
“apa kalian mendengar sesuatu?” tanya Afwa merasa mendengar suara Arinda. Kedua saudara kembar lainnya menggeleng serempak.
“emang Afwa mendengar apa?” Tanisha penasaran.
“ Afwa seperti mendengar suara bunda di kamar ni, “ ujar Afwa sambil menempelkan telinganya ke pintu kamar Daniel. Tanisha dan Afwi ikut menempelkan telinga mereka ke pintu kamar Daniel.
Hening....
Tidak satu pun di antara mereka mendengar suara Arinda, mereka pun menajamkan pendengaran berharap bisa mendengar sesuatu. Hanya terdengar suara embusan nafas juga detak jantung mereka.
“jika Bunda memang di kamar, pasti sudah dari tadi bunda keluar saat kita mencari” ujar Afwi sambil mengingat betapa perhatiannya Arinda pada mereka. Sesibuk bagaimana pun Arinda di saat para twins membutuhkan, dia akan meninggalkan pekerjaan dan menghampiri ketiga malaikatnya.
Posisi King kobra merasa terjepit dalam gua saat Arinda mencoba bangkit untuk menyahuti malaikatnya, membuat Daniel menikmati sensasi massage yang begitu menyenangkan.
King kobra memundurkan tubuhnya lalu mengentak masuk jauh ke dalam gua, membuat si pemilik gua hampir mengeluarkan suara yang sudah sangat di tahannya. Mata indahnya kembali membesar saat merasakan gejolak yang berbeda saat itu, dia benar-benar kewalahan menghadapi sikap nackal Daniel.
Senyuman nackal tergambar di wajah tampan itu yang terus menerus menggoda Arinda, mata indah itu menatap dengan memelas agar tidak di siksa secara batin. Dia begitu khawatir jika para twins mendengar suaranya, Daniel mendekatkan wajahnya ke wajah Arinda menciumi jari jemari lentik menutupi bibir yang terkatup erat.
“tenang sayang... haaaahh... nikmati ... haah saja permainan .... inih...” bisik Daniel sambil melanjutkan pekerjaan dengan mode pelan tapi sangat berkesan membuat Arinda menutup mulutnya dengan dua tangan.
Para si kembar masih berdiri di depan pintu berpikir gerangan ke manakah bunda juga Daddy mereka.
“apa Daddy sudah membawa pergi bunda?”
“Tapi kemana?”
“hmm” para twins tampak berpikir keras, tampak Maya melihat ke arah kanan dan kiri lalu menaiki tangga menuju lantai dua mansion tengah mencari-cari para si kembar yang menghilang dari pesta.
“Aduuuuh para twins, udah akika cacamarica dari tadi. Kemindang aja para bocil? Napose ye pada ngumpul disindang?” Maya menatap sambil berkacak pinggang menatap para twins.
Mendengar suara Maya, Arinda memukul-mukul lembut bahu Daniel menghentikan sejenak aktifitas mereka. King kobra masih menetap di dalam gua yang sudah sangat di rindukannya, nafas mereka berdua tidak beraturan. Daniel menatap lembut pemandangan indah di bawah tubuhnya, sedangkan Arinda lebih fokus menatap pintu kamar yang terkunci rapat.
Tangan Daniel bergerak nackal menelusuri perbukitan indah membuat Arinda kembali menatap pemilik manik mata elang itu.
__ADS_1
“Daaaaann...aaah...” bisik Arinda terus berusaha mengontrol suaranya saat tangan itu bermain di puncak perbukitan.
“tenang... Saja.... Sayang, mereka tidak akan mendengar apalagi masuk kemari. Aku...hhmm... Sudah mengunci dan mematikan ponsel kita agar tidak... aah ada yang mengganggu kitaa...” Bisik Daniel tersenyum nackal dan menggoda. Pijatan lembut di terima king kobra membuat Daniel mengeram menikmati sensasi yang di rindukannya. Dia ingin melanjutkan aktivitas mereka yang tertunda, tapi sebelah tangan Arinda menahan pergerakan Daniel.
“Mimi” para kembar saling berpandangan satu sama lain.
“eh... Napose ye semua pada saling lirikan, apa ye semua na udah bikin ulah?” Maya memicingkan matanya curiga menatapi si kembar. Si kembar langsung menggeleng-gelengkan kepalanya,
“No mimi, Tanisha, Afwa dan afwi looking bunda. Tadi maid bilang kalo bunda ke kamar, jadi kami kemari tapi bunda tidak ada”
“iya mi. kami juga sudah mengetuk pintu berkali-kali...”
