
Area 21+....
********
“Se, kenapa?” tanya Arvin masih duduk di kursinya.
“lu dengar aja” Sean mengloud speker ponselnya.
“Dan, lu kenapa?” tanya Arvin penasaran.
“nggak.... pa.... pa” Daniel mengatur nafasnya saat Arinda memberikan massage pada king kobra.
Sebelah tangan Daniel kembali menangkap kedua tangan Arinda membuatnya kesulitan untuk melakukan aktivitas yang di pratikannya dari film baru saja di tontonnya. Mata Daniel menatap tajam istrinya memberi isyarat dan peringatan terakhir untuk tidak mengganggunya.
Daniel berusaha mengatur nafasnya kembali fokus pada pembicaraannya, dia tidak bisa mengeluarkan suara aneh lagi karena dia tahu jika saat ini ponsel Sean dalam mode pengeras suara.
Dia tidak ingin teman-temannya mendengar siaran langsung yang di lakukan oleh Arinda saat ini. Dia kembali mengabaikan istrinya yang masih duduk di pangkuannya, Arinda lalu bangkit dari pangkuan Daniel.
“Sean, laporan tentang oma harus aku terima besok. Ansel!!” Daniel memanggil Ansel yang segera meraih ponsel milik Sean dan mematikan pengeras suaranya.
“Iya tuan muda” sapa Ansel,
“kamu periksa CCTV di Mansion, lapor padaku secepatnya. minta Arvin untuk mengintai pergerakan Vivi. Aku rasa dia mengkhianati kita” Daniel tampak begitu marah, mengabaikan dan menyangka jika Arinda meninggalkan dia sendirian di ruang Tv.
Arinda kembali mengganggu Daniel yang terlihat semakin kesal dan marah, dia kembali duduk di pangkuan Daniel. Kening Daniel berkerut menatap Arinda yang tersenyum menggoda, matanya membulat sempurna saat bagian di bawah sana memasuki sebuah tempat hangat dan lembab.
“baik tuan Muda” kata Ansel yang memecah keterkejutan Daniel, sebelah tangannya masih menggenggam ponsel yang tentunya masih terhubung dengan Ansel.
“Uuughhh” terdengar suara dari Daniel membuat Ansel kini tahu apa yang membuat Sean kebingungan dan juga dirinya.
Daniel mengeluh saat king kobra menemukan gua yang sengaja di berikan padanya. King kobra bersemayam dengan tenang di dalam sana, masih belum ada pergerakan dari pemilik gua membuat Daniel menatapnya.
Arinda menggoda Daniel dengan tidak melakukan apa-apa membuat suaminya kini tidak bisa berkonsentrasi, melupakan rasa amarah dan juga kesalnya. Kini hanya ada rasa ingin memiliki dan meminta lebih pada si pemilik gua.
__ADS_1
“Tuan muda, anda baik-baik saja” tanya Ansel, Daniel segera mendekatkan kembali ponselnya ke telinga.
“Laksanakan perintahku sekarang, suruh... Se... an... sece... patnya...” Daniel sudah tidak bisa berkonsentrasi saat Arinda melakukan sedikit pergerakan yang membuat king kobra terjepit dalam gua sempit itu. Dia segera mematikan telepon secara sepihak membuat Ansel bertanya-tanya.
Ansel menatap ponsel Sean di mana layarnya kini hanya menampilkan wallpaper foto Davira yang tersenyum manis mengenakan jubah dokternya.
“napa lu bengong natap tu ponsel? Apa si raja iblis ngomelin lu lagi?” Arvin kepo. Ansel menatap teman-temannya dengan wajah bingung.
“tuan Muda, memerintahkan lu buat ngintai si Vivi. Trus tuan muda juga nyuruh Sean buat secepatnya, aku bingung secepatnya untuk apa? tapi tuan muda mengatakan dengan suara yang terdengar aneh” Ansel terlihat bingung.
“ apa dia juga mengeraskan suara dan bernafas terdengar berat?” tebak Sean, langsung di angguki oleh Ansel. Mendengar ciri-ciri yang di ungkapkan Sean, Arvin, Ansel dan Evan terdiam, pikiran dan jiwa mereka bertravelling ria hingga sebuah jawaban muncul di benak mereka.
Daniel sedang uwu uwu guman mereka berempat dalam hati serempak. Telinga Ansel dan Sean memerah karena mereka sempat mendengar sesuatu.
“le le lebih baik di lupakan saja, gua balik duluan” Sean meraih ponselnya melangkah menuju pintu cafe, sambil menelepon petugas lab yang di perintahkannya untuk menyelidiki cairan biru dari dalam suntikan itu.
