
“aku kemari sebenarnya ingin mengucapkan terima kasih padamu yang sudah menyelamatkanku dari peristiwa tadi” kata Arinda dengan tulus pada Jeni.
“bukankah dengan sesama kita harus saling tolong menolong. Untung saja nona tidak terluka” Jeni tersenyum senang pada Arinda.
“panggil saja Arinda, aku merasa kurang nyaman jika di panggil nona” pinta Arinda,
“baiklah nona ah maksud ku Arinda” Jeni menuruti keinginan Arinda. Seorang perawat masuk ke dalam ruangan untuk mengecek kondisi dan tekanan tensi Jeni.
“kalo begitu aku harus pamit suamiku sudah menunggu, jika kamu butuh apa-apa Kamu bisa menghubungiku. Soal biaya rumah sakit kam tenang saja semuanya suah di atur oleh asisten suamiku” Arinda memberikan nomor ponselnya pada Jeni.
“baiklah Arinda” Jeni tersenyum manis, Arinda pamit lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Arvin.
Sepeninggal Arinda, Jeni segera menghubungi Marcus untuk mengatakan perkembangan rencana mereka. Bibirnya tersungging senyum smirk rencana mereka berhasil untuk mendekati keluarga Arsenio melalui Arinda.
***
Setelah bertanya pada perawat di mana kamar Arvin, Arinda melangkahkan kakinya menuju kamar yang di tunjuk.
Tok...tok...tok...
Body guard mengetuk pintu untuk Arinda,
“masuk” terdengar suara Arvin dari dalam kamarnya.
Body guard membukakan pintu untuk Arinda, mereka menunggu di luar ruangan Arvin.
“assalamualaikum” Sapa Arinda melongokkan kepalanya dari balik pintu.
“Waalaikum salam” semua di ruangan Arvin menjawab salam Arinda.
Daniel bangkit dari duduk menghampiri Arinda memeluk pinggang ramping, dia mengajak menemui Arvin yang duduk menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.
"hi vin!! gi mana keadaan kamu” Arinda duduk di kursi samping ranjang Arvin.
“alhamdulilah, sekarang udah membaik. Semakin membaik saat aku bisa melihat bidadari cantik datang menjengukku. Udah bosan juga aku melihat wajah-wajah mereka” Arvin mengeluh sambil cengengesan membuat Daniel kesal.
“kamu akan semakin baik saat melihat malaikat maut ada di depanmu” sela Ansel santai yang menatap layar laptop Yuda.
“woi coi.... amit amit dah, gua masih pengen di sini. Blom mau gua ngunjungi keluarga lu, gua juga blom merasakan indahnya pernikahan (Arvin menatap Arinda) Rin saat kamu udah bosan ama tu cunguk, aku siap kok menjadi yang kedua” Arvin semakin tengil dan membuat Daniel semakin kesal. Arinda tersenyum melihat tingkah ajaib sahabat-sahabat Daniel.
__ADS_1
“kayaknya kamu bakal ketemu ama malaikat maut hari ini” Ansel menatap Daniel dengan aura kegelapan di sekelilingnya. Arvin cengengesan langsung mengangkat 2 jari dengan mengatakan “peace” pada Daniel.
“sayang sebaiknya kita ke mansion sekarang. Mommy sudah menelepon dan menanyakan kita” Daniel mengajak Arinda ke mansion Arsenio yang langsung di angguki oleh istrinya.
“Vin, kami balik dulu ya. Semoga kamu cepat pulih dan bisa kembali beraktivitas” Arinda bangkit dari duduknya berdiri berdampingan dengan suami.
“makasih ya Rin, udah mau jengukin aku” kata Arvin pada Arinda. Daniel memeluk pinggang Arinda, melangkah keluar dari ruangan Arvin di ikuti oleh Ansel. Langkahnya terhenti teringat dengan sesuatu
“sayang, kamu duluan saja bersama Ansel. Ada yang lupa aku sampaikan pada Arvin” Daniel mengecup kening Arinda kembali masuk ke dalam kamar rawat Arvin.
“mari nona Arin,” Ansel mempersilahkan Arinda untuk kembali ke mobil mewah yang terparkir di pelataran rumah sakit Arsen Medical.
Dari balik sebuah tembok sepasang mata cantik memperhatikan gerak-gerik Arinda di ikuti beberapa body guard mengawalnya.
Brengs*k cewek itu di perlakukan seperti ratu. Saat bersamaku tidak pernah sekalipun si bod*h itu memperlakukan ku seperti cewek beg* itu. Liat aja setelah lutfi dan om Marcus berhasil mengambil alih seluruh perusahaan Arsenio, gua bakalan bikin lu dan si beg* itu hancur Jeni alias Alexa sangat kesal melihat Daniel yang begitu menyayangi Arinda.
