
“lalu alasan di balik wajahmu yang merona ini...” kata Daniel yang langsung di potong oleh arinda.
“udah nggak usah di bahas” kata Arinda yang masih memalingkan wajahnya ke pemandangan di luar mobil Daniel.
Arinda memejamkan matanya berpura-pura tidur agar Daniel tidak lagi membahas masalah yang baru saja terjadi.
Daniel melajukan mobilnya menuju apartement milik Cantika, mobilnya berhenti tepat di depan pelataran apartemen. Arinda merasakan laju mobil yang berhenti langsung membuka matanya sesaat Daniel akan membangunkannya.
“sudah sampai!” kata Arinda langsung melepaskan sabut pengamannya. Dia lalu akan membuka pintu mobil Daniel, namun dicegah Daniel.
Dia meraih tangan Arinda yang langsung menatap ke arahnya, dia menarik tangan Arinda hingga kembali bibir mereka berdua bertemu. Tangan kanan Daniel menahan kepala Arinda, dia melum*t, memagut dan mengabsen setiap detail dengan lidahnya yang menari terampil di mulut mungil Arinda.
Daniel melepaskan pagutannya, saat Arinda sudah merasa kekurangan udara segar. Kedua kening mereka Saling menempel dan saling mengatur nafas masing-masing.
“aku sungguh tidak bisa menahan godaan dari bibirmu yang sudah menjadi candu bagiku “ ibu jari Daniel membelai lembut bibir bagian bawah milik Arinda.
Untuk ke sekian kali jantung Arinda berlari begitu cepat dengan wajah yang sangat merona. Membuat Daniel semakin tidak tahan dan ingin kembali menciumnya, namun Arinda menahan menutup bibir Daniel dengan tangan secara lembut. Jari jemari tangan Arinda ada di atas bibir sexy Daniel, senyum terkembang di bibirnya dia lalu mengecup jari jemari membuat wajah arinda semakin memanas.
Arinda menurunkan tangannya dari bibir Daniel sebelah tangan Daniel menahannya dengan menggenggam erat dan kembali mengecupnya.
“Daniel...” panggil Arinda mata elangnya menatap Arinda.
“hmm...”
“ini sudah sangat malam, kamu juga harus beristirahat bukan”
“sebentar lagi, aku ingin bersama mu sedikit lebih lama”
“Dan... aku juga harus istirahat, besok pekerjaanku akan sangat banyak”
"besok akan ada banyak pesuruh ku yang akan membantumu"
"nggak... kali ini aku nggak mau pekerjaanku di rebut lagi"
"baiklah, tapi sebentar saja aku ingin kamu ada di sini lebih lama lagi"
"Danie, aku merasa tidak enak dengan penghuni yang lainnya"
__ADS_1
Daniel mengalah, dia merasa sedikit kesal lalu melepaskan tangan nya yang menggenggam erat tangan Arinda. Dia terlihat sangat imut dengan wajah yang cemberut, Arinda hanya tersenyum melihat daniel yang sedikit memanyunkan bibirnya.
Dia lalu membuka pintu mobil Daniel, lalu melihat ke arah daniel yang masih terlihat cemberut. Dia lalu turun dri mobil Daniel, berjalan memutar hingga berdiri di samping kaca mobil pintu Daniel.
Tok... tok... tok...
Arinda mengetuk kaca pintu mobil, dengan menekan tombol di sampingnya Daniel membuka kaca mobil sepenuhnya. Dia sedikit bergeser ke tepi melirik Arinda dengan wajah yang cemberut, Arinda sedikit membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan Daniel.
Cup...
Tanpa terduga Arinda mengecup pipi Daniel membuat matanya membelalak lebar saat kehangatan bibir itu mendarat dengan mulus di pipinya. Arinda berdiri di samping mobil
“Selamat malam dan selamat tidur” kata Arinda segera berlalu pergi. Daniel yang bermaksud ingin mengejarnya terhalang oleh sabuk pengamannya, dia lalu membuka kaca mobil di samping kursi penumpang.
