
Aisyah berdiri di depan gedung pencakar langit yang bertuliskan nama Arebeon corp. Dia mulai merasa ragu untuk masuk ke dalam perusahaan itu,
Masuk nggak ya? Kalo aku masuk apa mereka bakalan ijinin aku buat ketemu ama CEO nya? Tapi gimana kalo aku malah di usir sama mereka? Masuk... nggak.... masuk.... nggak.... Aisyah ragu-ragu masuk ke perusahaan Arebeon. Matanya menatap pintu masuk yang di jaga ketat dengan sistem pengamanan berlapis.
Terbayang wajah sedih Arinda di benak Aisyah membuatnya kembali berani melangkah menuju pintu masuk perusahaan Arebeon.
Satpam yang berdiri tepat di depan pintu masuk sudah memperhatikan Aisyah sedari tadi yang terlihat sangat ragu-ragu. Aisyah kini ada di depan pintu masuk Arebeon, langkahnya kembali terhenti dan ragu untuk melanjutkan niatnya. Kakinya akan melangkah masuk, tapi dia mengurungkan niatnya membuat Satpam yang menatap Aisyah sedari tadi menghampirinya.
“maaf nona, apakah nona memiliki kepentingan di sini? Sedari tadi saya perhatikan anda terlihat ragu-ragu,” sapa Satpam mengawasi Aisyah.
“itu... saya....saya...saya kemari ingin bertemu dengan tuan Daniel Arsenio, jika di perkenankan saya ingin bertemu. Ada sesuatu hal penting yang haru saya katakan pada beliau” ujar Aisyah sedikit ragu.
“hal penting? Apakah anda sebelumnya sudah membuat janji?” tanya Satpam itu kembali.
“itu... saya.... saya sama sekali belum membuat janji, tapi saya pernah menelepon ke Arebeon soal nona Arinda dan juga sudah memberi tahu keberadaannya tapi sama sekali tidak ada tanggapan atau respon” ujar Aisyah membuat Satpam itu mengerutkan dahinya.
“anda tahu keberadaan istrinya Tuan muda?” tanya satpam itu sekali lagi.
“iya, karena itulah saya memberanikan diri datang kemari” kata Aisyah, satpam itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“kalau begitu anda mengantrilah di sana!” tunjuk Satpam pada barisan panjang di sebuah pintu masuk Arebeon. Aisyah menatap satpam itu dengan tatapan bingung,
“mereka yang mengantri itu juga mengatakan hal yang sama dengan anda. Mereka kemari juga ingin memberi tahu keberadaan nona Arinda” ujar Satpam itu. Mata Aisyah membuka sempurna saat melihat antrian panjang orang-orang yang mengaku pernah bertemu dengan Arinda.
“tapi saya benar-benar...” ucapan Aisyah terhenti saat satpam mengarahkannya untuk mengantri seperti yang lainnya.
“lebih baik anda mengantri di sana sebelum antriannya akan bertambah panjang” ujar satpam itu mengabaikan apa yang di katakan Aisyah.
Mau tidak mau Aisyah terpaksa berdiri di antrian itu, tidak lama sebuah mobil mewah masuk ke pelataran Arebeon. Para satpam dan petugas keamanan lainnya tampak sibuk dan berdiri di tempat masing-masing. Pintu mobil itu terbuka, turun seorang pria tampan dengan setelan rapinya dan tas kerja yang di tentengnya.
Samar-samar Aisyah mendengar perkataan dari beberapa orang yang mengantri menatap kearah petugas keamanan sudah tampak rapi.
“ itu tuan Ansel datang, dia kan asisten yang paling di percaya tuan Muda Daniel”
“padahal baru beberapa minggu yang lalu beliau menikah dengan pemilik EO dan Wo yang terkenal. Tapi beliau malah tidak meninggalkan tuan Muda”
Aisyah menyimak setiap perkataan yang terucap dari beberapa petugas di sana. Ansel menutup pintu mobil miliknya, menyerahkan kunci mobil pada vallet. Dia melangkah akan masuk ke dalam perusahaan.
Aisyah ini kesempatan kamu jika ingin bertemu dengan suami mbak Arin guman Aisyah yang keluar dari barisan Antrian segera berlari ke arah Ansel.
__ADS_1
“tuan Ansel.... tuan Ansel” panggil Aisyah dengan berani membuat para petugas keamanan segera menghentikannya dengan memblokade jalannya. Panggilan Aisyah membuat Ansel menghentikan langkahnya mengalihkan pandangan pada Aisyah yang memanggilnya.
“siapa dia?” tanya Ansel pada Satpam.
