Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Amarah Rama


__ADS_3

Keesokan pagi keadaan kantor sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kontruksi bernama BRAHMA COMPANI kacau balau. Kekacauan yang membuat Rama teriak teriak dan membuang buang semua dokumen seperti orang gila. Rama yang merasa menang selama dua hari itu tidak menyangka bahwa semua investor menarik kembali investasinya dan membuat Rama merugi hingga harus menjual sahamnya dengan harga sangat murah. Saham yang di beli oleh salah seorang investor tetap di perusahaan itu. Bapak Gibran dengan harga sangat murah sekali.


"Gimana bisa begini? Semua dokumen ini gak berguna!!! Sekarang aku jatuh miskin!!!" Ucap Rama dalam ruanganya tanpa di temani seorang pun.


Dia kehilangan saham juga perusahaannya. "Ini pasti ulah Levin anak tak tau diri itu!!" Geram Rama yang menyalahkan Levin.


Levin yang baru datang langsung menuju ke ruangannya. Dengan mengenakan setelan kemeja merah maroon di padukan dengan jas warna hitam senada dengan celana bahannya. Levin memasuki ruangannya yang sudah di tunggu oleh Rama.


"Kamu apakan perushaanku?" Rama langsung menyerang Levin yang baru sampai.


"Oh Ayah, aku gak melakukan apa apa. Memangnya ada apa?" Tanya Levin berpura pura tak tau apa apa.


"Jangan bersandiwara kamu Levin. Aset perusahan kamu yang memegang dan sekarang saham harus di jual untuk menutupi kerugian yang di alami perusahaan. Pembangunan gedung di pusat kota harus terhenti karena investor menarik investasinya. Sekarang jual semua sahammu untuk menutupi kebutuhan pembangunan." Kata Rama penuh amarah.


"Apa Ayah sudah menjual semua saham Ayah? akh mau membelinya." Kata Levin santai.


"Membeli saham milikku? Jangan mimpi!!!" Rama semakin emosi mendengar Levin mau membeli sahamnya.


"Ya mending saya bermimpi untuk mandi uang dan menunggu seseorang untuk berlutut memohon padaku." Kata Levin dengan segala keangkuhannya.

__ADS_1


"Memang kau anak tak tau di untung!!!" Kata Rama yang semakin marah.


"Anak? Maaf, saya putra kedua dari Alfan Ahrizal. LEVIN BAGANTA." Terang Levin dengan menekankan namanya.


Rama meninggalkan ruangan Levin dengan wajah merah padam dan mata merah penuh amarah yang sudah berkaca butiran bening. Levin tertawa puas dalam ruangannya, lalu menghubungi pak Gibran yang sudah bekerja sama dengan Rizal papanya.


"Saya tunggi di kantor pak" Begitulah kata Levin ada investor yang membeli saham Rama.


"Jangan pernah bermain curang dengan keluarga Rizal jika todak mau hangus menjadi abu." Kata Levin bermonolog.


Di rumah Rizal.


Rizal menjelaskan pada orang tuanya tentang apa yang di perbuat oleh Rama. Rizal meminta untuk Bram dan Inggrit tidak membenci Levin. Kedua orang tua itu diam mengangguk. Bram sangat mengetahui persaingan memang tidak lah memandang hubungan. Sama seperti yang namanya uang, Saudara adalah ikatan darah namun uang tidak memiliki darah maka tidak pernah memandang saudara anak maupun menantu. Begitu kejam yang namanya harta dan tahta yang mampu membuat sebuah keluarga yang harmonis menjadi hancur berantakan.


"Michel ada di pihak bang Rama pa, bahkan bang Rama tega bermain dengan ibu dan anak." Kata Rizal yang mengadukan kelakuan abang kandungnya.


"Maksud kamu apa Rizal?" Tanya Inggrit dengan nada tidak terima.


"Ya ma, abang sudah meniduri Michel dan juga putrinya. Kebangkrutan orang tua Michel yang membuat dia menjadi liat untuk memenuhi kebutuhannya dan gaya hidup glamournya." Kata Rizal yang membuat Inggrit tak terima.

