Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 164


__ADS_3

“Alexa jangan lupa sekarang kamu adalah Jeni, kamu harus bisa memperdaya bajing*an itu, buat dia bertekuk lutut padamu” seorang pria setengah baya duduk dengan angkuh di depan Alexa,


“tenang saja om Marcus, semuanya akan berjalan dengan lancar” Alexa dengan wajahnya yang kini sudah berubah menjadi mirip dengan pramugari bernama Jeni. Marcus tersenyum smirk pada Alexa yang duduk santai di depannya.


“bos... gadis itu akhirnya mati” lapor anak buah Markus, beberapa anak buah Markus menyeret mayat gadis yang bernama Jeni.


Wajahnya telah tersalin detail ke wajah Alexa lewat operasi plastik, demi memuluskan rencana mereka menculik pramugari yang biasa ikut penerbangan Daniel. Dengan memaksa seorang dokter dari negeri gingseng yang sudah lama berkecimpung dalam dunia kecantikan dan operasi plastik.


“buang saja ke kandang buaya, biara dia menjadi santapan para binatang peliharaanku” Perintah Markus pada anak buah yang sedang menyeret mayat Jeni.


“baik tuan” Anak buah itu melaksanakan perintah Markus.


Alexa yang kini sudah berganti identitas dengan Jeni berhasil menyusup ke pesawat jet Daniel. Dia merasa kesal saat melihat kemesraan yang di perlihatkan Daniel dan Arinda, membuatnya cemburu bercampur iri.


***


Saat di pesawat jet, Alexa alias Jeni mengambil kesempatan menghubungi Markus memberi laporan apa pun tentang Daniel padanya.


Markus berdiri di depan sebuah akuarium besar dengan ikan hiu yang berenang dengan luka yang mengeluarkan darah, membuat ikan-ikan piranha yang mencium darah langsung menyerang ikan hiu itu dengan membabi buta.


Sudah saatnya Michael, aku akan merebut satu persatu apa yang seharusnya menjadi milikku, termasuk wanita yang seharusnya menjadi pendampingku Markus menatap foto lama dirinya, Aileen dan Michael sewaktu masih muda dengan senyuman jahat.


Daniel dan Arinda berjalan keluar bandara dengan pengawalan ketat bodyguard yang mengawal mereka. Berita kepulangan Daniel dan Arinda tersebar dengan cepat seperti sambaran api yang terkena bensin. Banyak fans dan media sudah menunggu di depan pelataran bandara, hal ini pun tidak di sia-siakan oleh Jeni yang langsung melancarkan rencananya mendekati Daniel.


Beberapa orang suruhannya mulai beraksi dengan bersembunyi di antara Fans. Kilatan blis kamera menghujani mereka berdua saat melintasi kerumunan media dan fans Daniel.


Salah satu dari mereka (orang suruhan Jeni) mengarahkan senjata api ke arah Arinda yang menjadi target mereka, Jeni berpura-pura berjalan di belakang Arinda. Dia melihat ke arah orang suruhannya memberi kode untuk mulai melaksanakan rencana mereka.


Dooor...


Suara tembakan begitu keras mengarah ke arah Arinda, dengan cepat Jeni mendorong tubuh Arinda menggantikan posisinya tertembak peluru tepat dilengannya.


“awan nona ( mendorong tubuh Arinda) aaaaakh....” Jeni terpekik kesakitan saat peluru menembus lengannya, Daniel segera melindungi Arinda dengan memeluk erat dan membawa keluar dari kerumunan menuju mobil mewahnya.


Petugas keamanan dan kepolisian bertindak cepat dengan menangkap pelaku yang membaur di antara fans Daniel. Tidak ingin tertangkap, orang suruhan Markus pun menyandera salah seorang fans yang berdiri tidak jauh darinya.

__ADS_1


“jangan ada yang mendekat, atau wanita ini mati” ancam penjahat itu.


Polisi yang mendapat laporan adanya penembakkan di bandara dengan cepat mengepung bandara dan mulai bernegosiasi dengan penjahat itu.


Penjahat itu merasa tersudut saat melihat polisi sudah mengepung Bandara, diam-diam Jeni memberi isyarat dengan anggukkan untuk meminta penjahat itu melakukan sesuai dengan rencana mereka.


tanpa pikir panjang penjahat itu langsung menggigit racun yang di sembunyiknnya di dalam mulut, seketika dari mulutnya keluar busa yang banyak. hingga kematian menjemputnya


Arinda tampak sangat shock dan terkejut melihat Jeni tertembak di lengannya dan ada beberapa orang yang jatuh tidak sadarkan diri dengan mulut penuh busa.


