
FRIZKA POV
“Lu mau main - main dengan gue Revan?” kata ku di depan kaca yang menampilkan diriku sangat kacau.
Ingin sekali aku mencarimu untuk meminta hakku, Tapi aku sangat malu untuk hal ini. Gila saja dia meninggalkan aku untuk kedua kalinya setelah pernikahan. Apa yang harus aku lakukan????
Aku melangkahkan kaki mencari di mana kendaraanku di parkirkan oleh satpan ***** itu. Sebenarnya apa yang yang membuatmu meninggalkanku seperti ini? Gila sekali kamu meninggalkan istri menggoda sepertiku?
Tak tau lagi aku harus berkata apa pada takdir yang mempermainkan kehidupan rumah tanggaku. Aku benar benar membutuhkan suamiku untuk saat ini, oh Revan bayangan tubuhmu yang menggoda tak mampu aku melupakanmu. Sentuhanmu yang aku rasakan, sudah membuatku gila.
“Revaaaaannnnn!!” aku teriak dalam mobil yang melaju kencang menuju tempat suami menggodaku tinggal selama ini.
Senyumanku mengembang ketikan aku teringat Billa akan terkejut dengan kedatanganku. “Gue akan membuat lu tersingkir Billa. Gue akan mempengaruhi Revan kembali untuk melempar lu ke jalanan. Dengan tubuh gue yang sexy menggoda pasti Revan akan tunduk pada gue, hahahaha”
Berasa gila aku membayangkan Revan berpihak padaku dengan menikmatiku, Sedangkan Billa menangis di pinggir jalan.
POV AUTHOR
Frizka melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata - rata. Hatinya berbunga ketika membayangkan Revan yang lebih berpihak padanya dari pada ke Billa. Dua jam perjalanan membawa Frizka ke Villa yang di gabung dengan kantor. Frizka langsung masuk ke dalam ruangan paling atas melalui tangga dalam rumah.
Sengaja melepas sepatunya agar tak menimbulkan suara. Frizka langsung memeluk Revan dari belakang. Semua karyawan merasa kaget, terutama Revan dan Billa.
Billa langsung memisahkan Frizka dari Revan. Kekuatan Frizka ternyata lebih besar saat memeluk suami sirinya. Billa yang semakin geram akhirnya menyiram Frizka dengan air dlam gelas di depannya.
“Gila lu Bill!!” Frizka akhirnya melepaskan pelukannya pada revan.
Kesempatan ini tak di sia - siakan oleh Billa dengan menarik Revan kebelakangnya. Dengan tinggi yang tak beda jauh, Billa meraih pipi kiri dan pipi kanan menggunakan satu tangan. Menguatkan pegangnya dan membuat Frizka seperti ikan lohan yang kesakitan.
“Berani menyentuh milikku!!! mati kau di tanganku!!!” Perkataan Billa membuat karyawan yang menyaksikan itu pun merasa ngeri.
Tatapan tajam milik Billa ternyata mendapat sambutan yang sangat dinantikan olehnya dari seorang Frizka. Frizka berusaha melepaskan tangan Billa yang menyakiti rahangnya. Semakin Frizka meronta, semakin kuat Billa menerkam Frizka.
Revan menghentikan cengkraman Billa dengan memeluknya dari belakang. Seolah mengerti apa peran yang di mau Billa, Revan membela Billa di hadapan Frizka.
“Lebih baik kamu pulang Frizka.” mendengar apa yang di ucapkan Revan, Frizka merasa tak terima dan langsung meraih rambut pendek Billa yang di kuncir kuda.
“Dasar wanita tak tau diri!! wanita genit, Beraninya lu menggoda suami gue.” Frizka menyeret Billa keluar ruangan tanpa ampun.
Perkelahian dua wanita ini membuat semua karyawan merasa ngeri. Perebutan Boss mereka masih tidak berhenti di sana. Di luar Villa di saksikan oleh warga yang melintas, Billa di siram dengan air kran.
Revan yang berusaha memegangi frizka agak tak menyerang Billa pun mendapat cakaran di wajah dari Frizka. Billa yang melihat kejadian itu, teringat kembali akan bayangan kabur saat dirinya sebelum kehilangan kesadarnnya.
Billa masuk ke dalam rumah, sedangkan revan terus memegangi Frizka agar tidak mengejar Billa. Vano membantu Revan memegangi Frizka yang terus meronta ingin mengejar Billa. Billa datang dengan melempar salinan buku nikah yang sudah di siapkan sebelumnya.
Billa memang menunggu hal ini terjadi. Kejadian yang sudah di tunggu - tunggu oleh Billa. Tanpa mikir panjang lagi, sekarang Billa lah yang mencengkram Frizka dengan kuat.
