Sahabat?

Sahabat?
Season 2 kedatangan Andra


__ADS_3

Sarapan pagi ini Billa sudah bisa menikmatinya di meja makan. Dengan bantuan Revan, Billa bisa aktif di kantor. Sedangkan Frizka, dia bekerja didalam kamarnya dengan mengajak Reyhan.


Hari ini ada agenda meeting bersama dengan Andra di restoran. Tapi Andra memaksa untuk ketemu di kantor baru saja. Dengan alasan kesehatan Billa, akhirnya Andra bisa menemui anak yang mungkin adalah anaknya.


“Selamat siang pak Revan,” ucap Andra di depan pintu kantor yang berada di lantai atas lewat tangga depan.


“Oh sudah datang, ayo silahkan masuk.” Betapa terkejutnya Andra saat wanita yang di kenal sebagai adik dari sahabatnya menyambut dirinya di depan pintu.


“Kenapa terkejut kak Andra?” Tanya Billa yang mengetahui keterkejutan Andra.


“Salsa? Kamu kerja bareng Yuga?” Tanya Andra tak mengerti.


“Dia asisten pribadiku, tangan kananku. Setingkat dengan Vano.” Jelas Revan yang mengerti apa yang menjadi kediaman Andra.


“Oh, maaf. Saya kira dia seorang biasa saja, mengingat dia juga memiliki perusahaan sendiri,” ucap Andra.


“Ya, sebesar apapun perusahaan keluargaya. Seorang istri itu harus terus berada di samping suaminya yang tegah berjihad untunya dan keluarganya.” Revan memeluk Billa dari samping.


Andra mengerutkan dahinya semakin tidak paham. Setau Andra, Frizka lah yang menjadi istri Revan setahun yang lalu.


“Jangan banyak mikir pak Andra, kami profesional kok kerja. Selama di Jerman, Billa dan Vano lah yang terus berdiri di belakangku. Menemaniku menitih karir sampai di titik ini.” Revan mencoba memberikan gambaran, betapa profesionalnya dirinya dalam bekerja.


Yuga yang duduk di pojokan bersama dengan Bambang dan Leo pun hanya diam - diam saja. Berusaha untuk tiadk menampakkan diri.


“Yuga, tolong siapkan minum, dan jangn lupa cemilan yang tadi.” Suruh Billa pada Yuga yang fokus pada layar di depannya.


“Baik,”


Yuga membuatkan kopi pait untuk mantan suaminya dan kue brownis yang dibeli Billa tadi secara online.


Vano melihat kegrogian Yuga langsung mengambil alih nampan yang di bawanya. Vano merasakan betapa besar perasaan yang di miliki seorang Yuga untuk sang mantan suaminya. Vano juga melihat kekecewaan yang sangat besar di mata Yuga yang memerah.


Vano memperhatikan tingkah yuga yang sesekali mengelap air matanya sesekali. Billa dan Revan mengetahui ini. Mereka berdua sangat peka jadi tak bisa lagi menutupi apapun dari Revan dan Billa. Frizka datang dari lantai bawah dengan membawa Reyhan.


Frizka ternyata sudah mengenal Andra jauh lebih lama dari yang di tau semua, termasuk Revan selaku suaminya. Frizka yang mengetahui jadwal suaminya secara tidak sengaja pun, memiliki rencana lain untuk membuat Yuga terpisah dengan Reyhan.


Anak kecil yang menjadi kesayangan suaminya. Frizka sangat terganggu dengan itu. Fikiran Frizka hanya ingin menyingkirkan siapa saja yang mengalihkan perhatiannya dari seorang Revan. Begitu banyak cara yang di lakuka Frizka untuk menggenggam Revan dalam tangannya.


“Eh ada Andra, Ini anaknya Yuga kok mirip elu ya?” Pertanyaan Frizka membeuat Billa lagsung merebut Reyhan dari gendongannya.


“Billa, Billa” Revan mengejar Billa yang membawa turun Reyhan untuk di sembunyikan.


“Maaf pak Andra, kita bisa lanjutkan meetingnya. Dan untuk yang di Raja Ampat itu kemungkinan besar akan dilimpahkan ke bapak mulai minggu depan. Bapak sudah siap kan?” Tanya Vano yang menggantikan Revan dan Billa mengambil keputusan.


“Apa jabatan anda bisa mengambil alih keputusan yang seharusnya di putuskan oleh bapak Revan?” Pertanyaan Andra membuat Vano sedikit meradang.

