
Entah kenapa langit di kota J seakan bersahabat dengan hati Arinda yang hancur dan pedih, orang sangat di percayainya ternyata orang yang menikamnya dari belakang. Teringat oleh Arinda kenangan manis saat dia, Raisa dan Aldo bercanda bersama di kampus, saat mereka melakukan kerja part time, berkumpul dan bermain bersama itu semua telah hancur saat dia mengetahui sifat sahabatnya sendiri.
Mata indah itu menatap karcis kereta api di tangan, berhiaskan untaian tetesan air mata menghiasi kedua matanya.
Flashback on ....
Saat Arinda keluar dari mansion keluarga Arsenio, dia mendapat panggilan telepon dari nomor adiknya Ifan yang kala itu seharusnya dia dalam masa latihan militer. Dia menatap layar lalu menggeser tombol di layar ponsel itu. Arinda dengan cepat menghapus air mata dan mengubah suaranya yang serak habis menangis menjadi biasa. Dia menarik nafas dan mengeluarkannya dengan perlahan untuk menenangkan dirinya
“assalamualaikum mbak” sapa Ifan, terdengar oleh Arinda nada suara adiknya yang terdengar sedih.
“waalaikum salam Fan, kamu kenapa Fan kenapa nada suaramu terdengar aneh? kamu seperti baru siap menangis, ada apa Fan?” tanya Arinda khawatir.
“mbak...mbak....”
“kenapa Fan? Katakan ada apa sebenarnya?”
“ mbak, ifan...ifan ...ifan baru dapat kabar dari pihak rumah sakit. Mama... mama...”
“Ada apa dengan mama Ifan?”
“ mbak.... mama.... mama sewaktu pulang dari rumah sakit untuk cuci darah, mama di temani perawat mengalami kecelakaan beruntun di jalanan. Perawat yang kita sewa meninggal di tempat, dan saat ini mama kritis mbak” kata Ifan sedih.
Gemuruh awan gelap di temani dengan kilatan petir yang menggelegar di langit, Arinda mendapat kabar mengejutkan dari Ifan tentang ibunya. Tanpa pikir panjang, Arinda memesan taksi online menuju stasiun kota J, dia juga segera memesan tiket perjalanan menuju kota CH. Tidak menunggu lama taksi yang di pesan Arinda datang
“alamatnya ke stasiun ini nona?” tanya supir
“iya pak, tolong antar saya secepatnya ke stasiun” kata Arinda sambil menyeka air matanya lalu menutup pintu, taksi itu melaju menuju stasiun kereta api kota J.
Ma... mama harus kuat, mama harus tunggu Arin, secepatnya Arin kan berada di samping mama
kata Arinda dalam hati sambil terus berdoa.
Ya Allah tolong jaga mama...
__ADS_1
doa Arinda dalam hati, dia meremas-remas jari jemari gelisah memikirkan bagaiman dengan keadaan ibunya.
Sesampainya di stasiun, Arinda mengecek nomor seri tiketnya lalu mengambil tiketnya di mesin otomatis. Saat Arinda akan menghubungi Cantika mendadak layar ponselnya gelap alias mati karena kehabisan daya.
Ponsel gue mati lagi, untung aja tadi gue udah nanya rumah sakit tempat mama di rawat ke Ifan...
kata Arinda dalam hati.
Kereta api yang akan berangkat menuju kota CH datang, setelah berhenti di peron Arinda segera naik kereta dan duduk sesuai dengan nomor tiketnya. Jantungnya berdetak kencang, memikirkan keadaan ibunya.
Flashback off....
Perjalanan menuju kota CH hanya memakan waktu kurang lebih dua jam menggunakan kereta api, Arinda terus menerus mendoakan ibunya agar selamat dan kembali sehat. Dia membuka tas ransel yang di pakainya mencari dompetnya, tanpa sengaja jatuh sebuah dompet kecil yang dia dalamnya ada beberapa kartu penting dan sebuah foto. Arinda menatap lama foto yang ada di tangannya, ada rasa bangga di hatinya saat melihat adik semata wayang memakai seragam lengkap militer berfoto bersama ibu mereka.