“Daniel... perempuan itu sudah menyelamatkan ku, kita harus membawanya ke rumah sakit” Arinda meminta Daniel untuk menolong Jeni.


Daniel mengodekan tangannya menyuruh body guard untuk membantu Jeni dengan membawanya ke rumah sakit agar bisa mendapat perawatan segera. Jeni mengira dia akan naik semobil dengan Daniel dan Arinda harus menelan pil pahit saat body guard membawanya ke mobil khusus mereka.


Sakti menyalakan mesin keluar dari pelataran bandara,


“tuan kita ke rumah sakit atau langsung ke penthouse?” Sakti memberanikan diri bertanya pada Daniel, baru akan menjawab Arinda segera memotong pembiacaran suaminya.


“ke Rumah sakit” kata Arinda yang terlihat cemas dan shock. Tangannya gemetar hebat mengingat kejadian di Bandar.


Daniel menggenggam tangan Arinda untuk menenangkannya,


"Sayang, kamu harus menyelamatkan Jeni. dia sudah menolong ku dengan mempertaruhkan nyawannya" pinta Arinda pada Daniel yang tampak berpikir.


sepertinya ini sudah di rencanakan, aku harus menyelidiki ini secepatnya guman Daniel dalam hati.


Di mobil body guard, wajah Jeni mulai terlihat pucat. Salah seorang body guard memberi saputangan untuk menekan luka Jeni yang mengeluarkan darah segar.


Brengs*k gue kira dia bakalan meminta gue duduk di mobilnya. Ternyata dia malah menyuruh gue semobil dengan kacungnya Jeni mengumpat kesal dalam hati.


Mobil Mercedes Benz-Maybach S560 terparkir di pelataran rumah sakit Arsen Medical. Di ikuti mobil body guard yang berhenti tepat di belakang mobil Daniel, body guard turun dengan membopong Jeni yang memegang kuat luka di lengannya. Body guard yang lain ikut membantu dengan memanggil perawat dan mendorong bankar untuk membaringkan Jeni di sana.


Jeni yang terbaring di bankar segera di bawa ke ruang IGD untuk mendapat perawatan atas lukanya. Arinda langsung turun dari mobil mengikuti Jeni yang di bawa ke ruang IGD, Daniel mau tidak mau dia ikut turun dari mobilnya.


Pada saat bersamaan Sean baru datang ke rumah sakit, dia baru saja sarapan di luar bersama Yuda, Zico dan Reno. Kamar Arvin sementara di jaga oleh anak buah Arvin yang lain, Sean menghentikan langkahnya saat melihat Ansel mengikuti Daniel sahabatnya dar belakang.

__ADS_1


Lah tu si cecunguk... mau kemana dia? Ini kan ke arah IGD. Apa terjadi sesuatu dengan Arinda? Gue ikutin aja dari pada penasaran kayak gini guman Sean dalam hati.


Dia mendekati Yuda sembari menyerahkan kantong yang berisi sarapan untuk mereka.


“yud, lu duluan aja ke kamar arvin, gue masih ada pekerjaan yang harus di urus” Sean melangkahkan kakinya meninggalkan Yuda, Zico dan Reno dalam kebingungan.


“tapi bang...” ucapan Yuda terhenti saat melihat Sean yang sudah menjauh.


“udah biarin aja Yud, mungkin dr. Sean ada pekerjaan darurat” Reno melangkahkan kakinya menuju lift yang akan mengantar mereka ke lantai VVIP dengan Zico dan Yuda mengikuti dari belakang.


Sean melihat Daniel berdiri di samping Arinda dengan raut wajah kuatir dan sangat cemas.


“Danieel?!” panggil Sean, mereka bertiga melihat ke arah Sean yang baru saja datang,


“apa kabar bro?” Sean menjabat tangan Daniel seraya memeluknya.


“baik” seperti biasa Daniel menjawab singkat, padat dan jelas.


“assalamualaikum Rin, apa kabar?” Sean menyapa Arinda dengan raut wajah yang terlihat cemas.


"waalaikum salam dr. Sean" Arinda berusaha senyum untuk menutupi rasa shock dan cemasnya.


Dia menatap Daniel untuk mendapat jawaban, namun hanya diam dan tatapan dingin yang di dapat Sean. Dia lalu melihat ke Ansel untuk mendapat jawaban apa yang terjadi pada Arinda dan Daniel.


Ansel menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa Arinda berwajah seperti itu. Sean sangat terkejut saat mendengar cerita Ansel di mana ada seseorang yang berusaha untuk mencelakai Arinda.


************


tetap terus dukung Author😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ all...


__ADS_2