__ADS_1


“Oh, bapak meragukan keputusan saya? Jangankan untuk mengambil keputusan seperti ini. Untuk memutus suatu kontrak pun saya bisa. Bapak Andra” Vano mengatakan dengan penuh penekanan.


“Baikla, mungkin memang benar anda itu tangan kanan dari bapak Revan. Tapi tolong sadar diri untuk posisi anda. Anda itu tak lebih dari seorang yang cuma di percaya mendampingi bukan pengambil keputusan.” perdebatan Andra semakin membuat Vano kehabisan kata - kata.


“Sayang, tolong panggilkan Billa atau pak Revan.” Vano mengatakan dengan selembut mungkin meski tengah terbakar api amarah.


“Iya,” Jawab Yuga singkat


Tak Lama Revan datang dengan Frizka dan menyapa Andra. Menanyakan apa yang membuatnya kurang percaya dengan keputusan seorang Vano, setelah di jelaskan oleh Vano.


“Pak Andra. Kami sudah membahas ini tidak sehari saat ini saja. Tapi dua hari yang lalu. Jika tidak ada saya, yang mengambil keputusan itu ya pak Vano atau Bu Billa. Keputusan mereka itu sama dengan keputusan saya, keputusan ku itu juga sedah melalui perdebatan dengan mereka. Jadi dengan saya atau dengan mereka itu sama saja. Keputusan mereka bisa di bilang keputusan mutlak untuk ku.” Revan mengatakan dengan peuh penekanan akan posisi Billa dan Vano di perusahaa.


“Baiklah pak Revan. Minggu depan saya akan ke Raja Ampat.” Andra mengalah dan setuju.


Setalah menyepakati keputusan dengan Vano, Andra berpamitan untuk meninggalkan kantor. Andra memandang Yuga yang di gandeng oleh Vano secara posesif. Sedikit ada rasa penyesalan telah melepas seorang Yuga. Namun ada alasan yang sampai saat ini tak bisa di ungkap oleh Andra tentang perpisahan mereka. Yuga dan Vano menunjukkana betapa bahagianya kehidupan yang mereka jalani saat ini, hingga keposesifan itu terjadi.


Kepergian Andra, Yuga menangis sejadi - jadinya di pelukan Vano. Vano hanya mendiamkan meski semua memandang ke arah mereka. Vano memilih untuk cuek. Wanita anak satu itu saat ini hanya memerlukan dada untuk bersembunyi dan juga bahu untuk bersandar.


Kata - kata yang menenangkan baginya saat ini adalah, anakmu membutuhkan mu untuk bermain. Tak ada kata Cinta seindah itu lagi. Cinta yang dulu di jalani dengan rasa bangganya, hingga sebuah perceraian yang di layangkan oleh sang suami padanya saat tengah hamil tiga bulan.


Reyhan tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Reyhan juga tak mengenal arti dari seorang ayah. Anak secekil itu harus menanggung keegoisan sang papa. Yuga berusaha tegar untuk hidup sendiri. Arya, bukan lah orang yang keras hati untuk kembali menerima putri mereka. Hanya saja, sang putri merasa malu dengan kondisinya saat itu. Yuga memilih hidup sendiri itu karena Yuga lah yang dulu mengajak Andra untuk menikah tanpa sepengetahuan orang tuanya.


Frizka duduk di kursi Billa dengan laptop miliknya. Frizka pinda kerja duduk di samping Revan selama seharian. Sedangkan Billa memilih untuk menemani Reyhan bermain di dalam kamar.


“Revaaaaaannnnn.” Billa teriak saat semua karyawan baru akan meninggalkan kantor.


“kenapa bisa diam di sana kamu Billaaaaaaa!!!!” Gemas Revan dengan kelakuan sang istri.


“Hikz, aku niatnya cuma main eh malah tangganya di pindahin sama si kucil itu.” Adu Billa.


“Hahahaha lagian kenapa lu bisa kalah dari si kucil Reyhan?” Tanya Yuga yang tak hentinya tertawa.


“Lu juga ngapa manjat - manjat sih Bill? Udah tau lu gak bisa turun juga.” Frizka ikut ngomelin Billa.


“Diem lu musang.” Gedek Billa mendengar Frizka sok dekat denganya.


“Lu manggil gue musang, gua dorang juga lu dari balkon.” Guyonan Frizka mengingatkan Billa saat masih ada Sandi dan juga Aris dengan mengenakan baju seragam putih abu - abu.


“Silahkan kalo berani, Inget Levin lu. Tau kan lu bakalan jadi apa kalo lu macem - macem sama gua!!!” Billa menanggapi dengan cara yang sama seperti yang dulu tanpa sadar.


