Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep.180


__ADS_3

Daniel terkejut saat menggigit sepotong buah itu, rasa asam langsung menyebar ke seluruh lidah membuatnya dengan cepat membuang ke sink cuci pring di dapur.


Kening Arinda mengerut saat melihat Daniel meminum dengan cepat air minum yang di sodorkan Aileen.


“sayang.. bagaimana kamu bisa memakan makanan yang sangat asam seperti itu?” Daniel menatap istrinya heran.


“memang sangat asam ya sayang?” tanya Arinda kembali.


“sangat sayang, apa lidah kamu mati rasa? Sudah kamu jangan memakan itu lagi, aku tidak ingin perut mu nanti sakit” Daniel merebut piring Arinda dan membuangnya ke dalam tempat sampah.


Wajah Arinda berubah cemberut dan kesal pada Daniel yang kembali menghampirinya.


“kenapa kamu membuangnya?” Kesal Arinda pergi berlalu meninggalkan dapur menuju kamarnya.


Daniel heran melihat sikap istrinya berubah hanya karena makanannya di buang. Aileen hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Daniel kebingungan.


“ada apa dengan Arin? Kenapa Akhir-akhir ini dia sering terlihat kesa dan marah dengan begitu mudahnya?” Daniel heran melihat Arinda yang meninggalkannya begitu saja.


“mungkin itu memang bawaanya” Aileen tersenyum senang berbicara penuh teka teki pada Daniel.


“maksudnya mom?” Daniel kebingungan, Aileen ingin memberi tahu Daniel jika apa yang terjadi pada Arinda adalah tanda-tanda awal kehamilan.


Namun, Aileen memilih diam dan menunggu hasil yang akurat saat pemeriksaan besok.


“sudah sana, hibur Arin. Jangan bikin dia kesal lagi” Aileen menyuruh Daniel menemui Arinda.


"baiklah mom, Dan nyusul Arin dulu" Daniel melangkahkan kakinya pergi dari dapur menuju lantai dua.


Di kamar Arinda sedang asyik membalas chattingan wa di ponselnya. Daniel membuka pintu kamar melihat istrinya sedang duduk bersandar di ranjang, dia lalu mendekati setelah menutup pintu kamarnya.


Ceklek...


Arinda menatap ke arah pintu di mana Daniel sedang menatapnya, senyuman cantik tersungging di wajahnya,


Dia sudah tidak marah? Kenapa dengan Arin sebenarnya, lima menit yang lalu dia masih terlihat marah dan kesal. Sekarang dia terlihat senang dan bahagia Daniel menatap Arinda


“ada apa? Kok ngeliatin aku begitu?” Arinda kembali fokus dengan balasan chatting dari ponselnya.


“kamu tidak marah lagi?” Daniel duduk di samping menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang kingsize miliknya.


“marah? Kenapa aku harus marah?” Arinda kembali bertanya pada suaminya, dia meletakkan ponselnya di nakas lalu merebahkan kepala kepangkuan Daniel.


Apa yang terjadi ama gue? Kok akhir-akhir ini emosi gue nggak stabil gini. Jadi kepikiran gue dengan perkataan Ishel, apa jangan-jangan... lebih baik gue pastiin dengan pemeriksaan besok Arinda tampak melamun membuat Daniel merasa di abaikan. Dia lalu mengecup, ******* bibir pink natural Arinda untuk mendapat perhatiannya.


Setelah merasa cukup Daniel perlahan melepaskan ciumannya,

__ADS_1


“sepertinya dengan cara seperti ini nyonya Arsenio bisa memperhatikan suaminya sekarang ini” Daniel tersenyum nackal.


“kamu sangat senang sekali mencuri kesempatan dari ku” Arinda memperlihatkan wajah cemberutnya membuat Daniel semakin gemas.


“kamu juga menikmatinya bukan” kembali Daniel mengecup bibir istrinya yang tersenyum senang juga membalas kenakalan suaminya.


“sebaiknya sekarang kita beristirahat atau kamu ingin kita melanjutkannya ke tahap selanjutnya” Senyuman nackal terukir di bibir Daniel.


“sayaaaaang” Arinda langsung mendudukkan tubuhnya saat mendengar apa yang di sampaikan suaminya.


Daniel lalu meraih tangan Arinda bersama-sama merebahkan tubuhnya dengan tidur sambil memeluk satu sama lain. Arinda sangat menyukai wangi harum tubuh suaminya yang menenangkan membuatnya jatuh tertidur lebih dulu.


