Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Mutiara hitam itu milik Sandia Pandu Wiranatha


__ADS_3

Malam semakin larut, Billa dan juga Sandi masih bergulat dengan laporan-laporan yang di bawa oleh sang Abang dari perusahaan. Jam sudah menunjukkan di angka dua dini hari, Billa dan Sandi masih serius mengerjakan pekerjaan yang seakan tak ada habisnya itu. Cinta yang keluar mengambil air minum untuk Rizal pun terkejut karena melihat ruang kerja sang suami lampunya masih menyala dan bahkan masih terdengar perdebatan-perdebatan Billa dan Sandi karena pendapat yang mereka utarakan untuk memberikan solusi atas masalah yang tengah di hadapi tak sepaham.


“Kalian ini robot apa manusia sih?” Bentak Cinta yang mengagetkan Billa dan Sandi yang tengah berdebat.


“Mama, ngagetin aja,” ucap Billa sambil mengelus dadanya.


“Kalian tau ini sudah jam berapa hah? Hari ini hari pernikahan Frizka tapi kalian masih belum tidur juga!! Billa kamu itu seorang istri dan harus bisa memanage suami kerja, bukan malah ikutan gila kerja kaya gini!!!” Omelan Cinta membangunkan hampir seisi rumah.


“Ada apa ini sayang?” Tanya Rizal yang masih terkejut dengan teriakan sang istri.


“Liat anak dan mantumu!!! Kenapa bisa segila ini sih kalian berdua!!! Ya Salaammmm... gak pengen apa kalian itu memiliki anak. hah!!!” Kata Cinta penuh dengan emosi.


“ngapa bawa-bawa punya anak sih ma?” Tanya Billa dengan segala kejegkelannya, sedangkan Sandi asik melanjutkan pekerjaannya.


“San besok aja di lanjutin.” Ucap Rizal yang melihat sang menantu tengah asik dengan kertas di depannya.


“Nanggung pa, tinggal ini aja.” Jawab Sandi sopan sambil menunjukan selembar yang tengah di kerjakan.


“Ya sudah Billa sekarang kamu tidur. Jangan buat mamamu ngamuk, papa yang susah sayang.” Kata Rizal penuh kasih sayang.


“Mulai besok Billa mau pindah ke apartemen abang aja yang ada di kota. Di sini di omelin terus sama mama.” Omel Billa yang merasa tak terima .


“Sana silahkan kamu pegi dari rumah ini!!” Emosi Cinta telah terpancing oleh ucapan sang putri.


“Iya!!!” pertengkaran Cinta dan Billa pun tak terelakkan lagi.


“Cinta Billa!!! kalian itu ibu dan anak yang sudah dewasa dan memiliki pikiran. Tolong jangan seperti ini!!! Gak ada yang boleh keluar dari rumah ini. Denger itu Billa” Suara Rizal memecah perdebatan ibu dan anak yang tengah beradu mulut.


“Papa, Billa gak bisa bekerja kalau mama seperti ini. Billa harus bisa bertanggug jawab dengan pilihan Billa. Billa memilih mendedikasikan diri Billa pada pekerjaan Billa. Billa mencintai pekerjaan Billa pa.” Billa dengan tangisannya mengungkapkan kekecewaannya pada sang mama.

__ADS_1


“Iya sampai kamu dengan gampangnya memenjatuhkan harga diri kamu dengan tinggal bersama laki-laki yang bukan siapa-siapa kamu BIlla!!!” Geram Cinta mendapat bentakan sang putri kecilnya.


“Iya. Jika jawaban itu bisa membuat mama bahagia dan tidah mau melihat betapa kerasnya Billa berusaha kerja dan kuliah untuk membanggakan keluarga dengan nilai yang sempurna. Semua demi kalian semua, demi mama dan papa. BIlla kadang tidak tidur berhari-hari demi proyek yang berbenturan dengan jadwal kuliah. Itu semua mama tidak akan tau. Yang mama tau, BIlla hanya wanita rendahan yang mau tinggal bersama laki-laki  yang bukan muhrim demi mencapai mimpi!!!” Perkataan Billa hanya membuat mamanya menangis sakit hati.


