
Seminggu sudah Billa dan Revan tinggal di Jerman dengan status suami istri. Bahagia, takut dan canggung itulah yang di rasakan Revan saat ini. Meski mereka tidur di ranjang sama, Billa ternyata masih belum bisa merubah perasaannya dari boss ke suami.
“Boss, besok kita sudah harus ke Raja ampat untuk menangani kontrak kerja kita dengan perusahaan pak Yunus” Billa , mengambil agenda kerja Revan yang selalu di bawa oleh Billa.
“Kita kerjakan di kantor sekarang saja. Kantor yang di Raja Ampat itu atas nama kamu saja,” ucap Revan ketika sedang bersiap di depan kaca membenarkan pakaianya.
Billa hanya memperhatikan Revan dengan duduk di meja rias menyisir rambutnya. Billa juga ikut bersiap sebagai sekertaris pribadi Revan menghadiri meeting dengan investor yang sudah lama bergabung dengan BIRMA.
“Bill, nanti sore saja kita terbang ke Indonesia. Perasaanku tak tenang.” Revan melihat salah satu berita tentang pernikahannya dengan Billa telah menyebar di internet.
“Apa yang sedah mengganggu pikiranmu?” Billa mengetahui ke khawatiran suami yang merangkap sebagai bossnya.
“Kita bicarakan ini di Indonesia saja. Sekarang kamu gak usah ikut meeting, siapkan saja semua untuk kita pulang ke Indonesia.” Revan meninggalkan Billa di kamar sebelum mengambil jadwal kerjanya.
Waktu berjalan seakan sangat cepat. Billa baru saja menyelesaikan pekerjaanya, Revan sudah pulag dengan membawa beberapa kantong belanjaan.
“Apa itu Van?” Tanya Billa yang belihat beberapa kantong itu berisi kado yang terbungkus rapi.
“Dari beberapa Clian, mereka mengirim ke kantor pusat.” Revan menumpahkan semua hadiah itu di atas tempat tidurnya.
“Mau buka sekarang?” Tanya Revan yang melihat Billa yang terlihat sangat penasaran.
“Boleh?” Tanya Billa malu - malu.
“Silahkan, ini semua milikmu Salsabilla istriku.” Goda Revan.
“Geli gua boss dengar kata istriku dari boss.” Billa menggeleng - gelengkan kepalanya.
“Terserah, saya mau mandi. Gerah,” ucap Revan mulai membuka baju yang menempel di tubuhnya.
Billa langsung menyiapkan air untuk Revan Mandi seperti halnya dulu dia lakukan untuk Sandi sebelum mandi. Billa memang tak caggung lagi sekarang melihat bossnya yang kini menjadi suaminya bertelanjang dada. Begitupun dengan Revan yang harus berusaha keras untuk menahan gejolak dalam diri ketika melihat Billa hanya mengenakan handuk setelah mandi.
***
Perjalanan yang di tempuh hanpir 24 jam itu membuat Billa tak kuasa lagi menahan tubuhnya untuk sekadar duduk bersandar. Billa memilih duduk di belakang dan merebahkan diri. Billa dan Revan di jemput oleh Vano sebagai rekan, patner juga keluarga bagi Billa dan Revan.
“Van, gimana keadaan kantor?” Revan menanyai Vano ketika Vano menyuguhkan wedang jahe pesanan Revan.
“Frizka sedikit berulah, dia mulai mencari - cari Investor kita yang ada di Indonesia. Dian mengajukan kerja sama juga.” Jelas Vano yang mendapat kabar dari beberapa Investor kepercayaannya.
“Apa tanggapan mereka?” Tanya Revan sedikit terkejut dengan laporan Vano.
“Mereka memastikan dulu ke saya pak, karena Frizka memakai nama bapak.” jawab Vano lagi.
“Ok, kalo gitu biar aku menemui Frizka malam ini.”
“Gak boleh,” Bentak Billa dari arah belakang yang tak sengaja mendengar sekilas perbincangan Vano dan Revan.
“Yah! Nyonya besar gak mengijinkan pak.” Kaget Vano setelah itu tertawa juga karena merasa lucu.
__ADS_1
“Heem Van, sepertinya akan susah menemui istri pertamaku. Istri keduaku galak kek singa kelaparan.” Goda Revan melihat keposesifan Billa.
