
“apakah penting dari mana aku mengetahui apa yang kamu suka atau tidak?” tanya Daniel mulai menyuapi Arinda. Perlahan-lahan Arinda membuka mulutnya, belum pizza itu mendekat ke mulutnya Arinda langsung meraih tangan Daniel untuk mengambil pizza di tangannya.
“aku makan sendiri saja” kata Arinda mencoba mengambil pizza di tangan Daniel. Dia langsung menjauhkannya, Arinda sama sekali tidak menyadari jika sebelah tangannya masih memegangi tangan kiri Daniel.
“Kamu selesaikan saja pekerjaanmu, biar aku menyuapimu” kata Daniel melihat ke arah tangan Arinda yang memegang tangan kirinya. Kening Arinda berkerut melihat Daniel tersenyum senang, dia lalu melihat ke arah mata Daniel menatap.
"ma ma maaf" kata
Arinda langsung melepaskan tangannya yang memegang tangan Daniel.
"maaf untuk?" tanya Daniel keningnya bertaut.
"lupakan saja" kata Arinda dengan pipi yang merona merah.
Dia lalu mengambil pizza di atas meja dan memakannya membuat Daniel sedikit kesal. Daniel lalu memakan pizza yang di pegangnya, lalu mengambil file miliknya mulai melanjutkan pekerjaannya.
Hampir setengah pizza ukuran besar habis dimakan oleh mereka berdua, Arinda tampak fokus dengan laptop miliknya.
Setelah menunaikan kewajiban, Arinda kembali duduk di sofa sambil melihat ke arah Daniel yang sudah kembali duduk di mejanya. Dia terlihat sangat fokus menatap laptop, Arinda sedikit terpana saat melihat Daniel
Tuan muda ini emang ganteng, pantes aja banyak cewek yang antri. Tapi kenapa dia bersikap begitu dingin dan terkesan membenci wanita saat pertama kali bertemu? Guman Arinda dalam hati.
“Apakah belum puas menatapku?” tanya Daniel masih fokus menatap layar laptopnya.
“Siapa? Siapa yang menatapmu” Arinda langsung mengalihkan perhatiannya dengan mengumpulkan kertas yang berserakan di atas meja samping laptopnya.
Daniel hanya tersenyum melihat Arinda yang salah tingkah.
Dia sangat menggemaskan
kata Daniel dalam hati kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam, Daniel baru menyelesaikan pekerjaannya. Diana sekretaris Daniel sudah pulang sadari tadi, hanya tinggal Ansel menyelesaikan proyek kerja sama dengan perusahaan Jepang. Daniel melihat ke arah Arinda yang sudah tertidur begitu pulas dengan kedua tangan terlipat di atas meja untuk menopang kepalanya dengan posisi masih duduk di bawah lantai.
Daniel menghampiri Arinda, dia melihat pekerjaan yang sudah sedari tadi di selesaikannya. Dia membantu Arinda menyimpan file di laptop lalu mematikannya, mengumpulkan kertas-kertas lalu menyusunnya dia simpan dalam tas begitu juga laptop milik Arinda.
Daniel memanggil Ansel untuk datang ke ruangannya,
“tolong kamu bawakan barang-barang ini ke mobil” perintah Daniel menyerahkan barang milik Arinda pada Ansel.
__ADS_1
“Baik tuan Muda” kata Ansel mengambil tas ransel dan tas jinjing laptop milik Arinda lalu akan melangkah keluar ruangan Daniel.
“Ansel” panggil Daniel menatap wajah Arinda.
“Ya Tuan muda” kata Ansel kembali mendekati Daniel.
“setelah kamu menyerahkan berang-barang itu pada Sakti, kamu kembali pulang pakai saja mobil perusahaan” kata Daniel sambil membelai wajah Arinda.
Ansel terpana melihat Daniel terlihat begitu menyayangi Arinda.
Ini kali pertama gua melihat tuan muda begitu tulus menyayangi perempuan selain keluarganya. Nona Arinda memang beruntung dapat kasih sayang dari tuan muda Daniel Ansel bermonolog dalam hati,
“Kamu masih disini?” tanya Daniel melihat Ansel masih berdiri di dekatnya.
“maaf tuan muda, saya permisi. Selamat malam tuan muda” kata Ansel pamit meninggalkan Arinda dan Daniel.