Waktu berjalan begitu cepat, adik mbak yang selalu mengikuti mbak kemana pergi sekarang sudah berhasil mewujudkan impiannya. Mbak bangga pada mu fan, mama... Arin yakin mama kuat...mama harus sembuh biar kita bisa liat Ifan berhasil dengan mimpinya...
kata Arinda sembari menyimpan kembali dompet kecil itu.
Tit.... tit... tit...
Bunyi mesin penyambung hidup ibu Arinda bergema di ruangan ICU, Ifan duduk di samping ibunya yang terbaring lemah dengan selang oksigen yang berada di wajah yang terlihat awet muda. Berbagai alat dan selang tersambung ke tubuh ibu Arinda, selang infus dengan jarum tajam menancap di tangan ibunya.
Ifan menggenggam erat tangan ibunya, berdoa terus berdoa agar ibunya segera sadar. Dia terus melantunkan kalimat “La Ilaha Illallah” ke telinga ibunya, Ifan hanya bisa pasrah karena kondisi ibunya sudah sangat kritis.
Teman-teman Ifan dalam kesatuan turut menunggu menemani Ifan di rumah sakit, karena ibu Ifan di rawat diruang ICU jadi jumlah pengunjung di batasi. Mereka menunggu di luar, duduk dikursi tunggu lorong rumah sakit.
Ifan menatap ibunya yang kritis, Dokter pun sudah angkat tangan dengan kondisi ibu Arinda. Dia mendapat benturan cukup keras di tulang belakang lehernya sehingga melukai beberapa saraf, di tambah dengan kondisi yang begitu lemah akibat kehilangan banyak darah..
Tiit tit tit tit tit
Mesin ventilator ibu Arinda mendadak berbunyi aneh, pada monitor layarnya menunjukkan pergerakan menurun. Ifan bergegas keluar ruang ICU meminta temannya untuk memanggil dokter dan perawat untuk memeriksa ibunya. Saat Ifan akan masuk untuk menemani ibunya kembali, di di tahan oleh perawat untuk tetap menunggu di luar dan membiarkan dokter bekerja. Teman-teman Ifan ikut menenangkan dia yang terliht panik,
“tenang Fan, serahkan semuanya pada yang maha kuasa” kata teman Ifan pada baju lorengnya tertulis nama Bayu.
__ADS_1
“lebih baik kamu telepon kembali mbak mu Fan” kata teman Ifan lainnya bernama Langit.
Ifan menganggukkan kepalanya, kembali dia menghubungi Arinda namun sama sekali tidak tersambung,
Mbak Arin.... kamu di mana mbak...
Ifan tampak gelisah dan cemas. Dokter keluar dari ruangan ibunya dengan wajah prihatin.
“bagaimana keadaan mama saya dokter?” tanya Ifan, Bayu dan Langit ikut berdiri mendengarkan penjelasan dari dokter. Tapi Dokter itu diam begitu juga dengan perawat, wajah mereka menyiratkan prihatin dan sedih. Berat bagi seorang dokter memberi kabar yang menyakitkan pada keluarga pasien. Namun sudah tugas dokter harus memberitahu kondisi dari pasien yang di tangani pada keluarganya.
“mas, saya harap mas bisa bersabar dan ikhlaskan ibu mas. Sebaiknya mas menemani ibu mas di detik-detik terakhirnya” kata Dokter, Ifan merasa tubuhnya sangat lemah kedua temannya membantu memeganggi tubuhnya. Dia merasakan tubuhnya tidak memiliki tulang sama sekali,
“Fan, kamu harus ikhlaskan mamamu. Kuatkan dirimu fan” kata Langit memberi dukungan pada Ifan.
Arinda berada di dalam taksi menatap pemandangan kota CH yang di guyuri hujan lebat, hatinya merasa tidak tenang dan gelisah saat melihat awan yang begitu gelap.
Mama....
panggil Arinda dalam hati, jantungnya berdetak dengan cepat.
************
tetap terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
jangan lupa juga kasih rate nya ya.... plisss
🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1