Sahabat?

Sahabat?
Season 2 kepergian Billa


__ADS_3

Seminggu Ini Billa lebih sering mengunci kamar lebih dulu. Revan yang merasa tak memilika salah pun keheranan dengan Billa. Sehabis bekerja langsung mengunci pintu. Di suruh makan malam pun Billa tidak keluar. Billa akan keluar saat pagi hari.


Billa keluar sudah tak seperti biasanya. Dia akan mengabaikan semuanya. Bekerja lebih serius dari biasanya. Dan yang lebih mengherankan lagi, Billa lebih sering keluar rumah saat menemui Clian pribadinya.


Siapa yang sebenarnya menjadi cliand Blla saat ini?


Kenapa dia sangat misterius sekali belakangan ini?


Revan berusaha bisa saja menghadapi apa yang membuatnya tidak tenang. Selama seminggu ini Revan memilih tidur di kamar Vano dari pada tidur dengan ulet keket.


Kali ini Billa berpamitan untuk makan di luar. Anehnya, saat Revan meminta untuk ikut Billa langsung menolaknya dengan tegas. Sikap Billa yang seperti ini lah yang mengundang kecurigaan pada diri Revan dan Vano.


Revan dan Vano mengikuti Billa dengan menggunakan sepedah motor milik Bambang. Tak jauk dari Villa, Billa berhenti di sebuah rumah tua yang masih sangat terawat. Billa masuk tanpa mengetuk pintu setelah clingukan kiri ke kanan. Memastikan tidak ada orang di sekita, Billa langsung masuk dan menutup pintu kembali.


Revan dan Vano merasa sangat penasaran dengan tingkah laku Billa seminggu belakangan ini. Revan dan Vano mendekati rumah tua dan mencoba mencari tau apa yang ada di dalam. Betapa kagetnya Revan dan Vano melihat sosok Sandi dan Aris yang masih hidup.


Ini bukan film atau ftv kan? Kenapa sedrama ini?


Revan menutup mulutnya ketika Billa menyuapi makanan kepada kedua orang itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Ini jelas bukan mimpi atau sebuah drama kan? Tuhan, apa yang terjadi dalam hidup ini? Kenapa terus mempermainkan ku.


Vano dan Revan memutuskan untuk pergi meninggalkan Billa dengan kedua orang yang ada di dalam. Pulang dengan membawa segudang pertanyaa memang sangat tidak baik. Seperti saat ini Revan dan Vano hanya bisa berfikiran buruk pada Billa.


Tak lama Billa kembali ke kantor tanpa sepengetahuan Revan dan Vano. Mereka berdua kini tengah di dalam kamar membahas tentang apa yang mereka lihat barusan. Billa tak berfikir apa apa pula tak ada mereka di ruangan. Billa fokus pada lembaran yang ada di hadapannya.


Sekitaran jam tiga sore Billa kembali keluar, namun kali ini Billa mengajak Yuga. Billa seakan melupakan dua orang yang semingguan ini di cuekinya. Bahkan keberadaan Frizka yang terus bergelayutan di lengan Revan pun tak di anggap oleh Billa.


***


“Ga, gua gak tau harus ngomong apa lagi. Frizka itu jahat banget sama gua.” Billa mulai mengadu saat sudah berada di cafe Cinta.


“Elu juga yang salah, udah tau Revan punya bini. Lah elu begok minta di nikahinya.” Yuga malah menyalahkan Billa dalam kasus ini.


“Niat gua mau bikin Frizka merasakan apa yang gue rasakan. Di tinggal laki gue, tapi Revan malah gak mau ceraiin Frizka.” Billa menyesali keputusan gilanya.


“Sekarang gini aja, lu kasi pilihan Revan buat milih antara elu atau Frizka.” Yuga memberi saran.


“Gua gak bisa berbagi. Gua egois dan mau menang sendiri.” Billa kini sudah menangis dalam pelukan Yuga.


“Terus mau lu apa sekarang?” Tanya Yuga yang mencoba menenangkan Billa.


“Hari ini gua mau balik ke Jakarta. Levin telfon, kalo gua udah gak kuat menjalaninya, mending gua menyerah,” ucapan Billa membuat Yuga tersentak.


“Terus kalo elu menyerah, bagaimana dengan kedua orang itu?” Tanya Yuga lagi.


“Mereka aman sekarang sama Mario.


“Mario?”


“Iya, tadi mereka sudah di jemput Mario.” Jawab Billa membuat Yuga sedikit tenang.


“Sebenarnya, mereka itu siapa? Kenapa mirip sekali dengan Aris sama Sandi?” Tanya Yuga penasaran.

__ADS_1


“Mereka tawanan bang Levin. Mereka orang yang menabrak Aris. Mereke sebenarnya gak mirip, tapi Frizka membuat mereka mirip.” Jelas Billa yangcmembuat Yuga bingung.


