Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 42


__ADS_3

Daniel hanya diam tidak menjawab pertanyaan Sean,


Tidak mungkin...Sean pasti salah, tidak mungkin aku akan jatuh cinta pada Arinda...guman Daniel dalam hati menyebut nama Arinda membuat debaran jantungnya semakin kencang. Daniel memegang dadanya, hal itu tidak luput dari penglihatan Sean dan Ansel.


“Kenapa lu Dan?” Tanya Sean senyum-senyum.


Daniel menatap tajam Sean membuat senyum di wajah dokter tampan itu menghilang sempurna.


“Sel, kita balik sekarang” kata Daniel dingin melangkah pergi keluar dari ruangan Sean.


Sean hanya menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Daniel... Daniel sampai kapan lu menyangkal perasaan lu. Lu bisa ngebohongi diri lu sendiri dan orang lain, tapi hati lu nggak akan bisa lu bohongi. Karena cewek rubah itu hati lu menjadi dingin dan melupakan bagaimana rasanya jatuh cinta guman Sean dalam hati prihatin dengan sahabatnya.


Daniel berjalan melewati lorong, dalam pikirannya Daniel terus menerus memikirkan apa yang di katakan oleh Sean.


Arinda dan Maya sudah sampai di Arsen Medical, Maya menyuruh Arinda untuk duduk di bangku ruang tunggu.


“Lu tunggu di sini bentaran ya say, akika mo liat dokter dulu”


“oke” Arinda merogoh tas ranselnya dengan hanya sebelah tangan. Dia menemukan smarthphone miliknya, sambil menunggu Maya menemui dokter Arinda membuka ponselnya untuk membalas pesan yang sedari tadi membuat smartphonenya berbunyi.


Langkah Daniel terhenti saat melihat sosok perempuan yang selalu terbayang di benaknya, hanya nama perempuan itu saja sudah membuat jantungnya berdebar.


Daniel menatap Arinda yang fokus dengan smarth phonenya, mata Daniel menatap tangan Arinda dibalut tisu yang sudah berubah warna merah. Raut wajah Daniel berubah khawatir melihat tangan Arinda terluka, Daniel ingin menghampiri Arinda.


“Tuan muda” ansel heran melihat Daniel yang berhenti tiba-tiba. Ansel mengedarkan pandangannya mencari sesuatu yang membuat Daniel menghentikan langkahnya. Ansel melihat Arinda yang duduk di kursi tunggu dengan lengan yang terbalut.


Pantas saja tuan muda berhenti, ternyata ada nona Arinda. Tapi kenapa dengan tangan nona Arinda. Lukanya terlihat sangat dalam Ansel bertanya-tanya dalam hatinya melihat Arinda masih fokus dengan smarthphone miliknya.


Daniel akan menghampiri Arinda langkahnya terhenti saat melihat seorang pria menghampiri Arinda. Ansel ikut terhenti langkahnya melihat ke arah Arinda


“Say, yuk dokternya udah nunggu di dalam” kata Maya mengajak Arinda untuk masuk ke ruang dokter. Arinda berdiri di bantu Maya, Daniel melihat keakraban Arinda dengan pria yang tidak lain adalah maya.


Siapa pria itu? Mengapa mereka terlihat sangat dekat? Pertanyaan itu muncul di benak Daniel.


Daniel ingin mengikuti Arinda dan Maya masuk keruangan dokter, namun langkahnya terhenti oleh deringan smarthphone miliknya. Pada layar smartphonenya tertulis nama mommy calling, Daniel lalu mengangkat telepon dari ibunya.

__ADS_1


“Hallo mom...”


“........”


“Dan, dalam perjalanan mom” kata Daniel memutuskan telepon dari ibunya begitu saja. Ansel menatap Daniel menunggu perintah darinya.


“kita ke mansion sekarang” kata Daniel, dalam hatinya ingin dia menunggu Arinda keluar dari ruangan dokter dan mempertanyakan siapa pria yang bersamanya.


Siapa pria itu? Mereka kelihatan sangat dekat, apakah pria itu kekasihnya?


Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan di benak Daniel. Ansel sangat paham dengan sifat Daniel,


“Tuan muda, apakah perlu saya selidiki pria yang bersama dengan nona Arinda?” tanya Ansel.


