
Banyak masalah yang di buat sendiri oleh manusianya. Begitulah ungkapan yang cocok untuk Rara saat ini. Rara di jambak jambak dan di seret oleh ibu ibu ber baju bagus dan juga menenteng tas mewah berharga puluhan juta. Rara di permalukan di depan umum dengan hanya mengenakan baju seadanya dan juga celana dalam. Tangan wanita paruh baya itu selain meneriakinya seorang pelakor murahan juga tak berhenti memukul wajah dan menjambak rambut Rara.
"Lihatlah dia!!! Dia ini pelakor rendahan yang mencari makan menggunakan tubuhnya. Bermodal wajah ayu dan kelakuan mines, wanita ini merayu suamiku." Teriak Ibu ibi sosialita di hadapan warga dengan mencoba menengadahkan wajah Rara yang terus menunduk.
"Ampun bu, ampuni saya. Kasian anak saya." Rengek Rara memohon belas kasihan pada wanita yang mengaku suaminya di goda oleh Rara.
"Ampun katamu? Makan ini!!!" Wanita itu memberikan Rara sebuah pukulan tepat di mulutnya.
Mulut yang mengeluarkan darah segar itu hanya mampu bergetar. Memohon pengampunan adalah hal yang di lakukan Rara saat ini. Dengan memikirkan putrinya yang di bawa pergi oleh Alex beserta uang Ayahnya hasil menjual tanah dan rumahnya, membuat Rara terjun ke dunia hina ini. Rara terus mengibah, namun wanita itu masih belum juga berniat menghentikan untuk membuatnya malu.
Wanita itu berusaha meraih celana dalam Rara untuk di lepaskan. Namun Rara terus menghindar membuat wanita itu kesusahan. Billa yang kebelutan melintas kawasan itu langsung memberhentikan mobil Sandi di dekat kerumunan warga itu. Billa melihat Rara yang hanya memakai baju dalam, langsung meminta Aris yang duduk di samping Sandi untuk melepas hoodie.
"Pakai ini." Kata Billa melempar Hoodie milik Aris ke arah Rara yang nangis sesenggukan dan berusaha menutupi tubunya.
__ADS_1
"Kamu siapa? Oh jangan jangan kamu itu mucikari dari wanita ini??? Hhh gak menyangka kalau kalian ini kecil kecil sudah pintar mencari uang dengan cara semacam ini." Kata Ibu itu kepada Billa.
"Maaf ibu, apa bapak ini suami ibu?" Tanya Billa sopan.
"Iya, dan dia wanita ini merayunya." Kata Ibu Ibu itu gemas ingin mencakar dan menyerang Rara lagi namun di tahan oleh sang suami yang sedari tadi hanya diam menonton istrinya mengamuk.
"Pak Tami? Benar anda pak Tami kan?" Tanya Billa yang hanya di angguki kepala oleh lelaki itu. "Sebaiknya besok bapak tidak usah masuk lagi di kantor cabang." Kata Billa santai namun tegas membuat Ibu itu menoleh ke arah Billa lalu pada suaminya.
"Pah papa kenapa malah memegang kaki mucikari ini?" Kata Ibu itu masih terbakar emosi.
"Diam kamu. Non jangan pecat saya."
"Kesalahan Bapak itu sudah fatal. Selain mempermalukan keluarga Brahma Sofyan, Bapak juga mangkir dalam tugas. Jam kerja malah di habiskan di hotel murahan begini. Dan anda nyonya, saya adik dari wanita yang ibu anggap pelakor ini. Sekaligus atasan suami anda. Jadi kalo saya mucikari berarti suami anda apa?" Tanya Billa sinis.
__ADS_1
Billa meninggalkan pasutri yang kini tengah bertengkar dengan membawa Rara bersamanya. Rara masih menunduk dan menangis sesenggukan. Pikirannya melayang kemana mana saat Billa memeluknya dari samping.
"Billa, apa yang lu lakuin? Lu gak benci sama gue?" Tanya Rara yang mengingat betapa kejamnya dia dulu pada keluarga Billa.
"Gue cuma mau nyelametin perusahaan dan menjaga nama baik keluarga. Gue benci sama lu? ya gue benci sama lu karena lu keluarga gue. Kenapa lu lakuin hal semacam ini? Lu gak mikir laki lu?" Tanya Billa penuh amarah.
"Sabar Billa, lu gak bisa menanyai orang dengan emosi. Lu harus tenang dan dengerin apa yang mau di sampein sama dia." Aris menenangkan Billa.
"Kita makan dulu kasian itu Rara tertekan sekali keliarannya." Sandi membelokkan mobilnya ke sebuah rumah minimalis yang sepertinya kosong namun terawat.
"Ini di mana?" Tanya Frizka bingung.
"Rumah masa depan kita." Jawab Sandi membuat Frizka merasa panas seketika.
__ADS_1