
"Mami, sudah lah. Sekarang waktunya kita memperbaiki bukan menyesali. Tapi memperbaiki, memulai dari awal. Mi, Queen mau kita kumpul meski kita gak menjadi keluarga. Queen mau mami maafin papi dan bantu usahanya papi. Queen bilang begini bukan mau memihak papi atau menyalahkan mami. Tapi Queen mau kehidupan mami lebih baik lagi dari sekarang." Jelas Queen memeluk Angel yg sudah mulai tenang.
"Queen, kalo mami membantu usaha Toni, siapa yg akan mengurus ruko ini? Orang yg nitip sudah semakin banyak dan pelanggan juga rame. Mami juga memperkerjakan anak buah, bagaimana nasip mereka?" Tanya Angel dalam sesenggukannya.
"Mi, tenang aja kan ada Queen. Lagian ruko ini kan gak jauh dari kampus juga perusahaan Levin kerja. Jadi Queen bisa ngurusin semuanya, ya.... selain bisa makan gratis setiap hari." Kata Queen sedikit menggoda maminya dengan mengusap ngusap perut yg sudah sedikit membuncit.
"Levin, kamu janji sama mami mau jaga Queen sebaik mungkin dan membahagiakan dia. Tapi kenapa kamu buat putri mami jadi busung lapar gini sih? Badan tinggal tulang dan kulit, perut buncit wajah kucel. Haduh Leviiiinnnnn mana putri mami yg cantik sexy bahenol?" Angel sudah mulai tertawa melihat kelakuan putrinya.
"Gimana gak jadi busung lapar mi, setiap malam di pompa tapi gak di kasi makan." Cibir Queen bertepatan dengan kedatangan sang papi Toni.
"Queen!!! Ngomong apaan sih kamu." Bentak Levin sambil merengkuh kepala Queen menyembunyikannya di pelukannya karena malu.
"Hahaha dia malu" Ketawa Toni membuat suasana kembali tegang. "Gak lucu ya? Maaf kalo gitu." Kata Toni sedikit merasa bersalah telah menghancurkan moment bahagia mereka.
"Enggak kok Ton, Apa kabar?" Tanya Angel dengan senyuman yg tertahan.
"Mami kalo mau senyum senyum aja, kalo mau ketawa ketawa aja, kalo mau bahagia bahagia aja jangan di tahan tahan. Anggep aja kami manekin yg bisa di hias juga bisa mengkritik." Cibir Queen yg masih sibuk dengan makanannya di balik pelukan sang suami.
"Bisa diem gak putrinya Toni ini? Berasa nemu beo dari pada ketemu anak kalo kaya gini." Kata Toni yg dari dulu suka terus terang dengan candaan kocaknya.
"Ya ellah papi, sekarang di hina kemarin kemarin di tangisin. Ok Ok Ok Queen pamit, mending sama papa Rizal aja kalo dateng di cium cium di peluk peluk. Bukan malah di bully kaya gini." Kata Queen dengan gaya merajuknya.
__ADS_1
"Di cium cium? Di peluk peluk?" Tanya Levin yg menjauhkan Queen dari pelukannya membuat Queen menghentikan makannya.
"Emmmm enggak sering kok sayang, seringan di peluk sama di cium kamu kok." Kata Queen mengekor Levin yg pergi dengan langkah besarnya.
"Hmm udah cemburu itu, kemarin aja baru ketemu juga di csmburuin." Kata Toni yg tak sadar sudah membawa Angel dalam pelukannya.
"Hmmm Toni, Rizal sudah membesarkan putri kita dengan baik. Membekalk dia dengan ajaran agama dan budi pekerti yg baik. Kita seharusnya berterimakasih dengan Rizal dan Cinta." Kata Angel yg malah mengeratkan pelukannya.
"Maafin aku ya sudah membiarkanmu berjuang sendiri selama ini. Aki gak bermaksud buat ninggalin kamu di malam pernikahan kita, tapi aku mau mencari Queen setelah tau kabar dia di bully sama anak dari Rama dan Rena. Aku berasa tak berguna selama ini menjadi seorang papi." Kata Toni membalas pelukan Angel dan ikut menangis.