“dia datang kemari ingin bertemu dengan tuan muda tuan Ansel. Dia ingin memberi tahu keberadaan nona Arinda, sama seperti yang lainnya” ujar satpam menunjuk pada antrian panjang di samping Aisyah berdiri.
“jadi sampai sekarang belum ada kabar apa pun dari nona Arin?” tanya Ansel pada satpam yang langsung di jawab dengan gelengan kepala. Ansel akan melangkah masuk ke dalam perusahaan mengabaikan Aisyah.
“tuan Ansel, demi Allah saya tahu di mana mbak Arin!!!” ujar Aisyah membuat Ansel kembali menahan langkahnya menatap ke arahnya dan segera menghampirinya.
“kamu berani membawa nama Allah untuk membenarkan kebohonganmu seperti mereka?” ujar Ansel menunjuk pada beberapa orang yang juga melakukan hal yang sama seperti Aisyah. Demi mendapat keuntungan dan bertemu dengan Daniel Arsenio membuat mereka nekat melakukan apa pun. Mereka bahkan bersumpah dan membawa nama Allah.
Aisyah menatap Ansel yang akan melangkah pergi, dia kembali mencegah Ansel untuk masuk.
“aku benar-benar tahu di mana mbak Arin, tuan Ansel. Lihat ini...” Aisyah menunjukkan sebuah foto pada Ansel, di mana Arinda yang berhijab sedang tersenyum manis di samping Aisyah.
Ansel meraih ponsel milik Aisyah, memperhatikan dengan seksama wajah cantik perempuan yang tidak asing baginya.
Nona Arinda... pantas saja kami kehilangan jejak selama ini. Dia dengan sengaja mengubah tampilannya dan sekarang dia telah hamil guman Ansel dalam hati memperhatikan bagian perut yang membesar, dia mengode para petugas keamanan untuk membiarkan Aisyah lewat.
“di mana nona Arin sekarang?” tanya Ansel penuh harap.
Dia segera membawa Aisyah masuk ke dalam Arebeon untuk menemui Daniel, mereka melangkah masuk ke dalam lift khusus menuju lantai paling teratas.
“maaf sebelumnya karena sudah menuduh dan mengabaikan ucapan anda" ujar Ansel pada Aisyah yang menanggapi dengan ramah.
"tidak apa-apa tuan, dengan melihat antrian tadi. saya mengerti dan memahaminya" ujar Aisyah.
"maaf sebelumnya, saya belum tahu siapa nama anda?” tanya Ansel.
“nama saya Aisyah tuan” jawab Aisyah membuat Ansel menatap ke arahnya. Dia teringat dengan peristiwa menimpa Arvin dan gadis yang bernama sama dengan Aisyah kini berdiri di sampingnya.
Apa ini sebuah kebetulan? Pikir Ansel menatap lama Aisyah yang merasa tidak nyaman. Ansel segera mengalihkan pandangannya dan mulai membicarakan seputar Arinda.
Pintu lift terbuka, mereka berdua keluar dari lift melangkah menuju ruang kantor Daniel. Ansel melihat meja sekretaris Daniel yang kosong, dia meminta Aisyah untuk duduk di sofa ruang tunggu yang berada tidak jauh dari meja kerjanya.
“Anda tunggu di sini sebentar, saya akan menemui tuan muda sekarang” ujar Ansel pada Aisyah yang langsung menganggukkan kepalanya. Ansel masuk ke ruangan Daniel yang terlihat kosong, dia teringat pesan WA dari Diana memberi tahu jika ada rapat dengan kolega. Dia bergegas menuju ruang rapat yang berada di bawah satu lantai dengan lantai ruangan Daniel.
Aisyah menanti sambil memperhatikan jam di dinding ruang tunggu, sebuah pesan masuk ke ponselnya dari Zhea.
__ADS_1
📱
mbak saat ini mbak Dira ada di butik, nanyain mbak.
📱
Trus kamu bilang apa?
📱
Seperti yang udah mbak bilang ke Zhe mbak ke kota lain buat nyari bahan kain, untuk sementara ini mbak Dira percaya. Trus mbak Dira juga bilang mbak jangan lupa nyari bahan kain untuk pakaian muslimah yang di pesan sama majlis taklim langganan butik mbak.
📱
Baiklah, kau handle dulu di sana ya. sekarang mbak Dira masih di butik?
📱
udah balik ke rumah mbak. ini foto-foto bahan yang di minta ama langganan kita mbak..
Aisyah mengakhiri pesan percakapannya, lalu fokus pada foto-foto yang baru saja di kirim Zhea untuk mencari bahan kain baju muslimah.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...
__ADS_1