
Pintu lift terbuka, Daniel dan Ansel langsung masuk ke ruang kerja di mana Arvin dan Sean sudah menunggunya. Tidak membuang waktu, Daniel pun langsung menanyakan perihal apa yang sebenarnya di alami Oma Ayu.
Sean lalu menjelaskan sambil memberikan dua file yang sedari tadi di pegangnya,
“ Dari hasil tes Darah oma Ayu, terdapat senyawa racun yang sangat berbahaya. Racun ini sangat mematikan jika dalam jumlah besar di berikan pada manusia, namun dalam kasus oma gua lihat jumlah kadar racun di dalamnya sangat kecil namun bisa membunuh dengan perlahan lahan. Mungkin saja saat dalam penyekapan Marcus menyuntikkan racun ini pada oma ” jelas Sean pada Daniel, aura kegelapan tampak di wajah dan di sekitar tubuh Daniel.
Arvin, Sean dan Ansel membayangkan sebuah tanduk kecil berwarna hitam berada di kepala Daniel, saat ini mereka tahu sahabat mereka dalam mode marah tingkat dewa. Sean kembali melanjutkan penjelasannya terkait jarum suntik yang di temukan Arinda,
“Dan, jarum suntik yang di temukan Arinda, cairan di dalamnya bukanlah racun melainkan penawar racun yang ada di dalam darah oma. Gua udah meneliti cairan itu berulang kali dan hasilnya cairan yang di suntikan Vivi pada oma Ayu memang penawar sekaligus penangkal racun yang sama” jelas Sean.
Braaak...
Daniel memukul meja kerjanya yang terbuat dari kayu dengan kuat, dia benar-benar begitu marah.
“Berani-beraninya wanita jal**g itu mengkhianati ku” tangan Daniel terkepal kuat. Membuat Sean dan Arvin menatap penuh tanya pada Daniel,
“Sel, kenapa si Dan malah marah ke cewek itu. Bukannya sudah jelas kalo si Vivi yang nyelamatin oma Ayu?” bisik Arvin bingung, begitu juga Sean.
“kamu berdua tidak menyadari, jika Vivi lah yang memberi racun pada oma. Jika dia menyelamatkan oma Ayu, tentunya saat kita menemukan oma dia akan memberi tahu jika oma di racuni oleh Marcus. Atau setidaknya dia memberikan penawar racun itu pada kita, tapi dia malah diam-diam menyuntikkan penawar racun itu ke oma. tentunya kalian bisa menebakkan” jelas Ansel dengan berbisik, kini Arvin dan Sean mengerti kemarahan Daniel.
“Vin, dia mana posisi jal**g itu sekarang?” tanya Daniel dengan aura kegelapan di sekitarnya.
“menurut laporan Zico, Vivi berada di kantornya saat ini” kata Arvin. Daniel bangkit dari tempat duduknya melangkah keluar dari ruang kerja. Ansel, Sean dan Arvin mengikutinya dari belakang.
Mereka berempat melewati lobi lalu menaiki mobil mereka masing-masing. Mesin mobil sudah menyala, mereka lalu melajukan mobil mereka menuju ke perusahaan milik Vivi.
***
Vivi sedang rapat dengan beberapa pria yang sudah berumur, salah satu pegawai Vivi tampak menjelaskan rancangan proyek pada klien mereka. Satu persatu mobil mewah milik Daniel, Ansel, Sean dan Arvin memasuki pelataran perusahaan Vivi.
Mereka berempat turun dari mobil mewah itu, kehadiran mereka berempat lantas menyedot perhatian semua orang. Terutama para perempuan pengagum kaum adam berwajah tampan, berdasi, berbadan perfect dan tentunya berdompet tebal.
__ADS_1
Para perempuan yang lalu lalang di lobi perusahaan Vivi tertegun menatap empat sosok tampan yang berjalan melewati mereka. Para receptionis ikut tertegun menatap Daniel cs sehingga melupakan tugas mereka untuk menanyai ada maksud apa Daniel cs datang ke perusahaan Vivi.
Mereka juga tidak sempat bertanya karena Daniel cs berlalu pergi menuju lift perusahaan itu.
