Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 195


__ADS_3

Dengan perlahan-lahan Lutfi mengeratkan ikat pinggang itu di leher Jeni,


“sa...yang... ak...a..a...aku ti....dak... bi...saa.... n....naa..fass” Jeni terbata-bata saat merasakan tali yang melingkar di lehernya semakin erat.


“luu...luuuuut...fiii” tubuh Jeni memberontak hebat saat merasakan paru-parunya sudah kehabisan udara.


“maaf sayangku... aku harus mengirimmu ke alam baka untuk menemui keluargamu di sana. Opsss... aku lupa memberi tahu pada mu sesuatu, siapa pembunuh kedua orang tuamu? karena kamu akan menyusul mereka, aku akan mengatakannya padamu pembunuh orang tuamu adalah aku dan papi. Sampaikan salam kami pada kedua orang tuamu di sana” Lutfi dengan tersenyum smirk mengakhiri nyawa Jeni alias Alexa. Setelah memastikan jika Jeni sudah tidak bernyawa, dengan santai Lutfi menghabiskan wine memakai bajunya meninggalkan tubuh Jeni begitu saja.


Dia lalu menelepon anak buahnya untuk membereskan mayat Jeni dan membuang mayatnya jauh. Lutfi juga menyuruh anak buahnya untuk menghapus semua jejaknya di apartemen itu.


***


Arinda masih terlelap, Daniel dengan senantiasa menunggui Arinda menggenggam erat tangannya. Walaupun dokter Lira memberi tahu jika Arinda sudah dalam keadaan baik-baik saja dan masih bisa untuk hamil kembali, masih tidak bisa menghiburnya.


Dia merasa sangat gagal tidak bisa melindungi anak dan istrinya,


“maafka aku sayang...” setetes bening bak kristal menetes dari mata Daniel. Air matanya jatuh menetes hingga mengenai punggung tangan Arinda. Jari tangan Arinda bergerak, perlahan-lahan matanya terbuka menatap ke sekelilingnya.


Daniel langsung menyeka air matanya, jas yang berisi alat yang di lekatkan Vivi sengaja di tinggalnya di luar ruangan.


“ di mana ini?” Arinda menatap ke sekeliling ruangan.


“kita ada di rumah sakit” Daniel menjelaskan dengan membelai lembut rambut dan wajah Arinda.


“rumah sakit” Arinda akan bangun dari tidurnya mendadak merasakan ada sesuatu yang kosong.


“baby... bagaimana keadaan baby?” Arinda panik dan meraba-raba perutnya yang datar.


“sayang... sayang kamu tenang dulu, kamu harus kuat. Baby kita...baby kita sudah berada di tempat yang indah” Daniel menjelaskan dengan hati-hati perihal Arinda yang ke guguran.


“nggak... nggak kamu pasti bohong. Baby kita selamat bukan, baby kita...baby kita...” Arinda dapat merasakan jika di rahimnya kini sudah tidak ada buah cinta yang menemaninya lagi.


dia dapat merasakan ke kosongan di sana


sakit dan perih hal itu yang kini di rasakan Arinda, bukan karena luka yang di deritanya melainkan rasa sakit kehilangan bayi yang di kandungnya.


Tangisan Arinda pecah, kedua tangannya memeluk dirinya sendiri. Daniel mendekat ke arah Arinda, namun dia langsung mendorongnya menjauh. Dia menatap nanar suaminya,


“semuanya ini kesalahanmu, kamu lebih memilih bersama wanita itu hingga aku harus kehilangan baby. Semuanya salah muu, aku benci kamu keluar... keluar....” pekik Arinda membuat Aileen, Davira dan Michael yang berada di luar ruangan dapat mendengarnya.

__ADS_1


Mereka dapat mengerti dengan apa yang di rasakan Arinda, ibu mana yang tidak akan terpukul saat mengetahui jika buah hatinya telah pergi meninggalkannya.


“sayang... maafkan aku... maafkan aku...” Daniel berusaha menenangkan Arinda. Infus yang terpasang di tangan Arinda terlepas hingga membuat terluka di lengannya.


Daniel berusaha memeluk istrinya, dia menahan pukulan Arinda pada dada bidangnya.


“baby.....baby....” Arinda meraung-raung memanggil janin yang telah berada di sisi Allah SWT. Daniel memeluk Arinda yang hancur, dia merasakan rasa sakit saat melihat belahan jiwanya begitu hancur dan rapuh.


Arinda terus menerus menangis dalam pelukan Daniel, sebelah tangan Daniel memencet bel memanggil perawat untuk merawat luka di lengan istrinya.


“baby....maafin bunda.... bunda tidak bisa menjagamu...” Arinda menangis tersedu-sedu dalam pelukan Daniel yang terus berusaha untuk menghiburnya.


Aileen dan Davira masuk ke dalam ruangan, mereka dapat melihat betapa sedih dan terpukulnya Daniel juga Arinda. Mereka berdua pun ikut menangis sedih menatap Arinda dan Daniel.