Jeni kembali ke kamarnya mulai memikirkan rencana.
“bangs*t sakit banget nih lengan” kesal Jeni saat akan melangkah ke tempat tidur, sepasang tangan melingkar di pinggangnya memeluk tubuhnya dari belakang. Jeni terkejut segera membalikkan tubuhnya melihat siapa yang memeluk.
“lutfiii” Jeni terkejut saat melihat kekasihnya berada bersamanya.
Jeni menahan dada bidang Lutfi dengan kedua tangannya untuk tidak melanjutkan apa yang di inginkan Lutfi.
“kenapa?” lutfi menatap tajam Jeni.
“kamu lupa kita ada di mana? Bagaimana kamu bisa kemari?” Jeni menatap Lutfi dari atas kepala hingga kakinya, baju perawat dan kacamata membantunya menyamarkan diri agar tidak di kenali Daniel dan sahabat Daniel lainnya.
“tenang saja sayang, aku sudah memperhatikan sekitar sini. Tidak akan ada yang datang ke sini, jadi kita lanjutkan saja” kembali Lutfi memagut bibir Jeni dan melepaskan buah baju pasien yang di kenakan Jeni.
***
Daniel di kamar rawat Arvin meminta Yuda untuk menghack CCTV Arsen Medical, saat keluar dari kamar Arvin bersama Arinda entah mengapa dirinya merasa ada yang memperhatikan. Benar saja, Daniel melihat Jeni berdiri di balik belokan lorong memperhatikan mereka dari jauh.
“apa dia yang abang curigai?” Yuda mengakses CCTV Arsen Medical melihat ke mana perginya Jeni setelah mengawasi Daniel dan Arinda.
“bisa kamu cari informasi tentang dia?” Daniel menatap Yuda,
“tenang aja bang, akan gua selidiki” Yuda menyakinkan Daniel. Arvin penasaran dengan apa yang di bicarakan Yuda dan Daniel.
__ADS_1
“siapa yang kalian omongin?” Arvin sangat penasaran. Daniel hanya diam lalu meninggalkan kamar Arvin yang kesal padanya karena tidak di pedulikan, Yuda fokus pada pekerjaan yang di berikan Daniel dan Arvin.
“woi...lu dan si raja iblis lagi ngomongin apa sih?” Arvin semakin penasaran membuat Yuda mau tidak mau memberi tahu apa yang di suruh Daniel. Dia menatap video CCTV melihat seorang perempuan yang berdiri jauh dari Daniel dan Arinda seperti mengawasi.
Daniel melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil mewah yang terparkir di pelataran Rumah sakit, dia duduk di samping Arinda yang fokus pada ponsel miliknya. Sakti menyalakan mesin mobil dan menjalankan mobil mewah Daniel menuju kediaman Arsenio.
Selama perjalanan, mata dan jari tangan Arinda terfokus pada ponsel miliknya.
“saayaaaang....” panggil Daniel membuat Arinda menatap ke arahnya.
“Daniel, sejak kapan kamu ada di sini?” Arinda terkejut saat Daniel merangkul pundaknya.
“sejak kamu yang fokus dengan ponsel. Ada apa? Kamu chattingan dengan siapa?” Daniel sangat kepo, Arinda tersenyum manis pada suaminya.
“aku sedang membaca chattingan grup wa Pearl Stars. Insyaallah lusa aku sudah mulai kembali bekerja” Arinda kembali fokus pada ponselnya. Ansel dan Sakti menahan senyum melihat Daniel yang di cuekin Arinda.
"Setidaknya saat ini kamu memperhatikan suamimu ini" Daniel melemparkan pandangannya ke jendela samping mobil miliknya.
ucapan Daniel sama sekali tidak terdengar oleh Arinda yang sangat fokus dengan chattingannya.
Daniel menekan tombol menaikkan pembatas membuat Ansel dan Sakti tidak dapat mellihat apa yang terjadi di belakang mereka.
Daniel menatapa Arinda yang masih membalas Chattingan WA grup Pearl Stars.
"sayang..." panggil Daniel, Arinda menatap ke arah Daniel yang langsung tidak menyia-nyiakan kesempatan.
Daniel langsung mencium lembut bibir Arinda, memagut saling mengabsen setiap detail bibir masing-masing. Ponsel Arinda bergetar menandakan ada panggilan VC masuk, tanpa sengaja Arinda yang berniat ingin mematikan panggilan itu malah menggeser panggilan VC itu ke tombol hijau.
************
tetap terus dukung Author😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ all...