__ADS_1


"Kamu itu sama saja dengan Cinta. Kamu pernah bilang mau menukar Cinta dengan Lashifa tapi kamj bohong. Mama kecewa kamu menjelek jelekkan abang mu sendiri hanya membuat nama Levin baik. Levin itu anak wanita durhaka, Wanita tak tau malu yang memasukkan laki laki dalam kamarnya di malam hari." Teriak Inggrit menyalahkan Cinta.


"Aku yang datang malam malam ke kamar anak gadis ma, aku yang menikahi Cinta ma, aku yang mengatakan bahwa Rama itu gak bener. Kenapa mama menunjuk Cinta yang buruk? Apa salah Cinta? Dan kalau mama mau menantu namanya Lashifa silahkan panggil Cinta dengan nama Lashifa Rizal gak perduli. Dan lagi, Levin adalah darah daging Rizal. Tolong mama terima Levin, Kliene juga Billa sebagai cucu jika mama masih mau menganggap Rizal sebagai putra." Kata Rizal penuh emosi namun menggunakan nada yang selembut ia bisa.


"Rizal!!! Inggrit membentak Rizal yang meninggalkan dirinya juga sang suami setelah mengatakan apa yang ia inginkan.


" Ma sudah, biar gimana juga Levin memang putra Rizal. Dia cucu kita sama dengan Rara. Sayangi Kliene, Levin dan Billa, mereka cucu cucu kita. Inget ma, kamu mati gak mungkin jalan sendiri ke pemakaman. Kamu memerluka Rama, Rizal Kliene dan Levin untuk menggotongmu dalam keranda berlafas LAAILLAHAILLALLAH." Kata Bram mengingatkan


"Ih sedem banget pembahasan papa." Kata Inggrit mengusap tengkuknya.


"Bener ma, kalo bukan mereka siapa lagi, dan lagi ma. Mama harus berbuat baik mulai sekarang. Mama gak mau kan kena azab kaya di tipi itu, jenazah mama terbang ke cor coran. Kalo enggak jenazah mama hanyut di kali. Mama kan gak bisa berenanh, bisa gelagepan mama di kali entar. Masak gak ngerasa ngeri sih ma, jenazah mati kelelep karena semasa hidupnya menzholimi menantu dan cucu cucunya. Kalo papa ngeri ih, pengennya ya pas meninggal tidur diem di atas keranda dan di gotong oleh anak dan cucu sambil di bacakan doa doa pengiring peristirahatan terakhir papa." Kata Bram mencoba meluluhkan hati sang istri.


"Serem atuh pa, masak iya mama udah meninggal masih harus kelelep sih. Aduh bisa mati makin mati itu pa. Emangnya Levin bakalan mau maafin mama kalo mama minta maaf?" Tanya Inggrit dengan nada ketakutan.


"Ma, mama itu dosanya banyak. Gak usah mikir mau di maafin apa enggak, yang penting mama minta maaf dulu. Masalah di maafin ya terserah dia, dan lagi ma. Ketika kita minta maaf dengan tulus dan tidak di maafkan, itu bukan kita yang rugi tapi mereka." Kata Bram memberi penjelasan positif pada istri koplaknya.


"Jadi kalo Levin gak maafin mama berarti nanti jenazahnya yg kelelep itu jenazah Levin dong pa, bukan mama." Kata Inggrit dengan pemikirannya.


"Yang jelas ya ma, kalau mama masih mikir negatif bjsa bisa sebelum jadi jenazah mama udah bakalan papa masukin ke bak mandi dan papa rukiah ala ala papa. Mama mau?" Bram semakin geram akan pemikiran sang istri yang semakin jauh dari nalar manusia.

__ADS_1


"Ih papa, kalau mau mandiin mama bilang atuh, biar mama siapin air nya dulu pa." Inggrit tersenyum menggoda.


Rizal dan Cinta menahan tawa hingga perutnya sakit dari balik pintu kamarnya ya g tak jauh dari tempat mama dan papanya ngobrol.


__ADS_2