“Billa sayang anak papa. Papa dan mama itu mau yang terbaik buat kamu sayang. Mama marah sama kamu karena khawatir sama kamu. Mama tak mau kalau Billa putri papa sakit karena kecapekan bekerja.” Rizal mendekati sang putri yang tengah terisak di pelukan kakak iparnya. Rizal memainkan emosinya agar bisa megendalikan diri.


“Sekarang semua tidur, Pa ajak mama ke kamar. Dan Sandi, sekali lagi gue liat lu kerja di rumah. Langsung gue bakar semua kertas yang ada di dalam. Gue gak perduli dengan apapun, selain keluarga gue tenang dan bahagia. Dan itu gak cuma buat Sandi saja, Papa juga .” Tegas Kliene menengahi perkelahian antara mama dan adiknbya.


Jam sepuluh pagi keluarga Rizal baru saja sarapan. Karena pertengkaran semalam, keadaan di ruang makan terasa sangat canggung sekali. Terutama Billa yang masih enggan untuk membuka mulutnya. Sandi yang merasakan admosfer yang mencekam segera membuka mulutnya yang bertepatan dengan kedatangan Levin dan Queen yang sudah mengenakan batik couple untuk menghadiri upacara pernikahan Frizka dan Revan.


“Mama, atas nama Billa dan Sandi sendiri. Sandi meminta maaf pada mama dan berjanji gak akan mengulangi lagi. Dan Sandi juga meminta maaf pada mama sudah membiarkan Billa meninggikan suaranya pada mama,” ucap Sandi mewakili Billa.


“Kenapa harus kamu yang mewakili minta maaf? Memangnya anak itu 'ndak punya mulut?” Tanya Cinta masih dengan emosinya.


“Karena Billa adalah istri Sandi. Baik buruknya Billa adalah tanggung jawab Sandi. Billa melakukan hal seperti semalam juga karena Sandi yang gila kerja juga ma. Maafin Billa,” ucapan Sandi membuat Cinta berfikir sesaat dan saat semua diam, Levin memanfaatkan hal ini untuk mengintrogasi Sandi dan BIlla.


“kalo misalnya Billa melakukan kesalahan yang melibatkan pihak berwajib bagaimana? Sedangkan Billa ketakutan dan memilih bersembunyi bagaimana?” Tanya Levin sedikit menyudutkan Sandi.


“Kenapa kamu lakuin itu?” Kini Billa yang bertanya pada Sandi.


“Baik burukmu itu aku yang akan menanggung di akhirat nanti sayang. Biar di kata kita punya tanggung jawab kita masing-masing di padang mahsyar nanti. Tapi setelah menikahimu, akulah yang meminta seluruh tanggung jawab atas kamu dari kedua orang tuamu. Kamulah yang akan menjadi satu satunya bidadari yang membawa kunci surgaku nanti. Jika kelakuanmu buruk maka aku yang gak bisa masuk kedalam surgaku. Beda dengan wanita yang baik, dia akan menunggu suaminya di surga.” Jelas Sandi yang membuat Billa menangis dan perlahan mendekati sang mama.


“Maafin Billa ma, Billa sudah menyakiti hati mama. Jangan kutuk Billa jadi batu ya ma seperti kata mama kalo BIlla nakal. Billa mau belajar berbakti pada mama papa juga Sandi sebagai suami BIlla.” Tangis BIlla bersimpuh di bawah kaki sang mama yang kini juga menangis haru.


“Sudah lah nak, mama juga sudah memaafkanmu. Tapi janji ya jangan buat mama khawatir lagi.” Cinta memeluk Billa dalam dekapan hangatnya.