“Arinda Anindira apa kamu ingin membuatku tidak bisa tidur malam ini?” daniel tersenyum senang dengan sedikit berteriak pada Arinda yang berdiri di depan pintu kaca loby apartemen. Seyuman manis tersungging di bibirnya, memberikan rasa hangat di hati Daniel.
Arinda lalu melangkahkan kakinya menuju lift hingga pintu lift terbuka dan dia masuk kedalamnya. Daniel menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan kembali kekediaman Arsenio, dalam hati dia berharap dapat bertemu dengan wanita miliknya di alam mimpi.
Selamat tidur pemilik hatiku, semoga kita berjumpa di alam mimpi bidadariku kata Daniel dalam hati dengan senyuman manis tersungging di bibirnya.
***
Karena permintaan khusus dari Aileen semua anggota team Arinda dan termasuk dirinya memakai kebaya. Untuk kenyamanan dalam bekerja Arinda memakai celana palazzo batik dengan corak yang dominan berwarna hijau dan orange. Arinda terlihat sangat cantik dengan rambut di tata rapi menambahkan ke cantikan yang hakiki padanya. Dia berdiri standby bersama anggotanya team di samping sebuah stand tempat makanan kecil.
“ my bunny....” panggil Maya menghampiri Arinda akan memeluknya, Daniel dengan cepat memegang kerah baju Maya untuk tidak mendekati Arinda.
“hei...baik sih yang narik-narik akika” Maya melihat ke arah belakangnya. Daniel menatap tajam dan dingin ke arah Maya yang langsung cengengesan melihat ke arahnya.
“Eh tuan Daniel... akika kira baik. Tenang aja tuan Daniel hati akika akan selalu untuk tuan Daniel, jadi tuan Daniel nggak usah combokur dengan my Bunny” kata Maya dengan pedenya.
Tatapan Daniel semakin dingin dan tajam saat Maya memegang lengan Daniel, Arinda hanya tersenyum melihat tingkah Maya yang masa bodo dengan tatapan dingin dari Daniel. Cantika menghampiri Maya yang berdiri di samping Daniel,
“May, kamu di sini. Dari tadi loh aku mencari kamu” kata cantika
“Ada apa sih ciin? Kok gelisah amir.... nyantai dong kayak di pantai” kata Maya
“udah kamu ikut aku sekarang” kata Cantika langsung menarik tangan Maya menuju kamar pengantin perempuan.
__ADS_1
Daniel berdiri di samping Arinda, sebelah tangannya merangkul pinggang Arinda dan berbisik di telinganya.
“kamu terlihat sangat cantik hari ini” puji Daniel membuat Arinda tersenyum,
“ternyata lu di sini” terdengar suara dari arah belakang mereka yang ternyata adalah Arvin yang datang menghampiri Daniel bersama Sean dan Ansel.
“ada apa?” tanya Daniel dingin dan datar.
“udah ayo ikut dulu bareng kita” ajak Arvin segera menggandeng tangan Daniel menuju ruang kerja Daniel.
“Rin, kita pinjam Danielnya sebentar ya” kata Arvin berlalu pergi.
Di pinjam lama juga nggak pa-pa kok, kalo Daniel di sini gue nggak bisa kerja. Pasti dia bakalan nyuruh orang suruhannya buat gantiin gue kerja guman Arinda, terdengar panggilan di HT yang di pegangnya.
“mbak Arin monitor” panggilan akrab untuk Arinda memulai pekerjaannya.
Daniel berada di ruang kerja bersama Arvin, Sean dan Ansel.
“ada apa kalian bawa gue kemari?” tanya Daniel datar.
“gue udah tahu siapa pembunuh yang membunuh ke empat para penjahat itu” kata Arvin berubah serius. Dia langsung meraih ponselnya menghubungi Yuda hacker kepercayaannya. Dia juga meminjam laptop milik Daniel untuk video call pada Yuda yang berada di base camp milik Arvin.
Video call tersambung, Yuda tampak seperti mayat hidup dengan lingkaran mata panda di bawah matanya.
************
tetap terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
jangan lupa juga kasih rate nya ya.... plisss
🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1