“Frizka memberikan oprasi plastik untuk mereka berdua setelah menabrak Aris. Frizka berniat untulk meninggalkan jejak. Tapi Sandi yang asli sering menemui Levin tanpa sepengetahuan Frizka yang membuat Rencananya berantakan. Kedua orang itu di tugaskan untuk mengganggu kehidupan gua, tapi malah ketangkap oleh Mario.  Mereka masih menggunakan mobil yang di pakai menabrak Aris. Jadi yaaaaa, di tawan sama Levin.” Jelas Billa


“Apa? Terus, kenapa mereka bisan sampai di sini?” Tanya Yuga tak mengerti lagi.


“Levin menawan mereka di sana memang. Levin gak sejahat itu, selama ini mereka bebas dalam pantauan. Cuma seminggu yang lalu mengalami kecelakaan. Ya gak terlalu parah, hanya kasian gua.” Billa mengelap air matanya.


“Lu tau siapa yang menabrak mereka?” Billa menanyakan hal yang tak mungki di ketahui oleh Yuga.


“Frizka. Dia sudah mengetahui di mana Mereka tinggal. Makanya gua minta buat Mario menjamin ke amanan mereka.” Jelas Billa membuat Yuga menggeleng - gelengkan kepata tak tau lagi apa yang harus di fikir untuk Frizka.


Setelah menunggu selama satu jam, akhirnya Levin datang menjemput Billa. Levin memberi salam pada Yuga dan terimakasih sudah menemani Billa. Billa berpamitan Billa ikut dengan abangnya tanpa membawa sehelai pun pakaian, selain yang menempel di tubuhnya.


Billa mantab meninggalkan Revan dan yang lainnya. Billa membuat janji pada Yuga dan Levin agar tidak memberi tahukan kemana dia pergi. Billa tidak pulang ke rumah orang tuanya, atau pergi jauh keluar pulau. Billa hanya menetap sementara di rumah yangdi tempatinya dulu bersama sandi.


Yuga kembali ke Villa dan mendapati Revan dan Vano sudah berdiri menunggunya di depan pintu gerbang.


“Mana Billa?” Tanya Revan dengan penuh ketegasan.


“Lah mana saya tau pak, saya keluar membeli pempes sama susu.” Jawab Yuga dengan menunjukkan barang belanjaannya.


“Ada yang mengatakan, tadi Billa keluar sama kamu,” ucapan Vano membuat Yuga sedikit gugup.


“Saya gak tau, saya pergi sendiri. Kalau tidak percaya, silahkan cek cctv.” Tantang Yuga untuk meyakinkan dua orang yang bisanya terlihat seperti malaikat kini telah menunjukkan wajah iblis mereka.


“Barusan ada anggota kepolisian untuk membawa Frizka.” Revan mengatakan hal itu dengan sedikit kekecewaan yang terlukis di wajahnya.


“Apa bapak kecewa dengan penangkapan istri pertama Bapak?” pertanyaan Yuga membuat Revan semakin memerah karena marah.


“Sepertinya saya memang tidak cocok bekerja dengan anda bapak Revan. Saya bekerja untuk membantu Billa. Jujur saya bahagia Frizka akan mendapat apa yang seharusnya dia dapat. Dan saya kecewa sama Bapak yang lebih memilih melindungi pembunuh seperti Frizka.” Yuga meninggalkan Vano dan Revan dengan langkah besar.


“Saya gak menyangka bapak bisa melakukan hal seperti ini. Apa yang di lakukan Billa itu hal yang benar. Dia meminta keadilan untuk almarhum suaminya yang di habisi oleh madunya.” Vano ikut meninggalkan Revan menyusul Yuga.


Di dalam Villa, Yuga terlihat mengemasi barang - barang miliknya dan putra semata wayangnya.


“Lu mau kemana Ga?” Tanya Vano sambil meraih paksa tangan Yuga yang mengemasi baju - bajunya.


“Billa gak ada, buat apa gue di sini? Gue kecewa dengan pak Revan. Dia melindungi sekali pada Frizka, Sekarang dia yang akan menangis jika benar Billa meninggalkannya.” Yuga menghempaskan tangan Vano.


“Kemanapun kamu pergi, aku ikut.” kata yang terlontar membuat Yuga meradang.


“Gua janda Vano, dan gua punya bayik. Apa pandangan orang terhadapku nanti.” Bentak Yuga pada Vano yang kini hanya memandang adanya.


“Gua gak peduli, gua nikahin lu sekarang juga kalau perlu.” kembali Vano membuat Yuga semakin marah.


“Lu kristen, dan gua muslim. Kita gak mungkin menikah Vano.” kembali Yuga mematahkan Vano.


“Ajari aku menjadi imam mu.” Kini Vano menundukkan kepala di hadapan Yuga and membuat luluh hati seorang janda anak satu di depannya.