***


Sean duduk dengan wajah tertunduk di balik jeruji besi, dia masih berpikir di mana dia pernah bertemu dengan keluarga pasien. Semakin dia berpikir semakin dia tidak mengenal dan tidak pernah melihat keluarga pasien yang menuntut dirinya.


Siapa yang menyuruh mereka? Tidak pernah sekalipun gua melihat mereka di Arsen Medical, sepertinya mereka sengaja menargetkan gua Sean berpikir kuat siapa dalang penangkapannya.


Arvin dan Ansel datang ke kantor polisi, mereka segera menemui Sean yang berada di balik jeruji.


“Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?” tanya salah satu polisi yang berjaga.


“Maaf, tapi jam besuk sudah habis. Anda bisa kembali besok” petugas menolak kedatangan Arvin dan Ansel.


“Pak polisi, kami jauh – jauh datang kemari hanya untuk menemui saudara kami. Kami janji hanya bertemu sebentar saja” Ansel meminta dengan sangat.


“Maaf tuan, sudah menjadi peraturan. Saya harap anda mengerti, sebaiknya anda sekarang silahkan pergi lalu kembali lagi saat jam besuk pagi nanti” petugas itu masih dengan sopan meminta Arvin dan Ansel pergi.


Tidak berapa lama, pengacara kenamaan di negara IN datang dan segera membantu Arvin juga Ansel untuk menemui Sean. Pengacara itu juga mengeluarkan pembebasan untuk Sean dan berhak menemani kliennya.


Dengan kekuatan dari pengacara dan bukti-bukti yang di dapat, membuat Sean dapat menghirup udara bebas lalu menemui para sahabatnya yang menunggu di parkiran mobil.


“Ansel, Arvin” Sean menatap kedua sahabatnya dan menghampiri bersama dengan pengacara membebaskannya.


“Baiklah dokter Sean , saya permisi dulu. Segala sesuatunya sudah di urus oleh tuan Daniel. Beliau juga menitipkan pesan untuk anda semua untuk lebih berhati-hati dan jangan mengambil tindakan apa pun sementara ini” pengacara menatap serius Ansel dan temannya.


Ansel, Sean dan Arvin mengucapkan terima kasih pada pengacara suruhan Daniel. Setelah berbicara sebentar pengacara meninggalkan Sean dan teman-temannya.

__ADS_1


“gua kaget saat tau lu di kerangkeng ama bapak polisi. Kenapa bisa gitu? Apa benar tuduhan tu keluarga pasien?” Arvin duduk di bangku kemudi menjalankan mobilnya menuju Arsen Medical.


“ya kagaklah, gua ketemu ama orang itu aja baru tadi siang trus seenak jidatnya nuduh gua bunuh anggota keluarganya dan membuat ke hebohan di Rumah sakit. Trus tiba-tiba aja ada polisi datang nangkap gua” jelas Sean mengingat kejadian yang baru saja dia alami.


Ansel dan Arvin saling berpandangan saat mendengar penuturan Sean,


“sepertinya musuh tuan muda Daniel udah mulai bertindak dengan mengancam lewat orang-orang terdekatnya” Ansel memperlihatkan isi pesan yang di sadapnya dari ponsel Daniel pada Sean yang termenung membaca isi pesan itu.


“ bagaimana keadaan Arinda dan Davira saat ini?” Sean menatap ke arah Ansel.


“Arinda dan Daniel kehilangan bayinya akibat dia di dorong jatuh oleh penjahat yang mencoba membawa pergi Davira” Arvin sesekali melihat kaca spion menjelaskan apa yang terjadi saat Sean di kantor polisi.


Ansel dan Arvin juga menjelaskan pada Sean dalang dari semua kejadian ada hubungannya dengan Marcus. Mereka juga memberi tahu Sean siapa Marcus sebenarnya dan hubungannya dengan keluarga Arsenio.


Mobil Arvin memasuki pelataran Arsen Medical, mereka bertiga bergegas menemui Daniel. Mereka segera memasuki lift yang membawa mereka ke lantai VVIP tempat Arinda di rawat.


Lift berhenti di lantai VVIP, mereka lalu bergegas menuju ruang perawatan Arinda. Langkah mereka terhenti saat melihat Daniel yang duduk termenung dengan wajah yang begitu sedih.


“Dan...” Sapa Sean melihat sahabatnya yang terlihat sangat rapuh.


“gue turut sedih atas kepergian anak lu” Sean memegang pundak Daniel memberi kekuatan. Begitu juga Ansel dan Arvin, mereka bisa melihat kesedihan teramat dalam dari mata Daniel yang menatap dingin lantai rumah Sakit. Arvin melihat bangku di samping Daniel yang terlampir jas milik Daniel dengan sebuah alat kecil di atasnya.


Arvin dapat menebak jika alat itu adalah mainan menyusahkan yang sengaja di pasang tanpa sepengetahuan Daniel. Mata Arvin dapat melihat sekelebat orang memantau mereka.


*************


Dear reader 🙏🏻🙏🏻🙏🏻


maap author up hanya satu episode saja karena kondisi fisik Baby author yang lagi kurang fit 🤒🤒🤒


secepatnya author akan up lagi tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya...🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ all...


__ADS_2