Daniel menatap Arinda yang terlelap, dia membuka jas dan memasangkannya di bahu Arinda. Dia duduk di lantai memegangi bahu Arinda perlahan-lahan menarik tubuhnya menyandarkan pada dada bidang Daniel.
Perlahan-lahan Daniel membopong Arinda dengan hati-hati, Dia merasakan tubuh Arinda begitu ringan.
Aku heran kamu begitu lahap memakan pizza, tapi tubuhmu tetap ringan begini. Kemana perginya semua makanan yang kamu makan? Tanya Daniel dalam hati.
Jangan Daniel, jika kamu lakukan seumur hidup Arinda akan membencimu kata hati nurani Daniel memperingati dirinya untuk tidak melakukan hal itu.
Daniel menarik nafas panjang dan mengontrol dirinya, Arinda tertidur lelap merasa sangat nyaman dalam gendongan Daniel. Dia semakin membenamkan wajahnya di ceruk leher Daniel, hembusan nafasnya bagaikan godaan iman yang harus di kendalikan Daniel.
Daniel menekan tombol lift dengan hati-hati agar Arinda tidak terbangun. Pintu lift terbuka, Daniel masuk ke dalam lift lalu menekan tombol angka menuju loby. Arinda tidak sadar jika dirinya sudah membangun singa jantan dalam diri Daniel, dia begitu lelah karena dalam beberapa hari sebekumnya banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.
Berkali-kali Daniel mengambil nafas untuk menenangkan dan mengendalikan dirinya, pikirannya kembali liar tatkala matanya berjumpa dengan bibir mungil yang membuatnya merasa candu.
Telinga Daniel memerah, dia memalingkan wajahnya berharap penderitaan tekanan batin secepatnya berakhir.
Ting....
Pintu lift terbuka, Daniel melangkahkan kakinya melewati loby yang sudah sepi. Bodyguard Daniel membukakan pintu untuknya, dengan hati-hati dia duduk di kursi penumpang dengan tetap memangku Arinda yang terlihat sangat nyaman. Bodyguard Daniel lalu menutup pintu mobilnya, lalu dia menaiki mobil untuk para bodyguard di belakang mobil Daniel.
“Sakti telepon Ansel, tanyakan di mana alamat pastinya Arinda tinggal saat ini” perintah Daniel dengan suara pelan.
“Baik tuan muda” jawab Sakti dengan suara agak keras, Daniel langsung menatap tajam Sakti untuk mengecilkan suaranya.
__ADS_1
“Maaf tuan muda” kata Sakti dengan pelan.
Sakti menghubungi Ansel dengan koneksi bluetooth yang di hubungkan ke mobil Daniel.
“Ya ada apa Sakti” sapa Ansel dengan suara juga agak keras, membuat Daniel kembali menatap tajam Sakti melalui kaca spion.
Tuan Ansel tolong pelankan suara anda, ato kita berdua dalam masalah guman Sakti dalam hati.
“Ansel, share lokasi tempat tinggal Arinda sekarang” kata Daniel pada Ansel.
“Nona Arinda saat ini tinggal bersama Cantika di apartemennya lantai lima" kata Ansel.
"kenapa dia tinggal bersama Cantika, menurut file data dirinya. bukankah dia tinggal di kos-kosan?" tanya Daniel
"Cantika khawatir dengan keselamatan Arinda, dia tidak ingin mengambil resiko kejadian yang lalu terulang lagi, tuan muda” jelas Ansel.
“baiklah share lokasi Apartemen Cantika sekarang” kata Daniel dengan memelankan suaranya.
“Baik tuan muda” ansel segera menshare lokasi apartemen Cantika.
“Sudah tuan” kata Ansel lagi, Sakti memutuskan sambungan telepon Ansel. Dia lalu melihat alamat yang baru saja di kirim menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.
Daniel menatap wajah Arinda, sebelah tangannya membelai lembut wajah gadis pemilik hatinya. Sakti sesekali mencuri lihat dari kaca spion, dia terpana saat Daniel memperlakukan Arinda dengan penuh kasih sayang.
Baru kali ini gua liat tuan muda memperlakukan cewek ampe segitunya...
guman Sakti dalam hati.
************
tetap terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
jangan lupa juga kasih rate nya ya.... plisss
🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