“Kalian jangan pergi dari sini.” Ucapan bergetar dari seorang Revan membuat Vano Dan Yuga tersentak.

__ADS_1


“Maksudnya apa pak?” Tanya Yuga sedikit mengeryitkan dahi.


“Jangan tinggalkan saya sendirian. Tanpa Vano dan Billa, saya hanya sampah di pinggir jalan.” Kata Revan sedikit melunak.


“Bapak sadar sudah menyakiti Billa?” Tanya Yuga membuat Vano dan Revan merasa heran.


“Maksudnya?”


“Bapak sadar gak, ketika Billa mengajak Bapak menikah itu berarti Billa mau bapak menceraikan Frizka. Tapi bapak malah mempertahankan, padahal bapak sendiri menyaksikan penembakan waktu itu. Billa mengorbankan diri untuk bapak itu karena dia mulai membua hati untuk bapak. Tapi bapak malah minta ijin untuk menggilir Cinta Billa.” Revan tersadar, penyesalannya memanglah tidak ada gunanya.


“Dan lagi, Billa itu menginginkan Frizka mendapat apa yang seharusnya dia dapat dari perbuatannya. Bukan malah di lindungi, seperti bapak melindungi Frizka.” Kini Yuga penuh dengan amarah.


“Aku tidak melindunginya. Tapi aku masih menyelidiki dari mana dia mendapatkan obat tidur berdosis tinggi yang menjebakku waktu itu.” Revan mengatakan dengan sedikit penyesalan.


“Menyesal tidak ada gunanya pak. Billa masih sakit hati dan lebih kecewa pada Bapak.” Yuga mencoba membuat Revan untuk berfikir akan semua kesalahannya.


“Billa itu masih dalam kehancuran hati pak, dan bapak malah mengancurkan remah - remah hatinya yang mulai di bangun di atas namamu pak.” Yuga mengatakan hal ini dengan sedikit meluluhkan emosinya.


“Aku harus apa sekarang Ga?” Tanya Revan dengan nada putus asa.


“Saya gak tau pak, tunggu Billa pulang saja.” Jawaban Yuga seakan memberi harapan pada Revan.


***


Malam sudah hampir subuh, Revan menunggu Billa di teras kamar sepinya. Revan melihat layar ponsel miliknya. Menunggu kabar Billa dari sebrang yang entah di mana sekarang berada. Pesan - pesan yang di kirim melalui media whatsapp pun hanya menunjukkan cetang satu saja.


Sudah belasan bahkan puluhan kali Revan mencoba menelfon Billa, namun masih dalam keadaan di luar jangkauan. Sebenarnya Jangkauan mana yang tak bisa di jangkau? Apa Billa sudah berada di luar planet? Atau Billa lagi menemui raja iblis untuk mengutuk revan?


Revan sudah hampir gila menunggu Billa semalaman. Revan telah melewatkan waktu tidur malamnya, hanya untuk memikirkan di mana Billa berada saat ini. Apa yang harus di lakukan Revan saat ini? Istri pertama di tangkap polisi tepat di kantor barunya. Dan membuat saham BIRMA  turun drastis, sedangkan istri kedua hilang bak di telan bumi.


Apa yang harus aku lakukan saat ini Tuhan? Masih adakah pintu maaf- Mu untukku? Ucapan dalam doa Revan di sepertiga malam membuat Yuga luluh yang tak sengaja mendengarnya.


Yuga merasa kasihan pada boss besar yang kini sudah mendekati kehancuran. Di tinggalkan Billa selama seminggu, ternyata mampu merubah kekerasan hati seorang Revan CEO berbakat. Menjadi Revan seorang sampah. Dia bahkan rela menjual aset BIRMA yang ada di Hongkong demi menutupi kerugian BIRMA pusat di Jerman.


 


 


IKLAN


penulis: yeyeyeyeye rasaknokapooookkk


Revan: sarap lu, suka benget bahagia di atas penderitaan gue.


penulis: biar lu tau rasa Revan. gak semua cewek itu isa di poligami,biar surga janji Allah. Tapi dunia itu berasa kek neraka. sumpah sakit banget,


Revan: tapigua cintanya sama Billa thor, bukan sama Frizka.


penulis: sekarang gua kasih tau niye. biar kate lu cinta mati, tapi kalo masih ada yangnamanya orang ketiga. hati isltri lu sudah pasti akan terluka. Jangankan hidup berdua dengan madu nya, istri di bandingin dengan ipar aja kadang masih sakit hati.


Revan: dalem banget thoe? pengelaman ya?

__ADS_1


penulis: auk ah gelap mau tifur lagi aja. kali aja Suga mau dateng di mipi gua,


Revan: nasib bini gua gimana thooooorrrrr, woeeee balik luuuu


__ADS_2