Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Kalau gak suka ya ganti saja


__ADS_3

Semua karyawan memandang Billa dengan bermacam arti. Ada yang merasa iba, ada yang merasa takut akan kemarahan Billa. Dan ada juga yang merasa kasihan pada wanita yang kini sudah berada di dekapan sang suami. Frizka merasa dirinya tengah di permalukan pun memilih untuk oergi ke ruangan Revan.


Billa hanya memandang ke arah Frizka dengan tatapan mengintimidasi. Setelah Frizka menaiki tangga ke lantai atas. Billa memanggil sekuriti untuk melarang resepsionis tadi kembali ke perusahan yang dia dirikan bersama suami dan sahabatnya ini.


Kedaan kembali normal seperti biasanya. Frizka yang entah mengerjakan apa di ruangan Revan. Seharian terus berada di ruangan suami yang kini telah menikah lagi dengan orang yang di cintainya. Sedangkan lelakinya itu tengah sibuk dengan draf - draf yang memusingkan kepalanya.


“Billa, ke ruangan sekarang.” Revan sedikit meninggikan suaranya setelah menerima draf dari Billa yang di kirim melalui emailnya.


Tak berapa lama Billa pun masuk ke dalam ruangan Revan tanpa mengetuk pintu seperti boasaya. Frizka hendak menceramahi Billa lagi, namun wanita yang memiliki tinggi badan lebih kecil darinya itu hanya mengabaikan dirinya.


“Kenapa pak?” Billa tak pernah melupakan status apa yang di sandangnya di perusahaan ini.


Billa selalu sopan terhadap siapapun saat bekerja termasuk dengan Revan maupun Vano. Billa mendekati atasannya yang sudah menunjukkan taringnya.


“Apa - apaan ini???”Revan menggebrak meja karena draf yang Billa kirim tidak sesuai dengan harapan Revan.


“Maaf pak, Itu laporan yang saya terima dari BIRMA pusat. Saya masih menunggu ulasannya dari mereka. Tapi bapak sudah meminta laporannya.” Jawab Billa apa adanya.


“Ck, kenapa kamu kirim yang ini? ‘Kan bisa kamu kirim yang sudah fix!! berapa lama sih kamu ikut dengan saya? Kenapa begitu saja tidak tau” Revan memaki kesalahan Billa di hadapan Frizka, yang membuat wanita cantik itu tersenyum puas.


“Maaf pak, saya akan follow up sekarang juga.” Billa mencoba menghubungi pihak pusat.


“Nanti malam saja, “ucap Revan dengan nada kecewa.


“Baik pak.” Billa meninggalkan ruangan Revan dengan muka pucat.


“Makanya kalau kerja itu yang bener, jangan cuma sombong aja di gedein. Tapi tanggung jawab harus di jalankan,” ucap Frizka yang sudah menunggui Billa di pintu.


“Terima kasih sudah mengingatkan.” Billa meninggalkan Frizka yang tengah tersenyum kemenangan dengan memandangnya hingga dirinya hilang di balik pintu ruangannya.


Frizka kembali ke ruangan Revan dengan membawakan minuman dingin untuk Revan. Bukannya senang tapi lelakinya malah memberikan pencerahan.


“Kamu itu benar - benar tidak bisa mengerti kesukaan suami ya. Saya itu gak suka jus semangka. Tapi saya suka jus jeruk.” Revan menyingkirkan minuman segar yang menggoda tenggorokan itu.


“Ya tinggal ganti aja, apa susahnya sih.” jawab santai Frizka membuat Revan tersenyum ke arahnya.


“Sama seperti istri dong? Kalo tidak suka ya ganti dengan yang di sukai.” Revan menyunggingkan senyumanya.


Frizka mendengar perkataan suaminya hanya menggeleng kepala tak mengerti. Dasar gila, ucap Frizka dalam hati. Frizka keluar berniat membuatkan minuman seperti yang Revan mau. Namun terlambat, saat frizka ke pantri. Billa sudah sudah membawakan jus jeruk ke ruangan suaminya.


