
Billa meninggalkan kamar hotel tanpa membawa apa apa, bahkan kartu ATM maupun kartu kredit yang di berikan Sandi pun di tinggalkannya selain identitas pribadi. Billa berjalan cepat menuju bandara karena penerbangannya kurang 30 menit lagi. Billa kembali mematikan ponsel yang kali ini hanya menampilkan foto dirinya sendiri. Hati Billa kosong, entah perasaan apa yang ia miliki untuk Sandi suaminya yang belum genap 24jam di nikahinya.
"Tragis banget nasib gue." Gumam Billa dengan senyuman sinisnya.
Penerbangan empat jam, waktu yang sangat cukup untuk Billa beristirahat. Setibanya di tempat tujuan, Billa langsung ke hotel yang sudah di pesankan untuknya oleh Revan.
"Hallo pak, bapak di mana?" Tanya Billa saat menelfone bossnya.
"Di kantor Bill, kenapa?" Jawaban santai membuat Billa geram.
"Ok kalo bapak gak nyusul Billa ke Hongkong, Billa gak akan pernah balik ke perusahaan bapak." Ancaman Billa berhasil memporak porandakan fikiran seorang Revan Alibaba sahid.
Tanpa persiapan Revan segera meraih visa dan paspornya segera terbang ke Hongkong menyusul Billa. Selama di Hongkong sendirian, Billa hanya diam di dalam hotel. Menikmati fasilitas hotel bukanlah hal yang membosankan. Massage spa meni pedi membuat Billa sedikit rileks dan melupakan masalah yang telah membelenggunya.
__ADS_1
Selama Billa menikmati rileksasinya, Sandi yang memasuki kamar hotel tidak menemukan Billa. pikiran kacau Frizka meminta untuk di nikahi, sedangkan Billa pergi tanpa pamit.
"Kenapa demen banget ngilang sih lu Bill? Gimana gue bisa perjuangin lu, kalo lu gak pernah anggep gue. Gue laki lu Billa, Aaaaaaagggggrrrrrhhhh" Teriak Sandi frustasi.
Pikiran Sandi kacau, hatinya sakit bagai tertusuk duri namun tidak ada yang tau. Sandi menangis merasa gagal. Kehilangan Billa kembali bukanlah kemauannya. Sandi melihat buku nikah yang di tinggalkan Billa bersama kartu kartu pemberiannya di atas nakas. Hati Sandi semakin sakit melihat Billa mencampakkan dirinya.
"Hallo bang, bisa minta alamat Billa di Jerman?" Sandi memberanikan diri menelfon Levin yang bertanggung jawab atas Billa di Jerman.
"Kenapa kamu tanya alamat Billa di Jerman? Setauku dia sudah lama meninggalkan apartemen yang abang sewakan untuknya. Billa sempat bilang kalau dia tinggal di rumah bossnya bersama Vano." Sandi merasa kecewa mendengar pengakuan Levin jika Billa tinggal seatab dengan bossnya.
"Ma, pa bisa bicara sebentar saja?" Sandi mengajak Mama dan Papanya ke kafe tak jauh dari rumah sakit.
"Mau ngomong apa kamu San?" Tanya Papa Sandi.
__ADS_1
"Mana mantu mama?" Kini mamanya pun ikut membuka suara.
"Maafin Sandi Pa Ma, Sandi kehilangan Billa." Sandi menundukkan kepala.
"Maksud kamu apa San? Billa kemana? Inget dia istri kamu dan kamu yang meminya dia untuk menjadi istrimu. San jangan mengecewakan Mama." Kini air mata dari Mama Sandi keluar karena kecewa.
"Semalam suster memberitahu kalo Frizka mencari Sandi dan bertepatan Billa meminta Sandi untuk memperjuangkan dia. Tanpa di minta pun Sandi pasti memperjuangkan Billa, hanya saja Sandi belum yakin perasaan apa yang Sandi miliki untuk Billa. Sandi pamit menemani Frizka." Ucapan Sandi terpotong oleh perkataan sang mama
"Terus dia mengijinkan?"
"Billa tandinya menahan Sandi dengan alasan dia istri Sandi. Tapi sandi mengatakan Frizka membutuhkan Sandi. Baru Billa melepaskan Sandi, Billa meninggalkan semua ini dalam kamar hotel. Dan semua barang di tinggalkan olehnya. Sandi harus apa sekarang Ma?" Air mata Sandi tak mampu lagi di bendung.
"Benar jika Billa ninggalin kamu. Mama juga mendukung dia ninggalin kamu. Mending ceraikan Billa. Buat apa kamu menahan dia dalam pernikahan jika kamu masih memikirkan wanita lain? Dia menahanmu sebagai istri karena dia memiliki hak untuk itu. Tapi apa hak Frizka menyuruhmu menemaninya? Biar mama yang mengatakan pada Frizka jika kamu gak sanggup mengatakannya." Emosi Mama Sandi meluap karena kebodohan sang putra.
__ADS_1
Papa Sandi menahan istrinya untuk tidak gegabah. Mengingat Frizka baru saja bangun dari tidur panjangnya.
"Ma Sandi akan ke Hongkong menjemput Billa. Restui Sandi ma. Dan tolong jangan mengatakan apapun pada Frizka demi Sandi dan Billa ma. Biarkan Sandi yang mengatakan sendiri pada Frizka di waktu yang tepat. Biarkan seperti ini dulu selama Sandi menyelesaikan pendidikan di sini. Ajak Frizka pulang ke Indonesia dan sebisa mungkin Sandi akan membawa Billa kembali pulang ke rumah Ma." Sandi meyakinkan mamanya agar tidak melakukan apapun yang akan membahayakan Frizka.