Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 303


__ADS_3

“Rin, kakak ke sana dulu ya” ujar Amanda menyadari jika suasana hati Daniel tidak dalam keadaan baik.


Nggak Darren nggak Daniel... kedua-duanya memang pencemburu tingkat dewa gumam Amanda dalam hati, dia teringat dengan sikap Darren saat dia melahirkan Nufaira dan yang membantu persalinannya dokter pria. Darren sangat begitu posesif sampai pada akhirnya Amanda meminta dokter perempuan yang membantu persalinannya.


Amanda meletakkan dua paper bag di atas meja, dia menyerahkan satu paper bag berisi makanan pada Ifan dan Maya.


“Fan, ini makanan sebenarnya mommy bawa untuk sarapan buat kalian, maaf karena sudah terasa dingin. Kalo kamu mau memanaskannya lebih dulu, kamu bisa pergi ke kantin rumah sakit. Mereka bisa memanaskannya untuk kalian” ujar Amanda.


“terima kasih kak Amanda, makanan ini masih terasa hangat kok” ujar Ifan lalu mengajak Daniel dan Maya untuk sarapan bersama. Mereka bertiga makan dengan tertib, sudah sejak semalam mereka menahan rasa lapar menunggu Arinda melewati masa kritisnya.


Amanda membalas ucapan terima kasih Ifan dengan tersenyum manis juga ramah, dia lalu memberikan paper bag satunya lagi berisi baju ganti untuk Daniel.


“Dan, ini pakaian ganti untuk kamu” Amanda menyerahkan paper bag itu.


“terima kasih Amanda” ujar Daniel dengan sikap serius. Dia menerima paper bag itu, lalu berdiri dari tempat dia duduk menuju toilet di kamar rawat Arinda.


Aileen masih asyik mengobrol bersama Arinda perihal seputar anak, Ifan baru saja selesai menghabiskan sarapannya. Dia lalu mendekat dan duduk di samping ranjang kakaknya, dia meraih ponsel miliknya yang di simpan di saku celana.


“Mbak, Ifan mau memperlihatkan sesuatu pada mbak” ujar Ifan membuka ponselnya sendiri, memperlihatkan foto-foto baby twins pada Arinda.


Mata Arinda tampak berkaca-kaca kembali, dia merasa sangat lega melihat ketiga babynya dalam keadaan selamat, sehat dan tidak kurang suatu apa pun.


“Alhamdulillah, ketiga ponakan Ifan semuanya sehat dan terlihat menggemaskan” ujar Ifan.


Mata Arinda tampak berbinar-binar, dia sudah sangat teringin bertemu dengan baby twins.


Tok...tok...tok


Terdengar ketukan dari luar pintu kamar Arinda, dia berharap jika itu adalah perawat yang datang membawa ketiga baby kembarnya. Pintu itu terbuka oleh Cantika dan Ansel yang baru saja Datang, wajah Arinda terlihat sedikit kecewa tapi senyuman manis muncul di wajah cantiknya saat Cantika bergegas menghampirinya meninggalkan Ansel sendirian di depan pintu.


“Ariiiiiiin..... syukur alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga..... mbak benar-benar bahagia... huaaaa....” tangis Cantika pecah sambil memeluk bahagia Arinda.


“awwww....sssshhh...” Arinda sedikit terpekik saat Cantika tidak sengaja menyentuh bahu Arinda yang terkena luka tembakan.

__ADS_1


“eh... maaf... maaf Rin, mbak benar-benar lupa kalo di sana juga ikut di operasi” Cantika tampak sangat khawatir dengan kondisi Arinda. Aileen segera memberikan Nufaira pada Amanda yang juga ikut menghampiri.


Semua yang ada di ruangan itu mengkhawatirkan Arinda,


“mbak... mbak kenapa?” Ifan cemas.


“napose Rin? Sakitkah” Maya ikut mengerumuni Arinda yang hanya tersenyum lemah.


“Arin.... Arin nggak... nggak apa-apa kok, karena terlalu bersemangat ketemu mbak Cantika jadi Arin lupa dengan luka di bahu” Arinda tersenyum manis.


Daniel baru keluar dari kamar mandi tampak kebingungan saat melihat semua yang hadir di sana mengerumuni tempat tidur Arinda. Ansel terkejut saat melihat tuan mudanya yang mendadak berdiri di sampingnya.


“ada apa ini?” tanya Daniel heran. Ansel terkejut saat melihat Daniel berada di sampingnya.