Bukan tak tau apa maksud dari Billa meminta untuk di nikahi. Tapi mungkin sudah terlalu BUCIN makanya Revan menerima dengan senang hati. Di samping itu juga Revan tak mencintai frizka.
“Biar gua istri kedua, tapi gua yang sah. Gua yang di akui negara dan agama.” Billa memeluk lengan Revan posesif, sedangkan Vano dan Revan tersenyum geli.
“Sudahlah sana pengantin baru tidur, buatin Reyhan adik ya…” goda Vano ketika melihat anak kecil yang baru saja pulang dari jalan - jalan sorenya bersama sang mama tercinta.
“Reyhaaaaannnn, aunty kangen.” Billa langsung menggendong Reyhan yang berlari ke arahnya.
“Kapan sampai Bill?” Tanya Yuga dengan membawa tentengan lauk untuk Vano dan dirinya.
Baru saja, tapi gua laper.” Billa melihat capcay yang di bawa Yuga sudah tak tahan lagi.
“Tapi ini pesanan Vano lo.” Yuga melirik ke arah Vano.
“Kamu pesan lagi saja Van, itu kayaknya lagi ngiler. Kali aja benih yang kemarin di tanam sudah tumbuh.” Revan mendapatkan pukulan dari Billa karena ngomong sembarangan.
“Bisa diem gak?” Billa dalam keadaan senggol bacok pun menghunuskan tataapan menusuk pada suaminya.
Bukannya marah atau sakit hati, Revan malah tertawa yang di sambut oleh Vano dan Yuga. Setelah makan malam, Billa dan Revan berpamitan untuk tidur terlebih dulu.
“Van, mereka tidur bersama?” Tanya Yuga heran.
“Ya kan mereka sudah menikah.” Jawab Vano santai yang menikmati sate di depannya.
“Sorry, sorry. Kami, maksdnya. Aku. Billa dan pak Revan sudah biasa tidur di tempat yang sama. Jadi sudah bukan sebuah hal aneh kalo mereka tidur berdua, tapi hal yang sangat ajaib jika Billa sudah bisa menerima Revan seratus persen.” penuturan Vano membuat Yuga sedikit bingung.
“Maksudnya?” Tanya Yuga yang belum mengerti hubungan apa yang terjalin antara ketiga orang yang menghuni Villa ini selain dirinya.
“Billa itu type orang sangat setia pada pasangannya. Dulu dia terpisah dengan kekasihnya, lebih tepatnya adalah tunangannya. Selama dua tahun kami bersama, melakukan bersama bahkan sampai tidur di tempat yang sama pun. Billa masih belum mau membuka hati untuk salah satu dari kami. Bahkan Boss sering menggodanya dengan mengajaknya menikah, tapi yang ada Billa hanya menganggap semua itu permainan atau bercandaan.” Jelas Vano membuat Yuga sedikit mengerti tentang cinta segi segian ini.
“Jadi sebenarnya, boss itu memang menyukai Billa dan juga kamu?” selidik Yuga penasaran.
“Ya, tapi aku tak memperjuangkan perasaan ku karena aku kristen.” Ucap Vano membuat Yuga mengerti apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.
Yuga membereskan meja makan yang di bantu oleh Vano. Reyhan yang tidur dengan Billa dan Revan, membuat Yuga sedikit kesulitan untuk memejamkan mata. Yuga membuka laptopnya lalu berseluncur ke dunia maya.
Tanpa sengaja Yuga menemukan artikel tentang mantan suaminya yang kini tengah merintis usahanya di dunia ekpor impor yang baru saja menjalin kerja sama dengan perusahaan besar seperti BIRMA. Betapa terkejutnya Yuga melihat perubahan sang mantan suami Andra Fauzan.
Andra terlihat sangat tampan dengan mengenakan baju formal yang terlihat sangat mahal. Sedangkan Yuga susah payah membesarkan putranya. Yuga juga melihat betapa cantik wanita yang di gandengnya. Yuga meneteskan air mata tanpa terasa.
Vano melihat Yuga tengan berselancar ke dunia maya itu berniat mengagetkannya. Namun ketika Vano melihat bahu Yuga yang naik turun, Vano mengurungkan niatnya. Posisi Yuga yang memunggungi pintu masuk, sehingga dia tidak menyadari kehadiran Vano.
