
“Makasih kak Manda, akan Arin ingat dan mencobanya” ujar Arin tersenyum manis pada Amanda. Darren berpamitan dengan Daniel memukul lembut pundak adiknya.
“Kami balik dulu Dan” ujar Darren, sebelah tangannya menggendong Nufaira yang tampak menyandarkan kepalanya di bahu Darren.
Arvin, Aisyah, Maya, Cantika dan Ansel juga undur diri untuk pulang ke kediaman masing-masing. Tidak lupa mereka memberitahu pada Daniel juga Arinda bahwa mereka akan datang esok hari untuk mengunjungi Arinda dan juga para baby twins.
Kamar VVIP mendadak sunyi setelah kepulangan keluarga Arsenio dan sahabat-sahabat mereka berdua. sebelum Aileen pulang dia mengajari Arinda tentang hal apa saja seputar menyusui.
Arinda mengingat dan mempraktikkan cara menyusui yang di ajarkan Aileen, Daniel mengunci kamar VVIP itu agar tidak ada yang masuk saat Arinda menyusui ketiga baby twins.
sebelum menyusui ketiga buah hati mereka Daniel membantu Arinda membuka pakaian yang sudah basah karena rembesan ASI yang melimpah, dia juga dengan telaten membantu Arinda mengganti pakaiannya. Dengan sabar dan hati-hati Daniel membantu Arinda memegangi baby twins yang mencoba pertama kali di susui. Awalnya baby twins kesulitan, namun dengan sabar dan menahan rasa sakit Arinda terus mencoba memberikan ASI pada mereka.
Wajah Arinda tampak meringis kesakitan menahan rasa sakit saat ketiga baby twins meminum Asi, rasa sakit itu bertambah dengan luka sesar di perut dan tembakan di bahunya.
“sayang... kamu nggak apa-apa? Apa perlu aku meminta dokter memberimu obat penghilang rasa sakit?” wajah Daniel tampak begitu khawatir, dia benar-benar tidak kuasa melihat Arinda menahan rasa sakit.
“ tidak usah sayang, aku benar-benar nggak apa-apa. aku bisa karena kamu ada di sisiku, aku tidak ingin baby twins kita terkena efek samping karena obat penghilang rasa sakit yang terus ku minum. Mommy tadi sudah memberi tahu jika rasa sakit ini akan di rasakan oleh setiap ibu dan lama kelamaan rasa sakitnya akan menghilang” ujar Arinda menenangkan suaminya. perasaan cemas masih tergambar di wajah tampan Daniel, jika bisa berganti tempat biar dia saja yang sakit.
beberapa menit kemudian Ketiga baby twins sudah selesai di susui, tidak lupa Daniel mempraktikkan cara membuat baby bersendawa setelah kenyang yang di ajarkan Aileen dan Amanda. Tangan kekar itu memegang lembut tubuh baby mereka, penuh kasih sayang Daniel menepuk-tepuk perlahan punggung baby twins secara bergantian.
setelah mendengar sendawa dari para baby twins, Daniel menimang-timang baby nya hinga tertidur lelap. Masing-masing baby twins di tidurkan perlahan oleh Daniel di boks baby samping ranjang Arinda. Tangan kiri Arinda terulur ke arah Daniel yang lalu meraihnya, dia duduk di samping tubuh Arinda.
Mata indah itu menatap mata elang Daniel dengan penuh cinta.
__ADS_1
“ada apa sayang?” tanya Daniel heran menatap Arinda yang menatap lama dirinya. Senyuman manis terlukis di wajah cantik itu, menatap dalam mata Elang yang menawan hatinya.
“aku mencintaimu, selalu mencintaimu hingga akhir nafas...” ucapan Arinda terhenti saat jari telunjuk Daniel menempel di bibir pink natural itu.
“Jangan.... jangan kamu lanjutkan sayang, Aku benar-benar tidak sanggup kehilanganmu. Saat kamu bertaruh nyawa di ruang operasi, jujur ingin aku menggantikan mu...” Ucapan Daniel terhenti saat jari jemari Arinda menempel lembut di bibirnya.
