Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Susu kantil kembang kenanga


__ADS_3

Seminggu sudah dari peristiwa yang membuat kehidupan Billa berutah total. Dari Salsabilla nyonya Sandia Pandu Wiranatha menjadi Billa yang memiliki dua kepribadian. Kepribadian riang dan hangat di dalam lingkungan keluarga. Kepribadian kedua yang di miliki seorang Billa adalah wanita dingin, kejam juga misterius. Billa membangun diri sebagai wanita tangguh dan juga berhati keras dan dingin terhadap siapapun, termasuk relasi kerja.


Levin memahami perubahan adik bontotnya yang menjadi seperti saat ini. Kehidupan yang susah untuk di terima oleh istri manapun. Suami tercinta harus meregang nyawa di tangan sahabatnya dulu demi melindungi nyawanya.


“Bill, lu gak hadir lagi ke acara tujuharian Sandi?” Tanya Levin di sela - sela kesibukannya.


“Gak.” Jawaban singkat dan padat terlontar dari bibir tipis adik dinginnya yang tengah sibuk dengan kertas di depannya.


“Lu gak boleh seperti ini ke mereka. Biar gimanapun Sandi itu laki lu,” ucap Levin yang berhasil mencuri pikiran Billa dari kerjaannya.


“Laki gua udah mati bang, ngapa harus di inget - inget lagi sih? Lagian merekanya juga yang gak menginginkan gue ada di sono bang.” Kekecewaan Billa yang membuat hati billa semakin membatu.


Billa kecewa karena begitu tidak berharganya nyawa suaminya di mata Mbah Kung. Dengan segala kesadaran dan juga tanpa penyesalan, Mbah Kung memaafkan dan melepaskan Frizka dari penjara. Bahkan orang tua Aris dan Sandi pu kini enggan untuk kembali ke rumah orang tua kandungnya, setelah mengetahui semua kebenaran yang Levin tunjukkan beserta bukti - buktinya.


“Frizka bebas lepas dan gue kehilangan laki. Keadilan macam apa yang tua bangka itu berikan?” Mata Billa kini memancarkan emosi yang tak mampu lagi di tahan siapapun.


“Mau lu apa sekarang?” Tanya Levin sambil mengambil lembaran di meja Billa.


“Gua mau menghancurkan bisnis seorang Joko Pamungkas, Hingga tua bangka itu mau menyerahkan cucu tersayangnya itu ke pihak berwajib,” ucapan penuh emosi Billa di tunjukkan pada seorang Levin yang juga memiliki sifat yang sama dengan dirinya.


“Apa yang bisa abang bantu?” Pertanyaan Levin ini lah yang di tunggu oleh seorang Billa.


“Hubungi Revan, katakan padanya Billa siap bergabung kembali dengannya.” Keputusan yang di ambil oleh Billa kali ini tidak di setujui oleh Levin.


Pasalnya, Revan yang sekarang merupakan jelmaan dari dewa kematian bagi relasi yang hanya mau bermain - main dengannya. Revan yang di dengar saat ini juga suka bermain perempuan, hal itulan yang membuat Levin khawatir.


“Gak ada yang lain?” Pertanyaan Levin membuat billa sedikit terganggu.


“Ayolah bang, Billa yang saat ini bukanlah Billa dua tahun lalu yang mampu tertipu dengan kebaikan yang hanya topeng belaka. Billa sudah mengetahui mana yang fake dan mana yang real,” ucapan Billa meski belum bisa meyakinkan seorang Levin, tapi abang keduanya itu menuruti apa yang di minta olehnya.


“Janji, lu gak akan tergoda dia dan mlakukan hal yang di larang agama disana,” ucapan Levin membuat Billa tertawa kencang.


“Hahahaha memangnya siapa yang akan meninggalkan perusahaan in? Bang Gue itu mau balik gabung dengan dia hanya untuk menjatuhkan perusahaan - perusahaan yang bermasalah. Jadi gua masih di Indonesia. Revan masih belum cukup baik untuk menggantikan Aris maupun Sandi. Mereka berdua yang membuat Billa kini berdiri di atas kaki sendiri seperti ini. Dan lagi, Billa sudah menyiapkan tempat untuk kantor yang baru.”