“Kamu selalu tau apa yang aku mau,” ucap Revan dengan mendekati Billa lalu meminum minuman dingin itu langsung dari tangan sang istri kesayangan.


“Makasih sayang.” Revan mencium pipi Billa bertepatan dengan Frizka memasuki ruangan suamiya.


“Gila, secepat inikah langkah pelakor?” Geram Frizka melihat Billa tengah bermesraan dengan suaminya.


“Terserah dengan apa yang kamu katakan. Saya menganggap hanya Billa istri saya. Dan saya sudah menceraikan kamu lebih dari dua tahun yang lalu,” ucapan seorang Revan bagaikan petir di siang bolong untuk seorang Frizka.


“Lu gak bisa lakukan ini, gua masih ada ini. Dan ini asli di mata hukum Indonesia dan juga agama.” kembali Frizka mengeluarkan buku nikah yang selalu di bawanya kemana - mana.


“Terserah, saya kebangsaan Jerman. Dan saya menikahi Billa dengan prosedur dan berkas yang benar. Bukan tembakan seperti yang saya lakukan saat menikahimu. Jadi ya Billa lah istri sah saya yang sebenranya.” Jawaban Revan membuat Billa tersentak.


“Saya gak mau tahu, semua data yang ada di sini itu juga datamu.” Jawab Frizka yang tak mau mengalah.


“Terserah, tapi jangan meminta lebih dari nafkah lahir berupa uang atau kebutuhan yang lain. Jangan pernah meminta saya untuk memberikan lebih dari itu.” Revan menyudahi perdebatan dengan kembali ke meja kerjanya.


***

__ADS_1


Seharian ini pekerjaan Revan sangat banyak, bahkan untuk makan siang pun. Revan dan Billa harus mengundurnya beberapa jam. Jam pulang kantor, adalah saat - saat yang paling di tunggu oleh semua karyawan. Tetapi tidak dengan Billa dan Vano, karena pekerjaan mereka yang sangat banyak. Billa dan Vano merasa waktu delapan jam kerja dengan satu jam istirahat itu sangatlah kurang.


Jam sudah menunjukkan di angka delapan malam. Billa dan Vano masih saja setia dengan lembaran kertas dan juga layar komputer yang ada di meja kerja masing - masing.


Hal ini di karenakan respon dari BIRMA pusat sangatlah lama. Kendala mereka adalah waktu yang memiliki selisih sekitaran 5 jam. Revan yang ternyata sudah pulang ke rumah lebih dulu kini kembali lagi dengan membawa makanan untuk dirinya dan juga kedua orang yang masih bekerja.


“Mana Frizka sayang?” Tanya Billa yang sudah membuka - buka makanan yang di bawakan oleh suaminya.


“Mana saya tau, dari tadi siang dia tidak kembali lagi ke ruangan. Biarkan saja lah.” Jawaban santai dari seorang revan membuat kedua orang yang ada di depannya menggeleng - gelengkan kepala tak menyangka.


Sekejam itu boss yang ada didepannya, terhadap istri yang tak di cintainya. Billa sudah masa bodo juga, toh ada wanita itu malah bikin rusuh hidupnya. Vano ikut membuka makanan yang ada di atas meja bawaan bossnya.


Malam telah larut, Billa dan Vano memutuskan untuk menyambungnya besok lagi. Mereka bertiga akhirnya pulang ke rumah masing - masing.


Dengan membawa martabak kesukaan Yuga, Vano pulang ke ruma supaya istrinya itu tidak marah. Sedangkan Revan dan Billa, memilih membeli lalapan di pinggir jalan. Karena Billa masih merasa lapar setelah menguras seluruh tenaganya seharian ini.


Billa membungkus makannya dan makan di rumah. Sesampainya di rumah. Billa dan Revan di sambut oleh Frizka dengan resepsionis yang telah di pecat oleh Billa. Melihat kedua wanita menunggu di depan pintu masuk rumah mereka. Billa terlihat sangat - sangat tidak terima.


Billa langsung meninggalkan kedua orang itu dengan menggandeng suaminya masuk ke dalam rumah. Billa yang tengah terbakar api amarah pun langsung masuk kedalam kamar mandi.