Setelahnya dia pun menelepon Davira berharap gadis pujaannya belum tidur, jujur saat mendengar suara Daniel membuatnya iri dan ingin secepatnya menghalalkan Davira.
Dia berniat mengutarakan keinginannya, namun kembali di urungkannya saat mendengar cerita impian pujaan hati bercerita tentang klinik impiannya. Jujur saja saat ini jiwa Sean tersiksa dengan keinginannya dapat melakukan sesuatu yang mesra, namun dia harus bersabar demi mimpi gadis pujaannya.
“ehem... gua... gua cabut dulu ke markas. buat nyuruh si Zico untuk ngintai tu cewek” Arvin memilih pergi melaksanakan perintah Daniel.
Meninggalkan Evan yang terbengong menatap kepergian mereka dan meninggalkannya sendirian di cafe. Dia pun akhirnya memutuskan untuk pulang ke apartemen miliknya, sepanjang perjalanan menuju Apartemennya bayangan wajjah cantik Arinda terus bermain-main di benak dan penglihatannya.
Ansel berangkat ke mansion Arsenio untuk mengambil video CCTV setelah itu pulang kembali ke Apartemennya. Dalam Perjalanan pulang dia menyempatkan untuk menelepon Cantika, mengatakan pada belahan jiwanya bahwa dia akan segera menghalalkan Cantika secepatnya.
Ansel meminta juga mengatakan saat semua pekerjaannya beres, secepatnya dia akan mengurus surat-surat dan segala keperluan untuk persiapan pernikahan.
***
Daniel melempar ponselnya ke samping, kini tangannya memegang bo**ng Arinda di balik dress yang di kenakannnya. Arinda yang hanya bermaksud untuk meredam kemarahan Daniel dan memberi service kepadanya terkejut saat Daniel mencengkeram erat bo**ngnya mengangkat sedikit dan melakukan pergerakan. Dia melakukan pergerakan membuat Arinda mengerang menahan kenikmatan di bawah sana.
“sayang, kamu benar-benar sangat nakal hari ini”
__ADS_1
“Aku hanya tidak ingin malam ini kita lalui dengan kamu yang kesaaal daaan maraaaah... haaaah” Arinda merasakan pergerakan king kobra yang mulai sedikit menguat.
“Karena kamu sudah sangat nakal dan berani. Maka terimalah akibatnya” Daniel kemudian bangkit dengan menggendong Arinda, mempertahankan posisi di mana membuat istrinya mengeluarkan suara nyanyian yang indah di telinganya.
Pintu kamar mereka terbuka dan di tutup dengan Daniel yang merapatkan tubuh Arinda ke pintu kamar mereka. Memberikan dorongan pada king kobra untuk semakin melesak jauh ke dalam sarangnya.
“Mmmm” Arinda menggeram menahan sesuatu yang terasa nikmat di sana.
“Sayang... Bersiap-siaplah malam ini aku akan membuatmu tidak bisa turun dari ranjang ini” Ancam Daniel membuat Arinda membulatkan Matanya. Bibirnya terbuka sedikit terkejut dengan ancaman suaminya, kesempatan yang tentunya tidak di sia-siakan Daniel. Dia langsung mendaratkan bibirnya, mengabsen setiap detail yang ada dalam bibir manis itu.
Arinda gelagapan mendapat serangan dan hanya bisa memasrahkan diri, saat Daniel merebahkannya di ranjang mereka. Pertempuran panas pun terjadi, kamar hening itu menjadi saksi bisu atas apa yang terjadi pada Arinda.
Daniel sama sekali tidak memberi ampun pada Arinda, membuat dirinya berkali-kali mencapai puncak nikmat yang tidak terkira. Dia memberikan hukuman manis pada Arinda yang sudah mengganggunya, dia menatap istrinya yang masih mengatur nafas setelah di gempur habis-habisan olehnya.
Arinda masih dengan posisi tengkurap dengan punggung putih mulus di hiasi dengan titik-titik bulir keringat begitu juga di wajah cantiknya yang menatap ke arah lain. Rambut pajang bergelombang itu tergerai di samping, tubuh bagian bawahnya sebagian tertutup selimut masih menyisakan kaki mulus yang menggoda.
*************
secepatnya author akan usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya...🤗🤗🤗🤗
sambil menunggu up, bolehlah mampir ke karya author judulnya "Cinta Sabrina"
tetap terus dukung Author😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ all...