Dengan mengodekan tangan, Arinda meminta Daniel untuk duduk di belakang tubuhnya. Arinda perlahan menyandarkan tubuhnya ke dada bidang yang langsung di balas Daniel dengan memeluknya.
“aku lebih tidak sanggup kehilanganmu, saat melihat Richard mengarahkan pistol dan menembak ke arah mu. Sesaat aku merasa tidak bisa bernafas, aku merasa dunia ku menjadi gelap”
Daniel mengecup puncak kepala istrinya, mata mereka menatap ke arah boks baby twins yang tertidur nyaman.
“Saat aku melihatmu di hadapanku dalam keadaan baik-baik saja, aku benar-benar sangat Bahagia. Sekarang kebahagiaan itu terasa sempurna dengan kehadiran ketiga malaikat kecil ” Arinda memegang erat lengan Daniel. Pemilik Mata elang itu tampak sedih teringat bagaimana perjuangan Arinda mempertaruhkan nyawa di meja operasi.
“sayang... Aku sangat mencintaimu.... sangat mencintaimu jangan pernah tinggalkan aku” kedua tangan Daniel memeluk dengan erat Tubuh Arinda. Kepala Daniel bersandar di bahu kiri Arinda Perlahan-lahan air mata yang tidak pernah sama sekali keluar dari mata elang itu , kini air mata itu menetes ke pipi wajah tampannya.
Tangan Arinda perlahan melepaskan pelukan erat Daniel, perlahan dan sekuat tenaga Arinda menarik tubuhnya ke depan. Walau terasa sakit dia tetap berusaha membalikkan tubuhnya menatap Daniel.
“sayang.... kamu jangan memaksakan diri atau lukanya akan...” Daniel khawatir namun Arinda tetap mencoba untuk membalikkan tubuhnya. Senyuman manis terlukis di wajah cantiknya, memberikan ketenangan di hati Daniel. Perlahan Daniel mendekatkan dan menempelkan keningnya dengan kening Arinda. hidung mancung mereka bersentuhan satu sama lain.
Tangan Arinda memegang kedua pipi Daniel, mata indah itu menatap mata dalam ke arah mata elang itu.
“aku tidak akan meninggalkanmu meski suatu hari kamu merasa bosan hingga mengusirku, aku tetap akan selalu bersama mu karena aku sangat mencintaimu sekarang, nanti dan selamanya”
__ADS_1
Daniel memegang lembut kedua pipi Arinda, senyuman muncul di bibir sexy itu saat mendengar istrinya mengucapkan kata ‘jika suatu saat kamu merasa bosan atau mengusirku’ tidak pernah sama sekali muncul di benaknya kelak dia akan merasa bosan atau akan mengusirnya.
“tidak akan pernah ada kata bosan atau niatku untuk mengusirmu, karena selamanya kamu hanya milikku dan aku hanya milikmu selamanya.... aku mencintaimu sekarang, nanti dan selamanya”
Arinda tersenyum bahagia, bibir pink natural itu mengecup bibir seksi Daniel. Ciuman manis dan menyenangkan, mereka tertawa bahagia. Bibir Arinda kembali mengecup lembut bibir Daniel, setelahnya Arinda merebahkan tubuhnya di dada bidang Daniel dengan posisi miring ke kiri.
Sebelah tangan Daniel menekan tombol ranjang Arinda mengaturnya agar mereka berada di posisi yang nyaman. Mata Arinda menatap bahagia ke arah boks bayi, di mana ketiga malaikat kecil itu tertidur pulas. Tangan kiri Daniel berada di bawah kepala Arinda, dan tangan kanannya memeluk tubuh Arinda dengan hati-hati.
Irama suara degupan jantung Daniel seperti nyanyian lullaby bagi Arinda, matanya terasa berat hingga akhirnya dia tertidur dengan damai. Daniel tersenyum senang mengecup lembut pipi istrinya dan ikut tertidur bersama Arinda juga baby twins mereka.
...TAMAT...
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...