
Di meja Sean, Arvin tersedak dengan minuman miliknya melihat pria tampan menghampiri meja Cantika. Sean membantu Arvin menepuk nepuk punggungnya.
“Lu nggak apa-apa?” tanya Sean melihat Arvin yang masih terbatuk-batuk.
“An**ng gue kira cowok tulen, ternyata” Arvin tidak bisa melanjutkan ucapannya saat beberapa pria menoleh ke arah meja mereka.
“kenapa semuanya pada ngeliatin kita?” tanya Sean tidak mengerti.
Arvin melihat ke sekitar mejanya, semua pengunjung cafe mulai berbisik-bisik membicarakan mereka berdua.
“kita gabung ama Daniel!” arvin langsung berdiri, Sean masih duduk menatap heran pada Arvin.
“ayo bangun kita gabung ama Daniel dan Ansel“ kata Arvin lagi.
“Loh kenapa?” tanya Sean bingung.
“Lu mau kita di sangka....” Arvin langsung mengedikkan bahu merinding dengan apa yang di pikiran semua pengunjung tentang mereka berdua.
Sadar dengan maksud Arvin, Sean pun mengikuti Arvin menghampiri meja Cantika.
“Hi bro” sapa Arvin,
Cantika, Maya dan Arinda menatap heran dengan kedatangan dua pria ke meja mereka yang tidak mereka kenal.
“kenalin gue Arvin, sahabat dari para cecunguk ini. Dan yang ini Sean” Arvin memperkenalkan diri mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan ke arah Arinda.
Daniel melayangkan tatapan tajam tidak suka jika perempuan miliknya dekat dengan lelaki manapun. Arvin lalu mengulurkan tangannya pada Cantika dan di sambut baik olehnya.
“Cantika, yang ini Arinda dan....” cantika memperkenalkan dirinya dan Arinda yang tersenyum manis.
Ansel juga melayangkan tatapan tajam kembali pada Arvin.
Dua anak ini pada kenapa ya? Kok nggak senang gitu wajahnya saat gue kenalan ama dua perempuan cantik ini. Kalo Daniel sih gue ngerti tapi kenapa ni si Ansel ikut-ikutan kayak Daniel guman Arvin heran.
Cantika yang akan memperkenalkan Maya langsung di potong olehnya
“kenalin akika Maya, desainer di Pear Stars Wo&Eo” maya memperkenalkan dirinya.
“Pearl Stars? Eo terkenal di kalangan bisnis dan artis itu?” tanya Arvin.
“Yup 100 buat ye, dan Cantika ini owner Pearl Stars trus Arinda ini Event Manager di Pearl Stars” kata maya.
“Kalo gitu gue ama Sean ikutan gabung ya” kata Arvin lalu memanggil seorang waiter.
“ada yang bisa saya bantu tuan?” tanya waiter.
__ADS_1
“tolong bantu gue buat gabungin beberapa meja. Gue ama teman gue mau gabung di meja ini” kata Arvin
“baik tuan” waiter itu lalu mengerjakan permintaan Arvin.
Setelah menyelesaikan tugasnya, waiter itu pamit. Arvin mengeluarkan uang lima puluh ribuan di berikannya pada waiter itu dan mengucapkan terima kasih.
Arvin mengambil duduk di sebelah Cantika, hal itu membuat Ansel tidak suka. Dia pun meminta Cantika untuk pindah ke dekat jendela.
Arvin memicingkan matanya penuh curiga pada sikap Ansel yang protektif pada Cantika. Seperti tuannya, Ansel memasang wajah tanpa dosanya.
Maya duduk di samping Arinda dan Sean duduk ujung meja, maya melihat ke sampingnya dan langsung mengenal pria di sampingnya.
“Rin, akika rasa rasa kenal ama ni cowok deh” bisik Maya pada Arinda membuat Daniel makin kesal.
Pegangan tangan Arinda sedikit di tarik Daniel agar Arinda tidak terlalu dekat dengan Maya.
“Rin, ye kenapa sih cin?” tanya Maya heran,
“hem...nggak apa-apa May, Cuma ada bencana alam dikit” kilah Arinda kembali berusaha melepaskan tangannya, namun Daniel malah menautkan jari jemarinya di antara jari jemari Arinda.
