
Dari kejauhan, sepasang mata tengah memperhatikan Billa dan Sandi selama berhari-hari. Tanpa sadar ternyata kehidupan tenang nan bahagia seorang Sandia Pandu woranatha bersama Salsabilla tengah menyinggung perasaan seseorang.
“Kalian lah yang sudah membut nasib pernikahan gue berasa di neraka. Gue bisa pastikan jika kalian akan mati di tangan gue.” Sebuah monolog yang membuat bergidik siapa saja bila mendengarkan.
Di tempat lain, hari minggu Queen dan Levin di warnai dengan cek cok yang membuat geram siapapun yang mendengarnya.
“Sekarang gini aja Vin, kamu mau makan apa mau mandi dulu?” Tanya Queen yang mendapat tepukan jidat dari sang suami.
“Makan sayang, sudah jelas ‘kan?” Levin duduk di meja makan yang hanya di lihatin oleh sang istri dengan perasaan jengkelnya.
“Ok makanlah sendiri, aku mau kekamar saja. Gak mau makan sama orang yang masih bau iler.” Skak mat bagi seorang Levin yang tangan hampir menuang nasi ke dalam piring sebagai sarapannya.
“Sayaaaaaang jangan gitulah, kita makan sama-sama ya.” Bujuk Levin dengan memeluk sang Istri dari belakang di kala berjalan meninggalkannya.
“Aku gak mau makan sama orang yang masih ileran Vin, jijik tau.” Queen mencoba membuka pelukan tangan yang mendarat di perutnya.
“Iya, sekarang aku mau mandi…. tapi mandiin,” ucap Levin dengan rengeka seperti anak kecil bermanja pada sang mama.
“Kenapa jadi ngalah-ngalahin Al sih manjanya kamu Vin.” Queen mencium pipi suami yang mendaratkan dagu di pundak miliknya.
“Ya, mumpung Al lagi sama Oma Angel, gak salah ‘kan, kita bikin adiknya.” Levin ternyata tak meu menyia-nyiakan situasi yang di miliki saat ini.
“Memangnya siap kalo mau punya adinya Al?” Tanya Queen yang kini membalikkan tubuh untuk melihat sang suami.
“Siap sayang, ayo kekamar mandi,” ajak Levin yang membuat Queen bertanya-tanya.
“Ngapa kekamar mandi Vin?” Masih dengan pemikiran tak mengertinya.
“Mau mandi dan gosok gigi dulu, kamu mau di cium orang ileran?” Levin mendekatkan wajahnya seraya ingin menggapai bibir merah nan sexy milik istri bulenya.
“Ogah Levin,” Queen menjauhkan wajahnya dari jangkauan suami yang sedag dalam keadaan ‘ON’
“Mandiin ya sayang. Sudah lama ‘kan kita gak mandi bareng.” Levin menggoda Queen dengan kerlingan mata menggodanya.
“Dapet apaan aku Vin?” Tanya Queen dengan polosnya.
“Dapet pahala, cintaku. Sunah hitungannya jika kamu mandi bareng dengan suami sayang.” Jelasa Levin yang menjelaskan sedikit tentang Nabi Muhammad dulunya lebih sering mandi bersama dengan sang Khumairah --Siti Aisyah--
__ADS_1
“Sungguh beruntung Siti Aisyah ya sayang, bisa berkasing dengan Rosulullah.” Jawaban lugu seorang Queen pun membuat lelaki dengan tubuh tinggi besar pemilik senyuman memikat di depannya semakin geram , lalu menarik pelan hidungnya.
“Tidakkah kau merasa beruntung telah menikahi seorang Levin Baganta?" Bisik mesrah saat Queen membuka baju milik lelaki tadi.
“Beruntung sekali hai kau suamiku. Aku Queenesya, merasa sangat beruntung telah menikahi lelaki sepertimu sayang. Mampu menerimaku dengan segala kekurangan yang aku miliki. Dalam keadaan yang mungkin akan mendapat cacian dari siapapun.” Queen tiba-tiba terasa sangat sedih ketika melihat kembali dirinya.
Terkenal dengan sebutan anak dari seorang pelakor. Serta wanita ternoda akibat pemerkosaan, yang di lakukan oleh sang mantan tunangan. Sungguh sangat beruntung bahkan. Queen mendapatkan lelaki seperti Levin sebagai suaminya.
Selalu memberikan kebahagiaan yang paling utama kepadanya. Mencurahkan kasih sayang terbesarya meski dengan cara dia yang sedikit berbeda. Yaitu dengan selalu membatasi diri Queen agar tetap dalam jangkauan sang lelaki dingin penuh kasih sayang.
Levin memang tak bisa mengutarakan kata Cinta atau rasa sayangnya dengan sekuntum bunga mawar. Karena Levin lebih memilih membelikan bunga hidup dalam pot, dengan segala alasannya. Salah satunya adalah, sekuntum bunga bisa cepat layu, kering dan jelek.Tapi jika bunga hidup, jika bunga telah gugur maka akan memberikan bunga yang lebih indah jika tau cara perawatannya.
Seperti itulah devinisi Cinta bagi seorang Levin Baganta. Cinta akan tetap memberikan keindahaan jika mengetahui pupuk yang di butuhkan. Kesetiaan, kepercayaan dan kesabaran adalah pupuk yang di perlukan dalam Cinta berumah tangga.
