
Setelah usai pesta ulang tahun putri Nadia. Kini ke empat sahabat itu duduk di 1 meja bersama pasangan masing masing. Cinta dan Rizal memulai pembicaraan mengenai Queen putri abangnya dengan istri keduanya yg merupakan putri tiri dari Rena selaku istri pertama.
"Maunya gimana sekarang soal Queen? Kalo abang mau ngambil Queen ya silahkan karena itu memang putrimu. kalo abang masih mau menitipkan ya silahkan. Kami juga tau semua itu butuh proses." Rizal memulai membahas Queen.
"Jujur, abang pengen ngambil Queen. Tapi dia gimana?" Rama seperti ada gurat leraguan dalam hatinya.
"Masalah apa yg membuatmu ragu bang?" Tanya Cinta.
"Queen belum mau di pegang abangmu Cin" Rena mengingat kejadian tadi.
"Masalah itu bisa pelan pelan kita lakukan pendekatan. Dan lagi mulai minggu depan Cinta akan mulai praktek di rumah sakit Bintang Harapan. Anak anak akan ikut kamu Ren setiap hari. Aku akan ikut bantuin jaga dari sana kalian bisa memaksimalkan usaha kalian mendekati Queen. Dan lagi, berikan sebutan yg sama untuk Kliene dan Levin karena mereka bertiga kami besarkan sama sama dan tak ada perbedaan. Kaya memanggil mama sama papa. Kami gak.pernah mengajari Queen tapi dia meniru Kliene dan Levin." terang Rizal.
"Masalah itu kami setuju." Jawab Rama.
Rizal mengajak semua sholat Ashar. Karena dia sudah mendengar suara Adzan. Saat semua belum bangun dari tempat duduknya. Tiba tiba Queen berlari ke arah Rizal dan menarik tangannya.
"Papa udah adzan tadi Queen denger. Kliene dan Levin nunggu di luar untuk wudu katanya." Ajak Queen yg membuat semua tercengang selain Cinta sama Rizal yg merupakan kebiasaan untuk sholat bersama.
"Iya iya papa ikut Queen sekarang. Duluan ya nanti tu si kembar main aer." Pamit Rizal yg di gandeng Queen.
__ADS_1
"Makasih ya Cin, kalian mendidik anak kami dengan bekel komplit. Gue gak yakin kalo mamanya Queen sendiri bisa sebaik kalian untuk membesarkan Queen." Kata Rama bertarimakasih.
"Jangan berlebihan bang. Belum tentu mamanya gak sebaik kami. Di ingat Queen juga putri kandungnya. Queen itu berhak bahagia bang Seperti anak lainya. Mamanya gak mau sama dia, tapi lo sebagai papanya teramat sayang padanya. Juga jgan lupa Bundanya yg saaaangaaat baik." Ucap Cinta sambil memeluk Rena.
"Pasti, gue gak mau di anggap sebagai ibu tiri Cin. Kalo kenalin ke Queen bilang bundanya Queen biar dia gak merasa takut."
"Iya Ren itu pasti."
Semua berjalan menuju kamar mandi. Namun Cinta mencari di mana suami dan anak anaknya. Setelah berwudlu semua melaksanakan sholat berjamaah yg di imami Rizal. Semua tampak khusuk menjalankan sholat hingga salam. Kliene Levin serta Queen berebut salam dari papanya yg di lanjut mencari mama Cinta.
"Queen, sayang. Lihat yg disana itu?" Rizal menunjuk abangnya dan di angguki oleh Queen.
"Papa Rama sama bunda Rena itu papa sama bundanya Queen? Kenapa Queen gak pernah lihat pa?" Tanya polos Queen.
"Mereka kerja untuk Queen punya rumah di depan itu. Taukan? Papanya Queen sayang sekali sama Queen. Makanya papa nitipin Queen ke papa Rizal sama mama Cinta. Queen gak lagi rebutan sama Kliene dan Levin buat di gendong lagi." Rizal memberi pengertian.
"kok Queen di titipin? Sekarang boleh Queen pangku papa Rama? Kasian mama Cinta pangku Kliene dan Levin. Kan berat." Tanya Polos Queen membuat semua meneteskan air mata termasuk Nadia.
"Pangku bunda juga boleh sayang." Kata Rena setelah menyeka air matanya.
__ADS_1
"Horeeeee Queen punya bunda. Levin sama Kliene gak punya bunda." Kata Queen membuat semua tertawa meski air mata masih membasahi pipi.
"Mama Kliene mau punya bunda juga." Ucap Kliene sambil merengek.
"Levin juga papa." Levin tak mau kalah dari kakaknya.
"Papamu suruh nyari lagi Vin."Goda Nadia.
"Anak kecil malah di ajarin gitu lo Nad. Emang di pasar ada yg jual bunda?" Cinta menjawab sekenanya.
"Lo kira bayem di jual di pasar." Celetuk Nadia sambil melipat mukenanya.
"Ya kalik ada yg jual. Di obral bunda cadangan dengan harga miring karena otaknya udah miring." Jawab Cinta santai.
"Gak pa pa miring asal otaknya gak se absurt lo Cin." Timpal Agung.
"Sebenernya ini tu titisan istri lo gung." Bela Rena.
"Masak Bini gue lebih Absurt?" Agung menggendong Levin karena gemas.
__ADS_1
"Gak keliatan aja. Otaknya itu yg mengontaminasi kami. Lo tau, gara gara dia males berbagi ya pernah minum es campur. Beber bener campuran tu es eh masih di tambah sama sambel. Absurt gak tu? dia bilang, pengen nikmati sendiri tu es."