
Afwa, Tanisha dan Afwi merasa tidak senang dengan Daddy mereka yang memonopoli Arinda. Mereka terlihat begitu kesal, segera menghampiri Arinda dan juga Daniel.
“Bundaaaa.... Kapan kita potong kuenya.... Ayo bunda... Biarin aja daddy di sini” Tanisha bergelayut manja memegang tangan Arinda.
“ bunda..... Ayoooo” Afwa dan Afwi mendorong lembut tubuh Arinda yabg di balas senyuman manis.
“Iya sayang, ayo sekarang kita potong kue dengan Daddy ya” ajak Arinda penuh kelembutan. Mereka berlima lalu memotong kue bersama-sama sambil berdoa bersama anak-anak panti asuhan yang mereka undang.
Arinda begitu bahagia menatap buah hatinya merayakan hari lahir mereka berbagi bersama anak-anak yang tidak seberuntung mereka, acara pun terus berlanjut. Para si kembar sibuk membuka hadiah di temani Maya dan sahabat Arinda juga Daniel.
***
Saat para twins masih baby Daniel harus menggunakan ekstra kesabarannya saat dia ingin bersama dengan Arinda. Teringat olehnya betapa sulit dia saat akan bersama belahan jiwanya.
Saat pulang dari kantor Daniel tidak mendapati Arinda yang selalu menungguinya pulang.
“Selamat sore tuan muda” sapa pelayan membukakan pintu.
“Arin di mana?” Mata elang miliknya menyusuri setiap ruang mencari keberadaan Arinda.
“Nyonya Arin di kamar baby tuan” Pelayan itu mengambil tas koper dan jas milik Daniel.
Daniel pun melangkahkan kakinya menuju kamar baby mereka, mata elangnya terbiasa menatap tajam dan dingin mendadak berubah lembut saat melihat Arinda yang tengah tertidur pulas bersama baby twin yang sudah mulai merangkak. Mereka berempat terlihat begitu menggemaskan , sebuah moment yang langsung di abadikan oleh Daniel dengan kamera smartphone.
Baby Tanisha tertidur pulas dengan posisi telungkup di atas tubuh Arinda, serta baby Afwa dan Afwi berada di samping tangan kiri dan kanan Arinda. Mereka berempat tertidur di atas karpet bulu yang lembut dan nyaman, Daniel melonggarkan dasinya perlahan-lahan mengangkat baby Afwi untuk pindah di samping baby Afwa.
Mereka tertidur begitu pulas, Daniel pun ikut berbaring di samping Arinda. Tangan kanannya di selipkan di bawah kepala Arinda yang mulai bergerak dan perlahan-lahan membuka matanya. Senyuman manis terlukis di wajah cantiknya saat mencium wangi tubuh suaminya.
“daddy sudah pulang” bisik Arinda menatap suaminya dengan penuh cinta.
“Baru saja sayang, aku sangat merindukanmu” bisik Daniel mengecup lembut kening Arinda. Merasa belum puas Daniel kembali mengecup kening, pipi dan mata Arinda, lalu perlahan-lahan dia mendekatkan wajahnya pada Arinda mengecup lembut bibir pink itu.
Seakan tahu dan merasakan sesuatu para baby twin terbangun menatap ke arah kedua orang tua mereka. Merasa bunda mereka di monopoli oleh daddy nya, para twin merangkak dan mulai menyelipkan tangan mungil mereka sambil memukul -mukul lembut wajah Daniel.
__ADS_1
Arinda tertawa saat melihat reaksi para twins yang tidak menyukai saat daddy mereka memonopoli bunda mereka. Terlihat wajah cemberut mereka sambil mendekap erat wajah dan tubuh Arinda, Daniel bangkit dari tidurnya menghela nafas dan menatap sedih pada istrinya.
Dia benar-benar begitu merindukan Arinda yang sudah di monopoli oleh para Twins,
Dasar little devil.... bukankah mereka tertidur pulas, bagaimana bisa mereka tahu jika aku ingin bermesraan dengan Arin? Padahal aku sengaja pulang lebih cepat agar bisa bersama dengan Arin gumam Daniel menatap ke arah Arinda yang di kuasai oleh baby twins mereka. Semenjak kehadiran Para twins perhatian Arinda teralihkan, membuat Daniel merasa di abaikan dan di nomor empat kan.
