
Di kamar yang dalamnya sangat mewah itu terlihat sesosok gadis cantik yang tengah memeskan pewarna bibir menyembunyikan warna pucatnya. Frizka menyambut Billa dengan riang seperti tak terjadi apa apa padanya. Mata yang selalu terpejam selama dua tahun ini, kini telah memancarkan kebahagiaan saat menyambut sahabatnya.
"Billa gue gak mau lu tinggalin gue lagi." Frizka memeluk erat tubuh Billa yang sudah menangis.
"Ngapa lu demen di mari? Lu lupa di rumah sakit itu banyak hantunya?" Kata Billa membuat Frizka melepaskan pelukannya.
"Lu yang jahat Bill, lama sekali lu jemput gue? Apa lu sudah melupakan gue?" Kata Frizka yang kini juga sudah menangis.
"Gue gak nyuruh lu nangis bigok, lihat gue sekarang. Gue sudah lulus kuliah tapi pacar oon lu masih belum, dan gue punya kerjaan bagus di Jerman. Lu mau ikut gue jalan jalan di sono apa lu mau di sini nemenin pacar oon lu?" Tanya Billa membuat Sandi gatal untuk memukul kepala sang istri.
"Ajak Frizka sama lu lah Bill, bisa di bunuh gue sama Mbah Kung kalo tinggal bareng sama cucu tersayangnya." Ucap Sandi menyuapi Frizka bubur yang di berikan pihak rumah sakit.
"Gue tinggal bareng dengan boss gue." Kata Billa membuat Sandi seperti tersengat aliran listrik tegangan tinggi.
__ADS_1
"Gue beliin apartemen buat kalian." Jawaban Sandi membuat Frizka sedikit curiga.
"Lu mau nikung Aris?" Pertanyaan Frizka membuat Billa tersentak.
"Aris sudah meninggal Friz, dan gue kehilangan dia selamanya." Billa menunduk haru.
"Lu masih punya gue juga punya Sandi, meski kami menikah nanti. Kami akan tetap menemanimu, jangan merasa sendirian ya." Frizka memeluk harus Billa yang semakin kuat menangisnya.
Frizka tertidur setelah minum obat yang mengandung obat tidur. Sandi mengajak Billa ke hotel terdekat, dan membukakan kamar untuk Billa. Rasa canggung di antara mereka sangat terasa, sehingga membuat Billa tidak nyaman.
"Pastiin aja perasaan lu ke gue, gue akan bertahan jika lu berjuang untuk buat gue jatuh cinta sama lu. Sama kaya Aris yang berjuang buat gue. Dan gue pun juga akan berusaha setian dan menjaga seluruh Cinta gue buat lu. Tapi sekali lu ngelepas gue, gue bisa pastiin lu gak akan pernah lihat gue lagi. Bukan mati tapi gue lebih milih untuk tidak lagi menemui lu sampai kapanpun." Ucap Billa mengingat perjuangan Aris.
"Gue balik ke rumah sakit ya." Sandi berpamitan pada Billa namun di tahan oleh Billa.
__ADS_1
"Gue istri lu San untuk saat ini, apa gak bisa lu adil ke gue?" Keegoisan Billa muncul setelah mendengar pengakuan Sandi yang pernah memikiki rasa untuknya.
"Tapi Frizka membutuhkan ku." Ucap Sandi melepas tangan Billa yang memengangi tangannya.
"Baiklah." Billa mengerti akan ucapan Sandi.
Sandi meninggalkan Billa tidur sendiri di hotel yang masih termasuk mewah. Billa merasa keberadaannya tidaklah tepat untuk saat ini. Bahkan kesempatan untuk berdua saja tidak di dapatnya. Billa mengambil handphonenya dan menghubungi Bossnya.
"Pak, di mana?" Tanya Billa pada bossnya melalui sambungan telephone genggamnya.
"Baru nyampek rumah ini, Capek banget Billa. Kenapa? Apa mau perpanjang lagi waktu bulanmadunya?" Goda Revan yang masih setia menutup matanya.
"Hmmm, Vano mana?" Tanya Billa masih menahan kesedihannya.
__ADS_1
"Dia sudah memutuskan kontrak kerja, saya harap kamu tidak memutuskan kontrak kerja sama seperti Vano." Jawab Revan dengan nada malasnya.
"Temenin Billa Bulanmadu pak."