Levin terkejut mendengar Billa akan melepaskan diri dari BAGANTA. Perusahaan yang menaunginya saat ini.


“Maksud lu apa dek?” Tanya Levin sebagai seorang kakak.


“Billa harus menyiapkan kantor pribadi untuk Revan, Jika mau bekerja sama dengannya. Itu adalah syarat mutlak yang harus di penuhi oleh sebuah perusahaan yang menginginkan bergabung dengan perusahaan yang di bawahi oleh Revan.” Mengikuti Revan selama dua tahun membuat Billa mengerti apa yang di mau dan di benci oleh CEO muda itu.


Revan meminta kantor pribadi, hanya karena dia tidak mau apa yang di sampaikan olehnya di dengar oleh orang lain. Revan akan menyeterilkan kantor pribadinya dari hal-hal yang akan merugikan dirinya di kemudian hari. Revan akan memperkerjakan orang - orang kepercayaannya saja di kantor itu, tanpa ada orang dari perusahaan yang memita untuk bergabung.


“Abang pikir, lu mau lepas dari BAGANTA.” kehawatiran Levin terjawab sudah.


“Bukan Bang, itu syarat mutlak dari Revan.”


“Ok, abang hubungi dia sekarang,” Levin mengambil telefon kantor untuk mengubungi perusahaan BIRMA


“Selamat siang, bisa di sambungkan dengan bapak Revano Alibaba Sahid?” Tanya sopan Levin pada seseorang yang menerima telfonya.


“9216541@$%&*)_+$^(O&%”

__ADS_1


“Apa? Saya tidak mengerti apa yang bapak bicarakan.” Billa hanya menepuk jidatnya akan kepolosan sang abang. Polos dan oon itu beda tipis kayak e sampek seperti tak berbatas.


“Bang, Abang sadar gak, mungkin kali ini Revan lagi eok eok  sama cewek. Lu kadang - kadang kerja gak pakek otak ya bang?” cibir adiknya membuat seorang levin yang susah tersenyumpun menjadi tertawa terbahak.


“Hahahah, lupa gua. Otak gua tadi di bawa Queen Bill, kesian dia pakek Otaknya udang mulu.” Jawab Levin dengan celetukan garingya.


“Gua sampein sama Queen, gak di kasi jatah lu bang.” Gertakan Billa membuat Levin mati kutu.


“Jangan dong, kasian apa abang mu ini. Gara - gara kejadian itu sampek sekarang abang puasa ini. Udah di ubun - ubun malah di suruh berendam, kan sueg” Levin memohon pada adiknya.


Candaan yang dulunya di hindari saat bersama si bungsu, kini malah sering sekali terlontar dengan lancarnya bagai jalan tol bebas hambata dan kecelakaan.


“Ya udah, biar gua yang ngubungin si boss oon itu.” Kata Billa yang selalu manggil bosnya dengan sebutan bos oon.


Tuut


Tuut


Tuut


Revan: eeemmm --khas orang bangun tidur--


“Baaannngggguuuuuuuuuunnnnnnn, jangan molor aja Boss.” Teriakan Billa tak hanya memekakan telinga Revan yang mendekatkan handphonenya di telinga, namun juga Levin yang ada di sampingnya.


Revan : Billa!!! budeg telinga saya!!.” balas teriakan dari seberang yang membangunkan wanita yang tidur di sampinya.


“Wwaaaaooooo sekarang sudah berani ya bobok sama cewek. Udah gak takut di ceramahin lagi?” Tanya Billa yang membuat Levin merasa dinginnya Billa sedikit mencair jika bersama dengan Revan.


“Takut penyakit gua sama lu boss” Skak mat bagi Revan.


Revan: Mau apa kamu telfon saya malam - malam begini? Mengganggu kesenangan saja.


“Boss, BAGANTA mau menjalin kerja sama dengan BIRMA.” ucap Billa to the poin.


Revan: Sudah siap semua? Pertanyaan Revan di mengerti oleh Billa.