Sebelah tangan Daniel membelai lembut punggung istrinya yang mengantar ke dunia mimpi, begitu pun Daniel tidak lama mengikuti Arinda menuju ke dunia mimpi.


Cahaya pagi menyinari alam bumi membangunkan setiap anak manusia untuk memulai aktivitas mereka. Arinda telah bersiap dengan memakai dress biru langit membuatnya terlihat sangat cantik, rambutnya di jalin menambah kesan segar pada wajah cantiknya. Dia duduk di ranjang sambil sedikit memoles lip bam pada bibirnya.


Hueeeeek..... hueeeek...... hueeeeekkk....


Arinda mendengar Daniel yang kembali memuntahkan isi perutnya. Segera dia menghampiri Daniel yang memuntahkan cairan bening berwarna kuning. Tenggorokannya terasa sangat pahit, namun perutnya tetap memaksa untuk kembali memuntahkan apa pun.


“ Sayang... kamu nggak apa-apa?” Arinda menatap cemas suaminya. Tangannya memijit-mijit tengkuk Daniel,


“perut ku sangat mual sekali”


“biar maid saja yang membuatnya, kamu di sini saja menemaniku” Daniel melangkah keluar kamar mandi dengan bantuan Arinda.


Dengan telaten Arinda membantu Daniel memasangkan pakaian yang sudah di pilihnya. Arinda juga sudah meminta maid untuk membuat teh hangat untuk Daniel,


Tok... tok... tok...


Ketukan di pintu kamar Daniel menghentikan Arinda yang membantunya memasangkan buah baju.


“sebentar sayang, mungkin itu maid mengantarkan teh hangat untukmu” Arinda keluar dari walk in closet berjalan menuju pintu kamar.


“nona ini teh hangatnya” Ishel memberikan teh pada Arinda.


“terima kasih Ishel” Arinda kembali menutup pintu kamar setelah Ishel undur diri menuju lantai bawah.


Teh hangat itu Arinda letakkan di nakas samping ranjang, lalu kembali melihat suaminya di walk in closet.


“sayang minum teh hangat dulu, aku sudah meletakkannya di nakas” Arinda akan mengambil sepatu santai Daniel di cegah olehnya yang langsung memeluknya.


“sayaaang...” Arinda menatap Daniel heran,


“terima kasih...”

__ADS_1


“untuk?”


“untuk hadir di kehidupanku, untuk cinta dan kasih sayangmu dan untuk...” Daniel tersenyum nackal lalu mengecup bibir Arinda.


Setelah melepaskan kecupannya, Daniel memeluk istrinya,


“Sayaaang... kita akan terlambat jika masih seperti ini terus” Arinda menatap wajah suaminya.


Daniel dengan berat hati mengikuti istrinya, setelah meminum teh hangat mereka berdua menuruni tangga menuju ruang makan untuk sarapan bersama dengan keluarga mereka.


Telepon Daniel berdering dengan nama Ansel tertera di layarnya,


“ sebentar aku akan mengangkat telepon ini dulu” Daniel menjauhi keluarganya mengangkat telepon dari Ansel.


“Ada apa?” Tanya Daniel.


“tuan muda, saya ingin memberi tahu anda jika nanti sore ada rapat dadakan dari pemegang saham” Ansel memberi informasi jika telah terjadi penurunan saham Arebeon.


“apa yang di lakukan tikus itu sekarang?” Tanya Daniel.


“dia pagi ini sudah sampai di kantor dan mengendap-endap masuk ke ruang IT. Sepertinya dia kembali memasang alat yang sama tuan muda” Lapor Ansel,


“pantau dia terus, dan untuk rapat dengan pemegang saham tolong kamu handle dulu. Hari ini aku akan check up kesehatan” perintah Daniel.


“baik tuan muda” Ansel mengakhiri panggilannya dengan terus memantau pergerakan tikus itu.


Setelah menyelesaikan sarapan pagi, Daniel dan Arinda di antar oleh Sakti menuju ke Arsen Medical. Seperti biasa para body guard mengikuti mereka dari belakang.


Arinda duduk menyandarkan tubuhnya pada Daniel, sesekali dengan penuh kasih sayang Daniel mengecup puncak kepala istrinya. Tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai di pelataran rumah sakit Arsen medical.


Para staff dan direktur rumah sakit langsung menyambut kedatangan Daniel dan Arinda. Banyak pasang mata menatap ke arah mereka dengan tatapan kagum. Sean juga menyambut mereka dan memulai prosedur check up dari pengambilan sampel darah dan urin.


************


tetap terus dukung Author😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ all...

__ADS_1


__ADS_2