
"Mas, bangun! Sudah jam berapa ini? Kamu itu.... Sumpah bikin aku emosi pagi-pagi." Cinta membangunkan Rizal dengan cara memukulnya dengan selimut.
Pasalnya, Cinta sudah membangunkan Rizal sebanyak lima kali pagi ini. Tapi lelaki berumur itu tidak sama sekali bergerak.
"Mas, jangan nakutin dong." Cinta sudah mulai panik dan ketakutan.
Rizal cuma berpamitan tidur lagi selepas sholat subuh, tadi. Masih mengenakan baju Koko dan sarungnya, Rizal memejamkan mata dengan lengan menutupi kedua matanya.
"Levin.... Kliene..... Queen.... Ayu....." Teriak Cinta tak tahan menahan rasa takutnya.
Levin yang berada di ruang kerja yang jaraknya lebih dekat dengan kamar orang tuanya. Membuatnya lebih dulu datang setelah mendengar teriakan ibunya.
"Ada apa Ma?" tanya Levin terburu-buru.
"Bangunin papa kamu. Ini sudah sangat siang, katanya mau ngajak mama ke pasar beli baju lebaran. Tapi sampai sekarang, susah di bangunin." Air mata Cita sudah tidak bisa lagi di bendung.
__ADS_1
Mata bingung Cinta mengisyaratkan kepanikan dan ketakutan yang luar biasa. Levin, melihat kaki papanya sudah pucat segera memeluk mama terncintanya.
"Bang, periksa Papa." Levin ikut menangis sambil memeluk Cinta.
Kliene yang seorang dokter, langsung paham kondisi orang tuanya yang sudah tidak bernyawa. "Vin, Papa....." Kliene pun tidak kuat lagi menyampaikan kabar duka ini pada ibunya.
Cinta sudah tau seharusnya, karena dia juga seorang dokter. Tapi egonya tidak mau menerima kenyataan. Jika cinta sejatinya sudah meninggalkan dirinya sendiri di dunia penuh drama ini.
"Mama, yang tabah. Kamu ada untuk mama, papa sudah percaya pada kami buat menggantikannya membahagiakan mama." Queen, menantu yang di besarkan sendiri dengan kedua tangan Rizal dan Cinta pun tidak pernah menganggap mereka mertua, tapi orang tua kandung.
"Tapi Queen, papa janji mau ngajak ke pasar beli baju lebaran. Tapi papa malah tidur nggak bangun-bangun." Adu Cinta menangis sesenggukan.
Kliene tak sanggup lagi menahan air matanya. Dia juga tidak kuat melakukan apa-apa meskipun sebagai dokter.
Kematian memang sudah sering dia jumpai. Tapi Kliene tidak sekali pun membayangkan akan mengurus jenazah orang tuanya suatu hari nanti.
__ADS_1
Ayu menghubungi seluruh keluarga untuk berkumpul. Melihat Kliene dan Levin juga Cinta ibu mertuanya tidak akan pernah kuat sendiri mengurus Rizal.
Kematian yang tidak pernah di bayangkan selama ini. Akhirnya menghampiri keluarga besar Baganta.
"Papa...." Teriak Billa saat baru sampai dan melihat papanya masih di urus oleh pihak rumah sakit.
"Bil, temani Mama. Mama memerlukan kamu memeluknya saat ini. Jangan biarkan Mama sendiri, jiwa Mama terguncang." Levin yang sejak tadi berada di samping Cinta segera menghampiri adiknya.
"Tapi papa...?" Billa masih enggan meninggalkan papanya, karena ini adalah terakhir kalinya mereka semua melihat sosok Alfan Ahrizal untuk terakhir kali.
Papa, suami dan sesosok lelaki yang tidak ingin orang menyentuk keluarganya dengan niat tidak baik. Lelaki tanggung jawab dan berwibawa yang menjadi panutan putra-putrinya semasa hidup.
"Ada kami, Mama membutuhkan kamu saat ini. Di kamar sebelah ada kak Queen sama Kak Ayu." mata merah yang tidak bisa menyembunyikan betapa sedihnya Levin yang selama ini bersikap kuat.
Billa menurut, dia mencari ibunya dan segera memeluk orang tua tunggal yang selama ini membesarkannya dengan kasih sayang penuh.
__ADS_1
"Mas, kamu janji buat sehidup semati denganku. Tapi kenapa kamu ninggalin aku sendiri?" Cinta tak lagi memikirkan janji yang tadi di buat oleh suaminya. Tapi Cinta mengingat ribuan janji yang di ucapkan Rizal semenjak dia menjadi suaminya.
Bersama dengan dirinya hingga akhir hayat. Rizal memang sudah menepatinya, bahkan tanpa adanya seorang pun yang bisa menggodanya. Tapi, janji sehidup semati yang sering di ucapkan Rizal. Itu hanya omong kosong saja. Buktinya Rizal meninggalkan dirinya lebih dulu.