Bukan menghadirkan hama berupa Pelakor saat bunga itu telah gugur termakan usia. Dan Queen memiliki pupuk itu bagi cinta dalam rumah tangganya. Jadi untuk apa mencari hama kalo pupuknya sudah pas.
Tunggu saja saat berbunga dengan sabar. Karena bunga itu akan jauh lebih indah dari sebelumnya.
Wajah ayu khas blasteran dengan rambut berwarna hitam bercampur warna blonde membuat kesan Ayu semakin menyempurkanan seorang Queenesya Nyonya Baganta. Dengan telaten, Queen menggosok punggung suami tercintanya.
“Mama, kok tumben, Billa anteng di rumah mertuanya?” Tanya Ayu, menantu pertamanya.
“Biarin sajalah Yu, kali saja dia abis ini bawa kabar yang mengejutkan.” Cinta menjawab asal sang menantu dengan santainya sambil menyuapi Bagas makan.
“Ma, Ayu jadi kepo deh sama mereka berdua itu.” Seperti di ingatkan, tingkat kekepoan sang Ayu meningkat tajam ketika mamanya menyinggung hal yang tabuh di depannya.
“Kepo apa Yu?” Cinta sebagai mertua juga mama bagi wanita yang di gibahkan.
“Si Sandi itu kan diemnya melebihi Levin ‘kan Ma, dan Billa otaknya gesrek gitu. Kira-kira mereka kalo kaya gitu siapa yang pegang kendali ya ma?” Ayu mendapat tatapan menghunus dari sang mertua.
“Maaf ma, kan cuma penasaran.” Lanjut Au dengan menundukkan kepala tidak enak.
“Kayaknya Gantian deh Yuk,” jawaban yang berhasil membuat seoranga Ayu terkejut.
“Tapi, kalau dari cerita Queen, Levin lah yang pegang kendali ma,” ucap Ayu menutupi rasa terkejutnya.
“Itu kerena Queennya yang begok! Gak bisa pegang kendali,” ucapan tabuh pun tak terelakkan di antara mertua dan menantu yang demen menggibahkan satu sama lain.
__ADS_1
“Lah, kalo mama sendiri gimana?” Pertanyaan gila seorang menantu untuk mertua somplak yang malah menjawabnya.
“Kalau mama sama papa sih sesuai kebutuhan. Kalau papamu lagi pengen ngeliat mama, ya mama yang pegang kendali, tapi kalau mama lagi males malesan, ya…. Papamu yang pegang kendali.” Jawaban yang membuat sang mertua sedikit memerah pipinya.
“Terus, ma. Mama suka yang mana?” Selidik menantu laknad pada mertua gesreknya.
“Suka keduanya, soalnya papamu itu selalu menyenangkan mama, hehehe” Senyum geli yang mertuanya mengingat sang suami yang semalam tidak pulang karena tugas malam.
“Kalau Kliene gimana?” Rasa penasaran pun tak terelakan lagi bagi wanita berumur namun masih terlihat cantik itu
“Kalau Kliene hampir setiap hari ma, Kliene itu romantis banget, kadang pulang praktek itu bawain bunga di balik jas dokternya. Sengaja di tutupi biar gak ketauan yang lain katanya ma.” Jelas Ayu.
“Pantes tiap Kliene pulang kamu langsung ikut ke kamar,” cibir sang mertua yang mengamati kebiasaan menantunya.
“Iya ma, Kliene selalu memberikan bunga itu dengan kata-kata romantisnya dengan bisik-bisik. Baru abis itu cium-cium Ayu.” Kini wajah ayu tak mampu lagi menutupi rasa malunya.
“Sama kaya papamu itu, papamu juga romantis kaya gitu,” ucap sang mertua yang mengingat kembali masa mudanya.
“Assalamualaikum.”
Sapaan seorang yang membuat kedua orang yang asik menggibah para suamipun harus terhenti.
“Cari siapa ya pak?” Tanya Cinta pada seorang lelaki sedikit lebih muda darinya dengan membawa paket yang entah apa isinya.
“Ini untuk bapak Alfan Ahrizal dari Bandung. Ini laporan bulanan kedua cafe di bandung bu,” kata lelaki tadi yang baru di ketahui adalah salah satu karyawannya di Bandung.
“Oh iya, masuk dulu. Istirahat dulu makan baru balik ke Bandung, ya. Cinta langsung mempersilahkan lelaki itu masuk dan Ayu sudah menyiapkan air berwarna kuning di tambah dengan butiran es kotak-kotak.
“Terima kasih Bu, sangat beruntung saya punya boss seperti pak Rizal.” Kurir tadi memang sudah lama bekerja di cafe Cinta dengan posisi pengirim makanan ke pelanggan, Namun baru kali ini mendapat kesempatan mengantar berkas ke kediaman sang Boss.
“Ah, bapak terlalu memuji.” Cinta menyajikan makanan seadanya di meja agar sang tamu tidak malu bila di suruh untuk makan sendiri.
“Silahkan di makan paaakkk…?” Cinta menggantung kalimatnya yang mengisaratkan pertanyaan.
“Aripin bu” jawab sopan Aripin yang memiliki usia di atas 30 tahunan itu.
“Yaa sudah, silahkan di nikmati pak Arifin. Kami tinggal dulu ya.” Ayu dan Cinta meninggalkan pak Aripin seorag Diri di ruang tamu dengan makanan yang sudah terhidang di meja.
__ADS_1