Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 252


__ADS_3

Daniel merasakan pergerakan di dalam perut Arinda, seolah-olah para twins begitu senang bisa berkumpul dengan Daddy mereka. Arinda tersenyum senang saat Daniel sesekali mengecup perutnya sambil berbisik pada baby mereka,


“sayang...ini aku Daddy kalian, jangan nakal ya kalian di dalam sana. Jangan membuat bunda kalian kesusahan” ucap Daniel bahagia. Raut wajah Arinda berubah sendu dan penuh penyesalan, dia merasa sedih karena keegoisannya membuat Daniel harus menahan rindu.


“sayang... maafkan Aku...maaf karena sudah membuatmu menderita” ujar Arinda.


Wajah Arinda yang sendu terlihat seperti kucing yang begitu menggemaskan hingga membuat Daniel membayangkan sepasang telinga kucing ada di kepala Arinda dan tatapan dari mata bulat nan indah meluluhkan setiap hati yang menatapnya.


Menggemaskan sekali guman Daniel dalam hati, dia menatap Arinda perlahan kembali mencium dengan lembut bibir pink natural itu. Dia merasakan banyak kupu-kupu yang beterbangan di perutnya, kebahagiaan hati yang selama lima bulan ini dia pendam.


Ciuman lembut itu mulai berani dengan lidah yang beranjak masuk ke dalam mulut mengabsen setiap detail yang ada di sana. Perlahan Daniel menyudahi ciuman mereka, dia menyadari jika saat ini mereka ada di ruang tamu. Dia juga tidak bisa mengambil tindakan sembarangan karena ada baby twin di perut Arinda.


“ maafkan aku, seharusnya aku bisa menahannya” ujar Daniel, mata Arinda membulat sempurna melihat king kobra yang terbangun. Arinda mengalihkan pandangannya, entah mengapa saat ini dia merasa sangat malu. Dia mengerti jika hal itu bukanlah salah, sudah hampir lima bulan mereka hidup terpisah tentunya king kobra juga butuh belaian dari pemilik sahnya.


Warna merah merona tergambar di kedua pipi Arinda, pemandangan yang sudah sangat lama dia rindukan. Perlahan-lahan dia akan mengecup kedua pipi yang merona merah, namun hal itu terhenti saat terdengar suara azan sholat isya. Arinda langsung tertawa begitu juga Daniel, tawa mereka menggema di ruang tamu itu.


Mereka berdua lalu memutuskan untuk melaksanakan sholat isya, Daniel memilih mandi terlebih dahulu untuk menenangkan king kobra yang sudah bereaksi. Arinda keluar dari rumahnya menghampiri mobil body guard yang masih berjaga-jaga di depan rumah Arinda. melihat istri bosnya yang menghampiri, semua body guard turun.


“Nona...apa ada hal yang bisa kami bantu?” tanya kepala body guard Daniel.


“Aku mau mengambil pakaian ganti Daniel, di mana pakaian gantinya?” tanya Arinda, salah seorang body guard segera menuju mobil yang di gunakan Daniel tadi. Body guard itu mengambil tas yang berisi satu stel pakaian Daniel, pakaian itu langsung di berikannya pada Arinda yang langsung mengucapkan terima kasih.


Daniel sudah selesai mandi, memakai pakaian bersih dan memimpin sholat berjamaah bersama istrinya.


***


Mobil di kendarai Arvin dengan kecepatan sedang, Ansel dan Aisyah bertanya-tanya dalam hati akan ke mana mereka. Mobil terus melaju menuju bandar udara di kota TY


“Kita akan ke mana?” tanya Aisyah memecah keheningan.


“Nanti juga kamu akan tahu kita ke mana. Sebaiknya sekarang kamu istirahat karena perjalanan ini agak jauh” ujar Arvin sambil sesekali menatap ke kaca spion. Ansel memperhatikan Arvin dengan seksama,


Tadi sewaktu akan meninggalkan rumah nona Arinda, Arvin sempat bilang kalo dia minta aku jadi saksi. Kenapa sepertinya aku akan menghadapi sesuatu? Guman Ansel dalam hati sesekali melihat melalui kaca spion mobil.


Aisyah sudah tertidur lelap terbuai dalam alam mimpi, perjalanannya begitu melelahkan. Namun rasa lelahnya terbayar lunas karena niatnya yang ingin menyatukan Arinda dan suaminya berhasil dengan baik.


“Vin, apa dia gadis yang....” tanya Ansel memecah kesunyian. Arvin menatap Ansel lalu kembali menatap jalan, dia menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Ansel.

__ADS_1


“jadi, malam ini kita akan ke...” tanya Ansel yang langsung di angguki kembali oleh Arvin, dia sudah menebak jika mereka dalam perjalanan menuju kota kelahiran Aisyah.


“Kota mana?” tanya Ansel to the point.


“SY, Ziko sudah mengurus semua surat-suratnya di sana. Hanya tinggal menunggu kami saja” ujar Arvin membuat Ansel kembali menatapnya.


“jadi kamu memaksa membawaku, karena...” Ansel kini tahu tujuan Arvin mengajaknya, selain untuk menjadi saksi tentunya.


