
"Yang bangun yang."Rizal membangunkan Cinta.
"Udah jam berapa sih mas? Emang sudah subuh?" Tanya Cinta tanpa membuka mata.
"Masih jam 11 yang, kamu lo ninggalin mas e tidur terus."
"Dingin mas, bawaannya ngantuk. Emang mas mau ngapain bangunin Cinta?" Kini Cinta memeluk Rizal yg ngambek dari belakang.
"Pengen jagung bakar yang, dingin dingin gini enaknya makan jagung bakar."
"Ya sudah ayo keluar nyari jagung bakar. Tapi habis itu mas harus istirahat ya, jangan terus terusan begadang. Sayangi badanmu juga mas, jangan di forsir kasian." Cinta memakaikan jaket tebal untuk Rizal.
"Iya Cintanya Rizal yg paling guanteng." Akhirnya senyum Rizal mengembang juga.
"hem PD banget sih bilang gantengnya." Cinta dan Rizal menuruni tangga.
"PD lah, kan emang ganteng. kalo gak ganteng mana bisa dapetin Cinta yg cantik ini." Kata Rizal sambil mencolek dagu Cinta.
"Kalian ini mau kemana malem malem?" Tanya bang Rama yg masih setia di depan tv dengan Rena yg tidur di pangkuannya.
"Nyari jagung bakar bang, abang mau?" Tanya Rizal.
"Kalo ada bakso saja, lagi pengen yg panas panas." Jawab bang Rama.
"Bara api mau bang?" Cinta mulai menggoda abang iparnya.
"Emang gue kuda lumping lo kasi bara api?" Rizal tak sanggup menahan tawa lagi karena abang dan istrinya itu.
"Kan anget bang. lagian biar gak percuma abang dagang jagung bakar arangnya." Cinta menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Sekalian dek kasi abang gerobaknya biar gantian abang yg jual jagung bakarnya." sungut bang Rama.
Melihat abangnya setress di buat oleh istrinya Rizal merasa senang juga kasian. Rizal membelikan beberapa bungkus bakso juga jagung bakar. Setelah Rizal makan jagung bakar sama bakso. Rizal dan Cinta naik ke dalam kamarnya. Cinta menyiapkan baju tidur untuk Rizal yg sedang mandi.
"Yang airnya panas banget sih?" Tanya Rizal
"Masak sih mas? tadi enggak kok."
"Ya sudah gak apa, besok besok biar mas aja yg nyiapin air untuk mandi." Rizal memakai bajunya.
"Mas udah gak mau di layani lagi ya sama aku?" Cinta duduk di tepian ranjang.
Rizal merasa bersalah telah mengatakan itu. Rizal yakin Cinta pasti merasa terluka dengan peryataan itu. Sebenernya Rizal hanya ingin meringankan kerjaan Cinta.
"Bukan gitu yang, mungkin kamu capek belakangan ini. Mas cuma gak mau kamu itu terlalu capek. Capek tugas kuliah tugas ngerawat rumah juga harus ngurusin aku full kamu lakuin sendiri."
"Cinta gak lakuin itu semua sendiri mas. Tapi dengan Cintamu juga perhatianmu yg buat aku gak merasa capek. Tugas kampus juga gak terlalu banyak mas, jadi jangan ngerasa terbebani ya. Melayani mas itu sudah kewajiban aku." Cinta merebahkan diri di samping Rizal.
Namun baru beberapa saat Cinta mengeluh perutnya sakit. Rizal merasa takut juga khawatir. Rizal segera memakaikan baju pada Cinta dan dirinya. Rizal langsung membawa Cinta ke rumah sakit tanpa memberi tahukan abangnya yg ada di Villa.
Dari jam 3 subuh sampai jam 6 Rizal gak pernah meninggalkan Cinta yg sedang tertidur di brankar. Rizal terus merutuk i apa yg telah terjadi. Menyesali apa yg terjadi tanpa ia sadari. Sesekali Rizal membisikkan kata maaf pada Cinta.
Tepat jam 7 bang Rama dan Rena tiba di rumah sakit. Rena melihat Cinta dengan selang yg menancap di pergelangannya. Rena tak menyangka kalo kejadian ini harus menimpa Cinta dan Rizal.
"Bang, ini salah Rizal bang. Gara gara Rizal Cinta kaya gini. Dulu juga gara gara Rizal, Cinta hampir kehilangan nyawanya. Dan sekarang juga gara gara Rizal terlalu berambisi." Tangisan Rizal pecah saat abangnya datang menjenguknya.
"Zal semua ini takdir, lo harus iklas. Jangan buat Cinta makin sedih dengan lo terus menyalahkan diri sendiri. Cinta belum bangun?" Bang Rama menenangkan Rizal.
"Belum bang dari jam 3 tadi pagi selesai operasi Cinta belum bangun. Rizal khawatir juga takut bang."
__ADS_1
"Yang sabar. Kasi penjelasan pada Cinta pelan pelan, jangan tunjukkan kelemahan kamu. Biar Cinta juga merasa tenang."
flashback
"Dokter tolong istri saya dok, dia sakit perut terus keluar darah." Jelas Rizal saat di rumah sakit.
"Bapak tunggu sebentar saya periksa dulu."
setelah setengah jam Cinta berada di ruang IGD. Dokter yg memeriksa pun akhirnya keluar.
"Maaf pak bisa ikut saya sebentar?" Rizal mengiyakan dan mengikuti dokter masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Jadi istri saya kenapa dok?" Tanya Rizal dengan khawatir.
"Maaf pak, apa bapak dan ibu habis dari perjalanan jauh?"
"Iya dok, saya dari Jakarta ke sini untuk urusan kerjaan dan niatnya besok sore kami balik ke Jakarta." Terang Rizal.
"Apa bapak dan ibu habis berhubungan?" Rizal mengangguk.
"Gini pak, sebenernya ini sangat sangat di sayangkan. Karena kandungan ibu masih sangat muda untuk perjalanan jauh. Ketidak stabilan kondisi ibu yg memicu pendarahan hebat dan mengakibatkan ibu keguguran."
Mendengar penjelasan dari dokter Rizal merasa menyesal dan menyalahkan diri sendiri. Karena kebodohannya Rizal harus kehilangan buah hatinya yg belum sempat lahir ke dunia. Rizal hanyan bisa menyalahkan kebodohannya dan keegoisannya.
"Berapa usia kandungan istri saya dok?"
"Usianya baru dua minggu pak. jadi masih berupa gumpalan. Silahkan pak untuk menandatangani surat untuk operasi pembersihan rahim ibu Cinta." Rizal menandatangani surat yg di sodorkan oleh dokter.
"Yg sabar ya pak, bapak dan ibu juga masih muda jadi gak sulit bagi ibu Cinta hamil lagi. 3 bulan lagi baru ibu Cinta boleh hamil lagi pak. Supaya kandungannya kuat dulu." Terang dokter.
__ADS_1
flasback off..