"Jadi kamu selama ini kemana? Keluarga kamu selalu mencari Queen. Aku gak mau di pisahkan dengan Queen, jadi aku selalu mengusir dia dan gak mau menganggap dia putriku agar keluargamu tak mengambilnya dariku. Aku takut sama keluargamu yg selalu mengancamku untuk mengambil Queen, Aku mau Queen bahagia bersama Levin. Tapi keluargamu mau memisahkan mereka dengan memanfaatkan Alex mantan tunangan Queen dulu. Sampai Alex.... Alex...." Kata Angel menggantung karena tak sanggup untuk mengungkapkan kejadia yg membuat Queen hancur.
"Maafkan aku Ngel, aku pernah mencarimu di kontrakan dulu tapi katanya kamu sudah pergi. Aku memutuskan ke Bali membangun perusahan di sana. Akhirnya kemarin, aku bertemu dengan Queen atas bantuan Agung rekan bisnisku. Karena kecelakaan itu keluargaku membawaku ke Singapura. Menjalani pengobatan di sana hingga sembuh." Jelas Toni.
"Tapi kata keluargamu, kamu sudah meninggal." Kata Angel semakin tenang.
"Masalah itu aku gak tau." Jawab Toni masih memeluk Angel.
"Hei kalian orang tua!!! Cerita apa lagi yg kalian sembunyikan dari kami para anak anak?" Tanya Queen yg memaksa senyumannya setelah menghapus air matanya.
"Kalian masih disini?" Tanya Toni kaget.
__ADS_1
"Kenapa memangnya kalo kita masih disini? Apa anda juga gak akan menceritakn gimana klian menikah?" Jawab Queen sinis.
"Maaf anak gadis papi mami, syarat yg kamu ajukan gak mungkin papi lakuin. Terimakasih kalian sudah membawa papi ketemu istri yg selama ini juga papi cari. Untuk masalah pusaha ekspor impor, papi masih bisa menangani." Kata Toni santai namun membuat Angel penasaran.
"Oh jadi ini trik anda. Menarik, Tapi setelah ini anda akan mengetahui betapa kerasnya usaha saya menjaga putrimu, pak tua." Kata Levin tercengang.
"Syarat? Syarat apa ini?" Tanya Angel penasaran.
"Syarat ku harus menetap di bali dan menjauhi mereka juga termasuk kamu, jadi mereka membujuk kamu untuk mau menjalankan usahaku." Kata Toni mengeratkan pelukannya yg kini juga sudah memeluk putrinya.
"Pi, jangan tinggalin kami lagi. Aku gak mau di bilang anak haram lagi oleh orang orang." Queen menengis haru.
"apaan ini aku di biarin, Sini Queen peluk aku aja yg masih kenceng. jangan peluk lelaki tua itu terus. Lihat itu keriputnya sudah terlihat jelas di pelipis matanya." Kata Levin menarik lengan Queen dam membawanya kepelukanya.
"Ambil sana punyamu, tapi inget dia itu darah daging mu." Kata Toni lagi.
"Hei pak tua, apa anda lupa? Anak gadismu itu dari dulu manjanya sama aku dari kecil sampai sekarang." Kata Levin membuat Queen tersenyum malu.
"Sudah yok Vin kita pulang, Mi jajan yg aku makan di bayarin sama papi ya." Queen berjalan keluar menggandeng sang suami.
Queen tersenyum dalam tangisan, betapa bahagianya hidup ku saat ini. Tuhan jika ini sebuah mimpi, tolong jangan bangunkan aku. Matikan semua alarm di muka bumi ini, karena aku gak mau cepat bangun dan kembali mencicipi kopi pait Levin.
__ADS_1
Levin mengusap pucuk kepala Queen. Tak akan aku biarkan senyumanmu sirna lagi Queen, nikmati teh manis yg selalu kau minum tanpa di aduk. Levin tersenyum lalu membawa Queen kembali ke rumah untuk beristirahat dan membuat perhitungan dengan sang papa yg ternyata masih suka cium cium dan peluk peluk istrinya.