
“Saya nggak apa apa” kata Arinda pada Dian.
Peristiwa penamparan itu bertepatan dengan kedatangan Daniel Arsenio ke perusahaan Arebeon. Mata Daniel terbelalak melihat gadis yang membayangi setiap mimpinya di tampar di hadapannya.
“Maaf nona, seharusnya anda tidak bersikap seperti ini. Walau bagaimanapun sekretaris anda ini manusia bukan benda mati yang bisa anda teriaki seperti sekarang” kata Arinda
“Dia itu jon*** gue, suka suka gue dong mau apain dia. Lu siapa, dari pakaian lu jelas aja lu orang miskin yang nggak tau diri” hina Emma pada Arinda.
“saya memang orang miskin, tapi bagi saya lebih baik miskin harta dari pada miskin hati nurani dan menjadi sombong seperti anda” kata Arinda.
“Apa lu bilang?” Emma semakin tersulut emosinya dan akan melayangkan tamparan ke arah Arinda.
Daniel dengan cepat menghampiri Arinda dan Emma.
“Ada apa ini?” suara bass Daniel membuat semua orang melihat ke arah Daniel. Emma dengan cepat menurunkan tangannya.
“Tuan Daniel, saya sangat senang bisa bertemu dengan anda” ekspresi emma langsung berubah saat melihat Daniel.
“apa yang sedang anda lakukan?” tanya Daniel dingin.
“Maaf kan saya tuan Daniel, saya harus memberi pelajaran pada pegawai anda yang sudah berani-beraninya mempermalukan saya di depan umum” kata Emma.
Daniel melihat ke arah Arinda, pipi sebelah kirinya tampak memerah dengan bekas telapak tangan membekas di wajah cantiknya.
“Apakah anda yang melakukannya?” tanya Daniel lagi dengan pandangan mata tajam dan menusuk.
“Ya, saya sengaja melakukannya. Karena dia sudah berani ikut campur urusan saya” kata Emma.
Dian berdiri di samping Arinda,
“nona saya benar-benar minta maaf, gara gara kecerobohan saya nona menjadi sasaran dari nona Emma” kata Dian penuh penyesalan.
“tidak apa-apa mbak Dian. Dengan sesama bukannya kita harus saling tolong menolong” kata Arinda.
Daniel menatap Arinda, kebaikan hati Arinda membuatnya semakin tertarik pada gadis di hadapannya kini.
“Tuan Daniel, sepertinya pegawai anda ini harus di beri pelajaran. Sebaiknya anda pecat saja dia” kata Emma penuh emosi.
“Kenapa harus saya pecat ?” tanya Daniel pada Emma.
“dia sudah sangat kurang ajar dan berani menantang saya” kata Emma angkuh.
Semua orang yang hadir di sana mulai berbisik – bisik akan ke angkuhan Emma.
“Ansel, batalkan semua kerja sama kita dengan perusahaan zeqa. Di kemudian hari kita tidak akan bekerja sama lagi dengan pihak Zeqa,” kata Daniel dengan keputusannya membuat Emma dan Arinda terkejut.
__ADS_1
“tuan Daniel, kenapa tuan membatalkan kerja sama kita. Selama ini bukankah semuanya baik-baik saja?” Emma sama sekali tidak bisa menerima keputusan Daniel.
“Dengan sikap anda seperti ini sudah bisa menjadi alasan yang tepat bagi saya membuat keputusan ini dan juga nona ini bukanlah pegawai Arebeon Corp. Nona ini adalah tamu penting saya dan anda telah berani meletakkan tangan anda pada nona ini?!” jelas Daniel.
Dada Arinda terasa nyeri saat Daniel hanya menganggapnya Tamu penting. Dia merasa sedikit kecewa mendengar langsung dari mulut Daniel.
“Ap...ap...apa ja...ja...jadi dia bukan pegawai disini?” Tanya Emma terbata-bata.
“benar nona Emma, nona ini adalah tamu Tuan muda Daniel dan anda telah menyinggungnya” kata Ansel.
“Sel tunjukkan jalan keluar untuk nona ini” perintah Daniel pada Ansel.
Daniel lalu menarik tangan Arinda dan membawanya menuju Lift.
“tu... Tu... Tu... Tuan tas saya ketinggalan” kata Arinda, daniel masih memegang tangan Arinda.