“Hehehehe... masih ada di bandara bukan” tanya Arvin cengengesan, dia tahu jika Daniel akan menggunakan pesawat jet pribadinya datang ke kota TY. Sebuah keberuntungan baginya yang dapat menggunakan fasilitas pesawat jet milik Daniel.


Ansel ada bersamanya, tentu saja akan memudahkan perizinan memakai pesawat jet milik Daniel. Seketika wajah Ansel memucat, dia bisa membayangkan betapa marahnya Daniel mengetahui jika pesawatnya di gunakan tanpa seizinnya.


“kalau kamu mau cari mati jangan mengajak, Cantika masih menunggu ku pulang” kata Ansel.


“ Kagak bakalan Daniel marah, dia kan lagi happy ama si Arin. Gua yakin jika lu sekarang ngasih tahu ke dia, kagak bakalan marah dia” ujar Arvin memarkirkan mobil di parkiran bandara. Dia melihat kebelakang bangku penumpang, Aisyah masih tertidur sangat nyenyak.


Arvin keluar dari mobil begitu juga Ansel, tangan Arvin merogoh ke dalam saku celanya menggeser-geser jarinya di layar ponsel miliknya. Di segera mengetuk salah satu icon di ponsel untuk menghubungi Daniel, terdengar nada sambung di ponselnya yang lalu di speaker agar Ansel juga bisa mendengarnya.


Tidak menunggu berapa lama telepon dari Arvin langsung di angkat,


“Assalamualaikum bro”


“Hallo Rin, Si Daniel mana?”


“Daniel sedang keluar, ada apa Vin? Gi mana kamu dengan Aisyah?”


“Aisyah baik-baik saja, sekarang gua mau bawa dia ke SY. Rencana gua mau pakai pesawat jet si Daniel, jadi gua butuh ijin dari dia” Ucap Arvin membuat Arinda senang.


“Apa kamu akan menikahi Aisyah Vin?”


“insyaallah dengan Ridho Allah gua mau halalin si Aisyah secepatnya. Makanya gua butuh pesawat jet si Dan ke SY malam ini”


“Pakai saja” Arinda memberi izin pada Arvin yang langsung dapat penolakan dari Ansel.


“Tidak bisa nona Arin, sebaiknya kita tunggu ijin dari tuan muda” ujar Ansel khawatir.


“soal Daniel biar aku yang menghandle. Kalian berangkat saja ke SY, kapan akad nikahnya?” tanya Arinda bersemangat.

__ADS_1


“insyaallah, besok akad nikah akan di laksanakan di pesantren Abinya Aisyah, setelah gua mendapat lampu hijau dari Aisyah”


“jangan lupa share alamat pesantrennya, aku dan Daniel akan menyusul ke sana secepatnya” kata Arinda sambil melepaskan hijab yang di kenakannya, dia duduk bersandar dengan punggung menempel di kepala ranjang. Dia meluruskan kakinya dengan ujung kaki berada di atas bantal. Sesekali di mengusap lembut perutnya saat baby twins merespon setiap belaian Arinda.


“kalo gitu kita berangkat bersama-sama saja, gua, Ansel dan Aisyah bakalan nginap di hotel dekat bandara nunggu kalian”


“tidak usah, kalian berangkat saja terlebih dahulu. Aku dan Daniel akan menyusul besok menggunakan penerbangan kelas bisnis” Arinda menatap ke arah pintu kamarnya di mana Daniel baru kembali dari urusannya, dahinya berkerut menatap Arinda tengah berbicara menggunakan ponselnya.


Arin bicara dengan siapa? Guman Daniel dalam hatinnya.


“tapi nona....” belum selesai Ansel berujar Arin sudah lebih dulu memotong perkataannya. Daniel duduk di samping kaki Arinda yang menjulur, menatap istrinya dengan tatapan bingung.


“tuan Ansel, tolong jadwalkan penerbangan untukku dan Daniel besok ke kota SY. Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih tuan Ansel, aku akan minta Daniel memberimu bonus” ujar Arinda membuat Ansel yang langsung menyetujuinya. Daniel menatap Arinda dengan penuh pertanyaan di hatinya.


“baiklah, sampaikan salamku pada Aisyah. Semoga perjuanganmu membuahkan hasil Arvin” mata Elang Daniel menatap tajam saat tahu jika istrinya sedang berbicara dengan Arvin.


“thanks Rin, gua tunggu lu ama Dan di sana. Assalamualaikum” ujar Arvin mengakhiri pembicaraan dan menekan icon ponsel berwarna merah setelah mendengar jawaban salam dari Arinda.


“lu udah tahu kan jawaban dari nona bos. Sekarang ayo telepon pilot, untuk segera menyiapkan penerbangan kita sekarang” ujar Arvin dengan penuh kemenangan. Ansel hanya bisa menghela nafas dan mengikuti apa yang di perintahkan oleh nona bosnya.


*************


dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...


Author minta maaf terlambat up 🙏🙏🙏 karena ada sedikit kendala,


secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author 😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ all...


__ADS_2