“WTF... itu kan Daniel Arsenio dan teman-temannya”
“gila, kejadian langka gue harus abadikan nih. Empat cowok ganteng kota J datang ke sini, ”
“OMG mereka ganteng banget”
Para perempuan terpana menatap ke arah mereka berempat, mereka mulai berisik dari yang bergosip hingga berteriak kagum pada Daniel Cs. Mereka tidak menyadari jika saat ini Daniel dalam keadaan marah dan bisa membunuh siapa pun yang berani mengusiknya.
“lantai berapa?” Daniel bertanya pada Arvin ruang kerja Vivi. Mereka berempat kini berada di depan pintu lift , menunggu pintu lift itu terbuka.
Ting....
Pintu lift terbuka, mereka berempat masuk ke dalam lift tanpa membawa body guard. Para body guard di perintahkan Daniel untuk berjaga di lobi agar Vivi tidak dapat melarikan diri.
“lantai dua puluh dua” ujar Arvin. Ansel segeran menekan tombol angka dua puluh dua saat Pintu lift menutup, lift terangkat ke atas membawa mereka ke lantai tujuan mereka.
“maaf, tuan-tuan ini siapa? Ada keperluan apa datang kemari?” tanya sekretaris Vivi menatap bingung melihat empat pria tampan di depannya.
Ya Tuhan... ganteng banget guman sekretaris Vivi dalam hati yang kagum.
“Bos kalian di dalam bukan?” tanya Arvin berdiri tepat di depan dua body guard bertampang sangar.
“ma...maaf tuan saat ini nona Vivi tidak bisa di ganggu, beliau sedang ada tamu” sekretaris menghadang Daniel cs untuk masuk.
Daniel tidak perduli, dia melangkah paksa untuk masuk ke ruang kerja Vivi. Body guard Vivi tidak tinggal diam, mereka langsung melancarkan serangan ke arah Daniel. Dengan melayangkan tinju dan tendangan ke arahnya, Daniel yang sudah terlatih dengan mudah menumbangkan body guard itu. Menendang salah satu dari mereka hingga terbang melayang mendobrak pintu ruang kerja Vivi.
Para klien dan Vivi yang sedang rapat sangat terkejut dengan kejadian itu,
__ADS_1
“apa-apaan ini?” bentak Vivi pada Anak buahnya yang tertidur di lantai menahan rasa sakit akibat perlawanan Daniel.
Mata Vivi membulat sempurna saat melihat kedatangan Daniel cs yang datang mengacau kantornya. Daniel cs pun masuk ke dalam kantor Vivi, mata Daniel memancarkan kemarahan yang teramat.
Para sahabatnya dapat melihat aura membunuh di sekeliling tubuh Daniel, klien -klien Vivi yang mengenal Daniel memilih meninggalkan ruangan mencari aman dari amukannya.
Vivi berdiri dari tempat duduknya, amarah Daniel sudah tidak terkontrol dia segera menghampiri Vivi dan mencengkeram leher Vivi dengan begitu kuat.
“bukannya aku sudah memperingati kamu untuk tidak mengkhianatiku, tapi mulut wanita ja**ng seperti mu memang tidak bisa di percaya” Daniel begitu marah. Tangan Vivi berkali-kali berusaha melepaskan cengkeraman Daniel, dia sudah sangat kesulitan bernafas.
Teman-teman Daniel segera menahan Daniel dan berusaha melepaskan tangan Daniel dari leher Vivi.
“Dan.... berhenti bro, lu jangan bertindak gegabah” Arvin berhasil melepaskan tangan Daniel dari leher Vivi. Jejak merah bekas tangan Daniel berbekas di leher Vivi yang terbatuk-batuk berusaha untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya.
“lepas” bentak Daniel berusaha melepaskan diri dari teman-temannya yang menghalanginya. Arvin menahan kuat Daniel dengan mengunci pergerakannya,
“uhuk... uhuk... uhuk...apa...uhuk....maksud dari ....ini uhuk...uhukk... ini semua... uhuk...uhuk tuan Daniel.. uhuk..uhuk...” tanya Vivi yang terbatuk-batuk, dia memegangi lehernya yang terasa sakit.
“kamu kira kamu bisa membodohiku wanita ja**ng, kamu dengan sengaja meracuni oma bukan?” Daniel terlihat murka, Vivi terkejut dan wajahnya tampak begitu pucat.
*************
secepatnya author akan up lagi tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya...🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...