Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Billa Nyonya Sandia


__ADS_3

Malam tetaplah malam dengan kegelapannya. Billa merajut mimpi indah bersama Sandi di bawah langit gelap Singapura. Saling menautkan janji untuk tidak akan pernah meninggalkan satu sama lain. Billa tersenyum dengan bahagia Aris meninggalkan kebahagiaan yang di titipkan pada Sandi, Sahabat sekaligus sepupunya. Sandi memang seorang yang sangat cuek dengan sekitar. Tapi dia sangat sensitive jika sudah menyangkut Billa. Entah dari mana datangnya rasa posesifnya Sandi jika sudah menyangkut Billa.


Levin, Sandi, Kliene juga Rizal adalah perpaduan yang sangat kuat dalam melindungi keluarga, terutama para istri dan anak. Rizal adalah orang yang paling utama maju sebelum Levin dan Kliene ketika Billa sedang dalam masalah. Namun saat ini Sandilah yang paling depan menantang asalah itu sebelum yang lain.


Levin adalah orang yang sangat dingin, namun masih lebih dingin Sandi. Karena Sandi jauh lebih cuek dengan sekitar selain itu membahayakan Billa. Kadang Billa mengeluh karena Sandi jauh lebih cuek dan dingin dari Levin. Billa yang memiliki sifat jail itu sangat bertolak belakang dengan Sandi. Billa kadang membandingkan betapa penurutnya Aris dulu terhadapnya.


“Lu tau San, Aris itu jauh lebih romantis dari lu?” Tanya Billa menikmati es krimnya tiduran di pangkuan Sandi yang menonton televisi.


“Tau.” Jawab Sandi cuek.


“Isss, rasanya es krim ini jauh lebih hangat dari pada lu deh.” Gerutu Billa memasukkan es krim kedalam mulutnya.


“Lu mau di angetin?” Bisik Sandi di telinga Bilal.

__ADS_1


“Gak.” Jawab BIlla menahan tawanya.


“Katanya es krim itu jauh lebih hangat dari pada gue, makanya gue tawarin lu yang anget.” Kata Tian dengan senyuman mesumnya.


“Enggak San, gak usah. Ya sudah kalau begitu aku mau tidur aja.” Billa berlari ke arah tempat tidur, namun belum sempat menjatuhkan diri ke tempat tidur. BIlla sudah di tangkap oleh Sandi.


“Sekarang aku akan memiliki kamu seutuhnya Salsabilla binti Alfan Ahrizal Nyonya Sandia Pandu Wiranatha.” Bisikan Sandi membuat Billa merinding.


“Kapan Bill? Harus menunggu gue memakai toga dulu baru lu mau menerima gue seutuhnya?” Tanya Sandi membuat Billa merasa bersalah.


“Bukan begitu sayang, tapi gue mau lu lebih fokus sama kuliah dulu. Masalah memiliki atau di miliki itu sudah pasti lu milik gue dan gue milik lu.” Jawab Billa membelai wajah Sandi lalu mencium hidung mancungnya.


“Masalahnya,saat berdekatan dengan lu itu suatu ujian yang harus gue tanggung setiap hari, Siang sore dan terutama malam hari Billa sayang.” Sandi memeluk Billa seakan sudah tidak ada lagi hari esok.

__ADS_1


“Gue tau San, tapi lu harus tahan. Karena gue juga menahan semua yang lu rasain. Siksaan batin yang sangat dahsyat. Semua demi cita cita lu.” Jawab Billa.


“Lu emang ratunya Tega Billa.” Sandi memilih menjatuhkan diri di atas tempat tidur yang berukutran sedaang.


“Sorry sayang.” Ucap Billa lagi.


“Ok untuk kali ini saja.” Sandi memeluk Billa yang merebahkan dii di sampingnya.


“Sabar ya, nanti juga lu bakalan merasakan apa yang lu mau. Habisin sampek lu bosen.” Kata Billa menenangkan Sandi.


“Gak akan bosen, biar makan kamu saat ini juga aku bisa.” Sandi menggigit pundak Billa.


“Sakit Sandi!!!” Billa memukul Sandi dan Sandi hanya mengaduh sambil tertawa lepas.

__ADS_1


__ADS_2