“Tidak perlu, karena dia tidak ada hubungan apapun denganku. Kenapa aku harus repot mencari tahu siapa pria itu” kata Daniel dingin lalu melangkah pergi meninggalkan Arsen Medical, Ansel menuruti perintah Daniel.


Hah....tuan muda... Tuan muda. Kenapa anda terus menyangkalnya jika sebenarnya anda sudah jatuh hati pada nona Arinda kata Ansel dalam hati melihat kecemburuan dari sikap Daniel.


***


Arinda masih di dalam ruang dokter, dia harus mendapatkan 8 jahitan di tangannya. Maya begitu merinding melihat tangan Arinda di jahit oleh dokter. Setelah luka Arinda di jahit dokter itu membalut lukanya dengan perban


“Trus gimana saya akan bekerja dok?” tanya Arinda bingung.


“saya akan memasang kain ini agar mbak tidak terlalu menggunakan tangan kiri mbak dulu. Saya juga akan meresepkan obat pengurang rasa sakit dan salep untuk luka anda. Tiga minggu lagi nona bisa kembali kemari untuk membuka jahitannya” jelas dokter.


Arinda hanya bisa menarik nafasnya dan menghembuskan secara kasar. Tangannya terluka akan sangat menyulitkan Arinda untuk beraktifitas. Dokter itu menutup tangan Arinda dengan rapi,


“kalo nona ke susahan buat ganti perbannya, nona bisa datang kemari untuk ganti perban dan memasang obatnya” tawar dokter itu diam-diam mengagumi Arinda.


“Aduuh akika juga mau dong di obatin ama dokter” goda Maya.


Dokter itu terkejut melihat penampakan makhluk gemulai yang berdiri di samping Arinda.


“Astagfirullah....” spontan dokter itu mengucapkan istigfar.


“Iiiih kenapa sih dok? Kaget ya liat kecantikan akika yang cetar membahana. Tapi maaf ya dok, akika udah ada yang punya” kata Maya dengan pedenya yang tinggi.

__ADS_1


“Alhamdulillah kalo begitu” kata dokter itu pelan sehingga tidak terdengar oleh Maya.


“Ah...dokter ngomong apaan? Akika nggak denger” kata Maya sembari mendekatkan telinganya ke arah dokter yang membantu Arinda memasang perban.


“May, jangan genit kamu ya. Ntar aku bilangin ama Leo ya” ancam Arinda mengenal kekasih Maya yang berada di PS.


“Iiih Ariin, gitu deh. Sekali-kali boleh dong akika cuci mata” protes maya


“Kalo cuci mata itu nggak harus godain cowok lain. Ntar kalo pacarnya dokter ini tau bisa di perkedel kamu Maya” kata Arinda mengingatkan Maya. Dokter itu ingin mengatakan sesuatu langsung terhenti saat Arinda pamit.


“terima kasih sekali dok. Saya akan ingat pesan dokter. Kalo begitu saya permisi dulu” kata Arinda langsung menarik tangan Maya keluar dari ruangan dokter itu.


Gagal lagi deh gue buat dapatin cewek, tapi....cewek itu cantik juga. Tadi siapa ya namanya, kata dokter itu dalam hati mencari-cari file data milik Arinda. Setelah ketemu, dokter itu membaca data yang di isi oleh Maya tadi.


“Ooo....jadi namanya Arinda. Namanya cantik secantik orangnya” kata dokter itu masih mengingat wajah Arinda.


Arinda dan Maya berjalan melewati lorong rumah sakit setelah mengambil obat dan perban di apotek yang tersedia di rumah sakit itu.


It's been a long day without you, my friend


And I'll tell you all about it when I see you again (I'll see you again)


We've come a long way (yeah, we came a long way) from where we began


(You know what we started)


Oh, I'll tell you all about it when I see you again (I'll tell you)


When I see you


Deringan notifikasi panggilan dari smartphone milik Arinda di saku celananya. Arinda mengambil smartphonenya dengan tangan kanan, di saat bersamaan seorang pria berpakaian jas putih pakaian kebesaran seorang dokter tidak sengaja menyenggol Arinda hingga membuat smartphone milik Arinda terjatuh dengan keras.


*************


terus dukung Author


dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊

__ADS_1


( Π_Π )


makasih..... 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2