Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Ajang pencarian jodoh


__ADS_3

"Yuga laelasari." Panggil Queen yg berada di dapur mengambil makanan.


"Eh elo pengantin masa ngambil makanan sendiri." Ejek Yuga


"Ya elah, nikahannya juga di rumah gue sendiri. eh elo gak ngasi kabar udah di sini aje."Cerocos Queen sambil mengaduk aduk soto di dapannya sebelum memakannya.


"Iya, gue sama mama papa ke sini. Kebetulan papa itu temen kerja papamu. eh maksudnya mertuamu." Kata Yuga yg bingung harus nyebut Rizal itu siapa ya karena selama ini taunya Rizal juga papanya Queen.


"Udah belum makanannya? Gabung sama yg lain Sono yuk." Ajak Yuga.


Setelah makan Yuga dan Queen menghampiri Arya dan Levin yg duduk bareng teman teman yg lain.


"Om Arya, sendirian Bae om." Sapa Queen yg memang sudah akrab dari dulu.


"Kan gandengan om lagi nyari kamu." Kata Arya membuat Queen melihat Yuga.


"Yuga ini anak om?" Tanya Queen heran


"Iya, cantik kan?"


"koplak om otaknya ni anak." Jawaban Queen membuat semua tertawa. "Tapi beneran Yuga Lo anak dari om Arya. Enak dong punya mama 2." Ledek Queen yg mendapat pukulan lembut di kepala dari Levin.


"Iya, gue anak dari mama Lisa, kalo Yuka anak dari mama Nia. kami lahir di hari yg sama tapi kami gak kembar. ya kaya Lo sama Levin gitu." Terang Yuga.


"Tunggu, Yuka cewek yg lagi di deketin putra gak sih? anak IPA 2?" Tanya Levin yg setau dia Putra itu sedang gencar ngedeketin Yuka.


"Iye, Putra nih minta ijin langsung sama yg punya." Kata Yuga membuat semua tertawa akan expresi malu malu dari Putra.


"Tadi dia sama mamanya di depan ketemu Cinta, Cari aja sana. Masa di biarin sendirian." Goda Arya pada pemuda di sampingnya.


"Jadi di restui ini om?" Tanya Putra lagi.


"Ya. Itupun kalo kamu bisa cairin balok es itu." Kata Arya menantang Putra.


"Queen entar malem bagi serep ya nyairin si kulkas dua pintu ini." Kata Putra yg sudah berdiri.


"Enak aja mau ganggu ritual malem. kagak ada, entar gue ngajarin Queen ngeDJ. Udah Sono lu berjuang sendiri." Jawab Levin sarkas.

__ADS_1


"Yah, kok gitu sih. kan ah elah elu mah kulkas." Kata Putra yg berjalan menghampiri Yuka setelah sebelumnya memantabkan hati.


Tak lama ngobrol, Putra akhirnya bisa mengajak Yuka bergabung dengan Arya dan Yuga.


"Gilaaaa tantangan om udah bagaikan kacang goreng buat dia." Kata Levin setelah Yuka dan Putra duduk di meja yg sama.


"Ya emang karna Yuka juga suka makanya gampang." Kata Yuga yg membocorkan kartu as Yuka.


"Ah Yuga, kan lebih baik kamu juga deketin Andra dari pada mendem terus gak bisa tumbuh." Kali ini Yuka membuka kartu As Yuga.


"Benarkah? Gayung bersambut Andra..." Kata Levin tak menyangka.


"Gila, nikahan gue jadi ajang pencarian jodoh." Kata Queen dengan gayanya yg memang rame.


"Kasih lah sayang, dari pada mereka galau." kata Levin sedikit meledek teman temannya.


Malam semakin larut, Acara resepsi pun telah berakhir. Dengan hanya menyisakan rasa capek. Cinta dan Rizal duduk di atas tempat tidur.


"Mas, Cintaku padamu itu tak lekang oleh waktu tak termakan oleh zaman dan tak terkikir oleh usia. Tapi cintaku meragu karena rasa capek mas." Kata Cinta mengeluarkan jurus jurus yg membuat Rizal tau kalo Cinta meminta sesuatu.


"Ah malu mas, kita sudah punya mantu Lo." Kata Cinta sambil menikmati sentuhan tangan Rizal di kaki capeknya.


"Punya mantu itu di luar kamar, kalo di kamar kita itu masih remaja yg lagi pacaran sayang." Kata Rizal yg membuat Cinta tak tahan untuk tak memukul suaminya.


