Sahabat?

Sahabat?
Season 2 malu


__ADS_3

"Bang Lo apain Queen. bukain pintunya Abang." Kini Billa sudah tidak bisa di kendalikan lagi.


Karena kejengkelan Levin akhirnya membuka pintu kamar. Billa langsung mencari Queen yg sekarang ada di kamar mandi. Billa yg terus mencari Queen sedangkan mama sama papa nya memainkan matanya pada Levin yg merasa jengkel.


"Sabar Abang." Kata Cinta membuat Levin semakin jengkel.


"Kenapa mama sama papa gak cegah si Billa sih?" Levin dengan raut wajah yg gak enak di lihat.


"Hahaha makanya pelan pelan biar gak timbul keributan." Tawa Rizal pun pecah.


"Ah papa buat galau orang aja." Kata Levin masuk kamar.


"Lo liat itu gak ada apa apa Billa rese." Kata Levin sambil naik ke atas ranjang ya yg sudah berantakan.

__ADS_1


"Ya Abang apain itu Queen? Spek teriak? Pasti Abang siksa dia kan. terus aja gitu bang. Kasian Queen." Kata Billa dan Queen keluar dari kamar mandi dengan keadaan lebih segar.


"Lo ngapain mandi malem malem Queen?" Tanya Billa dan membuat Rizal dan Cinta masuk kekamar itu.


"Billa, Kasi Queen dan Abang istirahat. Besok jam 9 sudah harus meeting." Kata Rizal membuat Billa berdecak dan meninggalkan Queen dan Levin.


"Abung lagi sana, bikinin papa sama Mama cucu yg banyak." Bisik Rizal pada Levin.


Levin mendekati Queen yg duduk di meja rias dekat jendela. Levin mencium kepala Queen. Setalah selesai menyisir rambut, Queen memeluk Levin yg sedari tadi menunggunya di belakang. Dengan senyuman malu malu Queen menyandarkan kepalanya di dada Levin.


"Jangan teriak lagi ya biar gak di di kacaukan lagi sama Billa." Bisik Levin saat menggendong Queen ke tempat tidur.


"Maaf" Kata kata yg Queen ucapkan membuat Levin tersenyum dan kembali menciumnya.

__ADS_1


"Pelan pelan yg Vin." Kata Queen hanya di angguki oleh Levin.


Belajar dari pengalaman tadi. ketikan anak menerobos, Levin segera mencium bibir Queen agak dia tidak bisa berteriak lagi. Setelah sudah benar benar memecah sesuatu. Levin berhenti sejenak menetralkan rasa perih juga pada bagian pusatnya. perlahan memaju mundurkan gerakan. Di tatap mata Queen yg tadi terpejam kini sudah terbuka dan saling memandang. Tak lupa Levin mengenakan pengaman untuk mencegah hal yg belum di inginkan. Ya Queen masih ingin mengejar cita citanya. Menjadi seorang penyanyi meski hanya seorang penyanyi cafe. Dan Levin juga ternyata memiliki impian untuk mendirikan perusahaan sendiri. Levin kepengen, usaha papanya lebih maju lagi dengan membuka banyak cabang. Dengan manajemen yg lebih matang tentunya.


Setelah sejam memadu kasih, Akhirnya keduanya mencapai puncak dan melakukan pelepasan bersama. Queen langsung berlari ke kamar mandi karena merasa dia kencing di atas kasur. Melihat bercak darah yg tertinggal di serei membuat Levin tersenyum puas.


Setelah Queen kembali dengan menggunakan handuk karena dia sudah mandi lagi. Kini giliran Levin ke kamar mandi. Sama seperti Queen, Levin memilih mandi besar langsung. setelah merasa capek habis olah raga malam. Queen dan Levin tidur pulas. jam 6 pagi Levin sudah bangun dan memandang Queen masih tertidur berbantalan lengannya. Perlahan Levin menyingkirkan anak rambut yg menutupi wajah Queen.


"Selamat pagi sayang." Bisik Levin saat melihat Queen membuka matanya.


"Pagi juga sayang." Levin mencium kening Queen sambil kembali berbisik.


"Terima kasih ya sayang." Queen hanya mengangguk dan kembali menyembunyikan wajahnya ke pelukan Levin.

__ADS_1


__ADS_2