Sahabat?

Sahabat?
Season 2 pengakuan Kliene dan Levin


__ADS_3

Setelah putra putranya duduk di sofa dalam ruang kerjanya. Rizal yg tadinya mengerjakan sesuatu, memilih meninggalkan pekerjaannya dan duduk di depan putra putranya.


"Kliene, papa bangga sama kamu nak. Bisa mengalahkan papa sewaktu SMA. dan untuk kamu Levin. Papa gak menyangka kamu memiliki suara yg sangat luar biasa bagus. Ya memang sih tak sebagus Cakra Khan. Tapi untuk ukuran Levin papa kagum lah." Perbincangan mereka terhenti sejenak ketika Rizal mengambil sebuah kotak di dalam sakunya yg membuat Levin dan Kliene terkejut.


"Papa menemukan Iki tadi di dalam mobil Kliene. Benar ini milik kamu Levin?" Pertanyaan Rizal membuat Levin seperti maling ayam ketangkep warga sekampung.


Wajahnya yg tiba tiba memucat dan di barengi dengan butiran kecil keringat dingin keluar dari dahinya. Levin tertunduk takut melihat sorot mata papanya. Kliene melihat adiknya tak tega, di rangkulnya dia dan kali ini Kliene untuk pertama berani menatap sang papa.


"Ini semua salah paham pa. Semua bermula dari ketidak beranian Kliene menghadapi papa dan mama. Kliene takut mengecewakan mama dan papa. Apalagi setelah kejadian papa masuk rumah sakit. Kliene takut kehilangan papa dan mama." Kata Kliene dengan nada yg terasa bergetar.


"Terus sekarang kamu berani?" Tanya Rizal membuat Kliene kembali tertunduk.

__ADS_1


"Kliene haruas berani meluruskan kesalah pahamanan ini pa. Kliene kasihan melihat Queen dan Levin. Dari kelas 2 SMA harus mendapat penentangan dari Bunda dengan terus mengatakan akan menjodohkan Queen dengan Alex. Dan Levin juga yg membantu Kliene dekat dengan Ayu, Tapi sepertinya Ayu salah paham juga. Dia mengira kalo Levin lah yg menyukai dia." Jelas Kliene membuat Rizal tidak percaya bahwa Levin dan Queen berhubungan sudah sejak kelas 2 SMA.


"Levin, dari mana kamu tau Alex brengsek?" Tanya Rizal.


"Maaf pa, setiap malam Minggu Levin kerja jadi DJ di klub malam. Tapi Levin jujur dan bersumpah tidak pernah menyentuh minuman haram pa. Dari situ Levin tau, karena Alex sering ke sana dengan gandengan yg berganti ganti." Terang Levin membuat Rizal semakin sakit kepala.


"Sampai sekarang masih ngeDJ?" pertanyaan Rizal hanya di angguki oleh Levin.


"Hobi yg di manfaatkan pa." Jawab Levin sedikit takut.


"Kalo cewek?" Tanya Rizal ambigu.

__ADS_1


"Maksudnya?" Kliene dan Levin kaget


"Berapa anak gadis yg pernah kamu sentuh?" Tanya Rizal setelah teringat kejadian tadi.


"Queen saja pa, Bang Queen gak Lo apa apain kan?" Kini Levin teringat kejadian di kamar Billa.


"Gak Abang apa apain Vin, tenang." kata Kliene ngembang. "Cuma nyicipin dikit aja." Goda Kliene pada Levin yg kini siap menangis seperti mainannya di rebut orang.


"Abang, Queen milik Levin bang. Abang janji jangain Queen bukan di nodai bang." Kini Levin merengek membuat Rizal tertawa. Bucin juga anak gue.


"Milik Lo gimana Vin? Jelas jelas Queen tunangan Abang. iya kan pa." Rizal tertawa namun tidak menyadari Cinta sedari tadi berada di balik tembok dengan membawa teh yg tadinya hangat namun kini sudah dingin sedingin es.

__ADS_1


Cinta meneteskam air mata melihat kekompakan anak anaknya yg menyimpan rapat rahasia hatinya. Apa ini yg Rizal rasakan dulu saat dirinya keluar dengan orang lain dan di paksa untuk menikahi wanita yg bukan pilihannya? Batin Cinta


__ADS_2