya mengikuti sang suami selama menjadi seorang sekertaris pribadi.
“Jadi kalian berdua dulu pernah menikah dengan orang lain to? Memang jodoh ya. Mau di pisahin seperti apa juga tetap bakale balik maneh.” Tante Iin memberi tanggapan.
“Lo…. lo… lo. Ajaib ya, lah kok bisa kursinya jadi dipan.” tante Iin takjub dengan apa yang di lihatnya.
“hihihi, tante bisa saja. Kursinya memang bisa di jadiin kasur, dan ini bantal dan juga selimutnya.” Billa memberikan bantal dan selimut dari buffet di bawah tv.
“loh, ada lagi bantal di bawa tipi.” Tante Iin semakin takjub dengan apa yang di lihatnya.
“Ini memang disiapkan tante, ya karena Revan sering kerja lupa waktu. Jadi kadang dia tidur di sini.” jelas Billa pada tantenya yang mungkin baru saat ini melihat hal seperti ini.
***
Pagi setelah Revan sholat subuh bersama Billa. Lelaki yang terkenal dengan sejuta kesibukan itu ternyata memilih untuk bersantai di tepi kolam renang rumahnya. Billa yang melihat sang suami tengah bersantai pun sedikit heran.
“Sayang, apa kamu gak ke kantor? Katanya mau ada meeting?” Tanya Billa yang saat itu tengah mencari sinar matahari anjuran mamanya.
“Nanti sayang jam sepuluh katanya. Jadi sekarang aku mau renang sebentar saja. Ayo renang bersama ku,” ajak Revan yang hanya di tanggapi dengan gelengan kepala.
Melihat tanggapan dari sang istri, Revan hanya tersenyum tanpa memaksa keinginannya . Billa menunggui Revan yang sedang berenang di pinggir kolam renang. Billa bermain air di pinggir kolam renang.
Di rumah Rizal dan Cinta semua keluarga berkumpul selain Billa. Rama beserta Rena dan Rara juga putrinya. Opa Bram dan oma Ingrit beserta Levin dan Queen juga ada. Mereka menikmati sarapan bersama, sebelum Rama dan Rena bersama Rara pulang ke Bandung menempati Villa milik keluarga Bram turun temurun.
“Mama, jangan itu di makan. Itu keras lo ma,” ucap Cinta pada mertuanya yang mengambil sayur kacang panjang tumis.
“Kamu itu memang tidak suka kalau mama makan enak ya. Memang kamu menantu durhaka yang gak suka melihat mertuanya senang,” ucap Inggrit sang mertua yang tak suka di peringatkan oleh sang menantu.
“Mama, Cinta bener. Mama itu kacangya keras dan gigi mama itu sudah ompong, sudah Cinta buatin sop dengan sayuran yang lunak juga masih bandel mama ini.” Rizal membela Cinta yang di marahi mamanya.
__ADS_1
“Dasar anak dan menantu durhaka kalian berdua…”Belum selesai dengan sumpah serapahnya, papa Rizal memotong pembiaraan istrinya.
“SSttt sumpahin aja Rizal ma, biar mama puas main main dengan api neraka gara - gara Rizal gak bisa mendoakan mama selama dia hidup.” Papa Rizal menasehati.
“Kenapa gitu pa?” Tanya Mama Rizal yang masih belum mengerti apa maksud dari sang suami.
“Mama mau mengutuk Rizal jadi kodok kan? Ya kalau Rizal jadi kodok ‘kan gak bisa berdoa. Lihat diri mama, mama itu banyak dosa. Mana mau Tuhan bukain pintu surga buat mama, yang ada ya ma. Pintu neraka yang terbuka lebar buat mama, mama di goreng dulu di sono. Di tempa dulu kayak bikin toples kaca.” Papa Rizal menakut nakuti sang istri karena suka kelepasan pada Rizal.
“Bisa gitu ya pa? Rizal, doain mama nanti ya kalau sholat. Biar malaikat Malik gak bukain pintu neraka buat mama. Jadi biar malaikat Ridwan aja yang bukain pintu buat mama.”Mama Inggrit memegang tangan Rizal yang sedari tadi menahan tawanya.
“Dih mama, jangan mau maafin Zal. Biarin aja mama nanti mati jalan sendiri ke kuburan.” kali ini Rama yang menakut - nakuti sang mama.
“Gimana caranya mama mati bisa jalan ke kuburan sendiri?” Tanya polos seorang mama yang merasa jahat pada anak dan menantunya sedang ketakutan.
“Ya itu urusan mama lah, dan papa mau baik - baik sama Cinta juga sama yang lain. Biar nanti meninggalnya, papa diurus dan di tuntun ke kuburan dengan amal ibadah juga doa dari anak anak dan menantu juga cucu cucu ku semua.” Papa Rizal memakan sarapannya di piringnya.
“Cinta, mama minta maaf ya, jangan musuhin mama lagi.” Kini Mama Rizal beralih ke maja Cinta.
“Tergantung ma,” ucap Cinta dengan nada memelas.
“Mama jangan di gantung ya Cinta mantu mama paling cantik.” Inggrit mencoba mengambil hati menantunya.
“Lah kalau sudah di bilang cantik Cinta pikir - pikir lagi deh ma.” Cinta sok jual mahal pada mertuanya yang dulu di kenalnya sangat menyayanginya, entah karena apa mertuanya itu beruah membencinya.
Mungkin karena Rizal lebih memilih dirinya dari pada Michel sang tunangan piliha sang mama. Entah lah, hanya author yang tau.
"Jangan cuma di pikir - pikir dong, serem tau," ucap Mama Rizal yeng terus memelas pada sang menantu yang juga menahan Tawanya.
"Iya ma, nanti Cinta doain kalau mama sudah meninggal," ucap Cinta yang merasa kasian padaa mama mertuanya namun masih dengan kejailan yang ada.
"Ya, kok nanti sih?" Protes mama Rizal membuat Queen gemas.
"Oma, maunya sekarang di doainnya?" Tanya Queen yangmode jailnya ikutan on.
"Iya dong sayang," ucap Mama Rizal dengan rasa sayangnya.
"Ya sudah, oma mati aja sekarang," ucapan Queen mendapat getokan di kepala dari sang suami.
"Cucu menantu durhaka," ucapan Mama Rizal membuat Queen tiba - tiba memeluk wanita beruban namun masih terlihat aura kecantikannya.
"Oma mengakui Queen sebagai cucu menantu?" Tanya Queen yang sudah meneteskan air mata.
"Iyalah cucu menantu nakal. ya sudah jangan menangis lagi ya." Mama Rizal menghapus air mata cucu yang selama ini di sia - siakan.
"Queen sayang oma."
Penulis: gua kagak tau Cinta itu emak mertua lu gak suka sama elu. Lah emak mertua gua juga gak suka ma gua aja. Gua santai kek di pantai.
Cinta: curhat lu thor? Gue saranin lu bikin cerita sendiri deh.
Panulis: auk ah ngantuk gua.
__ADS_1
Cinta: nganbekan lu. Jauh dari jodoh lu entar, ngambekan
Penulis: bodo ah