Daniel menautkan jari jemarinya ke jari jari lentik Arinda, dia berhenti di depan lift lalu menekan tombol lift menuju kantornya. Daniel sengaja melakukannya agar Arinda tidak melepaskan tangannya.
“Kamu ambil semua barang-barang nona ini dan antar ke kantor saya” perintah Daniel pada salah satu bodyguardnya.
“Tu...tuan bisakah anda.... Anda melepaskan tangan saya” kata Arinda.
Ting....
Pintu lift terbuka, Daniel tanpa menjawab keinginan Arinda langsung menariknya masuk ke dalam lift. Dia lalu menekan tombol ke lantai atas menuju kantornya, Arinda berusaha untuk menarik tangannya namun Daniel semakin mempererat genggaman tangannya.
“Dian bawakan tas gue” perintahnya pada Dian.
Dian lalu berjalan menghampiri Emma,
“Maaf nona, mulai hari ini saya mengundurkan diri” kata Dian dengan berani, Emma terkejut dengan keputusan Dian.
“Apaaa, lu mengundurkan diri?” tanya Emma yang nyaris pingsan.
“Maaf nona, saya sudah memikirkannya dari dulu. Saya sudah tidak sanggup menghadapi sikap arogan anda. Semoga anda mendapatkan yang lebih baik dari saya” kata Dian mengambil tasnya dan berlalu pergi.
Semua orang menatap sinis pada Emma
“Makanya jangan sombong, di atas langit masih ada langit”
“Mampus lu, sekarang mewek”
Berbagai komentar pedas terlontar dari semua orang yang memandang sinis ke arah Emma.
Dengan cepat Emma menuju ke mobilnya untuk menghindari rasa malunya.
__ADS_1
Ting.....
Pintu lift terbuka, Daniel menarik tangan Arinda menuju kantornya. Sekretaris Daniel tercengang melihat bossnya yang terkenal dingin terhadap perempuan kini dengan santai berjalan dengan menarik tangan perempuan.
“jika Ansel sudah kembali bilang padanya untuk mengundurkan semua jadwal hari ini” perintah Daniel pada sekretarisnya.
“Ba...ba...baik tuan muda” jawabnya gugup.
Daniek membuka pintu ruangannya, dia menarik tangan Arinda lalu menyuruhnya duduk di sofa ruangan kantornya.
“Duduk” perintah Daniel ketus, wajahnya terlihat marah.
Arinda terpaksa mengikuti keinginan Daniel walau rasa kesal kini menyelimuti hatinya. Daniel mengambil kaleng minuman dingin dalam kulkas mini di kantornya. Di ambilnya beberapa tisu lalu di bungkusnya kaleng minuman itu. Daniel kembali ke tempat Arinda duduk dan duduk di samping Arinda, lalu dengan lembut di menempelkan tisu kaleng minuman yang telah terbungkus ke pipi Arinda.
“Aaww” arinda merasakan perih di pipinya sejenak karena terkena dinginnya minuman kaleng.
“Apakah sakit?” tanya Daniel dengan sorot wajah penuh ke khawatiran.
Arinda meraih kompresan dadakan itu dari tangan Daniel,
“ sudah mulai berkurang tuan” kata Arinda sambil mengompres pipinya.
“Apakah kamu ini bo**h ? Mengapa kamu memasang badan di depan perempuan itu? Tidak tahukah kamu seberapa khawatirnya aku?” Daniel begitu kesal mengingat kejadian tadi.
Arinda menatap bingung ke arah Daniel yang tampak masih kesal dan marah.
“Maaf tuan, tapi kenapa anda harus bersikap seperti ini? Hubungan Kita kan hanya sebatas kerja tuan. Kenapa tuan bersikap berlebihan seperti ini” tanya Arinda bingung.
“berlebihan? akan aku tunjukkan bagaimana sikap berlebihan itu” Daniel mendekatkan wajahnya ke arah Arinda. Jantung Arinda berdebar- debar semakin tidak karuan.
“ tuan, apa yang anda lakukan?” tanya Arinda perlahan lahan dia menggeser duduknya ke samping dengan tubuh menghadap ke arah Daniel.
*************
Sambil menunggu up, boleh mampir ke karya terbaru ku " Cinta Sabrina"
terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
jangan lupa juga kasih rate nya ya....😊😊😊
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