
Perawat pria itu mengambil suntikan di atas trolley, satu persatu obat dalam suntikan itu di suntikkan ke infus para penjahat.
“Siapa lu?” tanya penjahat B saat perawat pria itu menyuntikkan cairan obat dalam suntikkan yang di pegangnya.
Perawat pria itu diam dan tidak menggubris pertanyaan penjahat itu. Lama kelamaan mata penjahat B terasa sangat berat, penglihatannya mulai mengabur menatap perawat pria itu. Semakin mengabur dan menjadi gelap, para penjahat itu tampak tertidur dengan damai.
Tidak terdengar rintihan lagi dari mereka, setelah menyelesaikan tugasnya perawat pria itu keluar dari ruang perawatan penjahat dengan mendorong trolley yang di bawanya tadi.
Polisi menatap Perawat pria itu berjalan meninggalkan ruang perawatan, semakin menjauh dan menghilang di belokkan lorong rumah sakit.
Polisi merasa curiga, salah satu mereka memeriksa kondisi para penjahat. Mereka tampak tidur dengan lelap, polisi itu juga memeriksa denyut nadi dan nafas mereka.
Masih hidup....
Guman polisi itu dalam pikirannya saat masih merasakan denyut nadi dan hembusan nafas dari penjahat.
Polisi selesai memeriksa keadaan penjahat kembali bergabung dengan temannya yang berjaga di depan kamar perawatan.
“Gimana?” tanya polisi pertama
“Mereka baik-baik saja” kata polisi kedua sambil menutup pintu kamar perawatan.
“Kenapa mereka hening? Tadi mereka sangat berisik dan merintih kesakitan” tanya polisi pertama
“Mungkin ntu perawat ngasih obat tidur sama penghilang rasa sakit. Jadinya tu para penjahat tenang dan tidur seperti bayi” pendapat polisi kedua melihat dari jendela kecil pintu kedalam ruang perawatan.
“Mungkin juga ada pasien dan keluarga pasien mengeluh karena mereka terlalu ribut” pendapat polisi kedua lagi.
“Mungkin” kata polisi pertama setuju, mereka kembali berjaga di depan kamar penjahat-penjahat itu.
***
Di mansion Arsenio, Daniel berdiri dekat jendela kamar tamu. Matanya menatap langit malam yang di hiasi taburan bintang yang bersinar seperti kilauan berlian dan di temani sang bulan.
“Jangan...jangan...jangan sentuh saya...lepaskan....lepaskan” terdengar igauan Arinda membuat Daniel terkejut.
Daniel menghampiri Arinda segera, tangannya memegang kening Arinda yang di basahi dengan bulir bulir keringat terasa sangat panas. Daniel teringat dengan pesan Aileen yang harus mengompres Arinda jika dia demam dan meminum obatnya.
Daniel meraih obat di nakas samping tempat tidur, setelah mengeluarkan obat dari bungkusnya tangan Daniel terhenti. Dia bingung bagaimana memberikan pada Arinda yang masih mengigau.
Daniel mengangkat tubuh atas Arinda menyangga kepala Arinda dengan telapak tangannya yang kokoh. Sebelah tangannya meraih bantal lain untuk membuat posisi kepala Arinda agak tinggi. Daniel menggulung lengan kemeja hitam yang di kenakannya hingga siku, Dia belum sempat mengganti pakaiannya. Dua kancing baju bagian atas terbuka, dasi kupu-kupu miliknya di letakkan di atas nakas.
__ADS_1
Daniel mencoba menyuapi obat pada Arinda yang masih menutup matanya dengan igauan yang masih terdengar. Namun, obat itu sama sekali tidak tertelan oleh Arinda.
Daniel kembali mengangkat tubuh bagian atas Arinda dengan perlahan-lahan menopang kepala Arinda dengan tangannya kembali.
Daniel lalu memposisikan dirinya di belakang Arinda, membuang bantal ke samping tempat tidur. Dia duduk menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur, tubuh Arinda di sandarkannya ke dada bidangnya.
“Arin... Bangunlah sebentar. Minum obat ini” kata Daniel membangun Arinda.
Antara sadar dan tidak sadar, Arinda menuruti perintah Daniel, dia menyuapi obat dan meminumkan air pada Arinda.
Setelah selesai, Daniel yang akan membaringkan kembali Arinda terhenti, matanya terbuka lebar menatap perempuan cantik itu dengan nyamannya menyandarkan kepala dan punggungnya dada bidang milik Daniel.
