
Arinda, Cantika dan Maya masih berdiri bersama sahabat-sahabat Daniel, Aileen, oma Ayu, dan juga keluarga Xuan. Mereka masih asyik mengobrol hangat tanpa menghiraukan tamu tamu yang mulai membicarakan mereka.
“Mbak Arin monitor....mbak..mbak Arin?” terdengar panggilan di walkie talkie milih Arinda.
“Maaf semuanya, Arin permisi dulu masih banyak pekerjaan yang harus Arin kerjakan. Permisi” kata Arinda pamit meninggalkan mereka.
“baiklah Arin, hati hati ya sayang” kata oma Ayu.
Arinda tersenyum manis pada Oma Ayu dan yang lainnya, dia lalu melangkah pergi keluar ruang untuk meneruskan pekerjaannya.
“ mbak Arinda monitor” suara dari walkie talkie terdengar kembali.
“Ya Arinda di sini, ada apa?”
“Mbak bisa ke lantai atas sekarang?”
“ada apa?”
“spanduk yang kita pasang di lantai Atas, talinya terlepas mbak. Sekarang anak anak terlalu sibuk di ruang pesta, mbak bisa ke lantai atas duluan ntar kami nyusul mbak ke sana”
“oke mbak langsung ke lantai atas” kata Arinda melangkah ke arah lift.
Hotel JK International memiliki 4 lift, di depan 2 lift terpasang tanda dalam perbaikan dan hanya 2 lift yang beroperasi membuat tamu harus bersabar mengantri menaiki lift.
“Oke mbak” panggilan di walkie talkie berhenti. Arinda kini ada di depan lift menekan tombol lift lalu menanti datangnya lift.
Davira memperhatikan oma Ayu yang terlihat lelah,
“oma nggak apa-apa?” tanya Davira.
“Oma tidak apa-apa sayang, oma hanya sedikit lelah” kata oma Ayu.
“Sebaiknya mama istirahat ya, biar Davira dan Daniel yang akan mengantar mama” kata Aileen
“baiklah leen” kata oma Ayu, Davira mendudukkan oma Ayu di bangku yang tersedia.
Aileen menghampiri Daniel, lalu dia meminta Daniel mengantar oma Ayu ke kamar Presidential suite untuk beristirahat.
Daniel lalu menghampiri omanya yang sedang duduk di temani Davira.
“Oma ayo, Dan akan mengantar oma ke kamar” kata Daniel.
Oma Ayu berdiri di bantu Davira dan Daniel, mereka bertiga berjalan keluar ruangan untuk menuju lift. Ansel mengikuti Daniel , oma Ayu dan Davira setelah berbicara dengan Cantika.
Ansel segera berlalu menuju meja resepsionis untuk mengambil kunci kamar Presidential Suite, lalu segera menyusul Daniel, Oma Ayu dan Davira yang mengantre di depan lift. Senyuman Daniel kembali tersungging di wajah tampannya saat dia melihat Arinda berdiri di depan pintu lift, beberapa tamu hotel juga ikut mengantri di belakang Daniel, Davira, oma Ayu dan Ansel.
__ADS_1
Arinda berdiri di depan lift tidak menyadari jika Daniel, oma Ayu, Davira dan Ansel berada tidak jauh di belakangnya. Di belakang Arinda masih ada tamu yang mulai tidak sabaran, Davira dan oma Ayu memperhatikan tamu di belakang Arinda yang mulai mengomel.
Ting....
Pintu lift terbuka, Operator lift membungkuk sedikit dengan sopan
“Mohon maaf atas ke tidak nyamanannya, silahkan naik perlahan jangan ada yang saling mendorong” kata Operator dengan ramah.
Arinda masuk ke dalam lift begitu pula tamu, Daniel, oma Ayu, Davira dan Ansel. Arinda tersenyum melihat oma Ayu yang ada tidak beberapa jarak dengannya, namun senyuman itu tidak berlangsung lama saat Arinda melihat pria di hadapannya berdiri begitu dekat.
Beberapa tamu mulai memadati lift, setelah merasa cukup penuh, operator lift menekan tombol untuk menutup pintu lift. Lalu menekan tombol angka sesuai dengan tujuan beberapa tamu.
Arinda hanya menatap lurus kedepan, tepat ke dada bidang Daniel yang terbalut dengan setelan tuxedo. Sebelah tangan Daniel mengungkung Arinda seolah menyembunyikannya dari siapa pun.
Daniel menatap Arinda yang tampak gugup memegangi dadanya berdegub dengan kencang.
Jantung gue...semoga si cowok rese ini nggak dengar suara jantung gue kata Arinda dalam hati.