Terkadang Daniel seolah-olah melihat senyuman smirk dan tatapan intimidasi dari para Twins, seolah mengatakan jika Arinda milik mereka dan Daniel tidak boleh menyentuhnya. Daniel hanya bisa menghela nafas dan lebih banyak bersabar, Arinda dapat merasakan betapa sedihnya Daniel. Dia juga merindukan belaian, pelukan hangat dan ciuman dari suaminya. Arinda pun terkadang mencuri kesempatan untuk bisa bersama suaminya, tapi semua itu di gagalkan oleh para twins yang sudah sangat peka.
“woi tuan muda.... diam bae, nape lu?” tanya Arvin, tampak baby Zaid tertidur pulas dalam pangkuannya. Seperti biasanya Daniel hanya diam menanggapi pertanyaan Arvin, mata elangnya menatap ke arah Arinda yang tengah asyik mengobrol dengan Cantika, Amanda, Davira dan Aileen.
“ Dan, lu baik-baik saja kan?” tanya Sean memperhatikan Daniel.
“woi bambang, si Dan kan udah jadi kakak ipar lu. Nape lu masih manggil Daniel musti nya lu manggil kakak” ujar Arvin santai bermaksud menggoda sahabatnya.
Daniel dan Sean saling berpandangan lalu mereka serentak bergidik merasa kurang nyaman dengan sebutan yang memang seharusnya Sean ucapkan.
“Jangan pernah sekalipun” ujar Daniel dingin.
“kagak kebayang ama gua sekalipun” ujar Sean.
“Dasar pea lu, gua ama lu pada kan udah sahabatan lama. Jadi udah ke biasa manggil nyantai gitu, sekarang lu malah nyuruh gua buat manggil si Dan kakak. Bukannya lebih akrab yang ada suasana jadi canggung” jelas Sean to the point.
Mata elang Daniel kembali menatap ke arah Arinda yang melangkah masuk ke dalam mansion, dia melihat para twins sibuk bermain juga membuka hadiah.
Kesempatan... Mumpung para little devil tidak menyadarinya gumam Daniel dalam hati, dia pun berdiri dari tempat duduknya.
“Mau ke mana Dan?” Darren datang menghampiri dan bergabung duduk bersama mereka.
“Urgent” ujar Daniel singkat, membuat kakak dan para sahabat yang lainnya bertanya-tanya dalam hati.
“Sel, emang ada kerjaan yang belom selesai?” Darren bertanya pada Ansel yang juga kebingungan.
“ Setahu saya, semua pekerjaan di kantor dan lainnya sudah selesai” Ansel mengingat-ingat pekerjaan apa yang belum mereka selesaikan.
__ADS_1
Mata mereka menatap ke arah Daniel yang melangkah dengan cepat masuk ke mansion, mereka lalu saling berpandangan dengan memiliki satu jawaban.
Panggilan Alam.... Gumam Mereka serentak dalam hati.
***
Arinda sedang membantu maid menyusun minuman untuk di hidangkan pada para tamu, karena begitu sibuk salah seorang maid membawa sup buah tidak sengaja menabrak Arinda hingga baju hingga hijabnya basah akibat tumpahan sup buah itu.
“ma... Ma....maaf nyonya muda....” maid itu terkejut segera mengambil napkin untuk membersihkan pakaian Arinda.
“Sudah... Sudah... Nggak apa-apa kok. Namanya juga kecelakaan, tolong kamu bersihkan saja semua ini” ujar Arinda melangkah meninggalkan dapur sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
Badan serta tangannya terasa begitu lengket akibat tumpahan air dari sup buah itu.
Sepertinya musti mandi deh gue...gumam Arinda sambil menaiki tangga mansion menuju kamar Daniel.
Daniel mencari-cari keberadaan Arinda di dapur, dia melihat para maid yang sibuk mengurus minuman dan makanan. Salah seorang maid membersihkan lantai karena tumpahan sup buah.
“Kamu... Di mana Arin?” tanya Daniel pada maid yang sedang membersihkan lantai.
**************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
mohon maaf 🙏🏻🙏🏻🙏🏻 jika kedua karya Author "terjebak cinta CEO dingin" dan "Cinta Sabrina" mengalami keterlambatan updatenya. di karenakan banyaknya tugas bocil dan persiapan karya terbaru Author yang akan segera rilis dalam waktu dekat ini.
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗 dan terus support semua karya author....
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...