Billa meredam amarahnya dengan mandi dan segera mengambil air wudhu lalu sholat berjamaah dengan sang suami.


Dalam keadaan hening, Billa dan Revan tidak menyadari jika ada sepasang mata yang tengah mengawasi mereka. Dari balik pintu yang terbuka sedikit Ani tengah mengawasi mereka bedua yang tengah khusuk sholat.


Ani dia - diam ternyata mengagumi Billa dan merasa menyesal. Apa yang di sampaikan Frizka dengan apa yang di lihat barusan, sungguh sangat berbeda. Ani merasa bersalah pada Billa dan juga merasa benci terhadap Frizka yang tengah menghasutnya sampai kehilangan pekerjaan.


Malam berlalu begitu saja, dan amarah Billa juga sudah mereda. Masih sangat pagi memang, tapi Ani sudah menunggu Billa di depan pintu kamar Billa tanpa sepengetahuan Frizka.


“Ani!! kau mengagetiku,” ucap Billa dengan memegangi dadanya.


“Iya, saya sudah memaafkan mu. Cuma saya penasaran kenapa kamu seperti ada semacam kebencian terhadap saya.” Tanya Billa yang masih belum percaya seratus persen pada mantan resepsionisnya.


“Itu bu… saya tidak membenci ibu, hanya saja saya membenci pelakor. Saya jadi teringat dengan papa saya yang meninggalkan mama saya demi pelakor yang tak tau diri. Mungkin ibu mengenal bapak Yunus yang menjalin kerja sama dengan perusahaan ibu.”


Billa tercengang dengan penuturan Ani. Billa memang pernah mendengar jika bapak Yunus dari perusahaan AIRA memiliki hubungan keluarga yang berantakan. Tapi Billa tidak menyangka jika pak Yunus ada hubunganya dengan Ani.


“Apa beliau papa kamu?” Tebak Billa yang membuat Ani meneteskan air matanya yang teringat kembali dengan kebahagiaan yang selama lima tahun sudah menghilang dari hidupnya.


“Sudah jangan menangis lagi. Sekarang kamu membawa tas besar ini mau kemana?” Tnya Billa yang melihat tas yang ada di samping Ani.


“Saya malu dengan ibu, makanya saya mau pamit dari rumah ibu.” Billa merasa tersentuh pada Ani yang sebenrya tak salah sepenuhnya.


“Kamu tinggal saja di sini. Mama kamu juga sudah meninggal, kamu kerja lagi bersamaku. Tapi jangan katakan jika kamu sudah saya maafkan, biasa saja di samping Frizka. Biarkan dia seperti itu, cuma ketika dia merencanakan hal buruk kamu bisa lapor padaku.” Kata Billa untuk mengajaknya kerja sama.


“Ibu tau dengan mama saya? Iya bu, saya akan laksanakan apa yang ibu perintahkan. Asal ibu memaafkan saya,” ucap Ani dengan senyuman yang berbinar.


“Iya, saya mengenal mama kamu sekilas, dan saya juga hadir di acara pemakaman mama mu. Tapi hanya sebentar,” ucap Billa dengan menggandeng Ani untuk turun ke dapur, membuatkan jus jeruk untuk suaminya.


“Bu, saya mau minta maaf lagi,” Ucap Ani yang membuat Billa mengerutkan dahinya.


“Untuk?” tanya Billa singkat.


“Semalam, saya sudah tidak sopan dengan mengintip ibu dan bapak di kamar. Ternyata ibu dan pak Revan tengah sholat.” Jawab Ani.


“Karena itu kamu pagi - pagi buta kaya gini menungguiku di depan kamar?” Tebak Billa lagi.


“Iya bu, saya merasa bersalah sekali.” kini Ani bersimpuh memeluk kaki Billa,

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan Ani? Bangunlah,” ucap Billa sambil membangunkan Ani.


“Maafkan saya bu.” tanpa di sadari Ani tengah meneteskan air mata.


“Hei, iya saya maafkan. Jangan menangis lagi ya.”Billa memeluk Ani selayaknya seorang kakak yang tengah menenangkan adikya yang tengah menangis.