Maya memperhatikan pria di sampingnya,
“Akika ingat say, ye bukannya dokter yang ngerusakkin ponselnya Arin kan?” tanya Maya, Arinda melihat ke arah pria yang di katakan Maya.
“Dokter Sean?!” kata Arinda
“Tentu aja akika akan ingat ama dokter ganteng” kata Maya.
Sean hanya tersenyum pada Maya,
“ O ya dokter Sean, ponsel saya kapan bisa saya ambil?” tanya Arinda
Sean kebingungan untuk menjawab pertanyaan Arinda karena ponsel miliknya telah berpindah tangan. Daniel menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, dia merogoh sakunya untuk mengambil ponsel.
Daniel segera mengirim pesan WA pada Sean untuk mengatakan jika ponselnya masih dalam perbaikan. Ponsel Sean berbunyi menandakan ada pesan yang masuk, dia membaca pesan itu lalu menyimpannya kembali ke dalam saku celananya.
“ ponsel anda masih dalam perbaikan, jika sudah selesai saya akan mengabari anda secepatnya” kata Sean.
“Loh bukannya ponsel rusak itu di ambil..” Daniel langsung mengode Ansel untuk menutup mulut Arvin. Dengan cepat Ansel menginjak kaki Arvin di bawah meja.
“ Aduuh....sakit sel. Lu punya dendam apa sih ama gue” kata Arvin mengelus Kakinya.
“eh sorry tadi gue liat kecoa, langsung aja gue injak. Nggak taunya malah nyasar ke kaki lu” kata Ansel cengengesan.
“Emang ponsel siapa yang di ambil” tanya Arinda.
__ADS_1
“ponselnya tuan Arvin nona” Ansel menjawab cepat pertanyaan Arinda sebelum Arvin. Arvin hanya cengengesan mengelus kakinya yang sudah berkurang sakitnya.
Arinda ingin meminum minumannya, tapi tangannya masih di genggam erat oleh Daniel. Terpaksa dia memakai tangan kirinya yang cedera untuk mengambil minuman miliknya.
“Rin, sejak kapan ye kidal?” tanya Maya langsung to the point.
Mendengar pertanyaan dari Maya, Daniel dengan perlahan-lahan melepaskan tangannya dari Arinda tanpa di sadarinya
“Semenjak tangan gue...” Arinda menatap bingung saat melihat tangan kanannya kini bebas. Semua orang masih menunggu jawaban Arinda.
“Semenjak tangan gue cedera musti harus di gerakin biar nggak kaku” bohong Arinda lalu meraih minuman miliknya dengan tangan kanan.
“Tangan cedera yang di jahit jangan terlalu sering di gerakkan nona, itu akan membuat jahitannya bisa terbuka kembali” jelas Sean.
“Terima kasih atas sarannya dok, akan saya ingat” kata Arinda
“Jangan panggil dok, kita sekarang tidak di rumah sakit. Panggil Sean saja” kata Sean santai.
Daniel mulai tampak kesal kembali karena di acuhkan Arinda.
“Baiklah kalo begitu, anda juga jangan memanggil saya nona. Panggil saja Arinda” kata Arinda. Maya melihat ke arah daniel yang ketampanannya paripurna,
“tuan Daniel juga bisa manggil akika Maya aja atau ayang bebeb pun akika juga mau kok” kata maya genit.
Daniel hanya diam tidak menanggapi Maya, matanya melihat Arinda berusaha menjaga jarak darinya.
“May..” panggil Cantika yang memperingati Maya untuk tidak genit.
“iiih tika....nggak asyik ah” dengus Maya, semua tersenyum melihat tingkah Maya.
“nona Cantika konsep ini saya setujui, saya percayakan acara pesta ini di tangan anda” kata Daniel
“Baiklah tuan Daniel, kami akan melaksanakannya dengan sebaik mungkin” kata Cantika.
Hari menunjukkan pukul empat sore, sudah hampir dua jam mereka membahas konsep acara pesta Ulang tahun Arebeon corp.
Arinda mohon diri untuk pergi ke toilet, tidak berapa lama Arinda pergi, Daniel pun menyusul Arinda ke toilet.
Suasana saat itu di toilet pria dan perempuan sedang sepi, Arinda sudah selesai dengan urusannya keluar dari toilet. Dia terkejut saat melihat Daniel berdiri dengan menyandarkan tubuhnya ke dinding di lorong toilet.
*************
terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
__ADS_1
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