
"Zal lo niat belajar gak sih? Besok try out lo." Cinta menarik narik kaki Rizal yg menjuntai di pnggir ranjang dengan tangan menutup matanya.
"Otak gue udah encer Cin. gak belajar juga gue bisa kerjain besok." Ucap Rizal masih dengan mata terpejam.
"Iya encer sampek meler lewat kuping." Cinta ganti memukul kaki Rizal.
"Idih meler dong kuping gue. Gitu amat sih lo ama lakik sendiri sakit Cinta bego." karena Cinta memukul terlalu keras membuat Rizal kesakitan.
"Ya elu sih gak mau bangun dari tadi, ini kerjain nomer 13 gak bisa gue." Cinta menyodorkan buku kimia di depannya.
"Ya elo sih udah tau nomer keramat. masih aja lo kerjain. Yg lain aja lah ngantuk gue." Rizal meletakkan buku itu di sampingnya tidur.
"Gitu banget sih lu Zal. Nyesel gue nikah ama lu. Gak gunak jadi laki, suruh ngajarin satu soal aja gak mau." Gerutu Cinta membuat Rizal terbangun dan menggendong Cinta naik ke atas ranjang.
"Lo bilang gue laki gak guna? Terus lo nyesel nikah sama gue?" Cinta mengangguk takut karena Rizal menindihnya.
"Kalo gitu biar sama sama guna, gue ajarin lo ngerjain tu soal tapi kasi gue jatah. Gimana?" Tantang Rizal membuat Cinta salah tingkah.
__ADS_1
"Zal eh eh mending besok aja dah di kerjain gue nyontek punya Rena. Dia kan einsteinnya kelas kita" Cinta senyum senyum dan menjauhkan diri dari Rizal.
"Lo itu ya sini gue ajarin. jangan malu maluin gue lo." Rizal bangkit dari ranjang dan mengambil buku yg Cinta kasi tadi.
"Zal Lo tau gak bedanya imajinasi sama logika?" Tanya Cinta yg tiba tiba memeluk lengan Rizal.
"Enggak emang kenapa?" Rizal balik bertanya.
"Kalo logika cuma bisa bawa aku ke kamu, tapi kalo imajinasi bawa bawa aku ke manapun aku mau." Cinta tersenyum
"Ck lo ma gak mau tanggung jawab. Udah bikin gue gila juga malah mau ngeclaim diri jadi duda." Cinta merajuk.
"Kok gue yg bikin lo gila?"
"Iya lah, Cinta lo buat gue gila." Cinta tertawa karena di gelitiki oleh Rizal.
"Bazeng emang bini gue ini. Sini sini gue buat lo mabuk mau gak?" Rizal kini memeluk Cinta.
__ADS_1
"Gak boleh Zal haram itu lo mau gue masuk penjara?"
"Lah pa hubunganya penjara sama dosa? Setau gue itu kalo udah berdosa ya masuk neraka lah kok penjara?" Rizal makin gak ngerti apa yg di pikirkan istrinya.
"Penjara cintamu Zal." Dengan malu malu Rizal tersenyum mendengar gombalan dari istrinya.
Rizal merasa gemes dan mengangkat Cinta untuk duduk di pangkuannya. Rizal membelai lembut pipi Cinta, meniup niup telinga tengkuk dan berakhir di hidung Cinta. Perlahan Rizal mendekati Cinta dan membisikkan sesuatu.
"Cintaku nyata bukan sebuah imajinasimu, Cintaku bukan penjara yg akan mengurungmu, Cintaku juga bukan neraka yg akan menyiksamu. Tapi Cinta yg aku miliki ingin memberimu surga, Sebuah kebahagiaan yg tiada tara." Bisikan Rizal membuat Cinta mengeratkan pelukannya.
"Tapi gue gak mau Zal." Rizal kaget dengan jawaban istrinya.
"Kenapa?"
"Karena gue gak mau mati dulu dosa gue masih banyak. Lagiam di surga istri lo itu ada 70 bidadari, lah gue kalah telak." Satu sentilan di kening Cinta membuatnya mengaduh.
"Dasar lo ya. Bodo ah tidur ngantuk gue. inget jangan godain gue. Sekali bangun gak akan gue tahan lagi!!!" Ancam Rizal.
__ADS_1