Suasana kembali mencair setelah drama pagi berakhir. Keluarga Rizal bersama sama menaiki dua mobil berangkat ke tempat acara pernikahan Frizka dan Revan. Di tempat acara Billa yang mengenakan baju yang sama dengan Bunda Maryam dan mama Ismi, Billa di tahan oleh kedua wanita yang sengaja menunggunya di pintu masuk. Sedangkan Sandi mengikuti sang papa dan Mbah Kung menyalami para tamu yang sebagian besar adalah rekan bisnis Mbah Kung danjuga Revan.


“Selamat pagi bapak-bapak ibu-ibu yang sudah hadir, kami dari pihak keluarga sang mempelai wanita mengucapkan terimakasih karena sudah berkenan hadir dalam acara resepsi pernikahan dari keluarga kami mbak Frizka Natalia dengan putra kedua dari kelarga bapak Alibaba yaitu Revano Alibaba sahid.” Begitulah kira-kira kata sambutan yang Billa ucapkan pada para tamu yang kebanyakan sudah mengenalnya sebagai pasangan atau sekartaris pribadi Revan.

__ADS_1


Di acara tersebut Billa melihat seseorang yang sangat di kenalnya, yaitu seorang Stevano Abigil. Tanpa banyak kata Billa langsung menghampiri teman seperjuangannya selama di Jerman. Terlihat Vano tengah menggandeng seorang gadis cantik menggunakan gaun selutut berwana hijau pudar senada dengan kemeja yang di gunakan oleh Vano.


“Cantik banget Van.”  Bisik Billa yang mendapat lirikan tajam dari gadis di samping Vano.


“Kenalin Calon gue, lebih berisi dari pada elu. Kalo dipelukeluk enakan dia,” ucapan Vano membuat Sang gadis malu.


“Gila lu ya, Mbak jangan cemburu ya. Ini orang ngomongnya emang ngelantur.” Kata Billa sambil memukul lengan sang sahabat.


Ketika sedang asik ngobrol ngalor ngidul bersama Vano, ada seorang rekan bisnis Revan mendekati Billa dan juga Vano.


“Saya kira tuan Revan akan berakhir bahagia dengan anda nona Salsabilla.” Begitulah pertanyaan yang mengagetkan Billa dan Vano.


“Oh bukan pak, kami hanya sebagai patner kerja, sama separti tuan Vano. Saya adalah sekertaris pribadi tuan Revano Alibaba Sahid. Sayalah salah satu orang yang di tutupi beliau selain tuan Vano yang selalu berada di belakang pak Boss.” Jawab Billa dengan sopan.


“Benarkah tuan Vano?” Tanya bapak tadi kepada Vano yang masih belum percaya.


“Iya benar, dan ini adalah calon istri saya dan lelaki yang sedang duduk di samping bapak tadi adalah suami dari nona Salsabilla.” Jawab Vano dengan sedikit mebungkukkan badannya.


“Duduk di sampingku tadi? Bukankah dia Sandia Pandu Wiranatha? Putra dari bapak Husni Tamam pemilik restoran Pandu?” Tanya bapak tadi yang ternyata memang mengenal suami dari sekertaris pribadi seorang Revan.


“Benar, Dan anda tau berasal dari keluarga mana Salsabilla si gadis tangguh ini?” Tanya Vano dengan sedikit memberikan teka teki pada bapak yang belakangan di kenal dengan nama bapak Yunus.


 


“Salsabilla merupakan putri ketiga dari bapak Alfan Ahrizal dan ibu Cinta Lashifa, pendiri cafe Cinta yang banyak tersebar di indonesia. Dan dia adalah adik terakhir dari seorang Levin Baganta, sang singa tangguh perusahaan BAGANTA.” Jelas Vano yang membuat bapak Yunus salah satu investor perusahaan BAGANTA menganga tak percaya.


 


 

__ADS_1


“Ternyata memang kau lahir di antara bibit unggul yang sangat berpengaruh di dunia bisnis Nyonya Sandia Pandu Wiranatha.” kata bapkak Yunus mengakhiri sesi perbincangan itu


__ADS_2