Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Jangan beri kesempatan


__ADS_3

Malam ini adalah malam minggu, Sandi dan Billa tidak pernah berpacaran pun memanfaatkan malam panjang untuk berpacaran. Gadis yang menghabiskan hari-harinya hanya menonton spongebob dan Doraemon itu lupa jika masa mudanya terlupakan oleh kedua tontonan itu.


Saat berpacaran dengan Aris dulu, Billa menghabiskan malam minggunya dengan lembaran-lembaran kertas yang ada di meja kerjanya. Di temani sang abang yang juga selalu lembur membuatnya melupakan apa arti malam minggu bagi anak muda.


Di Jerman saat itupun juga memiliki arti yang sangat berbeda, yaitu pesta bagi ketiga pemuda yang memiliki kegilaan yang sama. Kerja adalah hidup mereka, berdebat adalah nafas mereka, dan pesta pertemuan adalah lahan untuk melebarkan sayap bisnis.


Segila itulah kehidupan kerja bagi seorang Billa yang sangat mencintai kerja. Menghayal memiliki perusahaan besar seperti Revan pun tak terelakan bagi Billa yang mengagumi sang Boss.


“Suka?” Pertanyaan yang Sandi lontarkan membuat Billa tersenyum penuh arti.


“Terima kasih sudah memberiku kebahagiaan yang selama ini tak pernah aku dapatkan” Billa memakan jagung susu keju yang di tangannya.


“Kenapa harus terima kasih sayang?” Sandi meminum teh botolan yang di belinya baru saja.


“Ya, lu bisa menerima gua dan membahagiakan gua meski lu belum mencintai gua,” ucapan Billa membuat Sandi geram dan mencubit hidung milik istrinya.


“Berapa kali gua harus bilang ke elu kalo gua cinta sama lu sebelum  jadian sama Aris sih?” Bukannya marah, Sandi terlihat seperti orang yang gemas.


“Pulang yuk San,” ajak Billa dengan menarik tangan Sandi yang masih duduk menikmati keramaian alun-alun kota.


“Kenapa cepet-cepet?”Sandi kini menghentikan langkah Billa yang menyeretnya ke arah parkiran.


“Gua gemes sama lu San, takut di luar batas ‘ah,” Mau tidak mau Sandi mengikuti sang gadis dengan senyuman di bibir.


“Pandu!!” Panggil seorang gadis cantik yang tingginya beberapa senti di atas Billa menghentikan langkah keduannya.


“Kesini juga? Hei, adik lu ya Pan? Kenalin gue Kiara calon kakak ipar lu,”ucapan Kiara membuat Sandi menjadi salah tingkah.


Mendengar penjelasan gadis yang sangat agresif di depannya, di tambah dengan gelagat sandi yang salah tingkah. Membuat Billa yakin bahwa di antara mereka berdua memang terjadi sesuatu.


“Hai kakak ipar, Kenalkan gua Salsabilla Pandu Wiranatha. Cukup panggil Billa.” Billa mengulurkan tangan meminta di sambut oleh lawan bicaranya.


“Ok, adik masih kelas berapa?” Pertanyaan yang muncul membuat Billa merasa geli.


“Maaf kak, kayaknya kakak harus sedikit memberi hormat kepadaku. Karena gua sudah S1 jurusan managemen di Jerman enam bulan lalu dengan program percepatan pendidikan. Jadi hanya dua tahun saja gua kuliah dengan bekerja secara langsung.” Jawab Billa dengan keangkuhannya, membalas betapa sengak wajah wanita yang mengaku calon dari seorang Sandia Pandu Wiranatha.


“Oh ya?” perkataan tak percaya terlontar dari bibir tipis seorang Kiara.

__ADS_1


“Saya kembaran dari Sandi, dan umur Saya gak jauh beda dengan kalian.” Ucapan sengak semakin terasa dari setiap kata yang Billa lontarkan.


“Billa kita pulang sekarang.” Sandi yang tadinya di seret Billa kini berbalik, dialah yang menyeret Billa yang sudah mengeluarkan taringnya.


Hawa mencekam semakin terasa saat di dalam mobil. Dalam keadaan diam Billa memejamkan mata mesti tidak benar-benar tertidur. Sesampainya di rumah yang di tempatinya berdua, Billa langsung memasuki rumah tanpa banyak bicara lagi.


“Billa, kamu kenapa sayang?” Pertayaan yang hanya mendapat hentakan gelas yang di pegang oleh sang istri.


Masih dalam keadaan diam, Billa menyiapkan sajadah untuk sholat Isya setelah mengambi wudhu. Sholat berjamaah dengan sang imam membuat hatinya lebih dingin dari pada tadi yang membara akan rasa cemburu.


Setalah salam Bila mencium tangan serta kedua pipi sang imam tercintanya. Sandi membalas dengan mencium kening setra kedua kelopak mata bidadarinya. Kebiasaan yang biasanya di lanjut dengan dagu, kali ini Sandi memilih menciumi setiap inci wajah basah Billa.


Senyuman Billa mengembang ketika sandi mencium hidungnya dengan sedikit gigitan yang menggelikan dirinya.


“Sandi apa, sih? Geli tau” Wajah Billa kini sudah memerah dalam tangkupan tangan pria tercintanya.


“Sayang aja jika wajah cantikmu ini harus tertarik oleh bibirmu yang semakin kedepan,” goda Sandi dengan mengecup sekilas bibir merah tanpa lipstik milik bidadari hati.