“Buka mata lo, dan baca berkas - berkas ini. Punya hak apa lu menghakimi gua!!! Revan suami sah gua!!!” Dengan suara nyaringnya Billa membuat Frizka seakan membeku.
Frizka membaca berkas yang di lemparkan oleh Billa sebelum menatap ke arah Revan sang suami.
“Kenapa lu lakuin ini? Gua istri pertama lu, tapi lu menikahi jalaang ini tanpa sepengetahuan gue.” Kini air mata Frizka jatuh, merasa tak di hargai sebagai istri.
“Karena Revan mencintai gua, bukan elu Frizka Adipiranha” Jawaban angkuh seorang Billa membuat Frizka ingin memakannya hidup hidup.
__ADS_1
“Sekarang tanya suami lu, dia pilih lu istri yang tak di cintainya atau gua istri sah yang di nikahi dengan atas dasar Cinta,” ucap Billa lagi menantang Frizka.
Tanpa menjawab, Revan mendekat kearah Billa yang hanya mendapat tatapan membunuh dari Frizka. Frizka yang sekarang jauh lebih berbahaya dari yang sebelumnya. Frizka yang sudah terbiasa bergaul dengan orang orang kejam, membuatnya tak segan - segan untuk membunuh. Seperti saat ini Frizka sudah mengacungkan pistol ke arah Revan yang hendak meninggalkan Frizka sendiri.
“Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada yag boleh memilikinya.” Ucapan Frizka membuat semua menoleh ke arahnya sebelum Billa mendorong Revan menjauh dan mengganti posisinya.
Tembakan Frizka meleset, timah panas itu menembus lengan sebelah kanan milik Billa. Dengan cepat Vano menyambar lengan Frizka lalu mengikatnya dengan darinya. Vano berubah menjadi orang yang menakutkan. Sedangkan Revan tanpa memandang laki - laki atau perempuan langsung menampar Frizka sampai mengeluarkan darah segar di pojok bibirnya.
“Sekali lagi saya mlihat atau mendengar kamu menyakiti Billa. Aku bisa pastikan kehancuran untukmu. Dan ya, aku mencintai Billa tapi aku tidak mau menceraikan kamu.” Tatapan penuh keseriusan membuat aura di sekitar serasa mendung.
“Kalian jangan malah mengurusi iblis itu, Billa sudah tak sadarkan diri ini.” Yuga merasa geram dengan kedua orang yang malah mengurusi Frizka ketimbang Billa yang terluka.
“Siapkan Mobil.”
Perintah Revan di kerjakan oleh Bambang dan langsung langsung membawanya ke rumah sakit terdekat.
Dalam keadaan cemas, Revan dan Vano tak henti - hentinya mondar mandir dan membuat Yuga menjadi pusing.
“Kalian berdua ini kenapa gak bisa diem sih? Pusing saya karena kalian berdua.” Yuga menggerutu kesal akan kelakuan kedua orang di depannya.
“Terus aku harus bagaimana?” Tanya Revan
“Sekarang bapak duduk dan lu juga Van, duduk yang anteng. Kalo kalian berdua gak bisa duduk anteng, kepala saya yang jadi spaneng.” Kata Yuga sedikit menarik tangan Vano.
Sedetik kemudian handphone milik Revan berdering. Dengan sedikit menjauhi Vano dan Yuga, Revan mengangkat telfon dari clian. Revan melupakan meeting dengan clian karena kejadian ini. Revan mengabarkan bahwa dia mendapat musibah dan rekan bisnis itu memutuskan untuk menjenguk Billa selaku istri dari sang boss besar.
Sekitar satu jam Billa berada di dalam ruangan operasi untuk mengeluarkan peluru yang ada di lengan kananya. Akhirnya pintu ruangan itu terbuka juga, Revan langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar.
“Bagaimana keadaan istri saya dok?” Tanya Revan dengan terburu - buru.
Billa di pindah ke ruangan VVIP atas permintaan Revan. Revan baru saja duduk di samping istrinya yang lagi terbari belum sadar, tiba - tiba pintu ruang rawat Billa di ketuk oleh seseorang. Yuga yang merasa paling dekat dengan pintu memilih untuk membukanya.
Betapa kagetnya Yuga ketika melihat sesosok Andra dengan seorang wanita yang mengandengnya secara posesif. Vano yang melihat Yuga mematung langsung mengerti apa yang harus di lakukan.
“Siapa sayang?” Tanya Vano dengan memegang bahu Yuga dari belakang.
“Oh Andra, sini masuk.” Revan sedikit bingung namun mencoba bisa saja.