“tapi bunda tidak ada di kamar”
Si kembar menjelaskan pada Maya secara bergantian, mata centil Maya menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Teringat olehnya saat Arinda meminta Maya untuk menemani para si kembar, sementara dia pergi untuk memesan kue yang kurang.
“ooo.... mimi ingat, Bunda ye bertiga piur belalang kue buat para tamu” ujar Maya dengan bahasanya membuat para twins kebingungan. Maya menyadari jika para twins kurang mengerti dengan bahasa yang sering di gunakannya.
“maksud mimi, bunda kalian sedang keluar membeli tambahan kue buat teman-teman kalian” jelas Maya,
“hmmm... tadi Mimi dengar dari om Arvin ye kalo daddy kalian ada pekerjaan yang harus di selesaikan” jelas Maya.
“yaaa padahal Afwi mau minta tolong Daddy” Afwi tampak sedih. Maya menjadi gemas sendiri saat melihat mata bulat Afwi menunduk sedih, dia seolah berimajinasi melihat dua kuping kucing di kepala para si kembar.
“Ooouuuu..... akika gemes deh ama ye bertiga...” Maya mengulurkan tangannya hendak mencubit pipi si kembar.
“kak May... kak Maya” terdengar panggilan Davira di lantai bawah memanggil Maya.
Ada yang berbeda pada Davira tepatnya di bagian perut yang sudah tampak berisi, kehamilannya yang memasuki tiga bulan membuatnya tidak di izinkan untuk naik dan turun tangga oleh Sean. Dia tidak ingin terjadi apa pun pada istri dan calon buah hatinya, alhasil Davira terpaksa memanggil Maya dari lantai pertama.
“Yuhuuuu.... Akika di sini,” Maya menatap si kembar.
“ye betiga musti ikut akika sekarang, ayo gandengan tangan semuanya” Maya memegang tangan Tanisha dan Afwa.
__ADS_1
“tapi bunda...” mereka masih merasa jika Arinda berada di kamar itu.
“akika kan udah bilang, bunda ye betiga mungkin lagi pergi beli tambahan kue. Jadi sekarang kita capcus, semuanya udah nungguin kalian” Maya tidak mau membuang waktu mengajak mereka bertiga turun menuju acara pesta di halaman belakang.
Afwi masih menatap pintu yang tertutup rapat, dia masih begitu penasaran di mana bundanya berada.
“Afwi... ayoo” Panggil Maya, Afwi diam lalu mengikuti Maya dan kedua saudara kembarnya.
Keadaan di depan kamar kini sunyi, sudah tidak terdengar suara para si kembar. Arinda menarik nafas lega sedikit gemetaran akibat perbuatan Daniel. Permainan pun kembali berlanjut dengan sangat panas, akibat perlakuan manis Daniel ruangan itu terasa begitu panas dan menggelora.
Daniel melancarkan serangan demi serangan yang langsung di imbangi oleh Arinda yang tentu saja tidak mau kalah. Sejenak Daniel menghentikan permainannya, dia teringat dengan sesuatu yang harus di gunakannya.
Mata indah itu menatap heran dan bertanya-tanya kenapa permainan berhenti.
“hah... hah... ada apa... sayang? Kenapa...” Arinda belum menyelesaikan pertanyaannya heran melihat Daniel turun dari ranjang melangkah menuju meja rias mencari sesuatu di laci. Setelah menemukan apa yang di carinya, Daniel kembali ke ranjang lalu duduk bersimpuh di samping Arinda.
“aku perlu ini sayang” ujar Daniel memperlihatkan bungkusan permen ukuran yang sesuai dengan king kobra. Wajah Arinda merona saat melihat Daniel yang menggigit ujung bungkusan permen, dia terlihat begitu seksi dan sangat-sangat panas.
**************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
mohon maaf 🙏🏻🙏🏻🙏🏻 jika kedua karya Author "terjebak cinta CEO dingin" dan "Cinta Sabrina" mengalami keterlambatan updatenya. di karenakan dalam rangka membantu bocil dalam persiapan ujian jadi sangat sering terlambat up dan hanya satu episode dulu.
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...