Tangan kanan Arinda menggenggam erat tangan kanan Daniel seakan dirinya tidak ingin berpisah. Matanya masih menutup, raut wajah Arinda terlihat sangat ketakutan.
Senyuman terukir di wajah tampan Daniel, tangan Arinda di lepasnya sebentar untuk mengganti posisi. Daniel menautkan jari kemarinya di sela-sela jari lentik Arinda, menggenggamnya erat. Dia menatap tangan Arinda yang terluka.
Maafkan aku, karena aku tidak bisa menjagamu (mengecup kening Arinda penuh kasih sayang) aku tidak akan biarkan siapapun menyakitimu
kata Daniel dalam hati menatap penuh cinta dan kasih sayang pada Arinda.
Sebelah tangan kiri Daniel meraih bantal, memposisikan di bawah tangan kiri miliknya yang menopang tangan terluka Arinda. Perlahan lahan raut wajah ketakutan Arinda mulai menghilang, wajah cantiknya kini terlihat damai dan tenang.
Debaran jantung Daniel bagaikan irama nyanyian lullaby bagi Arinda, terasa hangat, nyaman dan terlindungi. Daniel mengecup kening mengucapkan selamat malam dan tidur untuk Arinda, perempuan yang telah membuatnya merasakan hangat cinta kembali.
Seperti biasanya, seluruh keluarga Arsenio melaksanakan kewajiban mereka. Daniel masih terlelap, kepalanya bersandar diatas kepala Arinda yang masih senantiasa bermain di alam mimpi.
Davira turun ke lantai bawah tepatnya menuju kamar tamu untuk bergantian dengan Daniel menjaga Arinda.
Ceklek
Davira langsung membuka pintu tanpa mengetuknya, sebuah pemandangan indah terpampang di hadapannya. Davira melihat begitu sayangnya sang kakak pada Arinda hingga dia rela menjadikan dirinya sandaran untuknya.
Oooooo romantisnya....harus aku abadikan kata Davira dalam hati segera membuka ponselnya memilih kamera.
Davira lupa mematikan flash kamera miliknya
Klik.... ceklik....
Sinaran lampu flash kamera ponsel milik Davira membuat Daniel terbangun. Kepalanya menegak, matanya menatap Davira berdiri di depan tempat tidur.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Daniel setengah berbisik pada Davira.
__ADS_1
“Oopss sorry kakak ku, ini moment langka yang musti kudu Vira abadikan. Jarang-jarang kak Dan terlihat manis seperti ini” kata Davira
Daniel menatap Davira dingin,
"hapus" perintah Daniel tidak suka jika adiknya mengambil foto mereka diam diam.
"nggak mau, Vira akan memperlihatkannya ke mommy" kata Davira yang akan beranjak pergi. Daniel tidak ingin mommynya tahu, walaupun sebenarnya Aileen sudah mengetahui bagaimana perasaan putranya. Daniel hanya ingin memastikan, jika perasaan Arinda sama sepertinya.
" Davira" kata Daniel,
Davira sedikit memanyunkan bibirnya, diam-diam dia mensafe foto yang di ambilnya di tempat lain.
"ni udah Vira hapus" kata Davira memperlihatkan ponselnya pada Daniel.
Perdebatan antara kakak beradik itu membuat Arinda sedikit terganggu, Daniel merasakan pergerakan yang menandakan jika Arinda akan bangun.
Perlahan-lahan mata cantik Arinda membuka, telinganya mendengar suara detak jantung. Hembusan nafas hangat terasa di keningnya, matanya melihat lengan kekar yang memeluk tubuhnya dengan menggenggam erat jari jemarinya.
Deg...deg..deg...
Kini Arinda merasakan debaran jantung yang sangat kuat, debaran jantung selalu berdetak kencang saat Daniel ada di dekatnya.
Mata Arinda terbelalak saat melihat Davira ada di depannya melemparkan senyum manis padanya.
“Apakah sebegitu nyamannya sehingga kamu memelukku begitu erat?” tanya Daniel dengan senyuman menggoda.
Arinda lalu mendudukkan tubuhnya, sedikit beranjak menjauhi Daniel yang berada di belakangnya.
“Ma...ma...maaf” kata Arinda dengan wajah yang bersemu merah.
Daniel berdiri dari tempat tidur melangkah pergi menuju kamarnya untuk berganti pakaian dan melaksanakan kewajibannya.
************
terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
jangan lupa juga kasih rate nya ya....😊😊😊
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