
“Kalo lu ada masalah, crita ama akika. Siapa tahu akika bisa bantuin lu” Kata Maya lagi
“iya Rin. Kalo kamu ada masalah crita ama kita, jangan di tanggung sendiri” kata Cantika yang melihat kearah kaca spion yang memantulkan bayangan Arinda yang diam.
Arinda menghela nafas panjang, ingin rasanya ia memberi tahu Cantika dan Maya.
“Sebenarnya, Arin bingung mbak. Jujur saat ini Arin nggak bisa mikir apapun” keluh Arinda.
“ Lu ada masalah apaan sih Rin, crita dong Rin” kata Maya.
“gue... gue... ” Arinda ragu untuk menceritakannya pada Maya dan Cantika.
“iya lu kenapa Rin kok ragu ragu gitu? Lu sakit?” tanya Maya khawatir.
“nggak tau gue May, setiap ada cowok rese itu jantung gue berdebar makin nggak karuan. Di tambah ama sikap dia ama gue dari awal ketemu ampe sekarang bikin gue bingung” kata Arinda penuh teka teki.
“Aduh Rin, lu ngomong udah kayak teka teki silang bikin Akika bingung” keluh Maya yang bingung dengan pembicaraan Arinda.
Apa yang bikin Arinda kebingungan seperti ini? Apa ini ada hubungannya dengan Tuan Daniel? Apa mungkin....guman Cantika dalam benaknya.
“cowok rese!!! Cowok siapa Rin? Ada yang gangguin kamu Rin? Siapa orangnya? Biar mbak kasih pelajaran dia kalo macam-macam” tanya Cantika beruntun.
“tika, lu kalo mau nanya itu satu satu. Ini malah nanya kayak kereta api yang langsung melaju tanpa melihat sikon” kata Maya
“Penasaran aku May, kemarin ini pulang dari kantor tuan Daniel muka Arinda juga merona seperti ini. Terus tadi wajahnya juga merona kayak gitu” jelas Cantika pada Maya.
Maya diam mencerna setiap perkataan Cantika.
“Bentar.... Bentar... Arin, lu musti jujur ama Akika” kata Maya
“Apaan sih may?” jawab Arinda malas.
“semua sikap aneh lu hari ini apakah ada hubungannya dengan salah satu cowok yang duduk bareng ama kita kita?” tanya Maya penuh selidik.
Arinda langsung terdiam dan makin bingung dengan sikapnya sendiri
“Arvin?” tanya Maya menebak.
Cantika memperhatikan respon Arinda melalui kaca spion depan. Saat Maya menyebutkan nama Arvin, Arinda tidak menunjukkan respon apa pun. Dia memberitahu Maya dengan gelengan kepala.
“Dokter Sean?” Maya menebak sekali lagi.
Tetap Arinda tidak merespon apa-apa.
__ADS_1
“Ansel” Tanya Cantika
“Tika nggak mungkin dong Ansel. Orang Anselnya naksir lu mana mungkin dia akan berpaling ke Arin” kata Maya.
Cantika terkejut lalu melihat ke arah Maya, kali ini mereka bertiga selamat tidak ada insiden rem mendadak dari Cantika karena keadaan saat ini jalanan macet total.
“Dari mana kamu tau May?” tanya Cantika.
“Yaelah Tika... Tika... Dari sikap dan gerak gerik lu berdua udah ketebak lagi. Sekarang akika tinggal nunggu kabar baik dari lu” kata Maya.
Cantika tampak tersenyum malu malu meong eh maksudnya malu malu kucing. Pelan pelan mobil mereka maju ke arah depan lalu berhenti lagi karena macet.
“kira kira ada apaan ya di depan kok macet kayak gini?” tanya Cantika penasaran.
“mungkin ada kecelakaan kali” kata Maya, dia baru teringat dengan Arinda yang belum selesai di interogasinya. Seperti seorang polisi, Maya menginterogasi Arinda sampai mengetahui apa yang terjadi pada perempuan cantik ini.
“Eh akika lupa, ini gara-gara lu Tika jadi lupa akika nanya in Arin”
“Yee malah nyalahin aku. Kan kamu sendiri yang bahas soal Ansel” kata Cantika.