“ Bu, bolehkah saya ikut sholat berjamaah dengan ibu dan pak Revan?” tanya Ani malu - malu.


“Ya boleh lah, masak gitu aja kamu harus nangis - nangis dulu sih?” billa menghapus air mata Ani yang tingginya melebihi dirinya.


“Aku kangen sholat berjamaah dengan mama dan papa bu.” Air mata Ani semakin deras keluar.


“Ya sudah, anggap aku ini kakakmu ya, kamu kan anak tunggal.” Billa membawa jus untuk suaminya.


“Letakkan kembali tasmu di kamar tamu. Kamu tinggal lah di sini mulai hari ini.” perintah Billa pada Ani yang mengembangka senyum bahagianya.


Seakan menemukan kembali keluarga, Ani kali ini lebih bersemangat menyambut hari. Setelah sholat berjamaah, Ani bersiap pergi ke kantor setelah mendapat persetujuan dari Revan tentuya, frizka tersenyum melihat Ani sudah mengenakan baju rapi, seperti harapannya.


Menentang apa yang Billa katakan kemarin. Bahkan Dengan berani Ani telah duduk satu meja dengan kedua petinggi di kantornya. Ani memainkan peranan yang di berikan oleh Billa, menjadi mata - matanya di sisi Frizka.


Sesauai dengan arahan Frizka kemarin malam, Ani kini sudah duduk di samping Billa yang berada di jok belakang. Dengan raut wajah yang kurang bersahabat, Billa mengiyakan perkataan berani dari seorang Ani untuk duduk di sampingnya.


Setibanya di kantor, Revan memberi kode umtuk membiarkan Ani masuk kedalam kantor. Revan dan Billa bersepakat hanya akan merahasiakan konspirasi ini dengan karyawan dan frizka. Tidak dengan Vano dan Yuga.


Hari ini adalah hari pertama kunjungan pak Yunus ke kantor Billa dan Revan atas permintaan sang boss besar. Revan memang mendengar cerita Ani dari istrinya. Mereka bertiga berniat untuk membantu Ani menyatukan kembali bapak dan anak yang telah lama terpisah.


“Ani?” Betapa terkejutnya seorang papa yang melihat anak manjanya kini telah bekerja di perusahaan yang tengah bekerja sama dengan perusahaan yang di milikinya.


“Maaf, apa bapak sudah ada janji?” Tanya Ani dengan sopan, meski sudah menahan rindu ingin mengatakan apa papa baik - baik saja.


“Sudah,”jawab seorang ayah yang menahan air matanya untuk keluar.


Sekeras apa kehidupan kamu saat ini anak ku sayang? Batin pak Yunus berkecamuk dengan sangat dahsyatnya, sehingga membuat sedikit getaran aneh dalam dirinya.


“Baiklah pak, tunggu sebentar. Saya akan menyampaikan kepada pak Revan. Silahkan bapak menunggu di sebelah sana.” Dengan sopan Ani menunjuk sofa nyaman berada di sudut ruangan.


“Baiklah,” Langkah gontai lelaki setengah abad itu terlihat sangat nyata di hadapan seorang anak gadisnya.


Ani menunduk ketika air matanya tak sanggup untuk di tahan lagi. Ani yang berusaha tegar pun, harus mengalah pada hatinya yang menahan Rindu. Ani mendekati lelaki yang tengah menunggu di pojok ruangan.


“Papa, aku rindu”


Bak gayun bersambut, lelaki tengah baya itu memeluk putrinya dengan tangisan yang juga tak mampu di tahannya lagi.


“Pulang lah nak, papa kesepian di rumah sendiri,” Putri kecil yang tengah menangis dalam peluka hangat sang papa pun menyita perhatian banyak karyawan.


Tak terkecuali Billa dan Revan yang sudah melihat dari kejauhan. Betapa bahagianya, melihat pertemuan yang di nantikan seorang putri manja itu.


 


 


penulis: ngapa naro bawang sembarangan sih????


pembaca:Lebay lu. gitu aja nangis.


penulis: Bodo, gua mau bobo lagi bae....!!!

__ADS_1


__ADS_2