
Sepulangnya dari cafe Lisa, Cinta tak melepaskan pelukannya dari Rizal. Rizal mengerti kehawatiran istrinya dan menikmati perlakuan posesif Cinta. Rizal sesekali menggoda Rizal dengan berlari kecil yg langsung di kejar oleh Cinta.
"Secinta ini kamu sama mas, yang?" Tanya Rizal ketika sudah duduk di sofa ruang tv.
"Cuma mas yg Cinta mau mas, gak ada yg lain. Kalo misalnya ada yg lain di hati mas mending kita pisah mas. Cinta gak mau di madu." ucap Cinta sambil menggosok gosokkan tangannya di dada Rizal.
"Allah menjanjikan surga lo yang bagi seorang istri yg iklas di madu. Nabi muhamad juga istrinya banyak." Goda Rizal.
"Kamu bukan Nabi mas juga aku bukan Aisyah yg iklas membagi suaminya."Jelas Cinta.
"Mas memang bukan Nabi tapi meneladani Nabi."
"Mas Nabi Muhamad hanya menikahi janda janda yg tak mampu. Dan hanya Aisyah saja yg merupakan istri Nabi yg masih perawan. Mas jangan menelan begitu saja apa yg mas tau. Tapi mas harus mempelajari dulu. Kalo mas menelan mentah mentah ya gumoh mas." Cinta bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kamar.
"Yang, jangan marah. Mas cuma bercanda. Mas janji gak akan ada wanita lain di hati mas selain kamu dan anak anak kita nanti." Kata Rizal mengejar Cinta.
"Sholat isaya dulu mas, nanti keburu ketiduran." Ajak Cinta.
"Mandi dulu yuk, lengket semua badanku." Rizal mengambil handuk yg ada di teras samping kamarnya.
"Mas duluan saja, Cinta mau telfon mama."
"Barengan lah yang. Itu kan sunah."
"Hmm ya sudah ayok."
__ADS_1
Kini Cinta dan Rizal berada di kamar mandi dan mulai melepas baju masing masing. Rizal membantu Cinta melepas kaos yg melekat pada tubuh bagian atas sedang Cinta membantu Rizal melepas celana jins Rizal.
Setelah baju mereka tanggalkan semua. Kini Cinta dan Rizal berdiri di bawah shower yg mengalirkan air hangat. Cinta membasuhkan sabun ke badan Rizal bagian belakang. Dan Rizal memilih menyabuni semua tubuh Cinta.
"Yang, udahan yuk mandinya. Keburu gak kuat sholat nanti." Bisik Rizal.
"Kan itu mas sendiri yg buat. Cinta kan masih kuat." Cinta tersenyum meledek Rizal.
"Ah gua garap sini juga lu." Kata Rizal stress menahan gejolak dalam diri.
"Sabar mas ini masih siang."
"Siang mbah mu yang, Ini sudah hampir jam 10 malem kok di bilang siang." Sungut Rizal sambil menyalakan kembali showernya.
Setelah menyelesaikan mandi yg menyiksa bagi Rizal. Setelah itu mereka sholat isya Rizal mengaji sebentar seperti biasanya. Hanya saja biasanya Rizal tak milih milih surat tapi kali ini Rizal memilih surat Yusuf dan Cinta membaca surat Maryam sesuai permintaan sang suami.
"Papa, papa dari tadi di sini?" Tanya Cinta sambil melipat mukena dan meletakkan di tempatnya.
"Papa di sini dari kalian baru mengaji. Sekarang sudah malam sekali, papa pulang ya." Pamit papa Cinta yg memang jam sudah menunjukkan di angka 11.
"Kenapa papa gak manggil kita pa?" Tanya Rizal yg membereskan sajada.
"Papa gak mau mengganggu ngaji kalian. Semoga kalian cepat mendapat keturunan dan melengkapi kebahagiaan kalian." Ucap papa Cinta.
"Doain yg terbaik pa."Ucap Rizal yg mengantar papanya sampai ke depan gerbang rumahnya.