“iya kalo lu nggak mancing duluan” kata Maya.
“Dasar emaknya lambe” kata Cantika. Maya tidak menggubris perkataan Cantika, Arinda larut dalam lamunannya dengan menikmati pemandangan di luar jendela.
“Bukan Arvin, Dokter Sean, dan Ansel. Apa jangan jangan?” Maya melihat ke arah Cantika yang memikirkan hal yang sama.
Deg....deg...deg...
Debaran jantung Arinda terdengar kencang saat nama Daniel di sebut oleh Maya dan Cantika. Arinda memegangi dadanya dan hal itu di ketahui oleh Cantika dan Maya.
Disaat bersamaan Daniel yang baru saja tiba di mansion Arsenio bersama sahabat-sahabatnya mendadak bersin bersin.
“Dan, kamu sakit?” tanya Aileen sedang duduk diruang keluarga bersama oma Ayu.
Ansel, Sean dan Arvin menyapa Aileen dan Oma Ayu di ruang keluarga,
“Dan, nggak sakit mom. Hanya terkena debu saja” kata Daniel.
“Gimana kabar kalian? Jarang sekali kalian mampir kemari” kata Aileen pada sahabat-sahabat Daniel.
“Kami sehat Tante, karena kesibukan kami jarang main ke sini” kata Sean.
“tante makin cantik saja sekarang dan oma makin sexy juga” goda Arvin.
__ADS_1
Oma Ayu tersenyum menanggapi candaan Arvin.
“O ya oma mana calon pengantinnya” tanya Arvin yang sedari tadi belum melihat Darren.
“Darren sedang mengantarkan Amanda ke butik langganan tante buat ngukur baju untuk pertunangan mereka” kata Aileen.
Tidak lama mereka sampai di mansion Arsenio suara azan magrib berkumandang, keluarga Arsenio melaksanakan kewajiban berjamaah.
Mereka lalu melanjutkan makan malam bersama dengan tenang. Selesai makan malam semuanya berkumpul di ruang keluarga sambil menikmati dessert yang di sediakan oleh Aileen.
“Dan, apakah kamu sudah membicarakan soal acara pertunangan pada Eo nya ?” tanya Oma
“sudah oma, semuanya sudah di urus Pearl Stars. Mereka menyanggupi permintaan kita” jelas Daniel sambil meminum teh yang di sediakan oleh para maid.
“congrats bro, akhirnya... bentar lagi lu jadi mantan perjaka. Next bentar lagi ada dua perjaka yang bakalan nyusulin nih” kata Arvin.
Semua mata menatap ke arah Arvin meminta penjelasan yang akurat darinya.
“Maksud kamu apa vin? Siapa yang akan menyusul? Apa kamu mau menikah juga?” tanya Aileen penasaran.
“bukan tante, pasangan saja Arvin belom ada. Beda dengan Ansel dan Daniel tan” jawab Arvin terus terang.
Ansel yang namanya di sebut sebut, melihat ke arah Arvin dan yang lainnya.
“Daniel, Ansel?!” Aileen dan Michael menatap ke arah Daniel dan Ansel. Daniel tidak menyadari jika semua orang yang di ruang keluarga melihat ke arahnya. Wajah tampan Daniel terhiasi dengan senyuman, semua yang ada di ruang keluarga tercengang saat melihatnya.
Hampir 5 tahun mereka jarang melihat senyuman hangat dari Daniel. Sikapnya yang dingin dan datar membuatnya jarang tersenyum, untuk kali ini mereka melihat senyuman tulus dan hangat dari Daniel yang tenggelam dalam pikirannya.
“Dad, udah hampir 5 tahun kita jarang melihat Daniel tersenyum seperti ini” kata Aileen ikut senang.
Daniel masih larut dalam lamunannya, dalam benaknya terbayang wajah Arinda. Matanya yang meneduhkan membuat kehangatan di hati Daniel. Bibirnya ya bibir Arinda yang pink natural di poles dengan lipbam membuatnya ingin mencicipi rasa manis dari bibir itu.
*************
Sambil menunggu up, boleh mampir ke karya terbaru ku " Cinta Sabrina"
terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
jangan lupa juga kasih rate nya ya....😊😊😊
__ADS_1
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