Mungkin selama aku di Jerman ada sesuatu yang terjadi di antara Vano dan Yuga, batin Revan.
“Hai, apa kabar?” Tanya Andra pada mantan istrinya sedikit terbata dan bergetar.
Vano memeluk Yuga dari samping untuk menetralkan diri Yura dan mendudukkannya di sampingnya.
“Mari silahkan masuk pak Andra, anda menakuti istri saya.” Satu kalimat yang membuat keempat orang menjadi bingung.
“Maaf” satu kata yang mampu di ucapkan oleh Andra saat ini, di sampinya sudah menebarkan hawa kecemburuan yang tak terdeteksi oleh Andra karena rasa kangennya.
Perbincangan dua antara rekan bisnis ini berubah menjadi perbincangan hangat. Setelah penandatanganan persetujuan pendanaan untuk perusahaan Andra.
“Oh iya, pak Vano. Kapankah anda menikah?” Pertanyaan Andra membuat Yuga khawatir namun tidak dengan Vano.
“Sudah sekitar setahun setengah, setelah dia menyelesaikan masa Idahnya. Kurang lebih seperti pak boss dengan Billa.” Jawab Vano santai agar tak ketahuan dia sedang berbohong.
__ADS_1
“Iya kah? Tapi setahu aku, pak Vano belum pernah menikah.” Pertanyaan menyelidik dari Andra membuat Vano merasa geli.
“Pak Andra tau kalau setahun setengah yang lalu saya seorang mahasiswa di universitas di Jerman. Kami juga pasangan beda agama, jadi mau tidak mau kami harus merahasiakan hubungan kami. Juga kami harus menyembunyikan Baby kami.” Jawaban Vano di mengerti oleh Revan sebagai pembelaanya pada Yuga
Tapi yang tidak di ketahui oleh Revan adalah. Ada hubungan apa antara Andra rekan bisnisnya dengan Yuga? Batin Revan hanya mampu menebak nebak.
Tak lama Andra berpamitan kepada Revan dan yang lainnya untuk pulang kerena mendapat tarikan keras dari sang istri yang terkesan sangat tidak suka.
“Sekarang katakan apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian berdua? Benar kalian sudah menikah?” Tanya Revan mengintimidari.
“Bapak jangan gila deh, saya kenal Yuga baru kemarin di kelain sama Billa.” Jawab Vano jujur.
“Terus?” Tanya Revan lagi.
“Dia mantan suami saya pak, Vano melakukan itu hanya untuk membuat mantan suamiku merasa menyesal sudah melepaskanku.” Jelas Yuga yang membuat Revan mengangguk ngangguk mengerti.
Tak ada kata selain kata salut pada Vano yang mengerti keadaan yang ada. Tapi pertanyaan yang masih mengganggu Revan dan Yuga adalah, Darimana Vano tau kalau Andra itu mantan suami Yuga.
“Dari mana lu tau Andra itu mantan suami Yuga?” Pertanyaan Billa membuat ketiga orang itu kaget.
Sedikit gugup dengan pertanyaan Billa yang tiba - tiba namun mampu di jawab dengan tenang oleh Vano. “Pak Andra mirip dengan Reyhan.”
Jawaban yang sangat tepat sekali Vano, bati Vano dengan sedikit nafas yang masih memburu.
Billa hanya tersenyum mendengar dan melihat ekspresi Vano. Lengan yang masih terasa nyeri sedikit membuatnya malas untuk bergerak.
IKLAN
Yuga: Ngapa Andra lu hadirin lagi sih Thoorrr?
penulis: biar greget idup lu.
Yuga: kurang greret apa lagi coba idup gua Thor? lu udah buat gue menjanda dengan satu anak. lu gak mikir kadang - kadang kalo buat cerita, semenderita ini gua ngejalanin tanpa suami. lah udah gua bisa bangkit lu malah hadirin mantan suami yang udah ganteng berduit depan gue lagi.
penulis: lebay lu, minta sono ke papa lu. papa lu tajir, bini nye dua.
Yuga: lah elu yang buat kan kalo gue janda tanpa sepengetahuan emak bapak gue. mereka punya cucu dari gue aja gak tau.
penulis: lah terus selama ini lu gimana?
Yuga: gue kaya elu Thoor sembunyi dari masyarakat.
penulis: begok lu yang gak ketulungan, auk ah lanjut tidur.
Yuga: Thoor reques bapaknye Reyhan ye,
penulis: dih ogah, gua aja ngincer brondong aja kgak dapet dapet
Yuga; emank siapa inceran lu?
__ADS_1
penulis: Suga.
Yuga: WASALAM