“Siap, Di tepi pantai kepulauan seribu. Lengkap dengan kapal pribadi atas namaku tapinya hahaha.” Jawaban Billa dengan gelak tawa yang membuat Levin mengerti seberapa kedekatan kedua orang ini.


Revan: Curang itu namanya. Cibur Revan


“Seperti biasa boss, gua adalah bossnya hahaha.” Kembali Billa mengakhiri tawar menawar itu dengan gelak tawa lepas seorang Billa sebelum kepergian kedua orang yang sangat berharga baginya.


Revan: Nanti siang aku terbang ke Indonesia, Siapkan kamar hotel buatku.


“Gak mau tinggal di rumahku?” Tawaran yang Billa berikan membuat seorang Revan lupa akan wanita yang kini sedang mencumbuinya.


Revan: Yess baby, tawaranmu membuatku oleng.


“Jika seperti itu, usir wanitamu sekarang juga.” Goda Billa membuat Revan bak kerbau yang di cocok hidungnya dengan mengusir wanita itu.


Revan: Sudah.

__ADS_1


“Bagus, terbanglah sekarang boss malas. Gua menunggu lu untuk masakin gue lagi.” tantang Billa yang di sanggupi oleh revan.


Revan: Tunggu Vano mandi dulu.


Itulah ucapan Revan sebelum memutus sambungan telephone dari Billa kekasih hatinya.


Prok


Prok


Prok


Tepuk tangan dari seorang Levin baganta pun memenuhi seluruh ruangan. Daya tarik janda yang baru di sandangnya seminggu lalu, tak menurunkan pasarannya. Kekaguman Levin pada Billa tak di ragukan lagi.


Billa dengan bahasa santainya mampu membuat boss besar BIRMA bertekuk lutut padanya. Tanpa menjilat atau merendahkan diri, Billa mampu membuat CEO kejam dan dingin itu bersedia menjadi pembantunya. Memasak bahkan membersihkan rumah tanpa paksaan.


Apakan itu definisi Bucin yang sebenarnya?


Levin merasa bangga juga sedikit takut dengan apa yang di miliki oleh Billa. Pakai susuk kah Billa bisa membuat semua orang bertekuk lutut. Batin kepo Levin meronta, seakan tersulut dengan cara santai Billa melakukan kontrak kerja bersama peruahaab besar semacam BIRMA.


“Bill, habis ini kita ketemu dengan pak Yunus, buat memperbarui kontrak kerja,” Billa seperti di ingatkan sesuatu, mulai membahas masalah ini.


“Oh iya bang, kenapa kita hanya mendapatkan 30% dari yang seharusnya kita bisa mendapatkan 60-70%?” Pertanyaan Billa membuat Levin terdiam.


Saat itu Levin hanya meminta 30% karena ingin mendapatkan kontrak kerja sama untuk menghancurkan Rama.


“Ini kamu rubah semua?” Tanya Levin setelah meninjau kembali berkas yang sudah tersimpan rapi di atas meja Billa.


“Billa gak mau kerja rodi bang,” ucapan Billa membuat Levin kembali berpikir yang tidak-tidak,.


“Nanti kalau pak Yunus lari gimana Bill?” Tanya Levin yang tak bisa menutupi rasa takutnya.


“Polos boleh bang, tapi bodoh jangan. Kita sekarang sudah punya BIRMA, kenapa masih takut kehilangan investor macam Pak Yunus?” keangkuhan Billa membuat Levin semakin takut kehilangan investor yang terilang royal itu.


“Yakin Bill?” Pertanyaan meragukan pun masih menghantui benak Levin.


“1000%”


“Terlalu PD lu,” Kata Levin yang masih meragukan Billa.


“Kita taruhan.” Tantang Billa pada Levin yang setia akan keraguannya.


“Apa maumu?”


“kalau Billa menang, Billa mau abang ngajak makan seafood setiap hari selama seminggu.” Jawab Billa penuh dengan kepercayaan diri.


“Ok, kalo lu kalah, abang mau lu ke rumah mertua lu dan hibur mereka.”


“Siapa takut!!”


Kesepakatanpun sudah terjadi antara Billa dan Levin. Mereka akhirnya menemui Pak Yunus di perusahaannya.

__ADS_1


__ADS_2