"Gombal Mulu dah ah kamu mas. Dalam kamar bilang masih pacaran di luar kamar udah punya mantu. lah kalo di luar rumah? Ngaku bujang? Tak sikat kamu mas." Kata Cinta jengkel yg membuat Rizal tertawa.


Di dalam kamar Kliene sempat terjadi perselisihan. Ya Kliene berselisih paham karena mama dan papanya.


"Pasti dulu papa sama Mama suka berantem juga. Sampek sekarang masih aja kaya gitu." Kata Ayu yg mendengar teriakan Rizal saat di pukul punggungnya sama Cinta.


"Ngawur aja, mama sama papa itu temenan dari kecil. bahkan mereka membeli rumah ini karena rumah ini memiliki kenangan buat mereka." kata Kliene menyangkal.


"Itu buktinya mereka berantem." Kata Ayu tak percaya.


"Merka kaya gitu itu kata opa Irgi karena papa cinta mati sama mama. papa bisa Lo nangis kalo misalnya papa pulang ke rumah tapi gak nemuin mama." Kata Kliene lagi.


"Kenapa? Ya karena mama dulu sering ilang, papa takut kehilangan mama. Sama kaya aku yg takut kehilangan kamu." Kata Kliene malu malu.

__ADS_1


"Kamu lagi gombalin aku Kliene?" Ayu tak percaya kalau suaminya bisa gombal.


"Aku gak kombal, ini pengakuan namanya sayang." Kata Kliene memeluk Ayu dari samping yg saat ini sudah duduk di atas tempat tidurnya dan bersandar di kepala ranjang.


"Cih ternyata bisa manja juga kamu ya sayang." Kata Ayu mencium hidung mancung suaminya ini.


Di kamar Levin. Setelah Levin dan Queen mandi. Levin kembali berhadapan dengan berkas yg sudah 3 hari di tinggalkan. Queen datang dari arah dapur dengan membawa soto berisi nasi untuknya dan Levin selalu suaminya sekarang.


"Makan dulu Vin, katanya laper." Kata Queen menyodorkan nampan berisi soto dan air minum di hadapan Levin.


"Di rapiin dulu biar gak kena kuah nanti." Kata Levin merapikan sedikit kertas kertas itu.


"Besok ngampus?" Tanya Queen di sela sela makannya.


"Iya, gue mau nyari Roby." Kata Levin


"Gak usah buat perkara Vin, gue gak suka sama orang sok jagoan." Queen mencoba menghalangi Levin.


"Gue gak suka ada cowok lain yg berani melihat apa lagi sengaja memfoto bagian tertutup dari istri gue. Dia sudah mgelecehin Lo Queen. Gue harus bales itu semua." Kata Levin dengan santainya, namu sangat mengerikan di pendengaran Queen.


"Hmm terserah Lo dah, asal Lo gak kenapa kenapa itu udah cukup buat gue." Kata Queen merapikan kembali mangkok bekas soto.


Levin kembali berkutat dengan berkas berkas cafe yg sudah menjadi tanggung jawabnya. Sejam sudah Levin bergaul dengan kertas kerja penting itu di malam pertama nya. Levin melirik ke tempat tidur, dan baru menyadari bahwa Queen tak kembali ke kamar.


Levin mencari Queen ke dapur namun tak mendapatinya. Semua ruangan sudah gelap gulita, Ya karena memang sudah jam setengah 1 malam. Levin berjalan menuju kamar Queen yg dulu tapi tetep tidak ada selain boneka boneka yg tertata rapi. Terakhir tujuan Levin adalah kamar Salsabila adik bungsunya. kalau Sampek gak ada gue pasti bakalan bangunin semua orang ikutan nyari Lo Queen. Batin Levin.


Kamar pojok dengan view taman belakang itu perlahan di buka. kamar yg hanya di terangi dengan lampu tidur tak menghalangi pandangan Levin pada sesosok cantik istrinya yg terlelap. Levin tersenyum dengan memikirkan sebenernya apa yg ada di pikiran istrinya itu Sampek tidur di kamar adik iparnya. Perlahan Levin mengangkat Queen kembali ke kamarnya.


"Abang kenapa kesini?" Tanya Billa yg terbangun karena ulah abangnya.


"Ini Queen malah tidur di sisni. Kan Abang jadi tidur sendiri." jawab Levin.


"Lah kan emang Queen biasa tidur di sini. Abang juga manja, biasanya tidur sendiri juga." Goda Billa yg senernya tau tapi pura pura gak tau.


"Anak kecil gak perlu tau. Nanti Abang kasi ponakan. Udah balik tidur Sono."


"Abang" Teriak Billa yg hanya di senyumi oleh Levin.

__ADS_1


__ADS_2