Vano melihat sekilas wajah Andra sangat mirip dengan Reyhan membuat Vano mengerti alasan kenapa wanita satu anak itu menangis. Vano memilih untuk meninggalkan Yuga sendiri. Bukan tidak perduli, tapi Vano memilih menyingkir dari pada untuk ikut campur pada urusan suami istri yang di tinggalkan ketika sayang - sayangnya.
***
Pagi menyapa pengantin baru dan para penghuni yang lainya. Membuat jus jeruk di pagi hari untuk membangunkan suaminya, adalah kebiasaan Billa yang baru. Jam empat subuh, biasanya Billa langsug ke kamar mandi untuk berwudhu. Kini harus ke dapur dulu untuk membuatkan jus jeruk untuk suaminya.
__ADS_1
“Pagi sekali lu bangun Bill?” tanya Yuga yang sudah membawa pengepelan di tangannya.
“Buatin Revan jus jeruk Ga, kalo gak ada jus jeruk Revan mual pagi pagi katanya.” Jelas Billa sambil membuatkan jus jeruk untuk suaminya.
“Ya sudah, aku mau lanjut buat sarapan.” Billa mengangguk lalu meninggalkan Yuga yang sudah beralih ke sayuran di dalam kulkas.
Setelah meminum jus buatan Billa, Revan segera ke kamar mandi untuk wudhu. Kebiasaan yang baru untuk Revan, sholat lima waktu, jika tak mau melihat wanitanya ini mendiamkannya seharian penuh. Yang benar saja, satu kali meninggalkan sholat. Seharian Revan harus menanggunga akibatnya.
Revan sebagai lelaki dengan memiliki dua istri merasa bersalah karena tak bisa adil. Tapi ketika mau berusaha adil, Billa malah mengancam untuk menguncinya di luar saat dia sudah kembali dari rumah istri pertama. Tarpaksa Revan menuruti Billa, karena Revan memang lebih takut dengan amarah Billa.
Handphone Revan berbunyi ketika sedang rapat dengan keryawan dikator baru. Tanpa segan Billa mengambil dari tangan Revan lalu menolak panggilan lalu memasukkan ke kantong Blazarnya. Revan tak bisa apa - apa, seakan mati kutu Revan di depan Billa jika menyangkut Frizka.
Frizka merasa geram ketika setiap telfonnya di tolak oleh seorang Revan. Frizka benar - benar merasa butuh Revan sebagai suaminya. Memang ini masih siang, tapi Frizka yang memiliki libido sangat tinggi selalu menginginkan hal ini. Frizka merasa sangat frustasi akan tingginya permintaan dalam diri namun tidak mendapat penyaluran.
Revan memang hanya menikahi Frizka tanpa menyentuhnya. Revan sadar jika ini salah, tapi memang sudah merasa benci. Dia merasa jijik sendiri untuk menyentunya karena rasa bencinya. Lebih baik dia tidak memiliki perasaan apa - apa ketimbang harus melakukan dengan orang yang dia benci.
Revan hanya tersenyum dengan kelakuan Billa yang seakan berperan sebagai istri yang sangat posesif dengan rasa cemburu yang besar. Yuga dan Vano yang memeperhatikan Billa dan Revan hanya menggeleng - gelengkan kepalanya.
“Dasar Bucin”
“Satunya Bucin, satunya posesif. Makan tu cinta” Gerutu Vano dan Yuga yang saling berbisaik.
“Kalian berdua, kalau mau pacaran jangan di sini!! ini kantor bukan tempat mesum. Jadi jangan mesra - mesaraan di ruang rapat” Bentak Billa yang mengagetkan karyawan lain.
“Mampus macan lagi bangun.” Batin Revan melirik istrinya.
“Maaf bu.” Vano dan Yuga mengubah posisi duduk yang tadinya bedekatan mendaji berjauhan dan memberi space orang ke tiga masuk.
Billa kembali melanjutkan rapatnya mengenai proyek yang di Raja Ampat.
IKLAN
Billa: jahat nya lu thor, mau ngirim laki gua ke bini gak sahnya.
Author: gak sahnye di mane oneng?
Billa: pan gua yang sah.
Author: Serah elu, gua masih ngantuk Billa gara gara seharian nonton BANG BANG CON kgak bisa nulis nasip elu.
Billa: jangan macem macem lu sama gua. Mau gua santet onlen lu?
Author: Berani sama gua mati lu di pena gua (menatap billa dengan tatapan menusuk)
Billa: Jleb Thor, ampuuuuuunnnnn
__ADS_1