“tuan muda!!!” sebelah tangan Ansel memegang dadanya menenangkan jantung yang berdegup kencang saat Daniel mendadak muncul tiba-tiba.


“kamu kenapa?” tanya Daniel


“tuan muda datang dari mana? Kenapa bisa muncul tiba-tiba di sini?” tanya Ansel bingung, sewaktu mereka sampai Ansel tidak melihat tuan mudanya. Saat akan bertanya Ansel di kejutkan dengan Arinda yang meringis kesakitan, sehingga dia lupa menanyakan keberadaan Daniel pada salah satu dari mereka.


“bisakah kalian berdua minggir? Berikan jalan untuk perempuan tua renta ini” ujar Oma Ayu pada Daniel dan Ansel yang menghalangi jalan.


“oma...” Daniel menyapa oma Ayu dengan wajah tidak senang saat mendengar ucapan oma Ayu.


“kenapa kamu kesal? (oma Ayu menatap sinis pada Daniel) seharusnya oma yang kesal padamu, sama sekali tidak memberi kabar jika cucu menantu oma sudah sadar. Untung saja Aileen dan Amanda ke rumah sakit jadi kami bisa tahu keadaan Arin setelah Aileen menelepon ke mansion” omel oma Ayu kesal pada Daniel.


Senyuman manis dan hangat terbit di wajah yang selalu dingin itu, dia langsung merangkul pundak oma Ayu meminta maaf.


“omaaa... maafkan Dan. Seharusnya Dan memberi tahu keadaan Arin ke mansion, tapi Dan benar-benar lupa karena terlalu senang melihat Arin sudah sadar. Oma jangan marah lagi, i’m really sorry okay...”ujar Daniel sambil menjewer kedua telinganya, wajahnya tampak seperti anak kucing imut.


Oma Ayu menatap sebentar ke arah Daniel, dia menghela nafas dan melepaskan rangkulan tangan Daniel. Dia mengabaikan Daniel berjalan ke samping ranjang Arinda, hatinya tampak tenang saat melihat senyuman manis dari cucu menantunya.


“oma... Daddy... kak Darren” sapa Arinda pada mereka yang baru saja datang.

__ADS_1


“bagaimana dengan keadaan kamu sayang? Apakah masih terasa sangat sakit?” tanya Michael menatap wajah menantunya yang masih tampak pucat sedikit.


“Arin sudah sedikit membaik dad, dokter juga sudah memberi obat pengurang rasa sakit” ujar Arinda tersenyum manis.


“oma sangat senang mendengar kamu sudah sadar, oma buru-buru datang kemari untuk melihat kamu” Oma Ayu memegang tangan kiri Arinda sambil membelai lembut.


Hati Arinda sangat bahagia dan damai, di kelilingi dengan sahabat juga keluarga yang menyayanginya dengan tulus. Setelah kedatangan Oma Ayu, Michael dan Darren, giliran Arvin juga Aisyah datang berkunjung ke rumah sakit. Alhasil kamar rawat Arinda sangat ramai dengan keluarga dan sahabat yang datang berkunjung.


***


Aisyah, Cantika, Maya duduk di samping tempat tidur Arinda sambil mengajaknya mengobrol. Aileen, Amanda dan Oma Ayu duduk di sofa bersama sambil mengobrol, sesekali mereka tersenyum melihat tingkah laku Nufaira.


Arvin, Ansel, Darren, Daniel, Ifan dan Michael lebih memilih duduk di luar ruang kamar rawat Arinda. Mereka tampak berbicara sangat serius perihal mengenai Richard.


“Sebelum kesini, gua di telepon polisi di minta datang ke sana. Polisi mengabari gua kalo Richard mati” ujar Arvin, dia juga memperlihatkan CCTV di mana Richard menggunakan bajunya yang di ikat sedemikian rupa lalu di lilitkan ke lehernya. Bagian dari baju lainnya di ikatkan ke jeruji besi jendela yang letaknya agak tinggi, tampak polisi segera melakukan tindakan.


Polisi terlambat menolong Richard, dikarenakan kunci sel ruangan sudah di sabotase oleh Richard sendiri. Mereka terus mengupayakan untuk menyelamatkan Richard, hingga meminta pihak rumah sakit untuk segera datang menolong. Namun saat dalam perjalanan dia menghembuskan nafas terakhir.


*************


dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...


maaf pada semua reader🙏🏻


🙏🏻🙏🏻, terlambat up secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author 😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2