Tamu-tamu hotel berada dalam lift yang sama tidak begitu menggubris. Mereka sibuk dengan pikiran dan urusan mereka masing-masing. Lift mulai berhenti di setiap lantai yang di tuju, namun kepadatan di dalam lift masih belum berkurang.
Daniel terus menatap Arinda mulai gelisah dengan situasinya, dia menggigiti bibir bawahnya dengan lembut membuat Daniel menjadi tidak fokus.
Daniel mendekati wajahnya ke samping telinga Arinda dan berbisik.
“Jangan kamu melakukan hal itu”
“Apa... aku melakukan apa” bisik Arinda gugup dan kembali menggigiti lembut bibir bawahnya. Situasi yang mendukung membuat Daniel tidak dapat menahan diri, tanpa di sadari siapapun di dalam lift Daniel kembali mengecup bibir indah Arinda yang hanya di polesi pelembab bibir.
Ciuman kali ini berbeda, Daniel sedikit melum*t bibir Arinda. Matanya menutup mencoba menikmati sensasi rasa manis dari bibir yang membuatnya semakin penasaran. Begitupun Arinda yang tak menyadari jika dirinya pun menutup matanya, menikmati ciuman yang di berikan Daniel.
Begitu lembut begitu manis kata Daniel dalam hati.
Perlahan Daniel melepaskan ciuman lembut itu, matanya perlahan membuka menatap kembali Arinda. Begitupun Arinda, mukanya langsung memerah menyadari apa yang baru saja terjadi dengan dirinya.
Daniel kembali mendekatkan wajahnya ke samping telinga Arinda
“Jangan pernah kamu menggigiti bibirmu, itu akan semakin membuatku kehilangan kendali untuk memilikimu” bisik Daniel.
Wajah Arinda semakin memerah hingga sampai ke telinganya,
Ting....
Pintu lift kembali terbuka di lantai berikutnya, sebagian besar tamu keluar di lantai itu. Menyisakan 2 orang tamu hotel, Arinda, Daniel, oma Ayu, Davira dan Ansel.
Daniel pindah ke samping Arinda berdiri dengan memasang wajah tanpa dosa dan tidak terjadi apapun.
__ADS_1
Wajah Arinda begitu merah, oma Ayu baru menyadari keberadaan Arinda.
“Arin” sapa oma Ayu bertukar posisi dengan Davira.
Arinda melihat ke arah Oma Ayu, wajahnya masih memerah.
“o...oo...oma” Arinda begitu gugup membuat tanda tanya bagi oma Ayu, Davira dan Ansel saat mereka melihat wajah Arinda memerah.
“Kamu kenapa Arin? Kamu sakit sayang. Mukamu sangat merah” tanya oma Ayu khawatir. Sebaliknya membuat Arinda teringat dengan ciuman lembut yang sempat membuatnya terlena.
Arinda diam tak dapat menjawab pertanyaan oma Ayu. Kepalanya tidak dapat memikirkan apa pun sehingga dia tidak tahu harus menjawab pertanyaan oma Ayu.
“Mungkin dia kepanasan dan lelah oma, apalagi tadi sedikit sesak. Sedari tadi pun dia bekerja tanpa henti” kata Daniel memberi alasan melihat ke arah Arinda.
semua ini gara-gara lu cowok rese kata Arinda dalam hati menatap ke arah Daniel.
Oma Ayu menatap Arinda lalu meraih tangan Arinda menggenggamnya lembut.
“kamu jangan terlalu lelah ya sayang. Jika sempat Beristirahatlah, oma tidak ingin kamu sampai sakit” kata oma Ayu.
“I...i...iya oma” kata Arinda gugup.
Ting...
Pintu lift kembali terbuka, dua tamu yang tersisa keluar dari lift tersebut. Lalu pintu lift kembali menutup menuju ke lantai teratas hotel JK International.
“Oma sangat senang bisa bertemu denganmu, lain kali oma akan mengundang mu makan siang di mansion. Kamu mau kan?” tanya oma.
“insya Allah oma” kata Arinda, mula menguasai perasaannya. Jantungnya masih berdegub kencang,
Ya Allah...kenapa gue malah terlena saat di cium ama ni cowok rese. Ariiiin lu ngapain sih tadi, kenapa lu biarin ni cowok rese kembali mengambil kesempatan rutuk Arinda dalam hati.
Ting....
Kini lift telah sampai di lantai teratas, Ansel, Oma Ayu, Davira, Arinda dan Daniel turun di lantai teratas.
************
terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
jangan lupa juga kasih rate nya ya....😊😊😊
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