Kembali sandi mencium bibir Billa dengan sedikit gemetar karena dorongan jantung yang berpacu lebih cepat dari biasanya. Sandi memejamkan mata saat bibir mereka saling bertemu.


Gila omongan lu San, gak baik buat jantung gua!! Dosa gak sih itu bibir merah gua sosor duluan. Duh lama bener si Sandi ini ya. Batin Billa ikut tak tenang dengan tatapan tajam menggoda lelaki yang mengobrak-abrik jantung dan hatinya.


Tatapan Sandi semakin tajam dan menggoda ketika menyadari sang bidadari hatinya tengah tersipu malu. Mengoda Billa merupakan kesenangan terbaru bagi seorang Sandi. Billa menundukkan wajahnya, menghindari tatapan menggoda suaminya.


Tawa tak mampu lagi di tahan, Sandi tertawa dengan ikut menundukkan kepalanya melihat ekspresi seorang Billa yang biasanya dingin dan cuek berubah menjadi sangat imut. Tak sanggup membayangkan lagi, Sandi langsung memeluk dan membuka mukena sang istri.


“Mana, coba liat wajah orang yang lagi ngambek tadi?” Godaan yang Sandi lontarkan membuat Billa malu dan memukul lengan sang suami.


“Maaf, sayang. Gua masih belum bisa tegas pada gadis yang mendekatiku. Bukan mau memberi harapan, hanya males meladeni mereka. Percayalah sayang, hanya ada satu bidadari yang bersemayam di hatiku.” Sandi menjeda ucapannya membersihkan wajah Billa dari anak rambut yang menghalanginya memandang wajah terkasih.


”Yaitu kamu. Hanya kamu satu yang bertahtah dalam hatiku.” Lanjut Sandi yang kini menggenggam jemari seoarang Salsablla dengan penuh perasaan kasih dan sayang.


Billa masih belum bisa mengendalikan jantungnya yang menginginkan untuk di keluaran, sedangkan kakinya sudah melemas seperti kehilangan tulang. Billa menutup mata menikmati pelukan hangat dan juga mendengarkan detak jantung yang meminta untuk keluar dan berlari sekencang-kencangnya.


“Bisakah kau membawaku ketempat tidur? Sejujurnya kakiku sudah lemas akan gombalanmu hai kau suamuku.” Dengan nada suara yang serak, Billa mengeluarkan kata itu setelah bergulat dengan batinnya yang masih tak menentu.


“hehe, dengan senang hati hai bidadari hatiku. Apapun akan aku lakukan agar kau bahagia hidup bersamaku.” Ucpan Sandi membuat Billa seakan melayang di atas awan.

__ADS_1


“Jika kau ingin aku bahagia, tolong jangan kau beri harapan pihak ketiga menyusup di antara kita.” Ucapan Billa membuat senyum Sandi mengembang.


“Pasti”


Bisikan lelaki itu membuat Billa tak tahan lagi. Melihat wajah sang lelakinya memerah karena merasa gejolak dalam tubuh. Manikmati malam bersama kekasih hati membuat malam minggu itu semakin berkesan bagi kedua insan yang tengah mabuk asmarah.


Pagi setelah sholat subuh, Billa dan Sandi bersepakat untuk jojing bersama keliling taman yang tak jauh dari rumah mereka. Bukannya lari atau jalan sehat, Tapi kedua sejoli ini malah asik berkuliner pagi.


“Pandu, rumahmu sekitaran sini?” Sapa seorang gadis yang di jumpai semalam.


Seperti tersulut api cemburu kembali, Billa kembali menarik seluruh sarafnya berpusat pada bibirnya. Sandi yang menyadari itu malah mendekatkan wajahnya pada bidadari yang tengah tersulut api cemburu.


“Apaan sih San?” Tanya Billa dengan wajah yang memerah karena malu.


“Mau mencium bidadari hatiku, apa itu salah?” Pertanyaan yang hanya menimbulkan rasa panas di hati seorang Kiara.


Gadis yang tengah jatuh hati itu, harus merasakan sakit hati yang mendalam. Karena tanpa penolakan kiara mendapati lelaki pujaannya memanggil wanita lain dengan sebutan bidadari hatiku.


Ingin rasanya Kiara menjambak wanita yang kini tersipu malu, di depan lelaki tampan yan mencuri hatinya pada saat pandangan pertama. Pertemuan singkat yang memberi kesan tersendiri pada gadis belia di sampingnya.


Tanpa memikirkan siapapun lagi, Sandi mengajak Billa pergi dari sana. Seperti tak saling mengenal, sandi tak menjawab bahkan meninggalkan Kiara di tempat duduk tadi.


“Lu terlalu kasar San, meinggalkan gadis tadi tanpa menjawab pertanyaannya.” Billa memprotes tingkah lelakinya itu.


“Ini cara gue Bill, Lu gak peru khawatirin dia. Dia bukan orang baik untuk hubungan kita.” Sandi mengalungkan lengan kekarnya di pundak Billa yang tingginya tak melebihi dadanya.


Billa merasa sangat kecil jika perjajar dengan sang suami. Pemilik tinggi 150cm itu kadang memilih menggandeng tanggan cowok dengan tinggi 179cm itu sedikit jauh darinya.


Berasa kaya orang nenteng termos kagak sih kalian kalo liat gua sama laki gua. Pertanyaan yang selalu ada di dalam hati Billa ketika sedang jalan berdua bersama Sandi yang memiliki tinggi tak kira-kira itu.


 


 


Iklan boleh kagak ni?


kalo kagak boleh ya udah gua lanjutin bab berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2