__ADS_1
Setelah kepergian papa mertuanya. Rizal mengajak Cinta masuk kedalam rumah. Rizal kembali mengambil air wudlu lalu mendekati Cinta yg tengah menyisir rambutnya di depan meja rias. Rizal membantu merapikan rambut Cinta denga tangannya. Cinta yg mengetahui maksud Rizal hanya tersenyum menggoda.
"Puas banget kayanya nganggurin suami kaya gini." Rizal yg mulai sadar kalau istrinya memang sedang mengerjainya dengan berlama lama menyisir rambutnya.
"Sabar lah mas, mas kenapa nyuruh Cinta membaca surat Maryam?" Tanya Cinta sambil berjalan menuju ranjang.
"Agar anak kita nanti kalo cewe secantik dewi Maryam ibu dari nabi Isa as. Dan tadi aku membaca surat Yusuf, Agar kelak ganteng seperti nabi Yusuf ketika kita mendapatkan seorang anak laki laki." Terang Rizal yg mulai menciumi Cinta.
Dengan mengucap Bismillah Rizal mencumbu Cinta dengan penuh kasih dan sayang. Sebelum subuh Rizal lebih dulu bangun dan menuju ruang kerjanya. Rizal menemukan beberapa keganjalan dalam pembukuan yg di serahkan dari cafenya yg di Bandung.
Rizal ingin ngecek sendiri secara langsung namun dia marasa ragu. Rizal hanya bisa menghela nafas tak karuannya. Kapan bang Rama mau ke Bandung. Kalo gini terus bisa bisa rugi besar di sana. Batin Rizal.
Rizal terus menbuka buka pembukuan satu lalu ke pembukuan dua sampai ke pembukuan ke 7 cafenya. Rizal hanya menemuka banyak ketidak cocokan di cafe yg berada di Bandung. Kegalauan ini memang Rizal sendiri yg buat. Karena di sana lah Rizal kehilangan calon anak pertamanya. Ingin sekali Rizal menutup cafe yg di sana tapi Rizak tak tega melihat karyawannya yg disana harus kehilangan pekerjaan.
Rizal kembali ke kamar di saat Cinta sudah mempersiapkan untuk sholat Subuh. Cinta sudah mandi dan wudlu namun Rizal malah merebahkan diri di atas kasur.
"Mas, mandi dulu. Lepaskan penat duniamu. Biarkan masalah mu tumpah saat mas bersujud memohon yg terbaik pada Allah SWT. Inget mas tak ada masalah yg tak ada penyekesaiannya. Tak ada hati kacau ketika mas bersujud menghadap sang Ilahi." Ucapan Cinta membuat Rizal bangkit dari tidurnya dan berjalan ke kamar mandi untuk bersih bersih diri sebelum sholat subuh.
"Mas, Cinta yakin mas pasti bisa melalui cobaan ini dengan wajah tersenyum. Inget mas jangan pernah mengeluh atau mengatakan lelah dan capek. Karena itu adalah awal dari keraguanmu terhadap Allah mas." Kata Cinta di saat Rizal mencium keningnya sehabis sholat subuh.
"Bersamamu mas pasti kuat sayang. Hanya kamu yg mampu menguatkan ma. Jadi jangan pernah kamu berfikiran bahwa mas akan mencari wanita lain. Kamulah satu bidadari surgaku. Kamulah kunci surga bagi mas." Ucap Rizal ketika Cinta mencium tangan Rizal.
"Mas ada kuliah pagi? Cinta ada kuis mas. Jam 8 sudah mulai kuis." Cinta melipat mukena yg ia gunakan bersama sajadahnya.
"Iya mas ada kuliah pagi tapi jam 9 yang. Ya nanti mas ke cafe saja sambil nunggu waktunya." Rizal membuka lemari untuk mengambil baju.
__ADS_1
"Paling bang Rama juga sudah ada di sana juga mas. Kan Rena ada kuis juga."
"Iya sarapan yuk, mas laper."