“Udah udah sayang, sini ayo aku turunin.” Revan menggendong Billa untuk turun.


Panas? Itu sudah pasti. Tapi Frizka tidak bisa mengatakan apa - apa selain hanya meninggalkan kamar itu. Billa yang benar - benar ketakutan, kakinya bergetar tak tertahankan.


“Ya sudah, sekarang kamu istirahat. Yuga juga sudah selesai kerjanya. Apa kamu mau mandi?” Tanya Revan yang tak mendapat jawaban dari Billa.

__ADS_1


“Ya sudah kami tinggal ya,” ucap Vano meninggalkan bossnya dan sahabatnya.


Billa memeluk Revan dengan sangat kencang. Billa menangis di pelukan Revan, Revan tak mengerti Billa menangisi apa. Yang Revan tau saat ini, Billa sedang terluka hatinya. Billa hanya butuh pelukan, bukat pertanyaan. Billa hanya mau mendengar kata sayang, bukan menjelaskan.


Revan memilih untuk diam dan mencoba mengerti situasi yang tengah di rasakan oleh Billa. Seperti Billa yang memahami dirinya tadi pagi. Pelukan Billa semakin lama semakin mengendur, saat Revan menyadari itu Ternyata Billa sudah tertidur dalam pelukannya dan sesekali terisak.


Revan menidurkan Billa sebelum dia mandi untuk sholat ashar.Dalam sholatnya Revan berdoa untuk dirinya jauh lebih kuat dan tabah. Memiliki dua orang istri itu tak segampag menjalin hubungan dengan relasi kerja. Kalau kerja, yang capek adalah pikiran. Tapi ketika memiliki istri lebih dari satu itu yang capek adalah hati.


Ragaku dan jiwaku menolak, tapi adil harus aku berikan pada keduanya. Selain kebutuhan lahir, kebutuhan batin juga harus bisa aku berikan secara adil pada mereka berdua. Kalau masalah hati, maaf hatiku tak bisa di bagi menjadi beberapa belahan lagi. Hatiku sudah membagi untuk pekerjaan dan juga Billa.


Dialah satu - satunya wanita yang membuat ku melupakan kerja. Dialah wanita yang mampu membuat ku tersenyum dan menangis secara bersamaan. Billa itu bukan manusia, tapi dia ratunya iblis. Ratu iblis yang membelenggu jiwaku berada di bawah kendalinya.


Hanya Billa yang mampu memporak porandakan kedamaian hatiku. Merusak tatanan jiwaku. Dan juga mengaduk aduk kehidupanku. Ingin hati aku memilikinya hanya untukku sendiri. Tapi apa daya, dirinya masih milik dia dan dirinya yang sudah ada di surga.


Seperti apakan mereka yang mampu menyentuh hati ratu iblisku? Tidakkan aku bisa lebih baik dari mereka? Aku hanya ingin menyentuh hati Billaku untuk ku miliki sendirinya. Aku ingin masuk dan bersanding dengan dia dan dirinya di sebelah hati Billa yang lain.


Harapan masih menjadi harapan. Billa belum pernah mengakui akan perasaannya terhadapku. Aku bisa gila jika terus menahan perasaan ingin memilikinya lebih besar lagi. Aku hanyalah aku, yang tak bisa menjadi dia atau dirinya.


Billa, ijinkan aku mengetuk pintu hatimu dan bertahta di antara dia dan dirinya. Aku berjanji, tidak akan pernah menyakitimu. Aku akan berusaha untuk membahagiakanmu.


 


 


IKLAN


 


Revan: Gilla lu thor? seganteng apa sih mereka? bisa bisanya gua yang gatengnya mengalahi Suga, bisa kalah sama anak esem A.


Penulis: Apa lu bilang? ganteng mengalahkan Suga? gantengnya kucing empus kasi, bukan Suga.


Revan: enak aja, gua ganteng gini di samain sama empus sih.


Penulis: PD amat lu, inget ya. lu itu gak ada se cuilnya oppa Suga ku.


Revan: issss lebay lu, jadi kapan lu buat Billa cintak sama gua?


Penulis: Kagak pernah. Ya kali gua mau nulis nasip baik lu, setelah lu nge hina babang Suga gua.


Revan: yang ngehina siape maemunah? baca lagi tu tulisan percakapan kita. kagak ada kan"


Penulis: ngapa lu bawa bawa emak guaaaaaaa? Minggat lu.


Revan: Lagi PMS bu?

__ADS_1


Penulis: Iye dan lagi pengen makan elu.


__ADS_2